jump to navigation

Orang-orang Yang Tidak Dicintai Allah (Bag 1) Selasa, 31 Juli, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

orang-yg-tdk-dicintai-1.jpg

1. ORANG ORANG YANG MELAMPAUI BATAS (AL MUSRIFUN)

Allah SwT berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mencintai al-musrifin” (QS 6 : 141. QS 7 : 31)

Israf berasal dari kata saraf yang artinya melampaui batas atau menyimpang dari hal yang semestinya. Kata ini biasanya digunakan dalam hal infaq, meskipun kemudian diperluas pema­kaiannya untuk setiap perbuatan yang dilakukan manusia. Pelampauan batas yang dimaksud bisa menyangkut masalah takaran, porsi dan bisa pula menyangkut cara. (Al-Raghib al-Isfahani, Mufradat al-Qur’an hal. 230)

RUANG LINGKUP ISRAF

Ruang lingkup israf sangatlah luas mulai masalah makan dan minum (QS 4 : 6 ; 7 : 31), sampai ke masalah berinfaq, (QS 6 : 141; 25 : 67), dan pelaksanaan Qishash. (QS 17 : 33)

Israf bisa saja mengenai orang-orang mu’min seperti pada ayat-ayat di atas.

Kendati demikian setiap perbuatan israf dapat membawa pelakunya kepada bentuk-bentuk israf yang jauh lebih berbahaya lagi, yaitu israf yang berkenaan dengan tindakan-tindakan zalim dan kekufuran. Di bawah ini karakteristik israf yang berkenaan dengan orang-orang kafir dan zalim.

KARAKTERISTIK KELOMPOK AL MUSRIFUN

1. Tiran yang angkuh dan sombong (QS 10 : 83, 40 : 43, 44 : 31)

2. Kaum Nabi Salih, Tsamud, yang membunuh unta Nabi Salih.

(QS 26 : 151-152)

3. Kaum Luth yang homosex (QS 7 : 81, 51 : 34)

4. Orang-orang kafir yang berpaling dari mengingat Tuhan dan melupakan ayat-ayat-Nya. (QS 20 : 127)

5. Melampaui batas dan bersenang-senang dan berfoya-foya dengan perhiasan dunia yang menyebabkan mereka melupakan Tuhan. (QS 10 : 12)

6. Mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya. (QS 21 : 9)

WASIAT NABI DAN PARA IMAM

Dari Mu’adz, bahwasanya dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saww tentang ayat QS 25 : 67, maka beliau saww menjawab, ”Barangsiapa yang memberikan sesuatu tanpa haq (tanpa ketentuan yang telah ditetapkan agama) maka dia telah israf (melampaui batas) dan barangsiapa yang menahan (pem­berian) dari yang haq (dari yang seharusnya dikeluarkannya) maka dia telah qatar (kikir)” 66]

Di dalam Surat Imam Ali bin Abi Thalib as kepada Ziyad disebutkan : “Lepaskanlah kelebih-lebihan (israf) dan jadilah sederhana. Setiap hari ingatlah akan hari mendatang (Qiyamat). Tahanlah harta sekadar yang anda butuhkan dan dahulukanlah bagian (harta) untuk hari di mana nanti anda akan membutuhkannya”. 67]

Imam Ali as menggambarkan sifat-sifat orang munafiq yang selalu israf di dalam prilaku mereka, ”Jika mereka menegur maka menghina, dan jika menetapkan hukum mereka bertindak melampaui batas (israf)” 68]

TANDA TANDA AL MUSRIFUN

Rasulullah saww berkata, ”Adapun tanda-tanda al-musrif itu ada empat: buta (mata hatinya), lalai, gemar bersenda gurau, dan lupa (akan kewajiban-kewajibannya)” 69]

Menurut Imam al-Shadiq as, ”Seorang musrif itu mempunyai tiga karakteristik: apabila menjual, maka yang dijualnya bukan miliknya, apabila memakai sesuatu, maka yang dipakainya bukan miliknya, dan apabila makan, maka yang dimakannyapun bukan miliknya” 70]

Di lain riwayat Imam al-Baqir as berkata, ”Al-Musrifun (orang-orang yang melampaui batas) itu adalah orang-orang yang menghalalkan yang diharamkan dan menumpah­kan darah (yang diharamkan)”

Rasulullah saww berkata, ”Tidak ada kebaikan di dalam sifat yang berlebih-lebihan, dan jangan pula kamu berlebih-lebihan di dalam kebaikan” 71]

Kata Arab untuk “yang paling baik” adalah kata sifat komparatif (wustha), yang artinya bisa pertengahan dan bisa juga baik. Kata ini menyiratkan makna stabilitas dan jalan tengah. Frase yang digunakan dalam Alquran, “umat tengah-tengah” (ummah wasath), menyiratkan makna kaum yang seimbang, terbaik, berperilaku saleh, berumur panjang, dan terhindar dari tindakan-tindakan ekstrem. 72]

2. ORANG ORANG YANG MELWATI BATAS (AL MU’TADIN)

Allah SwT berfirman,“Sesungguhnya Allah tidak mencintai al-mu’tadin” (QS 2 : 190).

I’tida berasal dari akar kata ‘adw searti dengan israf, yaitu melampaui batas. (Al-Raghib al-Isfahani: 326)

Akan tetapi, dibanding israf, kata i’tida mengandung pen­gertian : kebencian, permusuhan dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. Dengan demikian i’tida berkonotasi zulm (kezaliman). Lihat QS 2 : 229

KARAKTERISTIK AL MU’TADIN

1. Pelanggaran hak-hak yang menyangkut hubungan suami is­teri (QS 2 : 229-231, 4 :14, 65 : 1)

2. Tindakan melampaui batas dalam perang, seperti agresi, membunuh wanita dan anak-anak (QS 2 : 90,194). Inilah yang dilakukan oleh Al-Qaeda dan Taliban yang mereka semua bersekte Wahabi produk Saudi & Inggeris.

3. Melakukan Qishas terhadap orang yang sudah dimaafkan. (QS 2 : 178)4. Pembunuhan terhadap nabi-nabi dan orang-orang shalih. (QS 2 : 61, 3 : 112)

Karena kaitan i’tida dan zulm yang kuat maka Allah SwT ber­firman,”Dan barangsiapa yang yata’adda (melanggar) hukum-hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS 2 : 229)

5. Mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya. (QS 5 : 87)

6. Berlebih-lebihan dalam berdo’a (QS 7 : 55)

Berlebih-lebihan dalam berdo’a bisa menyangkut cara ataupun menyangkut materi do’a itu sendiri.

7. Penyimpangan seks atau mencari kepuasan seks di luar nikah. (QS 23 : 7, 70 : 31)

8. Homoseks atau lesbian. (QS 26 : 166)

9. Menghalangi manusia dari jalan Allah dan memendam permu­suhan terhadap kaum muslimin. (QS 9 : 10)

10. Mendustakan rasul-rasul (QS 10 : 74)

11. Mendustakan ayat-ayat Allah. (QS 68 : 12)

12. Mendustakan Hari Pembalasan. (QS 83 : 12)

Nabi saww telah bersabda kepada Sa’d bin Ubadah, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Kuasa telah menentukan suatu hadd (batas – hukum) bagi setiap hal dan bagi siapa saja yang melampaui hadd itu, Allah telah menentukan hadd terten­tu” 73]

“Jalan Tengah” itu berada di antara kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan, antara kebajikan dan kejahatan, ilmu dan kebodohan, iman dengan kekufuran, kedamaian dan kegelisahan.

Arus dinamis ini menghantarkan pada suatu keseimbangan dan keadilan Ilahi. Dengan merenungkan dan menyadari bahwa segala sesuatu itu selalu berubah, manusia dapat meraih pengetahuan, kebijaksanaan, dan kedekatan kepada Allah.

3. ORANG ORANG YANG INGKAR (AL KAFIRUN)

Allah SwT berfirman,”Sesungguhnya Allah tidak mencintai al-kafirin” (QS 3 : 32)

Kata kafir berasal dari Kafara –yakfuru-kufran, yang memiliki arti : menyelubungi, menyelimuti juga menutupi. Menurut pendapat beberapa ulama, makna kafir adalah menutupi fithrah, menutpi nikmat dan kebenaran.

Menutupi pengetahuan tentang kebenaran adalah kufur, yaitu mengingkari kenyataan. Jika seseorang memiliki pengetahuan kebenaran, namun ia tidak mau bertindak sesuai dengannya, maka dia akan berada dalam api neraka, baik di sini maupun di akhirat nanti.

Perintahnya adalah bahwa seseorang harus menceburkan diri dalam kelompok penyembah Tuhan, yaitu orang-orang yang membersihkan diri dan mencari kebenaran. Supaya dapat terjaga dari tidurnya, seseorang harus mengikuti pola yang telah dilakukan oleh para penyembah Tuhan yang sudah terkait dengan Realitas.

JENIS JENIS KUFUR

‘Allamah Thabathaba’i membagi kufur menjadi lima macam berdasarkan riwayat hadits dari Imam Ja’far al-Shadiq as. Kelima jenis kufur itu adalah :

Kufur Juhud, yang terbagi dua, kafir terhadap Tuhan, surga, neraka dan lain-lain. Penganutnya disebut Zindiq dan kafir terhadap ajaran-ajaran Tuhan.

Kufur Nikmat, kufur atas nikmat-nikmat Tuhan.

Kufur karena meninggalkan perintah-perintah Tuhan dan terakhir Kufur al-Bara’at, berlepas diri dari suatu hal atau peristiwa. 74]

“Mereka mengetahui nikmat Allah kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir” (QS 16 : 83)

BENTUK BENTUK KEKAFIRAN DIPANDANG DARI PENGENALAN TERHADAP TUHAN

KUFUR INKAR

Menurut al-Raghib, nakr atau inkar adalah lawan dari irfan (mengetahui atau mengenal). Jadi, nakr atau inkar adalah suatu bentuk kebodohan atau ketidak tahuan.

Jadi kufur inkar adalah kekafiran dalam arti pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan, rasul-rasul-Nya dan seluruh ajaran yang dibawanya.

Al-Qur’an yang mulia mengatakan,”Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, kaena itu mereka memungkirinya?” (QS 23 : 69)

KUFUR JUHUD

Kata Juhud muncul dalam al-Qur’an sebanyak dua belas kali. Juhud bermakna pengingkaran terhadap sesuatu yang diketahui pasti keberadaannya. Al-Raghib mengartikan juhud sebagai : meniadakan sesuatu yang oleh hati diakui keberadaannya dan menetapkan sesuatu yang oleh hati yang diakui ketiadaannya. 75]

Al-Qur’an menyebutkan, ”Karena sesungguhnya mereka tiada mendustakanmu (Muhammad), tetapi orang-orang zalim itu yajhidûna (mengingkari) ayat-ayat Allah.” (QS Al-An’am [6] ayat 33)

Kaum musyrikin Makkah itu, pada hakikatnya mengetahui kebenaran Nabi Muhammad saww dan ajaran-ajarannya, tetapi mereka mengingkarinya karena faktor-faktor lain, seperti keangkuhan, rasa superioritas, takut kehilangan harta dan kedudukkan.

Kufur Juhud ini lebih berbahaya dari bentuk-bentuk kufur lainnya, karena ia sudah mengetahui kebenaran tetapi menolak kebenaran itu secara sadar.

KUFUR ILHAD

Menurut ‘Allamah Thabathaba’i, ilhad yang berasal dari kata lahd berati : “Penyimpangan dari bagian tengah kepada salah satu dari dua sisi”.

Dari sini kemudian ilhad diartikan dengan penyimpangan atau penyelewengan dari kebenaran. 76] Menurut Thabathaba’i, kufur ilhad adalah kufur yang meliputi penyimpangan dalam hal sifat-sifat dan perbuatan Tuhan. Misalnya paham Naturalisme (al-Dahriyyat) dan paham Materialisme (al-Madiyyat), yang merujuk pada aktivitas-aktivitas alam ini. 77]

“Dan mereka berkata,”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia ini saja. Kita mati dan hidup, dan tidak ada yanhg membinasakan kita selain masa (dahr)” (QS 45 : 24)

KUFUR SYIRK

Syirk, dalam arti mempersekutukan Tuhan dengan menjadikan sesuatu selain diri-Nya sebagai sembahan, obyek pemujaan, dan atau tempat menggantungkan harapan dan dambaan, termasuk dalam kategori kufr.

Syirk digolongkan sebagai kekafiran sebab perbuatan itu mengingkari keesaan Tuhan yang berarti mengingkari ke Maha Kuasaan dan ke Maha Sempurnaan-Nya. 78]

KUFUR NIFAQ

Menurut Thabathaba’i, Nifaq, berarti menampakkan iman dan menyembunyikan kekafiran. 79]

Kemunafikan tumbuh subur akibat kebodohan. Kata Arab untuk kemunafikan, nifaq berkaitan erat dengan kata nafaq yang berarti “terowongan” atau “jalan bawah tanah”.

Jika aspek diri yang lebih rendah tidak digantikan dengan aspek diri yang lebih tinggi, maka nafsu rendah akan berkeliaran dalam terowongan demi terowongan, demi menghindari diri dari penyucian. Nafsu yang lebih rendah berusaha menyelamatkan dirinya dengan cara menghindar dari segala upaya perbaikan.

Kaum munafik selalu mencari pembenaran. Mereka tidak pernah mau melawan sifat-sifat buruk dan belenggu dalam dirinya. Sifat utama seorang munafik adalah selalu menghindar dari ide sentral tentang ketundukan dan keimanan kepada Allah.

Untuk menghindari ini, dia mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat, meskipun sebenarnya tidaklah demikian. Dia berpikir bahwa dengan melakukan hal itu, dia dengan tenang dapat melarikan diri dari pertentangan nyata. 80]

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata,”Barangsiapa yang menjumpai orang muslim dengan dua wajah dan dua lisan, niscaya di Hari Qiyamat ia akan datang dengan dua lidah dari api” 81]

Orang-orang munafik berusaha—atau mengira bahwa mereka mampu—menipu Allah. Mereka tidak sadar bahwa mereka hanya menipu diri mereka sendiri. Mereka tidak mampu menyadari kondisi mereka, karena ilmu mereka didasarkan pada premis keterpisahan, dan bukan premis penyatuan (tauhid).

Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah larut dalam satu realitas yang hukum-hukum-Nya mengatur semua aspek kehidupan, termasuk aspek penipuan diri. Karenanya, mereka berpikir telah aman bersembunyi dalam diri mereka sendiri. 82]

Al-Qur’an mengatakan,“Maka Allah menimbulkan kemunafi­qan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) mereka selalu berdusta” (QS Al-Taubah [9] : 77)

Orang munafik adalah orang yang mengidap penyakit hati (qalb, suatu kata yang berasal dari kata qalaba yang berarti “kembali”, “bebas” atau “berbalik”). Hati yang sehat adalah hati yang bebas dari segala hasrat, keinginan, dan kegelisahan. Hasrat hati orang munafik yang sakit berakar dari penipuan diri.

Kedermawanan Allah yang luas dan selalu bertambah hanya digunakan untuk meningkatkan hasrat tersebut. Akibatnya, keadaan itu hanya memberikan kebingungan dan penderitaan terus-menerus.

Rasulullah saww bersabda, “Tanda-tanda orang muna­fiq itu ada tiga: jika berkata maka dia berdusta, jika berjanji maka dia menyelisihi, dan jika diberi keper­cayaan dia berkhianat. Andaipun dia shalat dan berpuasa dia hanya ingin dikira bahwa dia seorang muslim” 83]

“Dan apabila mereka (orang-orang munafiq) itu berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas dan bermaksud riya’ kepada manusia” (QS Al-Nisa [4] : 142)

Rasulul­lah saww bersabda kepada Imam Ali as, ”Sehubungan dengan umatku, aku tidak takut dari orang mu’min dan tidak pula dari orang musyrik. Karena orang-orang mu’min, Allah telah memberikan perlindungan disebabkan keimanannya, dan bagi orang musyrik, Allah akan menghi­nanya karena syiriknya!Tetapi yang aku takutkan daripa­da kalian adalah orang yang munafiq hatinya, namun pandai bicara. Ia berbicara apa yang anda anggap baik tetapi melakukan apa yang anda tidak sukai!” 84]

Hakikat ruh adalah cahaya (nur). Kekufuran menghalangi pengetahuan tentang hakikat. Kaum kafir kekal berada dalam api neraka dan dalam keadaan gelisah (fiha khalidun), karena mereka memang layak mendapatkannya. Allah sangat mengasihi orang yang betul-betul beriman dan Dia akan memandu mereka dengan cahaya.

Melalui keimanan sejati, seseorang dapat memasuki kepasrahan, kedamaian, dan rahmat, yaitu keadaan yang berlahuh pada Tuhan. Perjalanan ini dapat diumpamakan seperti keluar dari tandusnya padang pasir untuk menuju kesuburan oase kesenangan yang abadi. Lawannya adalah perjalanan dari cahaya penciptaan menuju kegelapan kepompong—kuburan, egoisme, keterasingan, dan kekafiran. 85]

(Bersambung)

Catatan Kaki :
66. Tafsir Nur al-Tsaqalain 4 : 31
67. Nahjul Balaghah, Surat ke 21.
68. Nahjul Balghah, Khutbah ke 194
69. Tuhaf al-‘Uqul h. 23
70. Bihar al-Anwar 72 : 206
71. Ibid 77 : 169
72. Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir QS 2 : 238
73. Furu’ al-Kafi 7:Kitab al-Hudud, bab 1 hadits 12
74. ‘Allamah Thabathaba’i, Al Mizan fi Tafsir al Qur’an 1 : 51-52
75. Al-Raghib al-Isfahani, Al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an, hal. 88
76. Ibid, hal. 448.
77. ‘Allamah Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an 8 : 361.
78. DR. Harifuddin Cawidu, Konsep Kufr Dalam Al Qur’an, hal 135.
79.’Allamah Thabathaba’i 19 : 323.
80. Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir QS 2 : 8
81. Al-Kafi 2:343
82. Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir QS 2 : 9)
83. Hadits Riwayat Muslim. At-Targhib wat Tarhib 4 : 9.
84. Nahjul Balaghah, Surat ke 27.
85. Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir QS 2 : 257.

About these ads

Komentar»

1. uvi07 - Senin, 5 Januari, 2009

Bismillah pertama x kunjung….

Yaa Allah jauhkanlah dan lindungilah diriku dari sifat2 orang yang melampaui batas….

Wal’iyaadzu billah…


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 152 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: