Mestikah Wanita Menunjukkan Kemarahannya Ketimbang Pria? Selasa, 11 Desember, 2007
Posted by Quito Riantori in Anger Management, Artikel.trackback
Anak laki-laki lebih pemarah ketimbang anak perempuan – dan kemarahan mereka lebih bertahan lama. Anak laki-laki dan laki-laki dewasa, secara umum, lebih lama menemukan kembali sebuah pengalaman yang pernah menjengkelkannya ketimbang kaum perempuan, sebagian karena mereka (laki-laki) mempunyai reaksi-reaksi fisik yang lebih kuat ketimbang wanita. (Averill, 1983).
Bagaimanapun, permulaan usia 3 atau 4 tahun, anak-anak laki-laki lebih agresif daripada anak-anak perempuan. Di sekolah-sekolah, anak-anak laki-laki juga melakukan agresi dan mereka lebih sering kena hukum ketimbang anak-anak perempuan.
Contoh lainnya, kaum wanita yang menyela pembicaraan lebih sedikit menerima pertengkaran ketimbang kaum pria. Laki-laki yang membunuh dan yang dibunuh lebih banyak dan lebih sering 4 sampai 5 kali daripada yang terjadi atas wanita.
Sekitar 70% dari orangtua (di AS) mengatakan kepada anak laki-lakinya bahwa baik bagi mereka (anak laki-laki) mempunyai sedikit pengalaman berkelahi saat mereka mulai tumbuh sedikit dewasa. Tetapi berapa banyak orangtua yang berpikir seperti itu untuk anak perempuan mereka? Hampir tidak ada bukan?
Sebagaimana yang kita lihat, hampir semua yang berhubungan dengan kebudayaan, aturan-aturan sex makin melemah di dalam masyarakat Amerika Serikat.
Bagaimanapun, gender membedakan keagresifan yang saat ini mungkin sudah mulai berkurang. Akan tetapi, apakah kaum lelaki akan menjadi kurang agresif atau kaum wanita menjadi lebih agresif, atau bahkan kedua-duanya? Tetapi tampaknya reaksi agesif kaum wanita berbeda dengan reaksi kaum lelaki. (Byrne & Kelley, 1981).
Rupanya, anak laki-laki dan laki-laki dewasa berharap tindakan agresif sebagai hukuman bagi mereka, sementara hal ini tidak terjadi pada anak-anak perempuan dan wanita dewasa.
Kaum wanita, jika melakukan kesalahan lebih merasa gelisah dan lebih cepat merasa bersalah ketimbang kaum pria; Dan kaum wanita, setelah marah atau melakukan agresi lebih cepat menyesal dan lebih berempati terhadap korban kekerasannya.
Beberapa studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 50% dari mahasiswa – baik laki-laki maupun perempuan – menyatakan telah melakukan tindakan agresif secara fisik (seperti melempar sesuatu untuk menyerang seseorang). Namun di pengadilan-pengadilan lokal, mahasiswa lelaki jauh lebih agresif ketimbang mahasiswa perempuan, bahkan mereka melanjutkan perseteruannya di pengadilan.
Dan, pada akhir 1990, ketika ditanyakan kepada mereka tentang rencana pemerintah AS untuk berperang melawan Iraq di Kuwait, 48% dari mahasiswa lelaki lebih menyukai berperang, tetapi hanya 22% dari mahasiswa perempuan yang juga menyukainya.
Hal ini karena masih oleh banyak dipercayai bahwa kemarahan merupakan kekuatan (power). Jadi, kaum wanita berada pada sisi yang dirugikan, karena mereka merasa tidak nyaman ketika mereka menunjukkan kemarahan mereka.
Sebenarnya, kemarahan kaum wanita diekspresikan dalam bentuk ketidak setujuan atau pencelaan ketimbang rasa marah yang biasa dilakukan oleh kaum pria. Jika Anda seorang wanita, Anda cenderung tidak menunjukkan kemarahan Anda, atau menyimpannya ke dalam alam bawah sadar Anda.
Padahal sikap seperti ini lebih berbahaya, karena sewaktu-waktu, kemarahan Anda bisa meledak lebih dahsyat ketimbang jika Anda menyalurkannya dengan cara yang santun. *]
Tetapi menunjukkan kelemahan juga sama berbahayanya. Tentu, jika seorang manajer wanita atau pimpinan wanita di sebuah perusahaan, menampakkan tangisan atau emosi di hadapan anak buahnya akan menjatuhkan wibawanya, di mana dalam situasi yang sama, seorang pimpinan laki-laki mungkin menangani masalah yang serupa jauh lebih agresif.
Dalam kasus ini sang manajer wanita akan kehilangan prestisenya (prestige) di mata banyak orang. Oleh karena itu, beberapa orang telah mulai menyarankan kaum wanita untuk menunjukkan kemarahan mereka dan menggunakannya dengan tepat sebagai alat untuk memperoleh perubahan-perubahan penting.
Catatan Kaki :
Dikutip dari buku Anger Management, Pustaka IIMaN, 2006.
*] Sudah banyak kasus di negeri ini bagaimana seorang ibu rumahtangga yang marah kepada suaminya kemudian dia pendam, namun justru akhirnya kemarahannya itu dilampiaskan kepada anak-anaknya yang tidak tahu menahu mengapa ibunya bisa sedemikian marah kepada mereka. Bahkan tidak jarang kita temui tentang penganiayaan atas anak-anak yang sedemikian mengerikan.
Na’udzu billah (Ya Allah kami berlindung dari perbuatan yang seperti itu)
Komentar»
No comments yet — be the first.