jump to navigation

Kisah Dari Sekolah Anak Jalanan Jumat, 22 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

pic_flower01b.jpg

Saya (Quito) mendapat kiriman e-mail dari seorang teman berupa tulisan yang sangat bagus yang diperoleh teman saya dari milisnya beberapa bulan yang lalu. Saya pikir bagus juga dimuat di blog ini. Saya sangat yakin tulisan ini sangat banyak manfaatnya bagi kita semua. Semoga hati kita bisa tergerak untuk bertindak, berbuat atau beramal. Amin. Mari kita simak kisah berikut; yang ditulis oleh seorang alumnus Fakultas Ekonomi UI, yang menjadi guru sukarela di sekolah anak-anak jalanan di kawasan Tanah Abang, Jakarta:

 

Kisah yang akan saya (Hanhan) tulis ini adalah “true story” yang dialami dan diketahui sendiri selama 4 kali Sabtu terakhir ikut menjadi sukarelawan mengajar sebuah sekolah SD gratis buat menampung anak-anak jalanan dan juga buat anak yang orang tuanya menyandang masalah sosial dan tidak punya biaya buat menyekolahkan anaknya.

PROFIL SEKOLAH, ORANG TUA MURID DAN MURID SDS NURANI INSANI
Sekolah tersebut terletak di daerah Petamburan Jakarta Pusat. Berbeda dengan sekolah anak jalanan lainnya yang kebanyakan tidak ada formal legalnya, seperti sekolah terbuka yang dipelopori oleh Ibu Kembar di Tanjung Priok, SD ini berstatus SD Swasta. Pendanaan SDS ini mengandalkan swadaya masyarakat dan bantuan personal pengurus LSM PKBI (Persatuan Keluarga Berencana Indonesia). Penerimaan murid sekolah ini tidak dimulai dari kelas 1 saja, tapi dibuka untuk semua kelas, hal ini untuk menampung pindahan dari sekolah yang lain (kebanyakan pindahan dari SD Negeri) dari kelas berapa saja karena alasan tidak punya biaya. Bangunan SD tersebut dulunya adalah madrasah yang sekarang tidak aktif lagi, jadi SDS ini sebetulnya hanya memanfaatkan bangunan dan nama yayasan yang tidak terpakai milik masyarakat Petamburan.

Jika ditinjau dari kelayakan sebuah bangunan untuk sekolah, sebenarnya SDS ini sama sekali tidak memenuhi syarat untuk dijadikan bangunan sekolah, karena menurut aturan Depdikbud sebuah sekolah minimal mempunyai WC murid dan guru yang terpisah, sedangkan di SDS ini WC-nya saja numpang di WC mesjid. Selain itu kalau mau senam dan upacara anak-anak harus pergi ke lapangan kelurahan setempat yang lokasinya dekat pasar tradisional yang banyak orang berlalu-lalang, itu pun kadang tidak bisa upacara atau olahraga kalau pas ada acara kelurahan. Sedangkan kalau main bola mereka main di lapangan pinggir kali, ini jelas tidak layak karena berbahaya takutnya mereka “lepas rem” kalau ngejar bola, sehingga bisa saja nyebur ke kali.

Kata Pak Dedi, kepala sekolah tersebut, sedih kalau melihat murid-muridnya istirahat, karena tidak ada lapangan untuk bermain, mereka suka jalan ke sekolah lain ngeliatin anak-anak sekolah lain pada lari-lari bermain dengan temannya. Anak SD ini sama sekali tidak diperbolehkan masuk ke halaman SD Negeri atau TK Negeri di sekitarnya, kalau ketahuan masuk langsung diusir, karena mungkin takut terkontaminasi kelakuan anak jalanan.

Pernah suatu kali murid SD ini katahuan masuk dan membuat onar di lapangan TK negeri. Setelah diusir rupanya anak tsb tidak berlapang dada, mereka teriak-teriak mengejek guru TK dengan sebutan “Mak Lampir”. Ibu guru TK mungkin kesal dan marah lalu mereka melaporkan kejadian tersebut ke Pak Dedi. Kepada ibu guru TK tersebut Pak Dedi hanya bisa minta maaf dan mohon maklumnya atas kejadian tersebut, mengingat mereka hanyalah sekedar anak jalanan yang perlu pendidikan dan perhatian khusus.

Kasus lain karena ketidaklayakan sekolah tersebut adalah sering terjadi tabrakan anak-anak yang satu dengan lainnya yang diakibatkan karena berlari-lari kejar-kejaran diantara gang-gang kelas. Dan pernah suatu kali anak jalanan tersebut sampai berdarah-darah, tapi untung saja bapaknya yang preman tersebut tidak marah, karena melihat guru yang menggendongnya pun ikut kena cipratan darahnya.

Mengingat keadaan tersebut di atas beliau berniat untuk memindahkan sekolah ke tempat yang lebih layak kalau ada dananya. Katanya di Jakarta ini ada beberapa bangunan sekolah yang diterlantarkan padahal secara fisik semuanya sudah memenuhi syarat, sekolah tsb bisa disewa. Keinginan itu sekarang terwujud, namun dengan menyewa sebuah rumah penduduk daerah sekitar situ, walaupun harus direnovasi terlebih dahulu. Alhamdulillah berkat bantuan dan pinjaman para donatur renovasi sudah selesai 90%. Renovasi dilakukan dengan menambah satu lantai di atas. Sampai saat ini dana yang masih diperlukan cukup besar, ternyata aktual pemasukan uang seperti yang dijanjikan oleh salah satu donatur tidak terealisasi dan anggaran yang dibuat tidak memenuhi biaya yang aktual, dikarenakan kenaikan bahan bangunan yang melonjak akhir-akhir ini dan ada pos-pos yang tidak diperkirakan sebelumnya, contohnya biaya instalasi listrik, biaya menambah daya, sanitary dll. Sampai saat ini sekolah masih defisit sekitar 27,5 juta.
Pertama kali mengenal SD ini, ketika saya diajak teman untuk menyerahkan sumbangan berupa uang dan pakaian-pakaian bekas yang berhasil dikumpulkan dari teman-temannya. Di lain kesempatan saya diajak keliling ke sebagian rumah-rumah murid. Dari sini saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa di Jakarta ini banyak sekali masyarakat yg sangat kekurangan. Dan sungguh sangat ironis disela-sela gedung-gedung bertingkat dan gegap-gempita pembangunan, ternyata masih banyak terdapat rakyat miskin yang tidak bisa bersekolah.

Keadaan rumah orang tua murid sangat meprihatinkan. Ada rumah yang hanya satu kamar sempit dan satu ruangan tengah sempit yang dihuni mulai dari nenek, anak-anaknya sampai cucu-cucunya bahkan sampai menentunya. Keadannya pengap, gelap dan hanya berlantaikan tanah. Kemudian diajak lagi keliling ke rumah murid yang lain, ternyata ada yang lebih menyedihkan lagi, bahkan saya ditunjukkan ke salah satu “rumah” murid yang terletak di pinggir kali dan tempat nongkrongnya di bawah jembatan pintu air dekat Shangrila, saya pikir ini dia “the lowest level people in the world”.

Selama keliling, Pak Dedi bercerita bahwa orang tua murid-muridnya kebanyakan berprofesi sebagai pemulung/pengepul sampah, tukang asongan, pengemis dan “profesi lainnya”. Sebagian dari mereka nggak jelas profesinya, sehingga mereka nggak jelas juga “besok apa makan ?”. Ada satu keluarga yang jelas menunya, tapi menunya adalah “Indomie satu kuah banyak” cukup mengganjal perut sekeluarga berlima. Hal ini tentu beda dengan kita yang nggak jelas adalah “besok menunya apa ?” atau “besok makan dimana ?”. Pernah salah satu dari orang tua muridnya yang mungkin sangat terpaksa (stomach can not wait), dia terpaksa mencopet tapi ketahuan dan hampir dibakar masa di pasar Palmerah….sungguh tragis, tapi itulah realitanya.

Namun walaupun keadaan yang sangat memprihatinkan para orang tua murid tersebut tetap punya keinginan agar anaknya bisa sekolah, itulah mungkin yang mengetuk hati Pak Dedi untuk mendirikan SD gratis ini. Sebab mereka tidak akan bisa masuk ke SD Swasta atau Negeri, karena harus mengeluarkan uang. Belum lagi kalau mau daftar sekolah ada banyak entry barrier, misalnya kalau mau masuk SD Negeri orang tuanya harus punya Kartu Keluarga, KTP, Akta Kelahiran, sedangkan keluarga para pemulung mana mungkin punya itu semua. Apalagi kalau mau masuk SD Negeri percontohan, calon murid harus lulus tes kompetensi, minimal pernah masuk TK, udah bisa baca dan lain-lain persyaratan, more impossible.

Disela-sela obrolan, Pak Dedi menunjuk salah satu muridnya yang pernah dalam suatu malam dipergoki sedang keliling-keliling dari gang ke gang, padahal sudah larut malam, ternyata ketika ditanya kenapa, jawabnya adalah karena LAPAR belum makan, seharian cuma sekali makan, sehingga dia tidak bisa tidur, rupanya mungkin untuk menghilangkan rasa laparnya anak kecil itu jalan-jalan supaya lupa akan rasa laparnya dan mungkin kalau sudah cape barulah dia bisa tidur. Setelah diberi makan oleh pak Dedi barulah anak itu pulang dan bisa tidur.

Hari-hari berikutnya anak tersebut kalau lapar keliling-keliling di sekitar rumah Pak Dedi, berharap betemu dengan Pak Dedi agar ditawari makan, dan Pak Dedi pun memakluminya dan akan memberinya makan. Dan memang beliau menyuruh anak itu agar datang ke rumahnya kalau lapar dan nggak ada makanan di rumahnya. Setelah kejadian itu bukan hanya anak itu saja yang ditawarin makan, tapi kepada murid yang lain juga kalau lewat depan rumahnya, khawatir kalau-kalau mereka pada belum makan juga.

Dalam satu kesempatan yang lain Pak Dedi juga pernah memergoki muridnya menjadi pengemis di jalan Kwitang dekat patung tani, dan ternyata mereka tidak sendirian melainkan bareng-bareng dengan teman-teman sekelasnya. Ketika ditanya kepada mereka lagi ngapain, mereka pada nggak mau jawab, tapi mereka menghampiri Pak Dedi dan rame-rame mencium tangannya satu-persatu seperti kebiasaan di kelas. Kata Pak Dedi dia sangat malu melihat tingkah muridnya itu, soalnya mungkin saja orang sekitarnya menyangka dia sebagai “koordinator lapangan” pengemis anak jalanan itu.

Itulah sebagian dari potret kehidupan warga Jakarta yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dibelahan tampat lain ………kita tidak bisa menutup mata ……..Banyak pertanyaan berseliweran kenapa ini bisa terjadi ? Who is responsible to this ? Apakah trickle down effect seperti yang digembar-gemborkan teori ekonomi itu hanya isapan jempol belaka ?…… hanya untuk mengelabui para pembuat keputusan di negeri ini ? Apakah teori dan praktik ekonomi yang kita anut selama ini hanya untuk menguntungkan kepentingan kapitalis Barat ? Kalau buku si bule John Perkin itu benar, maka jawaban atas pertanyaan itu adalah “ya”.

PENGALAMAN SELAMA MENGAJAR DI KELAS
Saya diberi kesempatan mengajar di kelas 3 tiap hari Sabtu, untuk mengajar matematika dan bahasa inggris dari jam 07.00 s.d 11.00, muridnya kira-kira 25 orang. Kali pertama masuk kelas, ternyata di dalam kelas sudah ada seorang ibu guru yang sedang mengajar yang tidak lain adalah istrinya Pak Dedi. Saya duduk di belakang kelas dan sambil mengamati bagaimana bu guru tersebut mengajar murid-muridnya. Ternyata tidak mudah mengajar anak-anak tersebut, mereka susah diatur, di kelas suasananya sangat ribut.

Tiba-tiba bu guru teriak “ARE YOU READY….” .

Teriakan bu guru sangat keras, membuat saya kaget dan heran, karena beda dengan sosok ibu kepala sekolah yang saya kenal ketika di rumahnya, yang suaranya lembut. Serta-merta anak-anak yang sedang ribut tersebut menjawab “YES” dengan suara keras pula sambil duduk ke kursinya masing-masing. Dari kejadian itu saya tahu bahwa ternyata teriakan yel yang keras tersebut adalah taktik untuk menghentikan keributan dan mengembalikan anak-anak ke kursinya. Dan ketika saya tanya kenapa yel nya bahasa Inggris adalah karena kalau pake bahasa Indonesia diacuhkan, mereka cuekin.

Setelah sekitar 30 menit menyaksikan bagaimana bu guru itu mengajar, kini giliran saya tampil ke depan. Ketika itu saya melanjutkan mengajar matematika tentang nilai tempat bilangan, ada kejadian yang lucu waktu saya memberikan materi ini, yaitu ketika menggambar alat peraga matematika, perlu diketahui bahwa perlengkapan sekolah ini sangat minim.

Ketika menggambar alat peraga, saya menyebut alat peraga tersebut sebagai sate, karena mirip dengan sate yang ditancapkan di atas balok, lagi pula saya tidak tahu apa nama sebenarnya alat peraga tersebut. Tetapi ketika saya sebut alat peraga itu sebagai sate, salah seorang anak ada yang nyeletuk dari belakang, “Pak itu bukan gambar sate tapi KECREKAN”, saya tidak menyalahkannya karena memang mirip juga dengan kecrekan, dan mungkin saja anak itu terbiasa ngamen dengan kecrekan.

Ternyata betul saja kata Pak Dedi beberapa muridnya ada yang suka ngamen dan di kelas saya ada yang suka ngamen di lampu merah perempatan dekat Shangrila. Selain menjadi pengamen mereka juga ada yang berprofesi sebagai joki three in one, pengemis, nyemir sepatu dll.
Sifat unik murid SD ini yang saya yakin tidak akan ditemukan di sekolah lainnya adalah kebanyakan mereka pemberani, tidak punya rasa malu atau sungkan. Kalau saya tawarkan untuk maju ke depan mengerjakan soal, serta-merta anak-anak yang bisa berlarian ke depan, berebut kapur tulis yang saya pegang. Mereka juga tidak segan-segan bilang ke saya agar temennya yang kalau ditanya nggak bisa supaya diturunkan kelasnya.

Di kelas mereka susah diatur, saya sering teriak-teriak dengan keras supaya mereka tidak ribut dan memperhatikan ke depan, saking seringnya teriak-teriak selesai mengajar suara saya jadi habis. Padahal kata mereka teriakan saya masih kurang keras, karena ketika saya mencoba teriak yel “Are You Ready” mereka bilang “Pak are you ready-nya kurang keras”.

Keributan di kelas disebabkan oleh macam-macam kelakuan, misalnya karena ngobrol sesama temennya, nyanyi-nyanyi sambil menabuh meja (mungkin latihan ngamen), ribut karena mereka saling pinjam alat tulis dengan temennya yang kadang temen yang lainnya nggak mau ngasih pinjam. Selain itu ada juga yang ribut karena ketahuan mencuri bekal makanan temannya dan bahkan ada yang pernah ketangkap basah mencuri uang temennya.

Tidak hanya itu, ada lagi keributan yang lebih serius, yaitu berkelahi di kelas. Pernah pada saat mengajar ada yang berkelahi sekaligus dua pasang, sepasang laki-laki dan sepasang perempuan, alasan berkelahinya nggak jelas kenapa. Cara mereka berkelahi sangat berbahaya. Sedangkan yang perempuan pukul-pukulan dan saling menjambak rambut lawannya…tapi lain halnya dengan anak cowok, anak perempuan yang kalah menangis sejadi-jadinya.

Saya sangat kaget melihat mereka berkelahi. Kemudian hal ini saya laporkan ke Pak Dedi, kata beliau hal demikian sudah biasa, bahkan ada satu anak laki-laki yang hampir tiap hari kerjaannya suka membuat nangis temen-temennya yang lain. Dan kalau cowok yang berkelahi kadang susah dilerai, nanti akan berkelahi lagi karena nggak puas, solusinya adalah dengan diselesaikan di luar kelas. Tapi untung saja perkelahian mereka waktu itu sudah selesai di dalam kelas dan ironinya ternyata yang berkelahi adalah ketua kelasnya.

Saya menyimpulkan dari tingkah laku sebagian mereka ini adalah akibat dari kehidupan sehari-harinya yang keras, nggak ada aturan, “the rule is no rule”, nggak ada bimbingan orang tua, oleh karena itu pendidikan adalah mutlak sebelum mereka berubah menjadi brutal ketika beranjak dewasa. Jangan sampai, menurut salah satu temen Pak Dedi yg pernah ke Calcuta India, disana pengamen bis kota, kalau gak dikasih malah nodong dompet penumpang. Hal inilah yang menjadi concern kita semua karena dengan membimbing mereka berarti akan mengurangi angka kriminalitas di masa depan. At least mereka di sekolah ini tahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan kenapa harus ikuti yang baik. Lebih jauh lagi menancapkan keimanan dan ketaatan kepada agama sebagai tameng dan bekal hidup mereka kelak.

Namun ada sedikit pertanyaan yang menggelitik dalam pikiran saya : “Apakah dengan membantu mereka akan memancing anak-anak jalanan dari daerah atau kota lain ke Jakarta ? Sehingga mereka berbondong-bondong ke Jakarta ?“. Wah kalau bikin berbondong-bondong ke sini mah nanti bisa-bisa dimarahin Bang Yos. Saya kira mereka tidak akan terpancing kesini, sepanjang kita tidak menggembar-gemborkannya sehingga mereka yang di luar kota tahu dan sepanjang kemakmuran di daerah meningkat serta lapangan pekerjaan di daerah banyak. Nah itu tugasnya p-e-m-e-r-i-n-t-a-h agar kemakmuran di daerah meningkat. So Let’s Help Them Without Any Publicity & Let’s Help Our Government DoThe Best For Our Country.

Tapi di lain pihak ada sebuah program acara Televisi yang saya tidak setuju, yaitu acara MIMPI ANAK JALANAN. Karena dikhawatirkan akan memancing anak-anak dari luar Jakarta, selain itu akan membuat anak-anak jalanan yang lain ngiri. Idenya sih bagus ingin memberikan santunan dan menggembirakan anak jalanan dengan memberikan berbagai macam hadiah yang dia impikan. Kebetulan suatu kali saya pernah menyaksikan acara tersebut. Saat itu seorang anak jalanan yang menjadi tukang asongan diberikan 7 jenis hadiah, dari mulai baju, radio, jalan-jalan, sepeda, televisi, kalung dan uang sejuta rupiah.

Memberinya adalah tidak salah, namun efek dari penayangan itu yang ditonton secara luas oleh seluruh pemirsa di tanah air, termasuk anak jalanan yang dikhawatirkan memancing mereka dari kota lain pindah. Karena yang namanya anak jalanan itu bisa mobile, kalau udah gede dikit aja mereka bisa pindah kemana saja sesuka mereka dengan menumpang kereta barang, truk atau jadi penumpang gelap di kereta dengan menyamar jadi pengamen.

Hal ini bisa disaksikan di film yang digarap oleh Garin Nugroho yang berjudul “Daun Di Atas Bantal”. Film itu mengangkat kisah nyata tentang kehidupan anak-anak jalanan di Yogyakarta, dimana Bu Asih yang diperankan oleh Christin Hakim tidak berdaya mengasuh anak-anaknya hingga dewasa, satu persatu anak-anaknya meninggal. Dimana salah satu anaknya yang menjadi pengamen meninggal gara-gara kepalanya kepentok terowongan kereta api ketika numpang di atas gerbong karena berusaha kabur dari “rumahnya”. Dalam film itu diceritakan pula, anak-anaknya yang lain meninggal karena dijailin temennya dikurung di dalam got yang tertutup saat ngelem (sakau ala anak jalanan biasanya dengan cara menghirup lem aibon), dan yang satunya lagi dibunuh oleh mafia industri jasa tertentu.

SOLUSI PENANGANAN ANAK JALANAN
Idealnya sih, mereka dibekali dengan keterampilan apa saja agar kelak mereka bisa mandiri, dan sekolah juga kalau bisa mandiri, terus mereka pulang kampung (kalau yg dari kampung) usaha sendiri membangun kampungnya masing-masing. Ternyata menurut Pak Dedi, idealisme ini pernah terjadi, anak-anak selain belajar mereka dilatih membuat kerajinan dari batu akik yang dibuat menjadi batu cincin, gelang, kalung dan manik-manik lainnya, lalu hasilnya dieksport ke Australia, dan di sana katanya laku. Kebetulan waktu itu, ada seorang voluntier eksportir kerajinan batu akik yang sudah berpengalaman yang mau mengajarkan ke anak-anak proses pembuatannya selepas jam sekolah. Jadi di sekolah mereka juga mendapatkan uang. Namun idealisme itu berhenti karena kepindahan voluntier tersebut pindah ke Amerika.

Lebih ideal lagi dan memang seharusnya adalah mereka dibina di panti-panti yang sekaligus tempat mereka dididik, belajar dan mengembangkan diri, sehingga keseharian mereka tetap terawasi.

MASALAH YANG DIHADAPI SD INI
Kesejahteraan guru adalah hal yang paling penting ditingkatkan dan didahulukan, saat ini ada 12 guru, diantaranya ada 1 orang yang sukarelawan, yang lainnya adalah sehari-harinya guru di situ dan digaji seadanya dari donatur. Kadang-kadang gajiannya diutang dulu kalau pas nggak ada donatur yang ngasih, atau sekolah pinjam dulu ke siapa saja. Mereka digaji sebulan rata-rata 150 ribu sampai 200 ribu rupiah, jumlah ini tentunya jauh dibawah UMP DKI yang mencapai sekitar 764 ribu dan setelah kenaikan BBM katanya berubah lagi menjadi Rp 819.100. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sebagian guru, ada yang nyambi jadi tukang ojeg dan sebagian lagi mengajar di tempat kursus atau les privat.

Kenapa kesejahteraan guru yang pertama harus ditingkatkan, karena guru juga manusia punya rasa punya hati jangan samakan dengan robot, dikhawatirkan semangat dan idealisme mereka akan luntur dan hilang karena tuntutan ekonomi mereka tidak tercukupi.
Pak Dedi meminta saya untuk membantu memikirkan masalah ini, kemudian saya mencoba mengirimkan proposal ke beberapa LSM termasuk yang menjadi penyalur Zakat, Infaq dan Shodaqoh, tapi setelah menunggu beberapa minggu mereka tidak bisa membantu, karena katanya dananya terkuras ke ACEH, LSM yang lain tidak bisa membantu karena sudah mempunyai binaan sekolah terbuka.

Saya bisa memahami hal tersebut. Karena anak jalanan di Jakarta ini banyak sekali. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak jalanan secara nasional berjumlah sekitar 2,8 juta anak. Dua tahun kemudian, tahun 2000, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5,4%, sehingga jumlahnya menjadi 3,1 juta anak. Pada tahun yang sama, anak yang tergolong rawan menjadi anak jalanan berjumlah 10,3 juta anak atau 17, 6% dari populasi anak di Indonesia, yaitu 58,7 juta anak (Soewignyo, 2002).

Anak jalanan di DKI Jakarta, sebagai salah satu kasus, berjumlah 31.304, sedangkan Panti Pemerintah yang memberikan pelayanan sosial terhadap mereka hanya berjumlah 9 panti, yaitu : 4 Panti Balita Terlantar, 4 Panti Anak Jalanan dan 1 Panti Remaja Putus Sekolah. Daya tampung keseluruhannya adalah 2.370 anak. Sementara itu, Panti Sosial Asuhan Anak yang diselenggarakan masyarakat berjumlah 58 Panti dengan daya tampung 3.338 anak dan pelayanan sosial kepada anak di luar panti sebanyak 3.200 anak. Secara akumulatif jumlah yang yang mendapat pelayanan Panti dan non-Panti adalah 8.908 anak dan yang belum tersentuh pelayanan pemerintah maupun organisasi sosial atau LSM adalah 22.396 anak (Profil Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, 2002). Persebaran anak jalanan di DKI Jakarta juga cukup merata. Data yang diterbitkan oleh Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial DKI Jakarta menyebutkan bahwa setidaknya ada 18.777 orang anak jalanan di DKI pada tahun 2003 saja.

Adapun jumlah pada tahun 2006 lebih banyak lagi, dengan asumsi rakyat miskin makin bertambah setelah kenaikan BBM yang katanya unavoidable itu dan berbagai bencana dimana-mana, anak putus sekolah makin bertambah, maka anak jalanan juga makin banyak. Menurut Komnas Perlindungan Anak, di Jakarta ini sekarang ada sekitar 75.000 anak Jalanan. Kalau tidak percaya silakan deh jalan-jalan deh sekali-kali pake metromoni, bis kota, KRL (the most favorite place for hang out bagi anak jalanan) atau sekali-kali makan di PKL, kira-kira ada 1 sampai 3 kali pengemen anak jalanan akan singgah. Apalagi kalau di bulan Ramadhan, biasanya bukan hanya di angkutan umum, atau tempat jajanan PKL tetapi di depan mesjid-mesjid umum sudah menanti anak jalanan yang menjadi pengemis. Kalau tidak kita tarik ke sekolah-sekolah atau panti-panti mereka akan memenuhi Ibu kota Jakarta ini, sehingga mungkin saja jalanan kota Jakarta ini akan menjadi lautan ANJAL (Anak Jalanan) kalau tidak ada perhatian dan tidak pernah ada usaha untuk mengatasinya.

Diantara bagian proposal (bisa diminta ke Yayasan bila hendak menjadi donatur), diantaranya kebutuhan bulanan operasional. Angka tersebut adalah angka minimal yang diimpikan oleh sekolah, yaitu minimal gaji guru sama dengan UMP DKI, ini adalah ideal yang minimal. Karena kalau 150-200 ribu sebulan, kata Pak Dedi takut mendzalimi guru, mengingat stress mengajar mereka di kelas, belum lagi harus teriak-teriak dan mengejar-ngejar murid nakal yang suka lari-lari di atas meja serta tingkah lainnya yang bikin adrenalin naik.

Selama ini pemasukan uang SD adalah dari personal pengurus LSM PKBI dan lembaga beasiswa yang jumlah seluruhnya hanya mencapai 1,7 juta (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) sebulan, namun pemasukan ini sudah putus. Jadi sekarang hanya mengandalkan pribadi-pribadi donatur yang tidak teratur baik jumlah dan kepastiannya. Namun Alhamdulillah sejak Oktober ini ada donatur yang bersedia membantu yang InsyaAllah seterusnya. Adapun sumbangan yang lainnya bersifat individual dan spontan .

Dari pemasukan bulan kemarin, Ahamdulillah telah mencukupi opeasional per bulan, namun jika tanpa bantuan dari yang spontan dan tidak tetap maka sekolah akan selalu kekurangan, jadi masih perlu donatur yang tetap.

Sebagai catatan pihak sekolah tidak mau membebani muridnya sepeser pun karena takut muridnya pada kabur. Sebab kalau kabur mereka akan dimanfaatkan oleh preman yang akan dipekerjakan sebagai pengamen atau pengemis yang dituntut setoran tiap harinya. Sedangkan dalam rangka mendidik orang tua mereka agar menghargai pendidikan bahwa pendidikan itu perlu biaya, kalau kenaikan kelas baru mereka dimintai sumbangan, itu pun secara sukarela dalam bentuk kotak amal yang tidak memaksa, itu hanya sekedar kesadaran mereka.

Akhirnya sampai juga pada bagian akhir tulisan saya ini. Dalam sebuah ceramah, ada ustadz yang menceritakan pengalaman salah satu jama’ah mesjidnya seperti ini : pada suatu hari dia mengendarai kendaraan (BMW) di daerah Senen, ketika sampai di perempatan jalan, kebetulan lampu merah pas menyala, maka dia pun berhenti, ketika sedang menunggu lampu merah berganti, tiba-tiba ada suara seperti benturan kecil di sebelah kirinya.

Ternyata itu bukan suara benturan tetapi orang yang dengan innocent-nya mencongkel kaca spion BMW-nya. Tapi mungkin karena sudah terkendali emosinya, si pengendara mobil tersebut tidak bergeming. Dia hanya tertegun sambil berpikir kenapa orang itu berbuat demikian. Setelah lama merenungkan hal tersebut, dia berkesimpulan “Jangan-jangan secara tidak langsung saya juga ikut berkontribusi sehingga menyebabkan orang tersebut berbuat kriminal seperti itu”.

Karena dia pikir penyebabnya adalah mereka tidak punya sesuatu yang bisa dimakan, karena mereka tidak ada pekerjaan. Tidak ada pekerjaan karena tidak punya ilmu atau keterampilan, hal ini disebabkan karena mereka tidak mengenyam pendidikan. Dan pendidikan tanggung jawab kita semua. Sehingga mungkin karena selama ini dia bersikap “I don’t give a damn” dengan nasib mereka, maka dia berkesimpulan “Jangan-jangan secara tidak langsung saya juga ikut berkontribusi sehingga menyebabkan terjadinya kriminalitas tersebut”. Maka diikhlaskanlah sebelah kaca spion BMW-nya itu, dan menganggapnya sebagai infaq buat menyelamatkan perut si pencuri tersebut.

Nah, dari cerita tadi saya mengajak saudara-saudara sekalian, untuk concern terhadap masalah pendidikan anak jalanan ini. Mereka adalah miskin/yatim dan kalau dalam ajaran menjadi perhatian khusus, sehingga ada surat/firman khusus dalam Al-Qur’an tentang mereka. Firman Allah yang dimaksud: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama, itulah orang-orang yang menindas anak-anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makanan kepada orang-orang miskin. (Surah Al Ma’un ayat 1-3). Seseorang muslim sanggup mendirikan sembahyang, haji dan melaksanakan ibadat-ibadat yang lain. Namun, kepercayaan seseorang terhadap agama Allah itu tidaklah dapat dinilai dengan sembahyang semata-mata, sebab Islam bukanlah agama kulit dan agama upacara. Rasul besabda : “Tidaklah beriman seseorang apabila dia sendiri kenyang sedangkan ia tahu tetangganya ada yang kelaparan” Sesungguhnya hakikat iman itu mempunyai ciri-ciri alamat yang membuktikan kewujudannya. Selama alamat itu belum wujud maka keimanan dan kepercayaan itu pun tidak wujud. Dan sebenarnya, diantara akidah dan syariat Islam tidak boleh bercerai dan berpisah antara satu bahagian dengan bahagian yang lain.

Pemerintah sudah berusaha tetapi tidak bisa maksimal, misalnya dengan mendirikan rumah singgah, namun ada yang efektif dan ada yang tidak, karena di dalamnya ada yang ada kegiatan dan yang tidak. Lagi pula pemerintah sudah kebanyakan masalah. Apapun dan sekecil apapun sumbangsih saudara sekalian adalah merupakan secercah harapan bagi mereka. Mungkin secangkir kopi Starbuck yang nggak jadi anda minum, tapi dialihkan sebagai kepedulian kepada anak jalanan, akan sangat berarti bagi mereka. Jangan sampai nasib terbaik bagi mereka adalah nasib tidak terlahir ke dunia ini, padahal mereka sudah kadung dilahirkan ke dunia ini.

Saya berharap kepada saudara-saudara sekalian atas bantuannya, kalau tidak bisa mohon memberikan referensi kepada siapa atau ke institusi apa saja agar SD ini mendapat dukungan, karena setahu saya ada institusi atau company yang punya dana atau program yang menyangkut social responsibility. Perlu diketahui bahwa SD ini juga ikut memberikan pendampingan ke sekolah-sekolah non formal anak jalanan lainnya di wilayah Jakarta ini, diantaranya ada sekolah non formal yang berada di pinggir rel kereta pejompongan dll. Sehingga dengan membantu SD ini berarti membantu Sekolah anak jalanan yang lainnya juga.

Dukungan dan bantuan dari masyarakat adalah mutlak, Pak Dedi dan Guru-gurunya nggak bisa berbuat apa-apa kalau tanpa bantuan masyarakat. Mereka bukanlah orang-orang hebat. Pak Dedi juga pernah mengaku kepada saya bahwa pada saat dukungan masyarakat semakin menipis, dia berpikiran untuk keluar dari Sekolah itu, yang dapat diartikan sekolah bubar karena tanpa beliau nggak ada lagi yang bisa diandalin. Cuma setelah mengutarakan niat resign dari sekolah tersebut, ibu-ibu gurunya pada menangis. Melihat tangisan ibu-ibu guru tersebut Pak Dedi mengurungkan niat resign-nya dari sekolah tersebut.

Sekian dan mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak seharusnya dituliskan.….

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

Hanhan Haeruman.

http://www.nurani-insani.org/main.php?open=news&nid=91

 

About these ads

Komentar»

1. Astty Mulyani - Selasa, 26 Juni, 2007

silanhkan bapak menghubungi “rumah zakat” dengan Bp ikrom mereka mempunyai beberapa cabang di beberapa kota baik di pulau jawa maupun kalimantan dan di sumatera, fasilitas yang mereka punya pengobatan gratis, ambulan gratis, beberapa waktu yang lalu mereka menyelenggarakan outbond untuk anak-anak jalanan dalam jumlah yang sangat banyak di adakan didaerah bandung, coba saja bapa buat proposalnya, karena dana mereka berasar dari klain-klain mereka p yaitu para pengusaha-pengusaha besar.

2. Nurul Ayu - Kamis, 5 Juli, 2007

memang kehidupan sisi lain jakarta memang sangat keras, boleh minta alamat SD nya nggak? Salam kenal ,pak! Saya calon mahasiswa yang lagi mencari kegiatan di masa liburan menjelang kuliah. Semoga kegiatan mengajar ini dapat menjadi liburan yang mengasah hati dan nurani ttg kepekaan sesama saudara…

3. Quito Riantori - Jumat, 6 Juli, 2007

Salm buat Nurul Ayu. Untuk alamat SD-nya, Nurul bisa melihat pada situs di http://www.nurani-insani.org/. Insya Allah Nurul bisa menghubungi mereka dan bisa berbagi juga. Semoga lancar semuanya ya n terima kasih.

4. rahmindra - Selasa, 25 September, 2007

Assalamuallaikum…..kira2 bisa saya tau ngga ya dimana kira2 saya bisa bertemu dengan Ibu Sri Roosyati Rossy dan Sri Irianingsih Rian yang mengabdi untuk anak2 jalanan….dan kegiatan2 sosial lain..? kira2 mas2 dan mba2 ada yg tau ngga ya….saya ingin sekali bertemu dengan beliau2 , ada yang bisa bantu saya ga…? kalo ada yg bisa bantu tolong berikan alamat / email add / No. Tlp beliau2 untuk saya bisa berinteraksi langsung. saya ingin sekali turut berbagi dan kebetulan saya dan teman2 sering sekali di titipi pakaian2 layak pakai, buku2, dan lain2 yang barangkali bisa di berikan kepada mereka.
Bagi mas2 dan mba2 jika ada yg tahu di mana saya bisa dapat contact beliau2 Tolong sharing info ke saya bisa via email or sms ke 0813.17.420400

terima kasih banyak atas bantuannya semoga bermanfaat

wassalam..
rahmindra

5. c.ryan - Senin, 3 Desember, 2007

assalamu’alaikum, begini… kadang saya heran (sebenarnya selalu sih) dengan pemerintah negeri ini, karena… mm gak jadi deh, ntar jadi ngomongin orang, salam dukung aja buat orang2 yang masih punya hati nurani diatas, karena saya masih suka kesal kalau ingat2 berita waktu itu, (yang katanya) DAU -Dana Abadi Umat- sudah terkumpul lebih dari 1 triliun (tuh kan jadi ngomongin lagi, otomatis kali), tapi justru yang mengherankan adalah mereka* tidak tahu dana itu mau dikemanakan atau diapain, itu kan berarti konsep mereka gak jelas, padahal itu jelas2 uang rakyat, memang DAU gak berhubungan langsung dengan topik diatas, tapi itu baru satu contoh saja mengenai harus dipertanyakannya niat2 mereka itu dari awalnya berkaitan dengan kesejahteraan hidup orang banyak. apa mereka gak liat ya kalau lagi pake mobil terus di lampu2 merah itu buaanyak sekali anak2 yang gak jelas kapan “jadwal” makannya, dan seterusnya, saya kesal, kesal liat mereka tidak peduli sesama, kesal liat mereka menamakan diri mereka sebagai yang harus diikuti tapi mereka masih saja terus mencari celah untuk melanggar apa2 yang mereka tetapkan sendiri, bahkan… ah udah ah.. yang jelas yang saya tahu adalah Allah tidak pernah hitung2an dengan hambaNya, jadi kenapa kita jadi hitung2an denganNya.
terimakasih ya buat teman2 diatas, ingatlah Allah memandang kepada hati seseorang… mudah2an kita bisa memiliki hati yang “grogi” ketika berhadapan dengan nurani, karena itu berarti kita tahu Siapa yang sedang menatap kita…

*I think u know who I mean. don”t know? just guess… :I

6. bandi - Selasa, 4 Desember, 2007

Saya terketuk dan ingin membantu dengan apa yang bisa saya bantu

7. jenny - Kamis, 21 Agustus, 2008

Saya ingin tau alamat sekolah tempat anda mengajar dimana ya ? Kebetulan perusahaan kita sedang mencari data sekolah2 anak jalanan/ rumah singgah. Kita ingin donasi buku dan edukasi.

Mohon respondnya ke email saya dan bisa juga hubungi saya di 750-4390 ext 188.

Thanks,

8. herbert - Selasa, 28 Oktober, 2008

bisa tau alamat sekolah2 anak jalanan atau rumah singgah di jakarta, tempat saya bekerja juga ingin donasi buku dan edukasi juga (gratisss). silahkan hubungi herbert.nbb@gmail.com.

thx

9. Quito Riantori - Kamis, 30 Oktober, 2008

@herbert
Coba anda kunjungi situs http://www.nurani-insan.org
Terima kasih dan salam.

10. Feli - Rabu, 11 Februari, 2009

Selamat malam pak, Boleh saya minta alamat sekolah jalanan yang membutuhkan guru sukarelawan? Boleh yang di tanah abang ini boleh juga di alamat lain. Terima kasih – feli

11. Feli - Rabu, 11 Februari, 2009

Selamat malam pak, Boleh saya minta alamat sekolah jalanan yang membutuhkan guru sukarelawan? Boleh yang di tanah abang ini boleh juga di alamat lain. Maaf alamat email saya sebelumnya kurang 1 huruf. Terima kasih – feli

12. anditha - Selasa, 17 Februari, 2009

assalamualaikum. apakah bapak tau sekolah jalanan yang berada di daerah depok atau jakarta selatan? karena saya ingin mewawancarai pengurus daripada sekolah jalanan. tapi saya belum menemukannya sampai sekarang. wassalam.

13. Quito Riantori - Rabu, 18 Februari, 2009

Wa ‘alayku salam, Mbak, maaf saya gak tau..coba dibuka aja ini link :

http://www.nurani-insani.org/main.php?open=news&nid=91

14. dewi - Senin, 19 April, 2010

Pak pertanyaan saya sama dengan ibu feli diatas. bisakah saya tahu alamat sekolah anak jalanan yang membutuhkan guru sukarelawan? Minta alamat yang di tanah abang ini atau yang lainnya. Terima Kasih. Saya tunggu konfirmasinya secepatnya.

15. nda - Minggu, 14 November, 2010

boleh minta alamatnya diman????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 210 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: