jump to navigation

Mencintai Wali-wali Allah Dan Memusuhi Musuh-musuh Mereka Senin, 24 September, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, All About Love, Artikel.
trackback

Imam Ali al-Ridha as pernah menulis surat kepada al-Makmun, seorang khalifah Abbasiyyah di masa itu, yang isinya : “Mencintai para kekasih Allah (wali Allah) ‘Azza wa Jalla itu wajib sebagaimana wajibnya memusuhi musuh-musuh mereka dan berlepas diri (tabara’) dari pemimpin-pemimpin mereka.62]

APA DAN SIAPA WALI ALLAH ITU?

Kata-kata wala, wilayah, walayah, wali, mawla, awla dan yang semacam itu berasal dari asal kata yang sama yaitu wali. Berbagai bentuk dari akar kata dan kata-kata jadiannya ini, merupakan kata-kata yang paling sering diulang dalam al-Qur’an. Kata-kata tersebut telah digunakan sebanyak 124 kali dalam bentuk kata benda dan 112 kali dalam bentuk kerja dalam al-Qur’an.

Menurut al-Raghib dalam kamusnya Mufradat al-Qur’an, arti kata ini adalah suatu benda yang keadaannya sangat dekat dengan yang lain sedemikian rupa sehingga tidak ada jarak di antara keduanya seperti ketika dua benda ditempatkan berdampingan sedemikian rupa sehingga tidak ada benda lain di antara keduanya, maka seperti itulah kata dasar “wali” digunakan. Dan sangat jelas bahwa kata dasar ini digunakan dalam arti : persahabatan, kecintaan, perlindungan, perwalian, pengaturan dan sebagainya karena semua konsepsi ini menyangkut hubungan dan kedekatan.

DUA JENIS WALA
Dari sudut pandang al-Qur’an, ada dua jenis wala yaitu : Wala Positif dan Wala Negatif. Wala yang positif diperintahkan kaum Muslimin untuk menerimanya manakala wala yang negatif pula diperintahkan menjauhkan diri daripadanya.

Wala yang positif mempunyai dua bentuk yaitu : yang umum dan khusus. Bentuk umum wala yang positif ialah Islam menghendaki kaum Muslimin untuk hidup bebas sebagai suatu kesatuan sosial. Setiap Muslim diharapkan untuk menganggap dirinya sebagai anggota masyarakat Muslim supaya mereka menjadi masyarakat yang kuat.

Sebagaimana Al-Qur’an menyatakan yang dimaksud : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS 3 : 139)

Iman adalah kriteria yang penting untuk membawa kepada keunggulan masyarakat Muslim. Iman adalah kekuatan yang memberi motivasi dan jalan utama kepada kepribadian masyarakat dan pra-syarat kepada pokok kesatuannya. Al-Qur’an yang mulia menyatakan berkenaan dengan hal tersebut :

Janganlah kamu berbantah-bantah sehingga menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.” (QS 8 : 46)

Iman juga merupakan asas kepada kasih sayang dan kesetiaan bersama di antara kaum Muslimin. Al-Qur’an menjelaskan hal itu :

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, adalah wali satu sama lain; mereka menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS 9 : 71)

Kaum Muslimin saling menjalin hubungan yang erat seperti halnya mereka saling mendukung satu sama lain. Lantaran itu mereka saling menasihati agar berbuat baik dan saling mencegah dari berbuat kemungkaran. Sikap dan perbuatan yang demikian tidak muncul tanpa adanya kecintaan dan keterikatan.

Di lain ayat al-Qur’an menyebutkan kriteria tersebut : “Muhammad itu adalah Rasul Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS 48 : 29)

Ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bentuk khusus wala yang positif dan wala yang negatif. Al-Qur’an menunjukkan bahwa musuh-musuh Islam selalu mencoba untuk mengubah wala yang negatif menjadi wala yang positif dan wala yang positif menjadi wala yang negatif. Misalnya mereka berusaha menjalin hubungan yang mesra di antara Muslimin dan non Muslim dan menciptakan permusuhan di antara kaum Muslimin.

Al-Qur’an dengan keras memperingatkan kaum Muslimin agar tidak menerima perwalian dengan non Muslim. Namun ini tidak berarti Islam menentang kaum Muslimin mempunyai hubungan baik dengan sesama manusia atau menyuruh mereka agar selalu bermusuhan terhadap bukan-Muslim dan tidak berbuat kebaikan sedikitpun terhadap mereka.

Al-Qur’an dengan jelas menyebutkan : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karenaa agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al-Mumtahanah [60] ayat 8)

Islam TIDAK mengatakan bahwa pergaulan yang baik semata-mata terbatas hanya antar kaum Muslimin atau seorang Muslim tidak perlu mempunyai rasa perikemanusiaan terhadap manusia lain. Maksud yang sebenarnya adalah bahwa kaum Muslimin tidak boleh lengah terhadap rencana-rencana musuh, walaupun mereka menuntut persahabatan. Kaum muslimin harus tetap selalu waspada dan tidak menerima begitu saja keinginan-keinginan musuh. Justru tidak ada kontradiksi di dalam konsep wala yang negatif dengan prinsip-prinsip persaudaraan dan kemanusiaan.

Islam adalah agama kecintaan terhadap umat manusia bahkan kecintaan itu juga untuk seorang musyrik, bukan karena kemusyirikannya tetapi karena kedudukannya sebagai makhluk Allah. Pada saat yang sama Islam prihatin atas mereka yang telah tersesat.

WALA POSITIF YANG KHUSUS
Wala positif yang khusus dibagi menjadi beberapa kategori yaitu : wala kecintaan (mahabbah atau qarabah), wala Imamah, wala kepimpinan (za’amah), dan wala pengendalian (tasarruf).

Kecintaan terhadap Ahlul Bait as termasuk di dalam bentuk wala positif yang khusus. Nabi saww sendiri telah meminta kepada kaum Muslimin agar memiliki kecintaan khusus kepada keturunannya (al-qurba).

Kecintaan ini disebut dalam ayat mengenai Ahlul Bait as : “Katakanlah : “Aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku kecuali kecintaan dan kasih sayang kepada kerabat (keluargaku ahlul bait).” (QS 42 : 23)

Hadith al-Ghadir juga menyebutkan bahwa Nabi saww bersabda,”Barang siapa yang menganggap aku sebagai maula-nya, maka Ali adalah maula-nya juga.”. Hadits ini jelas menunjukkan suatu kecintaan yang diperintahkan kepada umat Islam.

Baik Sunni maupun Syiah bersepakat bahwa ayat Qur’an yang mengatakan : “Wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, mendirikan shalat dan membayar zakat seraya mereka rukuk.” (QS 5 : 55) ayat ini disepakati berkenaan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as.

Al-Thabari di dalam tafsirnya mengutip sejumlah riwayat berkenaan peristiwa tersebut 63]

Al-Zamakhshari dengan pasti mengatakan : “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ali bin Abi Talib. Walaupun ayat ini menunjukkan kepada satu orang tetapi yang digunakan ialah bentuk jamak dengan tujuan memperingatkan kaum Muslimin agar mengikuti contoh yang baik yang diberikannya dan untuk menegaskan bahawa shalat pun boleh ditunda demi perbuatan baik kepada fakir miskin.

Fakhruddin al-Razi juga mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib as karena tidak ada orang lain kecuali Ali as yang membayar zakat ketika sedang shalat.

WALA POSITIF YANG UMUM
Islam juga telah memerintahkan bentuk wala yang positif terhadap semua kaum Muslimin. Ayat yang menunjukkan hal itu ialah : “Orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan adalah sebagai penolong (wali) bagi yang lain.” (QS 9 : 71)

Namun ayat yang mengatakan pemimpin (wali) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman….” tidaklah bermakna umum.

Tidak dapat dikatakan bahwa ayat ini menunjukkan wala yang umum, karena dalam hal ini al-Qur’an tidak bermaksud menetapkan suatu peraturan umum. Ayat tersebut tidak hendak mengatakan bahwa wajib atau sunat membayar zakat ketika sedang shalat. Ayat itu hanya menyebutkan ciri-ciri perbuatan istimewa dari seorang yang melakukannya dan menyentuh haknya untuk memperolehi kecintaan yang khusus.

Gaya bahasa dengan menggunakan kata berbentuk jamak (plural) ketika melukiskan suatu peristiwa yang berhubungan dengan satu orang ada bandingannya dalam al-Qur’an yang suci, misalnya ayat yang bermaksud : “Mereka berkata : Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” ( QS 63 : 8)

Dalam hal ini, ayat tersebut juga menunjukkan suatu peristiwa yang berkenaan dengan satu orang, walau pun al-Qur’an menyebutkannya dengan bentuk jamak : mereka. Orang yang berkata itu ialah Abdullah bin Ubay (salah seorang tokoh munafik)

Membayar zakat ketika sedang rukuk dalam shalat bukanlah suatu peristiwa umum. Lantaran itu tidaklah dapat dianggap bahwa Allah memuji semua orang yang melakukan hal yang sama dan mensyahkan wilayah bagi semua orang yang berbuat demikian. Ini menunjukkan bahwa apa yang dibicarakan mempunyai aplikasi yang bersifat khusus dan pribadi.

Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang asyik beribadah kepada Allah, dan dalam waktu yang bersamaan memperhatikan kebutuhan sesamanya. Ayat suci ini mengatakan bahwa sebagaimana Allah dan Rasul-Nya, dia (Ali) juga adalah wali bagi orang-orang beriman (yang berhak memperoleh kecintaan dari kaum muslimin) dan mereka wajib menerima wala ini.

Sejauh ini kita telah mengetahui bahwa isu kecintaan terhadap Imam Ali as dan Ahlul Bait as lainnya adalah tidak dapat dibantah lagi.

WALA SEBAGAI KECINTAAN
Wala sebagai kecintaan kepada keluarga (qarabah) berarti bahwa Ahlul Bait as adalah kerabat Nabi yang suci, dan kaum Muslimin telah diminta untuk memiliki kecintaan dan penghormatan pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang dituntut oleh wala umum. Hal ini bukanlah suatu tuntutan yang berlebih-lebihan ataupun untuk membalas jasa Nabi saww atau Ahlul Bait as sendiri. Al-Qur’an telah mengatakan : “Katakanlah : Aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku kecuali hanyalah kecintaan kepada kerabatku (Ahlul Bait as).” (QS 42 : 23)

Pembahasan lebih jauh mengenai wala sebagai kecintaan bisa Anda baca pada artikel CINTA KEPADA AHLUL BAI T NABI

WALA IMAMAH
Wala Imamah berarti suatu otoritas keagamaan (hak keagamaan), atau suatu posisi yang menjadikan Imam sebagai teladan untuk yang lainnya, yang orang lain harus mengikutinya dan menerima perintah-perintah darinya. Posisi demikian dengan sendirinya termasuk kemaksuman (ismah) Imam.

Itu adalah posisi yang sama ketika al-Qur’an melukiskan Nabi suci saww : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari kemudian, lagi ia banyak berzikir kepada Allah.” (QS 33 : 21)

Katakanlah: Jika kamu benar-benar cinta kepada Allah, ikutilah aku (Muhammad), pasti Allah mencintaimu pula dan sekaligus mengampuni dosa-dosamu.” (QS 3 : 31)

WALA ZA’AMAH
Wala Za’amah berarti hak atas kepimpinan dalam soal sosial dan politik. Selama masa hidupnya, Nabi saww-lah yang memegang kedudukan yang telah diberikan oleh Allah SwT ini. Selepas wafatnya Rasul saww, maka kedudukan ini diberikan kepada Ahlul Baitnya.

Al-Qur’an menegaskan dalam ayat QS 4 : 59 : “Taatilah Allah, dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu.” Umat Islam sepakat tentang hak Rasul saww terhadap kedudukan beliau sebagai pemimpin sosial dan politik. Tetapi, siapakah Ulil Amri tersebut? Apakah Islam memperkenankan kaum Muslimin memilih seorang pengganti Nabi saww atau Nabi saww sebelum wafatnya menunjuk seseorang khusus untuk menggantikannya?

Nabi saww sebelum wafatnya telah memilih Imam Ali as sebagai pemimpin umat dalam hadits Ghadir khum yang tidak dapat dbantah kesahihannya.

WALA TASARRUF (WALA PENGENDALIAN)
Wala tasarruf adalah walayat yang tertinggi. Dari sudut pandang kaum Syi’ah ada tiga aspek walayat dan kata “Imamah” telah digunakan bagi masing-masing aspek walayat tersebut.

Aspek pertama, adalah aspek politik yaitu pribadi yang layak dilantik untuk memimpin umat Islam.

Aspek kedua adalah mengenai aspek agama yaitu pribadi yang dapat memberikan pengetahuan dan petunjuk dalam keagamaan, beserta hukum-hukumnya dan oleh karenanya mereka tidak boleh berbuat salah. Lantaran itu mereka harus maksum karena jika mereka berbuat salah, maka ajaran agama bisa tersimpangkan dari kebenarannya.

Dan ketiga, aspek ideologis. Dalam keyakinan Syi’ah, dalam setiap zaman ada seorang insan kamil (manusia sempurna) yang mempunyai suatu pengaruh gaib atas dunia dan sejenis pengendalian atas hati dan jiwa manusia. Dalam hal ini mereka disebut sebagai Hujjah.

Allah telah merancang suatu sistem yang unik di mana para malaikat digunakan sebagai para perantara. Manusia, kadangkala dapat mencapai suatu posisi yang lebih tinggi daripada para malaikat, sebagai akibat kemajuan evolusioner, tetapi dia tidak dapat menggantikan posisi mereka sebagai perantara. Wahyu selalu lewat seorang malaikat, dan seorang malaikatlah yang selalu diperbantukan untuk mencabut jiwa setiap orang.

Kita tidak dapat menentukan dengan pasti batas Walayat pengendalian dan kekuatan supernatural dari seorang manusia sempurna atau seorang manusia yang benar-benar sempurna. Pada seluruh teks Al-Quran atau teks keagamaan lain menunjukkan bahwa manusia dengan pasti dapat mencapai posisi ketika ia menguasai dunia. Tetapi, apa sifat yang pasti dari penguasaan ini dan apakah mempunyai batas atau tidak, di luar jangkauan kita.

Hal lain yang perlu disebutkan adalah bahwa Walayat Pengendalian hanya dicapai oleh ia yang sepenuhnya bebas dari kendali nafsu dan keinginan jahat. Ia tidak diberikan kepada setiap pencari keangkuhan diri. Seorang manusia yang dipengaruhi oleh hawa nafsu tidak pantas bagi kedudukan yang keramat. Orang yang memegang Walayat ini begitu sucinya sehingga keinginannya-lain daripada keinginan kita-keluar dari suatu motivasi batiniah dan dari isyarat Ilahi. Bagaimana sifat isyarat ini dan bagaimana ia menerimanya, tidak kita ketahui. Orang-orang seperti itu sekali-sekali dibimbing oleh cahaya Ilahi, tetapi adakalanya mereka kelihatan tidak menyadari hal-hal yang sangat lazim.

Walayat kekuasaan supernatural dan Walayat pengendalian berhubungan dengan martabat dan kecakapan manusia. Al-Quran memberikan arti yang banyak atas kemampuan manusia dan aspek yang luar biasa dari penciptaan manusia. Tidak ada keraguan lagi bahwa Walayat dalam pengertiannya yang keempat adalah pembahasan tasawwuf, tetapi itu tidak berarti kita menolaknya begitu saja. Syi’ah-isme adalah sebuah doktrin, sedang mistisisme (tasawwuf atau irfan), terlepas dari semua mitos yang dikaitkan dengannya, adalah sebuah sistem. Keduanya bertemu pada titik Walayat. Sejarah menunjukkan bahwa mistisisme-lah yang telah mengambil dari syiah’ahisme dan bukan sebaliknya. 65]

Catatan Kaki :
[62] Al-Wasail 16 : 169
[63] Al-Thabari, Tafsir Al-Thabari, 6 : 288-289
[64] Al-Razi, Tafsir Al-Kasyaf 1 : 505
[65] Murtadha Muthahhari, Walayah – The Station of The Master.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 187 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: