jump to navigation

Menonton Nabi SAW, Terengah-engah. Kamis, 22 Februari, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, Artikel, Bilik Renungan.
trackback

terengah-engah.jpg

Kisah wafatnya Abdullah Dzul Bijâdain diceritakan oleh Abdullah bin Mas’ud. Ia menuturkan bahwa ketika itu aku tertidur karena hawa yang begitu dingin dan merasa takut akan kepekatan gelapnya malam. Tiba-tiba aku mendengar suara orang yang menggali tanah. Aku pun merasa aneh, siapa yang menggali tanah di tengah malam dan dalam udara yang dingin begini? Aku memandang tempat pembaringan Rasulullah Saw, namun aku tidak melihat beliau. Aku alihkan pandangan ke tempat pembaringan Umar, namun aku pun tidak menemukannya. Aku arahkan pandanganku ke tempat pembaringan Abu Bakar, tapi aku juga tidak menemukannya. Aku lalu keluar rumah dan menemukan Abu Bakar dan Umar sedang memegang obor. Sementara itu, aku melihat Nabi Saw sedang menggali tanah. Aku mendatangi beliau dan bertanya, ”Ya Rasulullah, apa yang sedang kamu lakukan?” Rasulullah lalu mengangkat kepala beliau dan memandang ke arahku. Aku melihat kedua mata beliau meneteskan air mata. Beliau berkata, “Saudaramu, Dzul Bijâdain telah meninggal.” Renungkan betapa besar rasa cinta Rasulullah Saw kepada pemuda yang mampu beristiqamah ini. Aku (Abdullah bin Mas’ud) lalu memandang Abu Bakar dan Umar sambil berkata, “Kalian biarkan Nabi Saw menggali tanah, sementara kalian berdua hanya berdiri saja.” Abu Bakar berkata, “Rasulullah hanya ingin menggali liang kubur Dzul Bijâdain sendirian.”

Rasulullah lalu menjulurkan tangan beliau kepada Abu Bakar dan Umar sambil berkata, “Dekatkan (jenazah) saudara kalian kepadaku.” Abu Bakar dan Umar lalu memberikan jenazah Dzul Bijâdain kepada Nabi Saw. Beliau bersabda, “Bersikaplah lembut dengan saudaramu! Bersikaplah lembut dengan saudaramu! Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Nabi Saw lalu meletakkan jasad Dzul Bijâdain di hadapan beliau. Air mata beliau pun terjatuh mengenai kain kafan Abdullah Dzul Bijâdain. Beliau lalu meletakkan jenazah itu ke liang kuburnya kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa, “Ya Allah, aku bersaksi di hadapan-Mu bahwa malam ini aku ridha dengan Dzul Bijâdain, maka ridhailah ia.”

(Amru Khalid, Kalam minal Qalb, hal. 60, Darul Ma’rifah Beirut, Libanon, Cet II, 2004M/1425H)


My comment

Tindakan Abu Bakar & Umar di atas sangat membingungkan n aneh…jika peristiwa ini benar-benar terjadi, saya yakin hal ini terjadi di Madinah, dan usia Rasulullah Saw tidak kurang dari 53 tahun. Saya tidak bisa membayangkan betapa berat pekerjaan yang dilakukan Rasulullah. Menggali kuburan seorang sahabat seorang diri, semenetara 2 “sahabat setia”-nya menonton dengan asyik sahabat yang di-“cintai”-nya, Rasulullah Saw bermandi peluh dan terengah-engah menggali kuburan…benar-benar luar biasa.

Ketika Abdullah bin Mas’ud menegur kedua sahabat Nabi tersebut, dengan enteng mereka (syaikhan) menjawab seperti yang dikutip Amru Khalid di atas. Weleh..weleh..

Komentar»

1. vivi - Sabtu, 3 Maret, 2007

menurut saya hal ini kurang bisa dimengerti, soalnya katanya waktu itu malam dan dingin terus apa ga ada orang lain terus emangnya Rasulullah aja apa yang mengangkat jasad sahabatnya itu. kok ada yang janggal ya???