jump to navigation

Nama Allah Yang Ke-Seratus Jumat, 8 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

Seorang faqir dari India memohon kepada seorang Sufi agar sang Sufi sudi menerangkan Nama Allah Yang Paling Agung (Ismullahi al-A’zham), yaitu Nama Allah yang ke seratus, karena konon orang yang dapat mengenal Nama Allah yang keseratus itu bisa membuat keajaiban keajaiban serta mengubah perjalanan hidup bahkan sejarah. Tetapi tak seorangpun dapat mengenal Nama itu sebelum ia pantas untuk mengetahuinya.

Sang Sufi berkata:

Sesuai dengan tradisi, aku mesti memberimu ujian yang akan menilai kesanggupanmu. Karena itu pergilah engkau ke gerbang kota, tinggallah di sana hingga matahari terbenam, kemudian kembalilah kepadaku, dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah engkau saksikan di sana”

Dengan senang hati si Faqir melakukan segala sesuatu yang diperintahkan sang Sufi itu. Setelah terbenam matahari, kembalilah ia kepada sang Sufi yang arif dan berkata:

Sebagaimana yang engkau suruh aku telah menempatkan diriku di gerbang kota dalam keadaan yang penuh perhatian. Peristiwa yang paling mengesankan bagiku di sepanjang hari adalah mengenai seorang tua yang ingin masuk ke dalam kota sambil memikul kayu api yang sangat banyak. Penjaga gerbang kota mendesak agar si orang tua tadi membayar pajak sesuai dengan nilai barang yang dibawanya.

Karena tidak mempunyai uang barang sesenpun maka orang tua itu memohon agar ia diizinkan menjual kayu apinya terlebih dahulu. Setelah menyadari bahwa orang tua itu tidak mempunyai sahabat dan tidak berdaya maka penjaga gerbang memaksanya untuk menyerahkan semua kayu yang dibawanya. Kemudian kayu-kayu itu diambil oleh penjaga gerbang untuk dirinya sendiri, sedang orang tua tersebut diusir pergi disertai pukulan-pukulan keras.”

Sang Sufi bertanya :

Bagaimanakah perasaanmu ketika menyaksikan peristiwa itu?”

Si Faqir menjawab :

Semakin berkobarlah keinginanku untuk mengetahui Nama Allah Yang Paling Agung. Seandainya aku telah mengetahui Nama itu niscaya bencana itu tidak akan menimpa si penebang kayu yang malang dan tak bersalah!”

Sang Sufi berkata :

Wahai manusia yang ditakdirkan untuk memperoleh kebahagiaan! Aku sendiri mendapatkan Nama Allah Yang ke seratus dari guruku setelah ia menguji keteguhan hatiku dan menentukan apakah aku seorang emosional yang hanya mengikuti gejolak hati atau seorang pengabdi umat manusia, dan setelah ia mendidikku untuk menghadapi berbagai pengalaman yang membuatku sanggup melihat pikiran-pikiran dan tingkah lakuku sendiri”

Nama Allah Yang Keseratus adalah pengabdian seumur hidup kepada semua umat manusia. Guruku itu adalah tidak lain orang tua penebang kayu yang telah engkau saksikan siang tadi di gerbang kota!” 1]

Diriwayatkan di dalam kitab al-Kafi bahwa Imam Muhammad al-Baqir as berkata kepada sahabat Nabi, Jabir bin Abdillah ra :

Wahai Jabir, apakah kamu berpikir bahwa seseorang cukup menyatakan dengan lidahnya bahwa ia mencintai Ahlul Bait? Apakah dengan pernyataannya itu ia sudah menjadi salah seorang dari pengikut-pengikut setia (syi’atuna) kami?

Wahai Jabir, demi Yang Maha Perkasa, seseorang tidak bisa menjadi pengikut setia kami sampai ia menjadi seorang yang takut dan taat kepada Allah. Ia harus bersikap rendah hati, adil, memenuhi janji-janjinya, senantiasa dalam keadaan berzikir kepada Allah, memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan salat, berpuasa, menunjukkan kasih sayang, simpati, dan ketaatan kepada kedua orang tuanya, suka menolong dan ramah kepada tetangganya yang lemah dan miskin, membayarkan hutang untuk menunjukkan simpati dan kasih sayang kepada para yatim piatu.

Ia mesti selalu jujur. Ia juga harus senang membaca dan mempelajari al-Qur’an. Tidak pernah ada rasa benci dan dendam dalam hatinya. Tanpa kualitas seperti ini, ia tidak memenuhi syarat untuk mengklaim mencintai kami (Ahlul Bait) dan sebagai pengikut setia kami.

Wahai Jabir! Tidak cukup seseorang hanya mengatakan dengan perkataan dari mulutnya bahwa ia mencintai Imam Ali dan Ahlul Bait. Ia mesti mengikuti jalan hidup (sirah) Nabi Saww dan Ahlul Baitnya dan senantiasa bertindak sesuai sunnah yang telah ditentukan mereka. Jika ia tidak berbuat demikian, kemudian ia mengklaim mencintai Ahlul Bait, maka hal itu tidak bermanfaat baginya.

Wahai Jabir, tanpa ketaatan dan ketundukan, tidak seorang pun dapat mencapai kedekatan kepada Allah. Kami tidak menyukai orang-orang yang mengklaim sebagai sahabat-sahabat kami, padahal mereka tidak memenuhi semua kondisi-kondisi seperti itu. Orang-orang yang bergelimang dosa adalah musuh-musuh kami.” 2]

Catatan Kaki

1. Idries Shah, Thinkers of The East

2. Al Kafi Volume 2, page 74, Hadith No. 3

About these ads

Komentar»

1. saRe' - Jumat, 22 Juni, 2007

………..
nama ALLAH yang ke-seratus,,
apa saRa sudah termasuk cukup beruntung untuk tau??

2. Quito Riantori - Jumat, 22 Juni, 2007

seperti yang sudah dikatakan oleh sang guru sufi bahwa nama Allah Yang keseratus itu adalah menolong orang yang tertindas, membantu orang yang sengsara….dan yang seperti itu. Wallahu a’lam.
Thx & Salam

3. jalal jamal - Rabu, 22 Desember, 2010

nama allah keseratus tentu pasti ada, sang sufi masih membungkus dalam kerahasian. supaya manusia berpikir.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 152 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: