jump to navigation

Di Luar Jangkauan Pengetahuan & Pemahaman Manusia Senin, 11 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
add a comment

Di Luar Jangkauan Pengetahuan & Pemahaman Manusia

 

“Maka ketika mata terbelalak,
dan apabila bulan telah hilang cahayanya,
dan matahari dan bulan dikumpulkan,
pada hari itu manusia berkata : “Kemana tempat lari?”
Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!”

(Al-Qur’an Surat 75 ayat 7-11)

“Maka ketika mata terbelalak”, ketika dikejutkan dan dibingungkan. Ini dihubungkan dengan momen ketika teofani (theophanies) dimulai, karena ketiadaan pengetahuan sebelumnya atas apa yang ia renungkan (tafakkur) saat itu. Ia tidak mengetahui dan tidak mengenal apa yang ia lihat.
Bulan merupakan simbol seorang hamba (pelayan) di dalam kemungkinannya, dan gerhana merupakan kelenyapannya. Inilah yang dikatakan : suatu bukti keberadaannya yang merupakan pinjaman, bukan keberadaan dirinya yang bukan miliknya, di mana kepemilikan dirinya hanya sebuah metafora…

Matahari sebagai simbol Tuhan – Maha Besar Dia! – sama halnya dengan bulan yang menjadi simbol sang hamba (pelayan). Pengumpulan “keduanya” merupakan simbol dari maqam penggabungan dari penggabungan (jam’ al-jam’), suatu maqam yang terakhir, pelepasan yang terbesar, kebahagiaan tertinggi, yang di dalam maqam tersebut sang hamba, pada waktu yang sama, melihat ciptaan yang dihidupkan Allah, dan Allah memanifestasikan diri-Nya ke “dalam” ciptaan-Nya.

Sang ‘Arif kemudian bertanya,”Kemana tempat lari?”, oleh karena sedemikian hebat rasa bingungnya yang menggusarkannya atas keserbaragaman teofani: keanekaragaman mereka, karakter mereka yang begitu cepat berganti-ganti, sedemikian cepat mereka hilang lenyap, melimpahnya penurunan (tanazzulat) ketuhanan yang membingungkan akal dan dia menyelaminya dalam ketakberdayaan dan “ketaksadaran”…

“Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!”, tidak ada tempat berlindung, tidak ada jalan keluar. Sang ‘Arif yang akan meninggalkan keadaan ini untuk beristirahat segera diperingatkan untuk beristirahat dan ilmu ma’rifat hanya ditemukan secara tepat dimana ia berada sekarang. Kebingungan ini meningkat sebagaimana penurunan Ilahiyyah juga meningkat yang merupakan sumber pengetahuan ruhani. Inilah mengapa Sang ‘Arif terkemuka, Rasulullah Saww mengatakan,”Ya Allah, semakin besar ketakjubanku atas Kemulyaan-Mu!” (Mawqif 320, hlm. 53-55)

Pencarian tidak memiliki akhir, begitu pun pengetahuan akan Tuhan tidak memiliki akhir. Dia tidak bisa dikenal (secara mutlak). Dia hanya bisa dikenal lewat “sesuatu” yang berasal dari-Nya, sebagaimana efek dari nama-nama-Nya, bukan ke-diri-an (ipseity)-Nya. Inilah alasan mengapa mengikuti perintah (Tuhan) yang ditujukan bahkan kepada Sang Nabi, walaupun beliau menguasai pengetahuan Yang Awal dan Yang Akhir:
“Katakanlah : Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan!” (Quran Thaha [20] ayat 114). Dan beliau tiada henti mengucapkan ini, di setiap maqam, di setiap hal, di setiap tingkatan; di dunia ini, di alam barzakh dan bahkan di alam akhirat. (Mawqif 359, hlm. 134)

_____________________________________________________________________
Dikutip dari buku : ‘Abd al-Kader, 1807-1883, The Spiritual Writings of ‘Abd al-Kader, Albany, N.Y.: State University of New York Press, 1995. ISBN 0791424464