jump to navigation

Muawiyah Melaknat Imam Ali di Mimbar-mimbar Masjid Kamis, 4 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel.
trackback

muawiyah.jpg

- Bid’ah Terbesar Sepanjang Sejarah Islam (bag.2) –

Saya benar-benar terkejut mendengar pertanyaan yang bertujuan membela Muawiyah di dalam sebuah komentar di blog ini. Mereka meragukan bahwa Muawiyah telah benar-benar mengutuk Imam Ali as. Apakah peristiwa ini benar-benar perintah Muawiyah? Begitu kata mereka. Mari kita buka kitab-kitab sejarah Islam yang mencatat kejadian tersebut, apakah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi? Apakah benar itu pengutukan atau bukan? Jika benar, apakah memang pengutukkan itu atas perintah Muawiyah?

MUAWIYAH TELAH MENGUTUK SAYYIDINA ALI PADA SETIAP KHOTBAH JUMAT DAN HAL INI MENJADI BID’AH YANG TERUS MENTRADISI SELAMA 90 TAHUN SAMPAI BERKUASANYA UMAR BIN ABDUL AZIZ YANG BIJAK

1. Ibn Abi al Hadid di dalam syarah atau komentarnya atas kitab Nahjul Balaghah Jil. 1 hlm. 464 menyatakan : Pada akhir khotbah Jumat, Muawiyah mengatakan : “Ya Allah, laknatlah Abu Turab, dia yang telah menentang agama-Mu dan jalan-Mu, laknat dia dan hukum dia di neraka!” Muawiyah inilah yang memperkenalkan bid’ah terbesar dan terburuk ini kepada khalayak umat Islam pada masa kekuasaannya hingga masa Umar bin Abdul Aziz.”

2. Di dalam kitab Mu’jam al-Buldan Jil. 1, hlm 191, ‘Allamah Yaquut Hamawi menyatakan : Atas perintah Mu’awiyyah, ‘Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Masyrik (Timur) hingga Maghrib (Barat) dari mimbar-mimbar Masjid.

3. Masih di dalam kitab yang sama, Mu’jam al-Buldan Jil. 5, hlm. 35, Hamawi mengatakan : “Salah satu perubahan (bid’ah) terburuk yang telah dimulai sejak awal mula pemerintahan Muawiyah adalah bahwa Muawiyah sendiri dan dengan perintah kepada gubernurnya, membiasakan menghina Imam Ali saat berkhotbah di Masjid. Hal ini bahkan dilakukan di mimbar masjid Nabi di hadapan makam Nabi Muhammad Saw, sampai sahabat-sahabat terdekat Nabi, keluarga dan kerabat terdekat Imam Ali mendengar sumpah serapah ini.”

4. Di dalam kitab Al-Aqd al-Farid Jil. 1 hlm. 246, Anda bisa membaca : Setelah kematian ‘Ali dan Hasan, Muawiyah memerintahkan sebuah titah ke seluruh masjid termasuk masjid Nabawi agar semua orang turut melaknat ‘Ali!”

5. Di dalam kitab yang sama, Al-Aqd al-Farid Jil. 2 hlm. 300 anda bisa membaca isi surat Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw, yang menulis kepada Muawiyah : “…Engkau sedang mengutuk Allah dan Rasul-Nya di mimbarmu karena engkau mengutuk Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa yang mencintai Ali, aku bersaksi bahwa Allah dan Rasul-Nya mencintainya.” Tetapi tak seorang pun memperhatikan ucapannya.

6. Di dalam kitab al-Nasa’ih al-Kafiyah hlm. 77, Anda juga bisa membaca : Praktek (pelaknatan) yang berlangsung sekian lama ini memunculkan sebuah asumsi bahwa apabila seseorang tidak melakukan pelaknatan tersebut maka shalat Jumat-nya tidaklah dianggap sah!”

7. Seorang alim dari Pakistan yang bermazhab Hanafi, Maulana Raghib Rahmani, di dalam kitabnya tentang “Hazrat Umar bin Abdul Aziz”, Khalifatul Zahid, hlm. 246 menyampaikan komentarnya dengan tajam : “(Praktek pelaknatan) ini tentu saja tidak menguntungkan, karena ini adalah bid’ah yang telah diperkenalkan ke masyarakat yang telah “memotong hidung” (memalukan) kota-kota, di mana bid’ah ini bahkan dilakukan di mimbar-mibar masjid, bahkan tanpa malu sampai juga ke “telinga” masjid Nabawi. Inilah bid’ah yang diperkenalkan oleh Amir Muawiyah!

8. Di dalam bukunya Al-Khilafah wal Mulk yang sempat menggemparkan dunia Islam, Abul A’la al-Maududi, seorang alim Pakistan bermazhab Hanafi, menulis :

Ketika pada zaman Muawiyah dimulai kebiasaan mengutuk Sayyidina Ali dari atas mimbar-mimbar dan pencaci-makian serta pencercaan terhadap pribadinya secara terang-terangan, di siang hari maupun di malam hari, kaum muslimin di mana-mana merasa sedih dan sakit hati sungguh pun mereka terpaksa harus berdiam diri menekan perasaannya itu. Kecuali Hujur bin Adi, yang tidak dapat menyabarkan dirinya…” (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209-210, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Dan akhirnya, Muawiyah menyuruh Ziyad untuk membunuh Hujur bin ‘Adi, salah seorang sahabat besar Nabi yang zahid, abid, dan termasuk di antara tokoh-tokoh umat terbaik. Di dalam surat perintahnya, Muawiyah menulis : “Bunuhlah orang ini (Hujur) dengan cara yang seburuk-buruknya.” Maka Ziyad mengubur Hujur dalam keadaan hidup-hidup. (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 211, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Kisah terperinci mengenai cobaan berat yang dialami oleh Hujur bin ‘Adi itu banyak terdapat di dalam buku-buku yang ditulis oleh para ahli hadis maupun para ahli sejarah, baik yang sudah tersebar luas maupun yang tidak disebarkan,” Begitu tulis Thaha Husain di dalam bukunya yang terkenal al-Fitnah al-Kubra yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Malapetaka Terbesar Dalam Sejarah Islam pada hlm. 624, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Cet. I, Tahun 1985.

Inilah sebagian bukti-bukti tertulis di dalam kitab-kitab sejarah yang bisa anda temui hingga saat ini. Apakah masih terbetik keraguan di dalam hati anda tentang bejatnya Muawiyah, si setan berwujud manusia ini?

Dan ketika Hasan bin Ali mengundurkan diri sebagai khalifah, Muawiyah pun akhirnya berdiri sebagai seorang penguasa tunggal, lalu dia menyampaikan pidatonya di kota Madinah :

Amma ba’du! Sesungguhnya aku, demi Allah ketika menjadi penguasa atas kamu sekalian, bukannya aku tidak mengetahui bahwa kalian tidak menyenangi kekuasaanku ini, tetapi sesungguhnya aku benar-benar tahu apa yang ada dalam hati kalian tentang hal ini, namun aku telah merampasnya dari kalian dengan pedangku ini. Dan sekiranya kalian tidak menadpati diriku telah memenuhi hak-hak kamu seluruhnya, hendaknya kalian memuaskan diri dengan sebagiannya saja dariku!” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Jil. 8, hlm. 132)

Pada masa kekuasaan Muawiyah, rakyat dibungkam dari menyampaikan kebenaran, mereka hanya boleh memuji-muji atau jika enggan sebaiknya diam. Karena jika rakyat berani memprotes pemerintah pada masa itu maka bersiap-siaplah untuk dijebloskan ke dalam penjara, dibunuh, disiksa atau paling tidak dibuang! (Abul A’la al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 209, Penerbit Mizan, Cet. VII, 1998, Bandung)

Apakah orang seperti ini yang ingin anda bela mati-matian? Hanya orang-orang yang serupa dengan Muawiyah saja dan pengikutnya yang super dungu yang ngotot membela manusia keji semacam ini! Mereka itulah kaum Wahabi para pemuja kaum durjana seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan Yazid bin Muawiyah. Mereka menjadikan keduanya sebagai pemimpin-pemimpin mereka!

Jika anda membenci kekejaman, kezaliman, dan kebengisan yang dilakukan para diktator dunia seperti Adolf Hitler, Pol Pot, Slobodan Milosevich, Saddam Husein, George W Bush, Ehud Olmert, maka anda juga mesti membenci makhluk durjana seperti Muawiiyah ini. Tapi itu pun jika hati nurani anda masih sehat wal afiat…

Di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal Jil. 6, hlm. 33, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw yang kita cintai telah bersabda, “Barangsiapa yang mengutuk Ali sesungguhnya ia telah mengutukku. Barangsiapa yang berani mengutukku berarti ia telah mengutuk Allah. Barangsiapa yang telah mengutuk Allah, maka Allah akan melemparkannya ke neraka Jahannam!

Rasulullah Saw telah menubuwatkan bahwa peristiwa pelaknatan atau pengutukan atas sahabat Nabi yang mulia, Ali bin Abi Thalib, yang juga salah seorang anggota Ahlul Bayt akan terjadi. Melalui mata batinnya, Rasulullah Saw telah melihat beberapa sahabatnya yang sangat dengki terhadap Sayyidina Ali as. Allah Swt pun menyingkapkan kedengkian mereka terhadap Nabi Saw dan Ahlul Baytnya :

Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kepada manusia. Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(Al-Quran Surah Al-Nisaa [4] ayat 54)

Ingatkah anda, bagaimana anda melafadzkan shalawat kepada Nabi Saw di dalam shalat anda?

Inilah mengapa dengan teramat keras Nabi Saw memperingatkan umatnya untuk tidak melakukan tindakan bodoh tersebut. Dan anda perhatikan, bahwa Ummu Salamah, isteri Nabi telah memperingatkan Muawiyah tentang hal ini, namun lelaki durjana ini tiada mempedulikan peringatan tersebut.

Saya berdoa kepada Allah Swt semoga orang-orang yang tulus namun masih meragukan kebenaran ini menjadi tersadarkan dan semakin mendapatkan keyakinan yang sahih…

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

About these ads

Komentar»

1. T Mulya - Rabu, 10 Oktober, 2007

Pengalaman yang sama juga saya alami ketika seorang teman yang bermazhab ASWAJA secara mengejutkan mengaku mengagumi Muawiyah ketimbang Ali. Biasanya yang terjadi cuma menganggap Muawiyah sebagai salah seorang “sahabat” Nabi.

Oke lah kalau Ali dibandingkan dengan Abu Bakar atau Umar. Tapi dengan Muawiyah ? No way ! Seorang Hamka yang Wahabi saja (dalam bukunya Sejarah Umat Islam) menyebut Muawiyah sebagai sangat licik dan cinta dunia.

Saya tak habis pikir temen yang lulusan pesantren tsb. Apakah di pesantrennya kurang membaca kitab2 sejarah karangan ulama Ahlu Sunnah sendiri.

2. Quito Riantori - Kamis, 11 Oktober, 2007

Terima kasih atas tambahan informasinya…Salam n Mohon maaf lahir dan batin, semoga amal ibadah kita semua diterima Allah Swt. Amin…

3. arie kariana - Kamis, 29 November, 2007

imam ali as bagaikan cermin, perilakunya adalah cermin qalbunya, qalbunya cerminan dari al qur’an. Jadi perlakuan apapun terhadap Beliau as, itu hanyalah cerminan dari si pelaku tersebut.

4. hamsatilak - Kamis, 17 Januari, 2008

ass.
Sekalipun benar apa yang terjadi, tapi itu merupakan sejarah yang telah berlalu. Ahli Sunnah yang terpelajarpun ikut menyesalkan peristiwa kelam ini, bukan orang syiah saja. syahidnya Imam Husen pun turut disesalkan, sebagaimana syahidnya Said bin Jubair di tangan para diktator.

Diktatorisme, adalah aliran politik yang tidak mengenal agama, dan madzhab, sehingga ia layak menjadi musuh bersama kemanusiaan.

tak ada lagi gunanya mengungkit-ngungkit masa lalu yang kelam, toh tradisi ini sudah dihapuskan oleh Umar bin Abdul Aziz, sejak abad kedua Hijriah.

yang masih menyayat hati semua umat islam, bahwa tradisi pelaknatan terhadap para sahabat nabi terutama Abu Bakar, Umar dan Usman, masih terus berlanjut -pada sebagaian kelompok syiah yang ekstrem- hingga kini.

tanpaknya kita perlu juga menulis, kritik yang sama terhadap tradisi kebencian ini, agar kita bisa membangun umat yang satu.

wallahu a’lam.

5. Quito Riantori - Jumat, 18 Januari, 2008

@ hamsatilak
Salamun alaykum, saya sudah menulis artikel tentang pentingnya belajar sejarah dan memang persoalan ini bukan soal Sunni-Syiah, namun penekanan bahwa tidak seorang sahabat pun yang bisa dimaafkan dari kezalimannya atas umat manusia khususnya umat Islam. Masalah pelaknatan atas Abu Bakar, Umar atau Usman bukan pembahasan pada tulisan ini.

Mohon maaf, dari tulisan anda ini, terlihat bahwa pemahaman anda tentang sejarah Islam pun masih sangat minim. Saya beri contoh, bahwa memang ketika Umar bin Abdul Aziz berkuasa, kebenaran sempat bernafas lega, namun setelah beliau wafat, kebenaran kembali dikaburkan dari realitas. Sekali lagi, mohon anda baca sejarah dengan tuntas dan lengkap, karena tanpa pemahaman yang benar atas sejarah, maka akan sulit bagi kita untuk menentukan masa depan kita sendiri. Pertanyaan saya, apakah komentar anda bertujuan agar kita memaafkan kejahatan dan kezaliman “manusia” seperti Muawiyyah ini? Saya heran dengan orang-orang yang sedemikian menganggap penting sejarah, tetapi menjadikannya hanya sebatas dongeng atau sekadar legenda atau bahkan mitos? Terima kasih dan salam.

6. hamsatilak - Selasa, 22 Januari, 2008

ws.
jika berkenan mohon anda bisa menuliskan satu manfaat saja, belajar sejarah orang-orang terjahat. seperti firaun. adakah Allah mengajarkan kita untuk belajar sejarah firaun untuk melaknatinya setiap hari karena dia sosok yang jahat.

sejarah dipelajari untuk diambil pelajarannya. bukan mengajarkan kita untuk menjadi ahli kutuk …. mestinya kita sadar bahwa jika proses pengutukan itu tidak terpuji, kita tidak terjebak dalam pengutukan serupa. (kabura maqtan indallah an taquuluu maala tafaluun ?)

tsaqafah al-adaiyah (pemikiran kebencian) seperti yang anda ajarkan inilah yang akan menjadi beban sejarah untuk kemajuan umat ke depan.

masalah dikaburkan dan atau tidk sangat tergantung siapa dan dari sudut mana kita melihat, yang jelas pengkutukan yang anda sebutkan itu tidak pernah terjadi lagi …. saya tidak pernah mendengar ada satu masjidpun, atau satu khotib ahli sunnahpun yang mengutuk imam ali kw. dalam khutbah jumah … mengapa anda membangkitkan fitnah yang telah tertidur.

komentar yang saya tulis bukan untuk membela siapapun, dan memafafkan siapapun tapi sebagai kritik bagi mereka yang suka menyebarkan sikap kebencian ….

ajarilah umat ini cinta dan saling mencintai ….. jangan menjadi profesor dalm kebencian ……

wallahu a’lam
mohon maaf jika kurang berkenan

7. Quito Riantori - Rabu, 23 Januari, 2008

Sepertinya semakin jelas bagi saya, bahwa anda tidak mengetahui banyak tentang Islam, terutama al-Quran dan Hadis. Anda tidak benci dengan kezaliman? Anda tidak benci dengan ketidakjujuran? Anda tidak benci dengan kecurangan/korupsi?
Tampaknya anda tidak menangkap inti pesan dari artikel di atas, padahal artikel di atas sangat jelas dan lugas.
1. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kepada masyarakat Islam, bahwa kejatuhan kaum Muslim justru dari kalangan orang2 yang mengaku Islam seperti Muawiyyah ini.
2. Pelajaran penting lainnya adalah agar kita tidak meniru prilaku buruk seperti “manusia”2 seperti mereka. Apakah anda tidak membaca betapa banyak kisah2 Fir’aun dipaparkan oleh Al-Quran dan Hadis. Sangat aneh jika ada org yang mengaku Islam tetapi menganggap kisah2 ttg Fir’aun tidak bermanfaat.
3. Jika anda baca informasi di atas dengan cermat dan dg kepala yang utuh niscaya anda akan paham bahwa penabur kebencian tak berdasar justru datang dari Muawiyyah.
4. Cinta dan Kebencian merupakan keniscayaan yang alami yang ada dalam diri manusia. Apakah anda tidak jijik terhadap kotoran, kejahatan, kecurangan, dan kezaliman? Jika anda tidak mempunyai perasaan ini berarti anda mesti segera memeriksakan keadaan psikologis anda.
5. Cinta dan benci harus diletakkan pada tempatnya, jika anda mecintai org2 busuk, maka anda tidak akan pernah bisa menegakkan kebenaran sampai kapan pun. Jadi, kebencian adalah hal yang lumrah jika diletakkan pada tempatnya. Apakah anda akan membiarkan anak anda berlaku buruk? tentu saja tidak jika anda merasa keburukkan itu hal yang mesti dijauhi.
Wah…tampaknya anda mesti membaca al-Quran lebih cermat lagi, mas…berapa banyak kata sesungguhnya Allah tidak menyukai orang2 yang….berapa banyak kata2 laknat Allah yang tertera di dalam al-Quran, berapa banyak hadis2 yang meriwayatkan tentang laknat Rasulullah terhadap para pembangkang, padahal mereka mengaku Muslim! Tolong deh Mas banyak2 baca al-Quran dan hadis, dan belajarlah kepada orang yang mumpuni, jangan kepada org2 jahil. Dan ingat, Mas, kebencian kita kepada kefasikan dsb justru tumbuh dari kecintaan kita kepada kebenaran. Baca deh tulisan2 saya di blog ini, bahwa mereka yang mencintai orang yang dizalimi sekaligus mencintai kaum pembuat kezaliman adalah orang2 munafik!
Pantas, seperti Raja2 Saudi dan “ulama” Wahabi yang katanya cinta pada perjuangan rakyat Palestina tapi dalam waktu yang bersamaan juga mencintai tentara2 AS dan Zionis Yahudi, George W Bush dan Ohud Olmert!
Aneh, ketika orang2 Syiah mengutuk orang2 zalim, anda malah membandingkannya dengan pemikiran utk mengutuk Imam Ali kw, naif sekali anda Mas…sangat naif membandingkan orang zalim seperti Muawiyyah dengan Imam Ali! Wah..saya pikir tidak ada kedunguan yang lebih dungu dari pikiran seperti ini!
Allah Pasti Maha Lebih Mnegetahui.
Maaf kalo tidak berkenan.

8. dewi - Rabu, 23 Januari, 2008

Seorang muslim baru layak disebut muslim bila lisan dan perbuatannya membawa ketentraman bagi orang lain yg mendengarnya. Dalam perdebatan pun, sekalipun kita merasa lebih paham, bukan berarti bisa leluasa menggunakan kata2 yang pedas dan kasar pada lawan diskusi seperti yg sdr Qitori lakukan. Nabi Muhammad teladan yg baik dalam sikap lemah lembut dan santun, mengapa kita tidak mencontoh beliau ? Membicarakan orang2 yang katakanlah ‘tercela’, tidak harus penuh emosi toh ? Orang yang benci kejahatan, kecurangan, pengkhianatan, apakah selalu identik dg pengungkapan penuh geram dan emosi? Bukankah itu malah membuat kita bersifat sama jahat nya dengan yg kita benci? Apakah benci tanpa geram dan emosi yg meluap2 mesti diragukan kebenciannya ?

Sebarkanlah ilmu islam dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Jauhi sikap2 yang cepat tersulut oleh perbedaan dlm diskusi. Akhlak yang baik lebih utama dari ilmu yang tinggi tapi tanpa akhlak.

wallahu a’lam

9. Quito Riantori - Kamis, 24 Januari, 2008

@hamsitalak
@dewi?
1. Ada baiknya anda mempelajari lebih dulu apa itu akhlak yang baik, karena saya melihat ada kerancuan pandangan terhadap apa yang disebut akhlak yang baik. Yang terpenting pemahamn akhlak yang baik bukan seperti yang banyak digambarkan oleh orang2 Barat, hindu dan Kristen. Ada perbedaan yang sangat signifikan tentang hal ini.
2. Ada tingkatan2 dari akhlak yang baik, dan Nabi Saw jelas2 bukan padanan saya, walaupun saya tetap berusaha menjadikan beliau sebagai tauladan. Dan komentar saya diatas tidak relevan utk membandingkan akhlak saya dg Nabi Saw. Di dalam al-Quran sendiri Allah Swt menjelaskan dengan jelas untuk memilih akhlak yang terpuji dan yang tidak tercela, misalnya :
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu . Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS Al-Nahl ayat 126)
Jadi jika saya membalas kesombongan seseorang dengan kesombongan, maka itu tidak tercela. Mohon anda pun tidak cepat2 memberi tanggapan sebelum anda sendiri tahu permasalahan lebih jelas.
4. Sikap lemah lembut dan santun memang baik tapi utk siapa? mesti anda pahami bahwa akhlak Islam didasarkan pada konsep Keadilan, artinya semua akan menjadi baik jika kita meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Contoh; adalah baik jika anda berbuat baik kepada orang yang baik, tetapi menjadi buruk berbuat baik kepada orang yang dungu, karena sampai kapan pun orang dungu tidak pernah tahu apa yang disebut kebaikan, bahkan mereka sering menganggap kebaikan sebagai keburukkan dan sebaliknya. Coba anda pelajari juga konsep keadilan sebelum mempelajari lebih jauh tentang akhlak. Karena tanpa pemahaman tentang hal ini anda akan terus keliru dalam menilai org. Contoh lainnya: Ghibah adalah buruk secara umum, tetapi meng-ghibah para penipu, penjahat sosial, koruptor, maka itu adalah baik. Sekali lagi mohon pelajari konsep akhlak dengan benar.
5. Di dalam artikel2 saya tentang kemarahan, saya juag membahas bahwa tidak semua yang namanya emosi itu buruk, termasuk marah. Marah kepada orang yang bebal adalah baik, karena sudah pada tempatnya. Marah kepada orang yang membangkang adalah baik, selama tidak muncul kata2 yang kotor.
6. Kata2 pedas dan kasar. Menurut saya, seperti kata2 pedas kadang2 sangat dibutuhkan bagi org yang merasa sok tahu. Ada pun ttg kata2 kasar, saya hanya membalas sejauh itu masih pantas, karena saya melihat penghinaan terhadap Imam Ali as yang dilakukannya adalah jauh lebih buruk ketimbang apa yang telah saya tulis.
7. Sebarkan ilmu2 Islam dengan kelembutan dan kasih sayang? Sekali lagi mohon anda pelajari konsep keadilan ekaligus sejarah Islam. Terima kasih

10. arie kariana - Kamis, 24 Januari, 2008

imam ali as pernah berkata bahwa keadilan lebih utama dari kebaikan. setelah difikir dan renungkan ternyata benar juga, hasilnya sama dengan “rahmatNya meliputi selainNya”. Rahmat Allah ini termasuk meliputi juga pahala dan bahkan siksa, karunia, nikmat, dan bahkan azab. dalam sifat “kemanusiaan”, rahmat Allah ini di terjemahkan dalam keadilan, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya yang hak. apabila seseorang berbuat baik maka ia akan menuai pujian (dari Allah) beserta hasilnya, apabila ia berbuat dosa, maka Allah akan berikan waktu dan kesempatan baginya untuk kembali ke jalanNya. Nah kadang untuk mengembalikan sesuatu yang menyimpang terlalu jauh dan membahayakan yang lain pastilah diperlukan daya yang lebih besar dan kadang keras, salah satunya adalah dengan memperingatkan sesama dengan kata2 yang keras. mohon jangan dilihat siapa atau nada bicaranya, dahulukan utk merenungkan isinya. ini adalah salahsatu ketentuan qadhaNya (manusia menuai,menuai, dan menuai yaitu apapun yang ia lakukan akan kembali pada dirinya sendiri, Allah tidak menganiaya dan zalim terhadap hambaNya), dan ini adalah keadilan. sama seperti kita menekan saklar kemudian lampu-pun menyala(perpindahan daya serta energi), seperti juga kita menyimpan biji2an dalam tanah kemudian ia menjadi pohon(perubahan wujud hasil perbuatan), begitu pula dengan perbuatan kita, apapun yang kita perbuat didunia ini wallahu alam ia akan berbentuk/mewujud menjadi energi atau bentuk apa nanti diakhirat, yang pastinya ia akan kembali pada diri kita. maka berbahagialah bagi kawan2 yang masih menerima peringatan dari sesamanya, silakan renungkan bahwa anda masih sempat untuk kembali ke jalanNya, mengenal dan mendekat padaNya melalui media2/wasilah2Nya (al maidah 35), yaitu tentu saja kekasih2Nya, bukan musuh2nya (al fatihah 7), dan kita dapat mengenali para kekasihNya ini diantaranya dari pengetahuan, pemahaman, dan kata fasih mereka tentangNya. Sebagai langkah pertama dari saya, cari dan bacalah kitab Nahjul Balaghah(tentu setelah al quran), maka akan mengertilah apa yang dimaksudkan, kemudian dengan sendirinya kita akan ditunjukkan kepada sumber2 informasi benar lainnya. dan dalam al fatihah 7 jelas2 kita diwajibkan mempelajari sejarah untuk mengenali para kekasihNya, jadi tiak bisa kita mengatakan yang lalu biarlah berlalu sementara agama yang kita jalani dan kita perdebatkan ini juga berasal dari masa lalu.
tidak semua orang akan langsung mengerti “ocehan” saya diatas( karena kekurangan dan ketidak fasihan saya) , tetapi sdr quito termasuk yang mengerti apa yang saya maksudkan. dengan segala keterbatasan saya dukung sdr quito, jgn pernah merasa lelah dan kecil hati, insyaAllah kita dijalan yang sama, sementara walapun saya baru bisa berharap agar termasuk golongan mukmin, tetaplah ingat bahwa “ruh orang mukmin itu bersaudara”. salamun’alaykum

11. Quito Riantori - Kamis, 24 Januari, 2008

@ arie kariana
Wah…terima kasih banyak atas masukannya. Sudah cukup banyak juga saya dapat masukkan yang bermanfaat dari Mas/Mbak? Arie…
Sekali lagi terima kasih juga atas kunjungan2 anda.
Salamun ‘alaykum wr wb.

12. andra - Kamis, 24 Januari, 2008

Apakah benar Abu Bakar, Umar dan Utsman ra juga penyebar bid’ah? karena mereka diangkat menjadi Khalifah. bukankah seharusnya Ali ra?mohon klarifikasi.

13. Quito Riantori - Kamis, 24 Januari, 2008

1. Tergantung anda mendefinisikan apa itu bid’ah. Apa bid’ah menurut anda?
2. Salah satu tujuan tulisan2 saya yang membeberkan tentang bid’ah2 yang dilakukan Mua’wiyyah bin Abu Sufyan adalah ingin memperlihatkan ketidakkonsistenan org2 yang senang berkoar2 dengan BID’AH, SYIRIK, TAKHAYUL dsb, yaitu Wahabi_Salafy. Ketika mereka mencerca orang lain dengan bid’ah, tapi anehnya mereka membela Muawiyyah yang jelas2 melakukan bid’ah2 keji. Ada apa ini?
3. Tentang Abu Bakar, Umar dan Utsman, sebaiknya anda membaca buku2 sejarah yang sudah banyak beredar tentang ketiga khalifah tsb. Ruang blog ini sangat terbatas.

14. arie kariana - Kamis, 24 Januari, 2008

@ quito

justru saya yang berterimakasih pada anda, sebab di antara carut marut sisi kehidupan dengan segala keanehan dan keusangan dunia ini, blog anda termasuk salah satu yang dapat “mengobati” kerinduan saya pada kejelasan arah dan jalan yang benar, saya banyak belajar melalui blog ini, dan hal2 semacam ini tak tergantikan oleh apapun, sebab kita jadi merasa tidak “sendirian”. walaupun memang tidak ada yang sempurna, namun insyaAllah dan semoga Allah “menatap” usaha anda disisiNya.
o ya saya bukan mas atau mbak, tapi aa’, hehe, becanda dikit mas… sekalian kalau begitu saya mohon doanya juga dari mas quito ya agar Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk melangsungkan pernikahan insyaAllah pada 1 maret 2008, semoga saya nantinya diberikan sosok istri, keluarga dan keturunan yang dapat mengenali kebenaran dengan mudah serta mengikutinya dengan sabar, amin ya Allah walhamdulillahirabbil ‘alamin, terimakasih dan assalamualaikum…

15. Quito Riantori - Jumat, 25 Januari, 2008

Alhamdulillah, semoga aa’ Arie akan memperoleh istri yang shalihah dan tetap bersuka cita turut menyertai anda dalam carut marut kehidupan ini terutama Indonesia, negeri yang saat ini menjadi santapan org2 buas. Semoga kita senantiasa dilindungi dari kejahatan mereka dan dari berbuat jahat seperti yang mereka lakukan. Saya ikut prihatin atas kemiskinan yang sekarang melanda negeri ini, semoga kita diberi kekuatan untuk memebantu mereka yang dalam keadaan seperti itu. Amiiin Ya Ilahi Rabbi…

16. Abu Al-Jauzaa' - Kamis, 24 Juli, 2008

Barangsiapa yang Mentaati ‘Ali, Maka Sungguh Ia Telah Mentaatiku !

مَنْ أَطَاعَني فَقَد أَطَاعَ اللهَ ، وَمَنْ عَصَاني فَقَد عَصَى الله ، ومَنْ أَطَاعَ عَليًّا فَقَد أَطَاعَني ، ومَنْ عَصَى عَليًّا فَقَد عَصَاني

”Barangsiapa yang mentaatiku (Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam), maka sungguh ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa yang mentaati ’Ali, maka sungguh ia telah mentaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai ’Ali, maka sungguh ia telah mendurhakaiku”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abul-Hasan Khaitsamah bin Sulaiman dalam Al-Muntakhab min Fawaaid (hal. 79), Ibnu ’Adiy dalam Al-Kaamil (7/365), Abu Bakr Al-Isma’ily dalam Mu’jamusy-Syuyuukh (1/485), Abu ’Abdillah Al-Hakim An-Naisabury dalam Al-Mustadrak (3/121, 3/128), dan Ibnu ’Asaakir dalam At-Taarikh (42/306). Dari jalan Khaitsamah bin Sulaiman dan Ibnu ’Adiy, Al-Hafidh Ibnu ’Asakir membawakan dalam Tarikh-nya (42/306, 42/307).

Dari Yahya bin Ya’la, telah menceritakan kepada kami Bassaam Ash-Shirfy, dari Al-Hasan bin ’Amru Al-Fuqaimy, dari Mu’awiyah bin Tsa’labah, dari Abu Dzarr radliyallaahu ’anhu ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, dan kemudian disebut lafadh hadits sebagaimana di atas.

Telah berkata Abu ’Abdillah Al-Hakim : ”Hadits ini adalah sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”. Perkataan ini disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Perkataan Al-Hakim dan persetujuan Adz-Dzahabi ini perlu ditinjau kembali, sebab dalam sanadnya terdapat dua ’illat (penyakit), yaitu :

Pertama; Yahya bin Ya’la – ia adalah Al-Aslamy Al-Qathawaniy – , maka ia bukanlah Al-Muhaariby sebagaimana yang diperkirakan. Ibnu ’Ady telah membawakan hadits ini dalam biografi Al-Aslamy dan meletakkannya dalam riwayat-riwayat munkarnya.

Tentang Yahya bin Ya’la Al-Aslamy Al-Qathawaniy, maka Al-Bukhari berkomentar : ”Haditsnya goncang (mudltharibul-hadiits). Ia mempunyai kunyah : Abu Zakariyya, termasuk orang yang ditinggalkan haditsnya (dzaahibul-hadits)” [At-Taarikh Al-Ausath 2/183]. Yahya bin Ma’in berkata : ”Tidak ada apa-apanya (laisa bisyai’ )” [Al-Kaamil oleh Ibnu ’Adiy 7/233]. Abu Hatim Ar-Raazi berkata : ”Orang Kufah, tidak kuat (laisa bil-qawiy), lemah haditsnya” [Al-Jarh wat-Ta’dil 9/196]. Abu Bakr Al-Bazzaar berkata : ”Melakukan kesalahan dalam sanad-sanad” [Tahdziibut-Tahdzib 11/266]. Ibnu ’Adiy berkata : ”Orang Kufah, termasuk di antara orang-orang Syi’ahnya” [Al-Kaamil 7/233].

Kedua; Mu’awiyyah bin Tsa’labah. Ia disebutkan oleh Al-Bukhari dalam At-Taarikh (7/333) dan Ibnu Abi Haatim dalam Al-Jarh wat-Ta’dil (8/378) – keduanya diam tidak berkomentar tentangnya. Disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqaat (5/416) dimana ia dikenal biasa menyebutkan dalam kitabnya tersebut orang-orang yang berstatus majhul.

Terdapat hadits lain yang dianggap sebagai syahid, yaitu hadits Ya’la bin Murrah Ats-Tsaqafiy.

Diriwayatkan oleh Ibnu ’Adiy dalam Al-Kaamil (4/349) dari jalan Ibnu ’Asakir dalam Tarikh-nya (42/270) ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far bin Yaziid Al-Mathiiriy : Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sulaiman An-Nahmiy Al-Kufiy : Telah menceritakan kepada kami ’Ubadah bin Ziyaad : Telah menceritakan kepada kami ’Umar bin Sa’d, dari ’Umar bin ’Abdillah Ats-Tsaqafiy, dari ayahnya, dari kakeknya yaitu Yahya bin Murrah Ats-Tsaqafiy, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَطَاعَ عَليًّا فقد أطاعني ، ومَنْ عصى عليا فقد عصاني ، ومن عصاني فقد عصى الله ، ومن أحب عليا فقد أحبني ، ومن أحبني فقد أحب الله ، ومن أبغض عليًّا فقد أبغضني ، ومن أبغضني فقد أبغض الله ، لا يحبك إلا مؤمن ولا يبغضك إلا كافر أو منافق .

”Barangsiapa yang mentaati ’Ali maka sungguh ia telah mentaatiku. Barangsiapa yang mendurhakai ’Ali, maka sungguh ia telah mendurhakaiku. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa yang mencintai ’Ali, sungguh ia telah mencintaiku. Barangsiapa yang mencintaiku, maka sungguh ia telah mencintai Allah. Barangsiapa yang membenci ’Ali, maka sungguh ia telah membenciku. Barangsiapa yang membenciku, maka sungguh ia telah membenci Allah. Tidaklah ada yang mencintaimu (wahai ’Ali) kecuali ia seorang mukmin, dan tidaklah ada yang membencimu kecuali ia seorang kafir atau munafiq”.

Sanad hadits ini sangat lemah (dla’if jiddan). Di dalamnya terdapat sejumlah ’illat (penyakit) :

Pertama; Ibrahim bin Sulaiman An-Nahmiy. Telah berkata Ad-Daruquthni : “Matruk” [Suaalaat Al-Hakim An-Naisabury lid-Daruquthni no. 40].

Kedua; ‘Umar bin Sa’d An-Nashriy. Al-Hafidh Adz-Dzahabi berkata tentangnya : “Ia meriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdillah Ats-Tsaqafy, dari ayahnya, dari kakeknya. Telah menceritakan darinya Isma’il bin Musa. Ia termasuk dari kalangan orang-orang Bashrah. Telah berkata Al-Bukhari : “Tidak sah haditsnya” [Mizaanul-I’tidaal 3/199].

Ketiga; ‘Umar bin ‘Abdillah bin Ya’la bin Murrah Ats-Tsaqafy. Imam Ahmad berkata : “Dla’iiful-hadiits” [Al-’Ilal wa Ma’rifatur-Rijaal no. 1204]. Beliau juga berkata : “Munkarul-hadits” [Adl-Dlu’afaa’ Al-Kubraa oleh Al-‘Uqaily 3/177]. Berkata Abu Nu’aim : “Aku memandang tidaklah halal bagiku untuk meriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdillah” [Al-Majruuhiin 2/92]. Ibnu ‘Ma’in berkata : “Tidak ada apa-apanya (laisa bisyai’)” [Tarikh Ad-Daarimi no. 462, 640]. Beliau juga berkata : “Dla’if “ [At-Taarikh – riwayat Ad-Dury no. 3939]. Abu Hatim Ar-Razy berkata : “Dla’iful-hadiits, munkarul-hadits” [Al-Jarh wat-Ta’dil 6/118]. Telah berkata Abu Hatim : Abu Zur’ah pernah ditanya tentang ‘Umar bin ‘Abdillah bin Ya’la, maka ia menjawab : “Ia tidak kuat” (laisa bil-qawiy)”. Akupun bertanya : “Seperti apa keadaannya ?”. Maka ia menjawab : “Aku memohon kepada Allah keselamatan” [Al-Jarh wat-Ta’dil 6/118,119]. Telah berkata Al-Bukhari : “Terdapat perbincangan padanya” [At-Taarikh Al-Kabiir 2/113]. Telah berkata Ibnu Hibban : ”Munkar riwayatnya dari ayahnya…., ’Umar bin ’Abdillah bin Ya’la meriwayatkan dengan cara menyalin/menulis dimana banyak diantara riwayat dari ayahnya dari kakeknya yang terbalik (maqlubah)” [Al-Majruhin 2/92]. Beliau juga berkata : ”Waahin (lemah)” [Al-Majruhin 2/25]. An-Nasa’i berkata : ”Dla’iif ” [Ad-Dlu’afaa’ wal-Matrukiin no. 457]. Ad-Daruquthni berkata : “Matruk” [Tahdzibul-Kamal 21/420]. Telah berkata Adz-Dzahabi : “Lemah” [Al-Mughni 2/470, Al-Kaasyif 2/64, dan Ad-Diwaan no. 3076]. Ibnu Hajar berkata : “Dla’if” [At-Taqriib no. 4967]; “Disepakati kelemahannya” [Lisaanul-Mizan 4/307].

Keempat; ‘Abdullah bin Ya’la bin Murrah Ats-Tsaqafy. Al-Bukhari berkata : “Fiihi nadhar” [Adl-Dlu’afaa’ Ash-Shaghiir no. 200]. Ibnu Hibban berkata : “Tidaklah membanggakan bagiku berhujjah dengan khabarnya jika ia bersendirian akibat banyaknya riwayat munkar darinya. Status anaknya juga lemah. Maka aku tidak mengetahui apakah musibah yang ada di dalamnya tersebut berasal darinya atau dari anaknya” [Al-Majruhiin 2/25]. Ad-Daruquthni berkata ketika menyebut biografi anaknya : “’Umar bin ‘Abdillah bin Ya’la bin Murrah Ats-Tsaqafy, dari ayahnya, dari kakeknya. Adapun ayahnya, maka tidaklah diketahui kecuali dengan riwayat tersebut” [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matrukiin no. 376]. Adz-Dzahabi berkata : “Dla’if” [Ad-Diwaan no. 2353].

Kesimpulan : Status hadits ini adalah sangat lemah, tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.

17. Quito Riantori - Kamis, 24 Juli, 2008

Alhamdulillah…semakin kuat bukti-bukti bahwa Wahabi Salafy adalah para pengikut Mua’wiyyah yang membenci Imam Ali dan keluarga Rasulullah, dan salah satunya adalah si Abu al-Jauza’ ini. Kita bisa melihat, betapa semangatnya kaum Wahabi membela Mu’awiyyah sebagaimana Ibn Taymiyyah.
Semakin nyata kebencian hebat mereka kepada Imam Ali dan Ahlul Bayt Rasul
sehingga mau bersusah payah membuat komentar kotor seperti ini, padahal sudah tak diragukan lagi hadis2 diatas bukan lagi shahih tapi sudah mencapai derajat mutawatir. Hadis yang serupa dengan itu termaktub di dalam Kitab al-Ghadir karya Al-Amini. Beliau mengupas tuntas hadis tersebut di atas secara gamblang bagaimana sanad dan periwayatannya secara rinci. Khusus utk hadis2 serupa ini, beliau menulis sampai 11 jilid tebal (rencananya 20 jilid).
Keterangan di atas harus kita cermati kembali, karena seperti lumrahnya, para Wahabiyyun senang memotong/ mensensor keterangan2 yang asli. Jadi, keterangan di atas jelas2 palsu dan batil. Walau pun begitu, insya Allah, dengan pertolongan-Nya, saya akan buat artikel khusus yang membantah penjelasan ini secara singkat dan tuntas. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

18. ad - Kamis, 24 Juli, 2008

MasyaAllah
Allah maha mengetahui segala apa yang terjadi
pasti ada rencana khusus dari Allah tentang kemenangan kaum muslimin
yang cinta pada Rosullulloh dan ahlu bayt nya

aku mendukung penuh pernyataan Imam Ali As bahwa keadilan lebih utama dari kebaikan

jadi aku mendukung mas quito untuk menjawab semua pernyataan yang carut marut dari wahabi salafy

karena dengan itu, orang yang awam seperti saya tidak akan terjebak dalam suramnya kemunafikan wahabi salafi

Allah tidak akan membiarkan kaum tersebut menyebar luas
pasti ada nur yang diletakkan pada seorang hamba untuk sekuat tenaga mencegah fitnah yang disebarkannya.

19. arie kariana - Minggu, 27 Juli, 2008

@wahabi

assalamu’alaikum

ada satu pertanyaan yang sampai sekarang tidak pernah ada jawaban berbeda dari setiap orang yang saya tanyakan, pertanyaan itu adalah: “apabila anda kelak meninggal dan kemudian ada seseorang yang ingin membuat biografi tentang anda, maka kira2 siapa saja yang paling tepat sebagai tempat bertanya(narasumber) bagi seseorang tersebut(penulis biografi)”:
1. apakah narasumber itu berasal dari kalangan sahabat2 anda,
2. ataukah dari kalangan keluarga anda(anak, sepupu, istri, dll)?

mana yang menurut logika anda paling bisa menjadi sandaran penulisan biografi anda?

jawaban yang saya dapatkan 100% selalu sama, yaitu jelas harus mendahulukan dari kalangan keluarga, terlebih dari keluarga yang jelas2 sangat dekat dalam kesehariannya dengan anda…

Lalu apa bedanya dengan Rasulullah Saw, yang jelas2 Beliau Saw memiliki “orang2 terdekat dalam kesehariannya, bahkan orang yang paling diandalkan dalam segala uruan termasuk dalam urusan perang dan administrasi?”

Allah Swt telah memberikan manusia sebuah karunia yang terlalu mahal untuk kita abaikan, yaitu “akal”, dimana kita terlalu sibuk untuk memperkaya khazanah keilmuan kita tetapi tanpa “merapikan” logika kita, itu jelas2 merupakan penghinaan terhadap akal.

Bagaimana kita dapat mengenal Allah Swt? bagaimana kita dapat mengenal Rasulullah saw? bukankah untuk itulah Allah memberikan “akal” pada kita? bukankah dasar kita berfikir adalah segala info yang kita dapat kemudian kita olah dengan logika?

sebab terus terang mudah saja bagi kami sebenarnya untuk “perang hadits” ataupun berbicara dengan bahasa yang kearab-araban, tetapi masalahnya adalah atas dasar apa kita berbicara seperti itu? bukankah intinya adalah akal yang kita kolaborasikan dengan Alquran dan sunnah2 Beliau Saw? jadi lebih baik kita perbaiki dahulu cara berfikir kita agar segala pembicaraan atau perdebatan menjadi jelas dasarnya, atau bahkan kita akan menyadari bahwa sebenarnya tidak ada perdebatan…..

salam untuk Rasulullah Saw beserta keluarga sucinya as, salam bagi pengunjung blog ini, untuk bang ito, juga bpk ad

20. amd - Senin, 27 Oktober, 2008

Saya sempat membaca artikel ini, maaf mermang sanya orang yang tidak berilmu dalam masalah ini.

Sikap Kita Kepada Muawiyah dan lainnya

Sikap kita kepada Muawiyah tidak ada bedanya dengan sikap kita kepada Ali bin Abi Thalib atau pun juga kepada Utsman bin Al-Affan ridhwanullahi ‘alaihim. Logikanya, kalau kita membenci Mu’awiyah, maka ada berapa banyak hadits yang harus ditolak, lantaran diriwayatkan oleh Mu’awiyah? Dan ternyata hadits-hadits itu shahih.

Bukankah menolak hadits shahih justru merupakan kekufuran?

Para ulama hadits sepanjang sejarah tidak pernah menolak hadits dari siapa pun yang diriwayatkan oleh para shahabat, siapa pun dan dari kelompok mana pun shahabat itu. Bahkan seleksi al-jarhu wa at-ta’dil tidak diberlakukan di level shahabat. Seleksi seketat itu hanya diberlakukan di level berikutnya, mulai dari level tabi’in ke bawah.

Adapun para shahabat nabi, semuanya berstatus ‘adil, tidak bisa ditetapkan sebagai pendusta, atau ingatannya lemah, atau sebutan-sebutan lain khas ahli hadits.

Seban semua shahabat nabi SAW tanpa kecuali adalah orang-orang yang ‘adil dan diridhai Allah SWT. Maka kita menyebut Mu’awiyah dengan tidak lupa pula disandingkan dengan sebutan radhiyallahu ‘anhu. Lupakan saja tulisan sejarah yang tidak jelas asal-usulnya itu, setidaknya belum lagi diseleksi lewat sistem kritik hadits yang profesional.

Semoga ke depan lahir dari umat ini orang-orang yang menjadi ekpert di bidang ilmu sejarah, untuk memperbaiki penulisan sejarah yang kini lebih sering diselewengkan oleh para orientalis beserta murid-muridnya dan juga orang-orang yang terlalu banyak merujuk ke tulisan mereka.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

21. Quito Riantori - Senin, 27 Oktober, 2008

@amd
Inilah salah satu bukti kebodohan si Sarwat, coba anda buka ayat2 Quran, bukankah banyak ayat2 Quran yang mengecam perbuatan2 para sahabat nabi yang fasiq, zalim dan munafiq? Jika anda baca al-Quran dengan cermat tentang ayat2 Quran yang mengecam sahabat2 Nabi yang lari dari perang, yang kikir dsb. Wah…terlalu banyak ayat2 Quran yang membuktikan bahwa tidak semua sahabat Nabi itu adil, apalagi ditambah bukti2 sejarah Islam.
Si Sarwat bilang bahwa semua referensi itu sebagai kitab2 Sejarah yang tidak jelas asal usulnya? He..3x…Anda buka Kitab sejarah Thabari, Ibn Ishaq. Ibn Katsir, Ibn Atsir, dsb nya disebut sebagai tdk jelas asal usulnya?
He…3x…Baru punya titel Lc sudah sombong takabur kayak gitu, na’udzubiullah deh…
Anda mau mendahulukan ayat Quran atau Hadis. Karena banyak juga hadis2 shahih yang membuktikan bahwa tidak semua sahabat Nabi itu adil?
Coba anda baca artikel lainnya di dalam blog ini ttg para sahabat nabi.
Perlu saya tekankan di sini bahwa TIDAK SEMUA SAHABAT NABI ADIL.
Terima kasih n salam.

22. Quito Riantori - Senin, 27 Oktober, 2008

@amd
Tambahan lagi, coba anda baca artikel di atas ini, apakah yang saya paparkan di atas bukan hadis? Memang, sudah tak perlu diragukan lagi bahwa penganut Wahabi, seperti Sarwat itu sangat fobi terhadap SEJARAH, karena memang sejarah Wahabi sendiri tertulis dengan darah-darah kaum Muslim, baik dari Sunni maupun Syi’ah!

Salam

23. arie kariana - Selasa, 28 Oktober, 2008

@quito

memang aneh ya mas wahabi itu, di ajak dialog dengan bukti2 kuat2 pun tetap aja malah berkelit dengan hal2 yang justru di luar pembahasan, seakan2 dalil2 yang kita kemukakan itu dilewati begitu saja, apa memang mereka itu tidak kompeten untuk berdialog? saya perhatikan orang2 syiah itu akan tersinggung apabila kehormatan Rasulullah dan keluarganya di remehkan, tapi mayoritas -kalau tidak semua- wahabi itu justru tersinggung seakan2 diri mereka yang diusik, siapa sebenarnya yang mereka bela? kalau begini kan tak akan ada titik temu? mari kita tetap sabar ya mas, mari kita terus pertahankan kehormatan para kekasih2 suci Allah dan para pewaris mereka yang sah, karena memang hanya dengan cara begini maka ajaran Rasulullah saaw akan tetap hidup sambil kita menunggu sang pemegang urusan, imam al mahdi as, salamun’alaykum

24. Quito Riantori - Selasa, 28 Oktober, 2008

@arie
Kalau gak aneh iya bukan Wahabi, Kang Arie. Yah, mungkin itu karena mereka sudah terikat betul dengan duniawi, dengan latar belakang pendidikan ngawur mereka di Saudi. So, mereka terbutakan dari kebenaran. Lihat saja orang-orang Barat, apa yang tidak jelas dari Islam, tapi keangkuhan, kemelekatan dengan duniawi, dan enggan belajar dengan sungguh2 membuat mereka menjadikan Setan sebagai pimpinan atau wali mereka. Posisi seperti ini disebut sebagai berwali kepada Setan atau Thaghut. Berwali kepada Raja-raja Saudi dan pemimpin2 AS dan Uni-Eropa. Na’udzu billah…

25. adranika - Kamis, 29 September, 2011

Dalam kehidupan sehari-hari saya hanya bisa “berusaha” untuk sholat, ingin disayang Allah, ingin mendapat syafaat kanjeng Nabi Muhammad SAW, bermanfaat kepada orang lain, ingin diampuni dosa-dosaku (yang buanyaknya minta ampun), ingin membahagiakan keluarga… dan banyak lagi keinginan yang hanya Allah yang tau…
Saat ini dengan mudahnya mendapatkan “informasi” di dunia maya… diakui atau tidak sering saya dibuat “miris ??” karena banyak “keributan” di dalamnya… dengan segala pemahaman, saya mungkin masih “bisa” memelihara hati ini agar tidak ikut2 ribut atau bingung… tapi saya kok jadi khawatir gimana dengan anak2 saya ?? wahabi ?? Sunni ?? syiah ?? smoga Allah memudahkan segala urusan saya dan anak2 serta turunanku… amin

26. goen - Selasa, 14 Agustus, 2012

assalamu alaykum wr wb

melihat perbincangan di atas hati saya perih dan sedih. dengan cara inikah muslimin bisa mencapai kejayaannya kembali? dengan cara inikah kita ingin menjadikan islam sebagai rahmatan lil alamin?

ya Allah yang maha tahu, kepadaMulah hamba berserah diri, dari kebodohan hamba dan umat ini, tolonglah kaum muslimin atas orang-orang kafir.

saya bukan syiah tapi hati saya sangat mencintai ahlul bayt. rasa perih dan tersayat dengan peristiwa yang menimpa ahlul bayt dibawah kekalifahan masa itu. Saya ingin menggali ilmu lebih banyak dari sumber ahlul bayt karena imam ali ra/kwj adalah pintu gerbang dari kota ilmu Rasulullah SAW. saya juga sangat membenci perilaku para pengkhianat terhadap keluarga rasulullah. tak pantas ada pembelaan terhadap orang2 yang secara jelas melakukan kebiadaban yang telah tercatat dalam sejarah.

saya hanya menghimbau marilah kita belajar dari sejarah, buanglah contoh yang buruk dan marilah bersama2 mengagungkan agama ini. jauhkan saling membenci karena sesungguhnya kita bersaudara.

dengan hati yang perih aku menunggu datangnya cahaya yang menerangi umat ini, namun sampai saat ini apa yg aku lihat dan dengar hanyalah kesedihan-kesedihan yang terus berlanjut.

hanya kepada allah kita kembalikan semua urusan. mohon maaf bila tidak berkenan atas komentarsaya ini.

wassalamu alaykum wr wb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 207 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: