jump to navigation

Wahabi-Salafy: Aliran Garis Keras dan Puritanisme Rabu, 12 Desember, 2007

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel.
trackback

scorpion.jpg

Sikap tidak mendukung pluralisme dalam kehidupan beragama cenderung melahirkan teroris baru. Demikian ungkap Intelektual Muslim, Jalaluddin Rahmat, saat membahas buku berjudul “Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme”, karya Stephen Sulaiman Schwartz terbitan The Wahid Institute. Buku itu memotret salah satu aliran Islam di Arab Saudi, Wahabi (Kompas, 3/11).

Jalaluddin mengakui, penganut Wahabi ditandai dengan melekatnya perasaan paling suci. Mereka menganggap kelompok mereka sebagai penganut tauhid murni. Dengan melekatnya perasaan paling suci, kaum Wahabi cenderung eksklusif dan antipluralisme. Mereka menganggap surga hanya miliknya. Sikap itu berdampak pada keengganan beradaptasi terhadap tradisi daerah setempat. Mereka hanya mengakui tradisi dari Arab Saudi, tempat asalnya.

Pernyataan Jalaluddin ini menunjukkan bahwa radikalisme dan terorisme merupakan buah dari corak teologi. Sebagaimana diketahui bahwa teologi yang berkembang dalam sejarah Islam sebenarnya cukup banyak. Di antaranya yaitu Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Maturidiyah, Asy’ariyah, dll. Masing-masing teologi mengembangkan corak penafsiran akidah yang khas. Namun secara garis besar semua aliran teologi itu dapat dipetakan dalam kelompok liberal, progresif, moderat yang cenderung inklusif, dan puritan, fundamentalis yang cenderung eksklusif.

Garis Keras
Dalam awal sejarah Islam, penganut teologi Khawarij disebut oleh para sejarawan sebagai kelompok yang merepresentasikan “garis keras”. Mereka cenderung tidak toleran terhadap kelompok lain di luar teologinya. Bahkan mereka melancarkan aksi pembunuhan terhadap kelompok dan tokoh yang dinilai sudah keluar dari ajaran Islam (kafir). Sayidina Ali ra. merupakan salah satu korban pembunuhan dari kelompok ini.
Pada dasarnya puritanisme dan fundamentalisme yang dianut Khawarij adalah ekspresi keimanan yang paling dalam. Jadi merupakan sesuatu yang tulus dari hati mereka. Namun ekspresi keimanan itu malah menimbulkan kerusakan terhadap lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh corak teologi yang tidak memberi ruang adanya perbedaan interpretasi. Selain itu juga terlalu rigid dalam melihat persoalan.

Dengan demikian apa yang dikatakan Jalaluddin di atas, memiliki landasan historis. Jika saat ini juga ada kelompok Islam yang corak teologinya puritan dan fundamentalis, maka memiliki kecenderungan menjadi radikal dan menggunakan teror dalam ekspresi keagamaannya.
Sementara itu KH Abdurahman Wahid, pendiri The Wahid Institute, justru mempertanyakan alasan kaum Wahabi memilih “garis keras” yang kurang dimunculkan dalam buku itu. Kita harus obyektif. Pahami dulu latar belakang sejarah mereka dan hubungan kerjasama mereka dengan dinasti Saudi.

Pernyataan Gus Dur bisa dikategorikan sebagai gugatan terhadap simplikasi penilaian bahwa semua kelompok yang beraliran Wahabi sebagai negatif dan menyukai kekerasan. Obyektivitas, sebagaimana ditegaskan Gus Dur, memang menjadi sesuatu yang penting dalam penelitian sosial. Peran faktor tertentu yang menyebabkan sebuah kecenderungan tertentu dalam suatu masyarakat, belum tentu berlaku sama dalam masyarakat lain. Obyektivitas dimaksudkan sebagai upaya menyingkirkan prasangka dalam penelitian sosial. Bukan tidak mungkin bahwa ada faktor lain yang memengaruhi kekerasan dan radikalisme dalam kasus gerakan Wahabi di Arab Saudi.

Perlu Objektivitas
Menurut Bryan Fay, seorang pakar Filsafat Ilmu Sosial dari Conectitut University America, obyektivitas adalah kebenaran yang tidak hanya ada dalam pikiran. Kebenaran yang hanya dalam pikiran merupakan distorsi terhadap realitas. Hal ini merupakan cermin dari ideologi. Karena itu obyektivitas merupakan sesuatu yang penting dalam menganalisis kasus Wahabi.

Sedangkan menurut Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina, Ihsan Ali Fauzi, buku Stephen memberikan potret lain dari Arab Saudi yang selama ini hanya dikenal sebagai tempat menunaikan ibadah Haji dan penghasil minyak. Diperkirakan akan banyak orang Indonesia yang terkejut dengan isi buku ini karena terkait penggambaran Arab Saudi. Survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengenai negara asing favorit orang Indonesia, Arab Saudi menempati peringkat pertama dengan pemilih sebanyak 92 persen.

Sebenarnya hasil survei LSI tidak terlalu mengejutkan. Bagi sebagian besar umat Islam di dunia, Arab Saudi, masih menjadi kiblat nilai-nilai kebaikan. Jadi Indonesia merupakan cermin dari perasaan hampir semua negara-negara Muslim di dunia. Selain itu hubungan tokoh-tokoh Islam Indonesia dengan Arab Saudi, terutama Mekah dan Madinah, sudah terjalin sangat lama, kira-kira sejak abad ke-16 (lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Nusantara abad ke-17 dan 18). Relasi itu menempatkan Indonesia sebagai “murid” dan Arab Saudi sebagai “guru”.

Dalam hampir semua aspek kebudayaan, masyarakat Islam Indonesia memandang kebudayaan Arab Saudi sebagai sepenuhnya Islam yang ideal. Dengan begitu, amat boleh jadi, penggambaran yang bernuansa negatif atau kritis terhadap Arab Saudi akan mengejutkan sebagian masyarakat Islam Indonesia.(CMM/M. Hilaly Basya)

Sumber : http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=4996_0_3_0_C

About these ads

Komentar»

1. RETORIKA - Selasa, 18 Desember, 2007

@ Kalau saya negara asing favorite adalah United Kingdom dan Singapura. Terlepas negara kedua saya adalah Australia

Sebenarnya buat masbro saya ada tiga pertanyaan.

1.
Sebenarnya apa hubungan yang jelas antara Wahabi yang ada di saudi arabia dengan ajaran salafy manhaj salaf. kok kesanya mereka ada kemiripan, yaitu cenderung tidak mau menerima perbedaan maupun masukan dari orang lain yang tidak sealiran?

2.
istri saya kebetulan seorang keturunan hadramaut, meski budaya timteng telah ditinggalkan tetapi baik dirinya maupun keluarga besar mereka amat membenci orang Saudi Arabia, dan mereka mengatakan hal ini disebabkan karena “tragedi karbala” apa hubunganya.

3.
Terkait dengan link di ini, dan link disini :

Link nya : http://retorika.wordpress.com/2007/12/02/orang-indonesia-orang-kebanyakan/

http://retorika.wordpress.com/2007/11/05/istriku-tidak-akan-berjilbab/#comment-334

apakah anggapan eksklusifitas tersebut merupakan sebuah pandangan wahabi maupun keturunan sayyidinah ali. Karena tidak jarang (terutama di indonesia) bahwa pernikahan seorang non arab dengan wanita arab merupakan hal ganjil. Maklum karena selama ini meski saya sering bergaul dengan keturunan arab (jamaah) mereka tdk pernah menganggap hal ini sebuah keganjilan, tetapi pernikahan saya sering dianggap sesuatu hal yang luarbiasa atau malah aneh dimata umat islam yang asli indonesia (bukan keturunan timteng)

sekiranya masbro quito bisa bantu menjelaskan,
oh ya minal aidzin walfaidzin, kalo saya lebaranya hari kamis.
wassalam dan thx for answer :mrgreen:

2. Quito Riantori - Rabu, 19 Desember, 2007

Salam, terima kasih atas kunjungan2 antum ke blog saya selama ini. Insya Allah, Mas, setelah liburan idul adha saya akan mencoba menampilkan tulisan tentang hal ini. Terus terang hal ini (ras) sangat sensitif, tapi saya akan berusaha agar tidak menyinggung perasaan pihak mana pun. Salam, Mas.

3. RETORIKA - Rabu, 19 Desember, 2007

Boleh, saya tunggu banget. Maklum saya orang yang hidup di dunia multi kultur (BUANGET) jadi saya tau betul gimana sensitifnya masalah ras, apalagi terhadap orang yang belum kita kenal secara pribadi.

Salam jg

4. aiman - Kamis, 27 November, 2008

Assalamualaikum….
saya coba klarifikasi aja ya…
maksud mas wahabi itu apa & siapa?
orang2 yg suka mem bom?
saya jawab mereka bukan wahabi!
maksud mas wahabi itu apa & siapa?
orang2 pks?
saya jawab mereka juga bukan wahabi!!

apa mas faham tentang wahabi & siapa wahabi?
tolong kasih penjabaran yg jelas kpd umat,jangan sampai umat bingung apalagi menelan mentah2 fitnah yg sekarang banyak beredar ttg syaikh muhammad bin abdul wahab.
aqidah apa yg di bawa oleh beliau?

yang ke dua:
saya juga mencoba mengklarifikasi ttg menikah dengan golongan orang keturunan arab (jamaah)
dalil dari mana yg melarang orang menikah dengan wanita keturunan arab?
pria boleh menikah dengan wanita manapun,tapi ada syariat nya kan mas,coba liat di surat annisaa.
justru dari golongan habib lah yg melarang pernikahan tersebut,karena alasan2 yg sangat tidak relevan.
apa ada dalam al-qur’an atau hadist yg melarang bahwa laki2 indonesia atau negara manapun selain arab,menikah dengan wanita golongan arab?

yang ketiga:
mengenai tanggapan gus dur,saya tidak akan banyak bicara ttg orang itu,hanya satu yg dapat saya katakan bahwa gus dur sama sekali tidak dapat menjadi contoh dan panutan utk umat.
banyak fakta yg dapat menjelaskan hal2 tersebut.
jazakallah…..
wassalamualaikum…..

5. Adhyatnika - Minggu, 16 Agustus, 2009

Selama itu menjaga kemurnian Islam..ya kita terima! tapi walaupun datang dari tokoh yang ngaku Islam tapi mengobok-ngobok Islam ya..wajib kita tolak!!!!

6. amat - Jumat, 2 Oktober, 2009

terlepas baik dan buruk, umat islam di indonesia mestinya dapat berfikir bahwa islam datang di indonesia bukan untuk menjajah budaya dan adat istiadat bangsa indonesia, dan sudah semestinya umat islam indonesia juga dapat memahami makna ” wama arsalnaka illa rahmatan lil alamain” dan ” innama bu istu liutammima makarimal akhlaq” dan sudah sewajarnya kalau umat islam indonesia juga mulai pandai bahwa islam adalah keyakinan bukan baju takwa islam adalah lautan prilaku dan bukan terbelenggu dalam bahasa arab dan budaya arab

7. Islam Radikal atau Wahabisme Menyusup Ke Segenap Penjuru Indonesia !! Peringatan Nabi SAW Tentang Munculnya Wahabi « http://syiahali.wordpress.com web syi'ah terlengkap - Selasa, 18 Mei, 2010

[...] Wahabi-Salafy: Aliran Garis Keras dan Puritanisme [...]

8. Al Haniful Mahzum - Jumat, 5 November, 2010

Islam hadir dan berkembang di Indonesia melalui kebudayaan, memang beberapa penyebarnya datang dengan cara berdagang, akan tetapi mereka tetap membaur dengan kultur yang sejak lama ada di Indonesia. kehadiran Islam di Indonesia tentu sangat berbeda dengan kehadirannya di negara Arab. saya bangga dengan keislaman di Indonesia, tapi saya sedih ketika suasana ini dirusak oleh ajaran yang mengatasnamakan pemurnian dan sebagainya.Mereka (Wahabiyah)telah merebut dua saudaraku dibawa ke samudera Surga yang telah di kavling untuk mereka,hanya mereka..tidak untuk orang lain..!!!

9. abdul hadi - Rabu, 8 Desember, 2010

wallohu akhlam

10. hm sidik - Senin, 16 Mei, 2011

ass seyogyanya umat islam harus berani mengintrospeksi amalan dan tingkah laku yang selalu mengatasnamakan umat Muhammad, benar tidaknya jangan idiologi standarnya. hari ini di tengah bangsa yang majmuk ini muncul sekelompok umat yang dibidani oleh partai membawa ideologi baru sebagai embrio garis keras. keberanian pemerintah sangat dinanti sebelum hancurnya marwah bangsa karena mengedepankan faham takfiriyah.

11. meliz4 - Jumat, 8 Juli, 2011

laaaa ilaaha illaAllah……

12. Musa - Selasa, 2 Agustus, 2011

Aliran radikal perlu dibasmi,sampai tuntas

13. sentot - Selasa, 9 Agustus, 2011

manusia sok suci sekarang memang banyak, beragama tapi sesat juga banyak. mendingan pergi mancing ke sungai sambil berkontemplasi kpd TUHAN……..

14. chobir - Senin, 12 September, 2011

numpang nyimak wa

15. Puritanisme Wahabi-Salafi « Maula - Senin, 19 September, 2011

[...] Source Like this:SukaBe the first to like this post. [...]

16. .daydreamer. - Puritanisme Wahabi-Salafi - Kamis, 2 Agustus, 2012

[...] Source [...]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 207 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: