10 Penghalang Manusia dari Kebenaran Senin, 4 Juni, 2007
Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal.1 comment so far
Ada banyak faktor yang menyebabkan manusia terhalang dari kebenaran. Umumnya, faktor internal-lah yang lebih dominan mempengaruhi manusia ketimbang faktor eksternal. Semua faktor-faktor penghalang itu saya ringkas menjadi 10.
1. MENGANDALKAN PERSANGKAAN DARIPADA PENGETAHUAN DAN KEPASTIAN
Sebagian besar manusia di dunia ini menganut ajaran agamanya berdasarkan perolehan dari orangtuanya, lingkungannya dan guru-guru di sekolahnya. Mereka menerima agama yang mereka anut seperti sebuah warisan turun menurun, dari ayahnya, dari kakeknya dan seterusnya. Warisan keagamaan ini pun diperkuat dengan lingkungan yang homogen, seperti kita yang tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam tentulah memiliki lingkungan yang lebih banyak menganut agama Islam ketimbang agama yang lain. Atau di Amerika Serikat yang penduduknya mayoritas beragama Kristen tentulah memiliki lingkungan yang lebih banyak beragama Kristen ketimbang yang lain. Sehingga ajaran-ajaran yang disampaikan oleh guru-guru mereka di sekolah pun jelas-jelas semakin memperkuat kepercayaan yang sudah ada itu. Namun begitu tidak sedikit orang yang mempertanyakan kebenaran agama atau keyakinan yang selama ini mereka anut. Cukup banyak warga AS yang beralih menganut agama Islam setelah merasa tidak puas dengan agama yang mereka anut. Mereka menemukan banyak kejanggalan dan hal-hal yang bertentangan dengan nalar dan rasio mereka di dalam agama yang mereka anut selama ini sehingga mereka mencoba menyelidiki agama-agama lainnya sebagai agama alternatif yang ingin mereka jadikan sebagai keyakinan dan jalan hidup mereka.
Bagaimana pun, tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah orang-orang seperti ini jauh lebih sedikit ketimbang orang-orang yang hanya pasrah (taqlid buta) menerima keyakinan yang telah diperolehnya dari orangtua dan nenek moyang mereka.
“Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?” (Al-Quran Surah Al-Maidah [5] ayat 104) (lagi…)
Tempat Langit dan Bumi Bertemu Senin, 4 Juni, 2007
Posted by Quito Riantori in Artikel.add a comment
SECERCAH PERCIKAN ILAHI DARI RUH
Di dalam diri kita ada secercah percikan Ilahi yang tidak memiliki batasan dan itulah Ruh! Ruh berada ‘di’ dunia yang tidak mengenal ruang dan waktu.
Kadang kita ingin sekali berada di tempat yang luas dan tak terbatas, daratan yang terentang tak bertepi, atau samudra yang sedemikian luas tak berpantai. Inilah kerinduan kita semua akan kedamaian dan ketenangan. Itulah zona yang sama, yang ada di dalam diri kita, yang sudah ada sejak masa pra-eksistensi (zaman azali atau masa alastu), dan pasca eksistensi, seperti halnya pra-kesadaran dan pasca-kesadaran. Kematian memperlihatkan poin tersebut, di mana kita akan dikembalikan ke bentuk materi (tanah) yang dipinjam dari bumi. Kita akan terus membawa suatu aspek dari diri kita ke zona yang tidak mengenal ruang dan waktu, zona setelah kita mengalami kematian, yang akan menjadi kebalikan dari jalan, yang di mana dia termanifestasikan di dunia kita sekarang ini. Pada saat kita mati dan kita berada jauh di luar tubuh yang tidak lagi berisi ruh, namun lebih dari itu, ruh akan dimasukkan sebuah gambaran seperti tubuh kita. Semakin jauh kita masuk ke jalan pencerahan, kita akan mengetahui bahwa hal ini merupakan fakta ketimbang sekadar keyakinan yang kita peroleh dari teori. (lagi…)
“PENCARIAN” Senin, 4 Juni, 2007
Posted by Quito Riantori in Puisi & Syair.1 comment so far
Pencarian
Entah engkau bergegas atau lambat,
akhirnya engkau kan menemukan
apa yang sedang kau cari.
Abdikan selalu dirimu
sepenuh hati
kepada pencarianmu.
Meskipun engkau menjadi pincang
atau bungkuk,
jangan tinggalkan pencarianmu,
namun seretlah dirimu
menuju kepada-NYA
(Rumi, Matsnawi III : 979-80)
oooOooo
Pencarian II
Tuhan telah menanamkan
dalam hatimu
hasrat untuk mencari-NYA.
Jangan melihat kelemahanmu
tetapi tetapkan dirimu
dalam pencarian itu.
Setiap pencari layak
melakukan pencarian ini.
Berjuang keraslah terus
sampai jiwamu terlepas
dari penjara materi ini
(Rumi, Matsnawi V : 1733-5)
Apa Yang Diwariskan Cinta? Senin, 4 Juni, 2007
Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel.add a comment
“Tiga hal yang diwariskan (dihasilkan) cinta :
Agama, Kerendahan hati, dan Kemurahan hati”
(Imam al-Shadiq as) 1]
KITA hanya bisa memahami cinta dari apa yang dihasilkan (buahnya), atau tanda-tanda dari orang yang mengalami cinta. Karena hal inilah mengapa Imam Ja’far al-Shadiq, di dalam hadits di atas hanya menyebutkan buah-buah dari cinta, atau apa yang diwariskan dari cinta, sehingga dengan ciri-ciri tersebut kita bisa mengenal seseorang yang telah memiliki cinta. Seorang pencinta sejati, menurut Imam as, mesti memiliki tiga kriteria, ia mesti beragama (bukan dalam pengertian formal), rendah hati dan murah hati. (lagi…)