jump to navigation

Benarkah Nabi SAWW Terputus Keturunannya? Senin, 21 Mei, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

KETIKA Thahir, putra Nabi Saw dari Khadijah lahir dan langsung meninggal dunia, Amr bin Ash dan Hakam bin Ash justru bergembira ria sambil mengejek Nabi Saw dengan sebutan Al-Abtar, orang yang terputus keturunannya. 1]

Ejekan-ejekan mereka menyebar di kalangan kaum kafir Quraisy dan hal ini membuat Nabi Saw dan istri tercintanya, Khadijah as semakin berduka. Bagaimana tidak, tidak lama setelah kedua manusia mulia ini kehilangan seorang anak laki-lakinya, dua manusia berhati Iblis ini justru menyebarkan penghinaan terhadap Nabi Saw dengan sebutan yang sangat menyakitkan : Al-Abtar!

Namun Allah Swt tidak membiarkan kedua manusia (Rasul Saw & Khadijah as) yang dicintai-Nya ini terus dilarut duka. Allah Yang Maha Pemurah menurunkan sebuah surah yang diturunkan khusus untuk menghibur keduanya : Surah Al-Kautsar!

Tahukah Anda apakah Al-Kautsar itu? Apa isi surah ini sehingga Nabi Saw serta Sayyidah Khadijah merasa terhibur karenanya?

APAKAH AL-KAUTSAR ITU?

AL-KAUTSAR secara literal bermakna : Yang Berlimpah (abundance). Dengan wafatnya putra Rasulullah Saw dari Khadijah as tersebut, Allah SwT menghibur keduanya dengan Al-Kautsar, yaitu Sayyidah Fathimah! 2] Yang melalui Sayyidah Fathimah as inilah keturunan Muhammad Saw berlanjut berlimpah-ruah sampai akhir zaman. 3]

Fakhrur Razi mengatakan bahwa, “Surah (Al-Kautsar) ini diturunkan untuk membantah pernyataan seorang kafir yang mencela Nabi Saw karena tidak mempunyai anak laki-laki, menjadi jelas bahwa makna yang diberikan di sini adalah bahwa Allah Swt memberi Nabi Saw keturunan yang akan abadi. Kita harus mengingat bahwa banyak pembantaian telah dilakukan terhadap keluarga Nabi, namun dunia masih dipenuhi oleh mereka; sementara Bani (keturunan) Umayyah punah kecuali beberapa orang yang tak berharga…” 4]

Al-Kautsar juga berarti sebuah sumber mata air atau telaga di Surga yang khusus Allah anugerahkan kepada Rasul Saw. Kadang-kadang Rasulullah Saw menyebut telaga karunianya ini dengan sebuatan : al-Haudh.

Diriwayatkan oleh Abu Bisyr di dalam Shahih Bukhari bahwa Said bin Jubair mengatakan bahwa Ibn Abbas menceritakan tentang al-Kautsar : “Al-Kautsar itu adalah “anugerah” yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Saw.”. Lalu Abu Bisyr berkata kepada Said, “Tapi banyak orang mengatakan bahwa al-Kautsar itu adalah salah satu sungai (mata air) di surga.” Said menjawab, “Mata air surga itu adalah salah satu anugerah yang berlimpah ruah yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Saw.” 5]

Masih di dalam Shahih Bukhari, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw meminta seorang Anshar agar mengumpulkan mereka (para sahabat Nabi) untuk berkumpul di sebuah tenda lalu beliau pun bersabda, “Bersabarlah sampai kalian menjumpai Allah dan Rasul-Nya dan aku akan menunggu kalian di Telaga (Al-Kautsar)6]

Dan yang paling menarik, masih di dalam kitab yang sama – Shahih Bukhari – Anas bin Malik menambahkan kalimat di atas dengan : “Namun kami tidak bersabar” 7]

NABI SAW TERPUTUS KETURUNANNYA?

Siapa pun yang menganggap Nabi Saw tidak memiliki keturunan dalam arti “silsilah beliau terputus karena beliau tidak memiliki seorang pun anak laki-laki” maka berarti ia tidak berbeda dengan kaum kafir Quraisy yang telah menghina Nabi Saw dengan sebutan al-Abtar. Allah SwT menyebut orang-orang yang berpikir bahwa Rasulullah Saw telah terputus keturunannya sebagai orang-orang yang membenci Rasulullah Saw, dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad) dialah yang terputus (keturunannya)” (Al-Quran Surah Al-Kautsar:3)

Apakah Anda juga berpikir bahwa Nabi Saw tidak memiliki keturunan yang berlanjut? Saya berlindung kepada Allah SwT dari pemikiran seperti itu!

Simak hadits di bawah ini dengan sungguh-sungguh :

“…Setiap anak memiliki penisbatan keturunan melalui ayahnya (‘ishbah) , kecuali kedua putra Fatimah (Hasan dan Husain) . Karena sesungguhnya akulah wali dan ishbah untuk keduanya!” (Hadits riwayat al-Hakim dari Jabir) 8]

Di dalam Shahih Bukhari pun diriwayatkan bahwa suatu waktu Rasulullah Saw membawa al-Hasan (putra Fatimah) lalu beliau Saw bersabda, “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang Sayyid!” (Shahih Bukhari Jil. 4, Fadhail Al-Shahabah, Bab Manaqib al-Hasan, hadits no. 3746. Dalam edisi bahasa Inggris hadits no. 823) 9]

Dan memang di dalam kitab-kitab hadits mau pun sejarah telah tercatat bahwa Rasulullah saw senantiasa memanggil putra-putra Fatimah dengan panggilan: waladiy (anakku).

Jadi sekali lagi, jika sesorang berpikir bahwa keturunan Rasulullah Saw tidak berlanjut, maka orang itu sama dengan para pembenci Rasul Saw! Saya (Quito) berlindung dari yang demikian itu! Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa aali Muhammad!

Catatan Kaki :

1. Tafsir Ayatullah Mahdi Pooya ttg Surah Al-Kautsar. Sedangkan menurut Tafsir Singkat Ayatullah Makarim Syirazi, beliau mengatakan bahwa orang yang menghina Nabi Saw dengan perkataan Al-Abtar adalah : Al-Ass ibn Wa’il al-Sahmi. (Tafsir Singkat Ayatullah Makarim Syirazi ttg Surah al-Kautsar)

2. Fakhrur Razi di dalam Tafsir Fakhrur Razi-nya; Al-Thabarsi di dalam Majma al-Bayan-nya, dan Ayatullah Makarim Syirazi di dalam tafsir singkatnya.

3. Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz 30, Surah Al-Kautsar.

4. Abu Muhammad Ordoni, Fatima The Gracious, Ahlul Bait Digital Library.

5. Shahih Bukhari Jil. 6, hadits no. 490. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibn Jarir, dan Al-Suyuthi di dalam Durr al-Mantsur-nya.

6. Ibid, Jil. 9, hadits no. 533

7. Ibid, Jil. 4, hadits no. 375

Tentu saja maksud Anas bin Malik dengan kata-kata “Namun kami tidak bersabar” berhubungan erat dengan pesan terakhir Rasulullah Saw saat Hajji Wada’. Saat itu Rasulullah Saw berpesan, “Kiranya telah dekat saatnya aku dipanggil (oleh Tuhanku) dan aku segera memenuhinya. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian al-Tsaqalain (2 perkara yang berharga) Kitab Allah dan ‘Itrah, Ahlul Baitku. Kitab Allah adalah tali yang terbentang daripada langit ke bumi dan ‘Itrahku Ahlu l-Bait. Sesungguhnya Allah SWT memberitahuku tentang kedua-duanya. Sesungguhnya kedua-duanya tidak akan berpisah sampai dikembalikan kepadaku di (telaga) al-Haudh. Maka kalian jagalah baik-baik kedua peninggalanku itu.” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya dari Sa’id al-Khudri. Sedangkan Tirmidzi, Al-Hakim dan Al-Thabari juga meriwayatkannya namun dari Zaid bin Arqam)

8. Thabrani juga meriwayatkan hadits serupa dari Sayyidah Fatimah Az-Zahra as. Thabrani juga meriwayatkan dari Umar dengan lafadz yang berbeda: “…Setiap anak penisbatan keturunan mereka ikut sang ayah, kecuali putra Fatimah. Akulah ‘ishbat (marga) mereka sekaligus ayah mereka!” Al-Hakim juga meriwayatkan hadits ini di dalam kitab haditsnya Mustadrak Al-Shahihain Jil. 3 hlm. 54.

9. Lihat Fathul Bari 7:94

- Tirmidzi, Al-manaqib Bab Manaqib al-Hasan wal Husain Jil.5 hlm. 616, hadits no. 3773.

- Abu Dawud misalnya di dalam kitabnya : Sunan Abu Dawud, Bab. 31, hadits no. 4276; Bab 35, hadits no. 4645.

- Al-Nasaiy 3 : 107 dalkam Al-Jumu’ah Bab : Khutbah Pemimpin Kepada Rakyatnya di atas mkimbar.

- Thabarani hadits no. 2588, 2592, 2593.

- Ahmad hadits 5:38, hadits no. 44, 49, 51.

About these ads

Komentar»

1. Mochammad Ba'agil - Senin, 21 Mei, 2007

Assalamualaikum wr.wb
Jika diperbolehkan, saya ingin berpendapat.

Al ithrah adalah keturunan.
Itratur-rasul artinya keturunan Rasul saww.
Pertanyaanya apakah rasul punya keturunan yang bersambung? bukankah Rasulullah tidak punya anak laki-laki?

Seseorang yang bernama Al-Ash bin Wa’il, abu Jahal dan Abu Lahab yang ketika mendengar putra Rasulullah saww wafat (Al-Qasim) dalam usia masih sangat kecil, mengejek-ejek Rasulullah sambil menyebarkan kabar bahwa “Muhammad adalah orang abtar..!” (lelaki yang terputus keturunannya). Mendengar itu Rasulullah bersedih. Lalu Turunlah ayat:
Inna a’thoina kal kautsar. Fa sholli li Robbika wan khar. Innasya niaka huwal abtar.
“Sungguh (hai Muhammad), Kami anugerahkan kepadamu nikmat yang banyak. Maka hendaklah engkau dirikan shalat semata-mata karena Tuhanmu., dan sembelihlah (ternak kurban). Sesungguhnya pembencimu itulah orang yang abtar (terputus keturunannya), konon, Sayyid Thabathaba’i (Dala tafsir al Mizan) menyebutkan Al Kautsar yang berarti keturunan yang banyak Adanya Al Abtar (menurut Thabathaba’i) tidak dapat dipahami jika kata ‘Al Kautsar tidak mencakup mkana ‘keturunan yang banyak’. Namun, sebagian ulama mengartikan al abtar dengan ‘terputus nikmatnya’. Kalimat tersbut akan menjadi tidak relevan dengan asbabun nuzul ayat tsb.
Benarkah wanita tidak dapat memberikan garis keturunan? secara umum ya. tetapi secara khusus, Allah memberikan kehormatan pada wanita tertentu.
Memang benar, putera Rasulullah saw (baik Al Qasim maupun Ibrahim) meninggal dalam usia kecil, tetapi yang dimaksud ayat tsb adalah Sayyidah Fathimah Azzahra r.a. sebab Al Qur’an menyebut keturunan dari seorang anak perempuan berarti keturunan dari ayah anak perempuan itu juga. Kita perhatikan Firman Allah:

“.. Dan dari keturunannya (Nabi Ibrahim a.s) ialah Daud, Sulaiman, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami beri balasan kepada ornag-orang yang berbuat baik. Kemudian (menyusul) Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. (Q.S Al An’am : 84-85)

Kita saksikan Al Qur’an menamai Isa putera Maryam sebagai putera keturunan Nabi Ibrahim a.s. Padahal kita tahu bahwa Nabi Isa a.s tidak memiliki Ayah.

Kemudian Rasul juga berkata:
“Semua sabab (kerabat) dan nasab (silsilah keturunan) akan terputus pada hari kiamat kelak kecuali kerabat dan nasabku”
——
Ahlulbait, baik dalam kalangan Ahlusunnah dan Syiah diakui keberadaanya. Namun ada ikhtilaf dalam penjelasan siapa saja ahlulbait itu.
Sebelumnya saya harus menjelaskan dulu tentang ahlubait.

Al Qur’an menyebutkan secara jelas tentang keberadaan ahlubait ini yang tidak dapat ditolak baik dari kalangan syiah maupun ahlusunah:

1. Surah Al Ahzab (Q.S 33: 33) :
“Sesungguhnya Allah hendak mensucikan kalian hai Ahlibait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya”
Jadi dari ayat diatas sudah jelas bahawa Ahlubait ini adalah orang yang Allah sendiri yang menjamin kesuciannya (ke maksuman nya). Mengapa Allah Menjamin kemaksuman orang-orang ini? karena mereka pengawal al-Qur’an setelah Rasulullah wafat: penjelas isinya sebagai petunjuk hidup bagi manusia, sebagai pedoman hidup manusia. Sifat manusia yang berbeda-beda, cara memahami sesuatu yang berbeda-beda membutuhkan suatu penerang, penjelas dan pengarah dalam memahami petunjuk-petunjuk yang Allah SWT telah ‘bungkus’ dalam bentuk huruf2 yang mudah dibaca oleh manusia. Penjelas UUD tentu saja adalah orang-orang yang sudah ditunjuk sebagai mereka yang berhak menjelaskan maksud undang-undang itu. Bagaimana dengan Al-Qur’an? berikut ini Allah SWT berfirman:

2. Surah Al Waqiah (Q.S 56: 75-79:
“Sungguh Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya ini adalah sumpah yang besar jika kamu mengetahui. Sesungguhnya Al Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul mahfuz). Dan tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”

Jadi Jelas, Allah swt sebelum menjelaskan siapa yang berhak menyentuh (makna) Al Qur’an, Allah SWT terlebuih dahulu bersumpah demi tempat beredarnya bintang2. Satu pertanyaan lagi, mengapa Allah SWT merujuk kepada bintang2 ciptaanya sebelum menjelaskan siapa yang berhak ‘menyentuh ‘ Al Qur’an ini? Dari jaman dahulu manusia telah menggunakan bintang2 sebagai petunjuk arah jika dalam kegelapan atau saat dia tersesat, maka bintang2 itulah sebagai petunjuk arahnya. Oleh karena itu keberadaan mereka yang ditunjukkan sebagai bintang2 dalam hidup manusia haruslah orang2 yang suci. Mengapa? karena sedikit kekeliruan maka ‘bintang2 bintang’ itu tidak akan menjadi petunjuk bagi manusia.

3. Dalam Kaitan dengan ayat tsb, Surah Ali Imran (QS. 3 : 7)
“Dia lah yang menurunkan Al KItab (Al Qur’an) kepda kamu. Diantara isinya da ayat-ayat yang muhkamat (ayat yang dapat dipahami dengan mudah) itulah pokok-pokok isi AL Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyabihat (ayat yang mengandung arti kiasan). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengerti takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang menguasai ilmunya. Mereka (yang mengetahui takwil ayat2 mutasyabihat) berkata ‘kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya kecuali orang-orang yang berakal”

Lalu Siapa ahlulbait itu?
Yang jelas, menurut hadis hadis ahlusunnah yang masyhur, Ahlubait itu adalah Ahlul Kisa’:
Rasulullah saw, Ali (bin Abi thalib), Fathimah (binti Rasulullah), Al Hasan dan Al Husain (keduanya putera fathimah) – Lihat Shohih Muslim kitab Fadhail Asshohabah bab Fadhail Ahlulbayt Nabi; Shohih Turmudzi vol.2 hal 29, 209, 319; Sunan Al Baihaqi vol.2 hal 149; Al Kasyasyaf pada tafsiran al Mubahalah, musnad Ahmad bin Hambal vol.1 hal 330; Kanzul ummaalvol.7 hal 92, 103

Dalam Kitab Ahlusunnah yang lain, ahlulbait itu ada 12 selain Rasulullah saw: Ali bin Abi thalib, Hasan Bin Ali, Husein bin Ali dan 9 keturunan Husein.

2. Haji Muhammad Abdullah - Kamis, 24 Mei, 2007

Assalamualaikum

Ana sering dengan tentang penafsiran AlQuran Surah Al Kautsar di dalam Khotbah oleh Shaikh Fadil Salani sebelum Sholat Jumad.

Ana sedang mencari kitab rujukan yang menerangakan tentang Fatimah; belum ketemu.

Terima Kasih atas informasi ini

3. HM. Sudirdjat. S.IKom - Kamis, 5 Maret, 2009

Assalamualaikum
Saya pernah bermimpi pada bulan April 2004 dirumah kontrakan Blok C.36 Komp. Bukit Sejahtera Palembang yang mendengar suara :
Nak kamu itu Keturunan Rasulullah tapi mimpi itu tidak saya pikirkan ah mungkin hanya bunga tidur, terus saya pindah ke Bengkulu dan ketemu seorang teman dan saya kerumahnya dan saya ditanya asal suku saya, Bapak saya pernah bilang dia keturunan dari Banten setelah itu saya diberi Silsillah dari Kesultanan Banten ternyata memang ada orang tua beri SilSillah Keturunan setelah ditelusuri memang ada dari Pangeran Suramenggala setelah baca Buku Kesultanan Banten memang Sunan Gunung Jati / Sjarief Hidayattullah Bapaknya keturunan ke 19 Rasullah.
dari Kesultanan Mesir.
Jadi mimpi itu benar dan memang masih ada Keturunan dari Rasullah di Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 188 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: