jump to navigation

Mengapa Jasad Fatimah Tidak Dikuburkan Di Samping Makam Rasulullah Saw? Selasa, 15 Mei, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, Artikel, Opini.
trackback

Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa?

Bukankah Rasulullah Saw teramat sangat mencintai putrinya ini, sampai-sampai Rasulullah Saw bersabda, “Fatimah adalah bagian dari diriku. Maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti ia telah membuat marah diriku!”

(Shahih Bukhari) 1]

Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda, “Fatimah adalah belahan jiwaku, aku menjadi susah karena sesuatu yang membuatnya susah dan aku berbahagia karena sesuatu yang membuatnya bahagia..” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dan Al-Hakim) 2]

Dalam hadits lainnya Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku. Barangsiapa yang menyakitinya berarti ia menyakitku.” (H.R Al-Hakim)

Hadits lainnya yang juga populer di mana Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya Fatimah merupakan bagian dari diriku, aku merasa sakit sebab sesuatu yang menyakitinya. Dan aku akan marah karena sesutu yang membuatnya marah pula.” (H.R. Ahmad, Turmidzi, Al-Hakim dan Al-Thabrani, dengan sanad-sanad yang shahih)

Apakah pernyataan-pernyataan Nabi saw ini sekadar ungkapan sentimen personal beliau? Tentu saja tidak, karena Allah SwT berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Al-Quran Surah Al-Najm [53]: 3)

Bahkan diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada putri tercintanya, Fatimah : “Sesungguhnya Allah ridha karena keridhaanmu dan Allah murka karena kemarahanmu!” (H.R Al-Thabrani) 3]

Lalu mengapa putri tercinta Nabi Saw ini tidak dikuburkan di samping makam ayahnya, Rasulullah Saw, padahal Sayyidah Fatimah sendiri sangat mencintai ayahnya? Lalu mengapa Abu Bakar & Umar bisa dimakamkan disamping makam Rasulullah Saw, padahl mereka wafat jauh setelah Sayyidah Fatimah wafat? Ada apa? Apa yang telah terjadi di masa itu?

(Coba Anda lihat hadits : Shahih al-Bukhari Jilid 5, hadits nomor: 546).

Catatan Kaki:

1] Shahih Bukhari, Jil. 5, hadits no. 61.

2] Thabrani juga meriwayatkan hadits yang serupa dengan lafadz yang sedikit berbeda.

3] Sanad hadits ini hasan.

Komentar»

1. islam feminis - Rabu, 16 Mei, 2007

Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahro as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?
Kenapa sampai sekarang makam beliau masih teka-teki, artinya tidak diketahui secara jelas makamnya?
Kenapa, dan kenapa?
Ada apa dibalik semua ini?

Melkisedek98 - Rabu, 2 September, 2009

terkait dengan kebiasaan orang arab yang suka merusak jenazah mas. Fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.

Karena protesnya tidak digubris, dalam keadaan berdarah karena keguguran, ia mengambil dan memakai mantel pemberian Nabi Muhammad dan mengutuk para penyerangnya. Namun Imam ‘ Ali AS dengan segala kemulian dan kebijaksanaannya mencegah hal tersebut, karena beliau tahu kutukan Fatimah AS akan disegerakan di dunia.

Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.

Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.

rizky maulana - Kamis, 17 September, 2009

betul juga ini adalah teka-teki si lang

2. wibisono - Jumat, 2 Januari, 2009

subhanallah,saya sangat senang membaca semua artikel
.saya seoarang suami & ayah 2 anak,saya mohon bimbingan by email tentang bgm menjadi suami & ayah yang teladan,agar sy bisa mempertanggung jawabkan yang terbaik dimata allah swt & insyaallah sy bisa jadi teladan bagi anak keturunan kami,amien yaa robbal alamien,..
wassalam,..
wibisono

3. matano - Kamis, 28 Mei, 2009

sekarang makam fatimah di mana? klo abu bakar umar usman ali dan yang termasuk 10 yang dijamin masuk syurga makamnya dekat rasul juga?

Melkisedek98 - Rabu, 2 September, 2009

Apakah orang yang menyakiti Sayidah Fatimah AS dijamin masuk syurga? Apakah orang yang menzolimi keluarga Nabi (Ahlul Bait) dijamin masuk surga? Hadits 10 sahabat tersebut masih perlu dikaji ulang.

4. dildaar80 - Minggu, 14 Juni, 2009

Jadi jawabannya apa ya?

5. Ansharullah bin Mansyur - Minggu, 12 Juli, 2009

Sebagai pecinta ahlul bayt harus berjuang untuk menemukan dan merawat makam Sayyidinah Fatimah Az-Zahra, Sayyidinah Ali bin Abu Thalib dan para lmam Ahlul Bait lainnya. Sebagaimana qt ketahui ada beberapa Imam Ahlul Bayt dimakamkan di Baqi – Madinah.
Sayyidinah Ali bin Abu Thalib, Sayyidinah Fatimah Az-Zahra binti Muhammad, Sayyidinah Hasan bin Ali Bin Abu Thalib bin Muhammad berhak dimakamkan di Rumah Rasulullah karena mereka Ahlul Bait Rasulullah yg sejak lahir sudah Islam. Mungkin mereka tidak dimakamkan disamping Rasulullah karena arogansi Aisyah binti Abubakar yang menguasai rumah Rasulullah sepeninggal Rasulullah.

6. Anti Zionis - Minggu, 12 Juli, 2009

Bahkan sampai pemakaman jenazah saja dipolitisasi oleh …….

Melkisedek98 - Rabu, 2 September, 2009

bukan dipolitisir mas, tapi mengungkapkan kebenaran :)

Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

7. hadi - Selasa, 14 Juli, 2009

Kami suka dengan artikel2 anda. Mohon izin disebarkan ya..

Salam

8. nisa - Jumat, 7 Agustus, 2009

jadi jawabannya apa???????

Melkisedek98 - Rabu, 2 September, 2009

cob cek peristiwa sengketa tanah Fadak

Quito Riantori - Kamis, 3 September, 2009

Sudah saya tulis. Coba cek artikel Tanah Fadak di blog ini.

9. zulmi - Minggu, 16 Agustus, 2009

di manapun makam siti fatimah yang pasti ia putri rosulullah

10. zul - Kamis, 27 Agustus, 2009

Walah, kok sang suami nggak tahu dimana makam isterinya?

Sang Suami yang kuat dan muda yang hanya sekitar 30-an ketika isterinya wafat nggak bisa melawan orang tua yang umurnya 61 tahun yang dituduh menyembunyikan jasad sang isteri?

Aneh… cukup aneh..

Quito Riantori - Kamis, 27 Agustus, 2009

@zul
Tidak ada yang aneh. Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)

Melkisedek98 - Rabu, 2 September, 2009

Justru yang meguburkan adalah Imam ‘Ali AS dan dengan bantuan beberapa sahabatnya (saya lupa namanya)

11. Melkisedek98 - Rabu, 2 September, 2009

Kenabian Nabi Muhammad sama dengan kenabian Nabi Musa.

Alkisah Nabi Musa pernah dikhianati oleh Samiriy. Samiriy artinya adalah berbisik-bisik atau sekolompok orang yang berbisik-bisik untuk bermakar ria. Nabi Harun AS diam karena takut terjadi perpecahan seperti yang telah dicantumkan oleh mas Quito.

Hal Ini juga sama terjadi pada diri Nabi Muhammad yang dimana beberapa orang sahabatnya berbisik-bisik di saqifah untuk merebut kekuasaan Imam ‘Ali AS ketika Nabi sedang menghadapi hari-hari terakhirnya. Imam ‘Ali mengetahui hal tersebut tapi diam saja, semata-mata agar tidak terjadi perpecahan dikalangan umat, hal ini sangat sesuai dengan sikap Nabi Harun AS.

Dan adalah fakta bahwa kedudukan Imam ‘Ali AS sama dengan kedudukan Nabi Harun As disisi Nabi Musa AS.

12. Melkisedek98 - Rabu, 2 September, 2009

perlu digaris bawahi bahwa kata “samiriy” dalam bahasa arab dan tafsir Al-Quran, bukan merujuk pada nama satu individu, tapi merujuk pada suatu kegiatan tersembunyi oleh “sekelompok” individu untuk berbuat makar.

13. armandinata - Jumat, 18 September, 2009

apa yg sebenarx yg terjadi pada dunia Islam?
Mudah2an ALLAH SWT membukakan jalan yang benar dan lurus yang dirahmati dan diridhoinya untuk kita generasi ISLAM sekarang.AamiiN.

14. bob - Minggu, 27 September, 2009

karena Zahro as, ingin menyampaikan pesan kepada umat islam setelahnya yg mau berfikir…ttg…peristiwa dan ajaran islam yg sebenarnya.

15. Majnun - Kamis, 22 Oktober, 2009

semuanya masih teka teki, cerita yang beredar 6 bln sepeninggalan nabi Sayyidah Fatimah meninggal..tapi bagaimana jika ceritanya sepeninggalan nabi beliau tdk meninggal dunia tapi meninggalkan negri arab karena keluarga nabi sendiri diperlakukan dengan tidak baik bahkan kanjeng nabi meninggal termasuk disebabkan oleh racun yang ditaruh dimakanan beliau termasuk sayyidina Hasan yang meninggal diracun oleh istrinya, sayyidina husein yang meninggal dipenggal di padang karbala dan kepalanya menjadi hiasan…..

16. mursan - Selasa, 3 November, 2009

10 sahabat yg di doakan Rasulullah masuk surga katanya shahih..lalu bagaimana dgn kemarahan Sayyidah Fatimah Radiallahu anha kpd sahabat Rasulullah itu…sebab sabda Rasull : kemarahan fatimah adalah murkanaya Allah..gimana donk???

17. Prince - Selasa, 10 November, 2009

Komentar sdr Zul di atas khas kalangan sunni khususnya di indonesia. Bagi mereka keberanian Imam Ali as. disejajarkan dg keberanian tokoh-2 dlm sejarah yg terkenal keberaniannya spt Ken Arok, Jenghiz Khan, Warok Suromengolo, Si Pitung dll. Terbayang di benak mereka sosok gagah perkasa, agul-agul, berteriak menantang ke sana ke mari spt preman pasar.
Hawa nafsu utk menjatuhkan pengikut Ahlulbayt begitu membara di hati mereka sehingga menutup akal mereka utk memahami Imam Ali as. sbg sosok insaanul-kamil. Sosok yg di dalam dirinya berkumpul seluruh kualitas unggul hasil ‘kreasi’ mahluk sempurna Muhammad Saaw.
Mereka yg berpikir bhwa keberanian haruslah diwujudkan tanpa prasyarat, seharusnya (jika gak dengki) mampu berpikir dg logika sederhana :
jika Imam Ali as. dikenal sedemikian gagah beraninya, lantas bagaimana dg Rasulullah Saaw yg membentuk kepribadian beliau ? Bukankah Rasulullah Saaw adalah ciptaan tersempurna Sang Pemilik Kesempurnaan ? Bukankah Rasulullah Saaw pemilik kualitas tersempurna ? Bukankah Rasulullah Saaw pemilik keberanian tersempurna ? Betapa tidak, bahkan seringkali dalam peperangan-2 ketika para sahabat terdesak kewalahan menghadapi musuh mereka berhamburan berlindung di belakang Rasulullah.
Lantas pertanyaannya :
kenapa ketika dlm periode Mekkah beliau tidak berani berdakwah seara terang-2an? Bahkan ‘ngacir’ ke Madinah? Dimana ketika itu keberanian sempurna yg beliau miliki?

“… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah..” (QS Shaad: 26)

“Berapa banyak akal yang takluk di bawah tampuk hawa nafsu yang berkuasa” (Imam Ali, Nahjul Balaghah – bagian Al-Hikam dan surat-2 pendek)