jump to navigation

Kemana Moral dan Martabat Bangsa Ini? Senin, 3 September, 2007

Posted by Quito Riantori in Apa Kabar Indonesia?, Artikel, Opini.
4 comments

moral-dan-harga-diri.jpg

Kebaikan tanpa pengetahuan lemah;

pengetahuan tanpa kebaikan berbahaya.
Kita mesti membangun diri

agar menjadi manusia yang lebih baik

sebelum kita membangun

masyarakat yang lebih baik.

Itu semua penting, karena kemenangan kejahatan

disebabkan orang-orang baik tidak melakukan apa-apa.

Tujuan kita bukan membuat penghidupan tetap,

membuat kehidupan yang layak, hidup yang berguna.

Moralitas bukanlah sebuah subyek;

ia adalah hidup yang kita uji dalam banyak momen

~ Paul Tillich

Jika Anda tahu ingin menjadi apa diri Anda nantinya, bisa jadi kelak Anda menjadi sebagaimana apa yang Anda tahu saat ini. Jadi, Anda mesti tahu apa itu nilai-nilai, moral, tujuan hidup, aspirasi-aspirasi, dan impian-impian Anda. (more…)

Malaysia – Kerajaan, Nasionalisme dan Rasialisme Senin, 3 September, 2007

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel, Bilik Renungan, Opini.
2 comments

malaysia.jpg

Kemakmuran suatu negeri atau kemajuan ekonominya bukanlah ukuran atau standar suatu kebenaran. Banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang maju secara ekonomi, bahkan militer justru menjadi congkak dan arogan. Di dalam sejarah yang diabadikan al-Quran, bangsa Tsamud dan ‘Ad menjadi contoh yang faktual tentang kemajuan ekonomi yang justru identik dengan arogansi dan keingkaran. Banyak sekali ayat-ayat Quran yang mengecam kemajuan yang disertai dengan arogansi. (baca artikel saya di blog ini : Esensi Perjuangan & Kemerdekaan bagian ke-1) (more…)

Mencintai Orang Miskin Dan Orang-orang Tertindas – Bag. 2 Senin, 3 September, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, All About Love, Artikel, Bilik Renungan.
4 comments

mencintai_org_miskin_2.jpg

MEREKA ADALAH ORANG ORANG YANG LEBIH MUDAH UNTUK BERKORBAN
Rasulullah saww pernah berwasiat kepada Imam Ali as, “Wahai Ali! Sesungguhnya Allah telah menganugerahimu kecintaan kepada orang-orang miskin dan kaum tertindas di bumi dan mewajibkanmu untuk menjadikan mereka sebagai sahabat dan mereka pun ridha kepadamu atas kepemimpinanmu.” 27]

Memang telah terbukti di dalam sejarah bahwa pengikut-pengikut setia Imam Ali as adalah orang-orang yang papa dan fakir. Mereka adalah pejuang-pejuang sejati, siap berkorban dan telah teruji kesabarannya. Lihatlah Abu Dzar al-Ghifari! Akhir hidup sahabat Nabi yang setia ini sangatlah tragis. Abu Dzarr ra diasingkan oleh khalifah Utsman bin Affan ke gurun pasir, Rabadzah, yang tandus hanya karena ia mengatakan kebenaran. Abu Dzarr, isterinya, Ummu Dzarr dan seorang putrinya tinggal di tengah-tengah gurun pasir dalam keadaan yang sangat miskin. Putrinya satu-satunya itu pun akhirnya meninggal di jalan Allah, dan tidak lama setelah itu Abu Dzarr pun meninggal dalam keadaan papa dan kelaparan. 28] (more…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.