jump to navigation

Benci Tanpa Alasan Yang Benar Dan Berprasangka Buruk Rabu, 26 Desember, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, Anger Management, Artikel.
trackback

benci1.jpg

…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil” (Al-Qur’an, Surah Al-Maaidah [5] ayat 8)

Lawana Blackwell mengatakan, “The hatred you’re carrying is a live coal in your heart – far more damaging to yourself than to them.”

“Kebencian yang Anda bawa, seumpama sebuah batu bara yang ada dalam hati Anda – yang jauh lebih merusak diri Anda sendiri ketimbang mereka (yang Anda benci)

Suatu waktu seorang laki-laki dari Syam (Suriah) diupah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan untuk mencaci maki Keluarga Rasulullah saww. Di Madinah, lelaki ini berjumpa dengan Imam Hasan (putera Imam Ali dan Fathimah) as dan langsung saja ia mencerca dan mengutuk beliau.

Imam Hasan tidak marah, bahkan ia menunggu sampai lelaki itu menyelesaikan “hajatnya”.

Setelah lelaki Syam ini selesai mengutuk beliau, Imam Hasan menyapanya sambil tersenyum,”Anda pasti bukan orang sini. Apakah Anda tersesat? Jika Anda butuh pertolongan, mari saya tolong. Jika Anda butuh sesuatu, akan saya beri. Jika Anda butuh petunjuk ke suatu tempat, mari saya tunjukkan, Jika Anda butuh orang untuk membawakan barang-barang Anda, mari saya bvawakan. Jika Anda lapar, mari bersama saya makan bersama. Jika Anda butuh pakaian, nanti saya akan beri. Jika Anda diusir dari kampung halaman Anda, mari saya carikan tempat tinggal. Jika Anda punya keperluan-keperluan, mari saya penuhi semua kebutuhan Anda dan jika Anda berada dalam perjalanan, tinggallah bersama saya untuk menjadi tamu saya, nanti akan saya beria Anda bekal….”

Setelah mendengar tawaran Imam Hasan yang sangat simpatik itu, lelaki dari Syam itu menangis seraya berkata, “Saya bersaksi bahwa Tuan adalah khalifah Allah di muka bumi ini. Allah Mahatahu bahwa sebelum ini, tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya benci dan sekarang tuan dan ayah tuan adalah orang yang paling saya cintai di antara seluruh manusia di dunia ini!” 1]

Imam Hasan as, cucu Rasulullah saww ini, tidak segera marah ketika ia dicerca dan dikutuk sedemikian rupa. Pertama-tama ia berkata, “Pasti Anda bukan orang sini!”.

Dengan demikian Imam Hasan mengawali pandangannya terhadap lelaki Syam ini dengan prasangka baiknya, bahwa beliau meyakini si lelaki malang ini bukan penduduk Madinah sehingga ia tiada mengenal Imam Hasan yang sesungguhnya.

Sebaliknya, kebencian lelaki Syam ini bersumber dari prasangka buruknya terhadap Imam Hasan as. Informasi yang diperolehnya tidak akurat dan bersumber dari orang-orang yang membencinya.

Dia memang produk dari masyarakat yang telah dibentuk oleh Muawiyyah bin Abu Sufyan, yang telah membentuk masyarakat Syam dengan provokasi dan pandangan yang keliru terhadap Ahlul Bait Rasulullah.

Namun, dengan sikap santun dan simpatik dari Imam Hasan as, lelaki Syam ini pun tersadarkan. Ini juga merupakan sebuah bukti bahwa banyak orang yang TERSADARKAN dengan ajaran-ajaran Islam melalui tindakan ketimbang kata-kata atau pun wejangan.

Inilah yang terjadi pada kita. Kita sering mengecam dan mencela seseorang atau suatu kelompok yang hanya kita ketahui dari musuh-musuh mereka, bukan dari orang yang kita kecam itu sendiri.

Informasi yang terdistorsi telah merusak pandangan kita yang jernih. Ketelitian dan kejujuran kita untuk mengamati pandangan orang lain sangatlah diperlukan. Asumsi-asumsi serta prasangka-prasangka yang tak beralasan mesti disingkirkan dari benak pikiran kita.

“Hatred is settled anger” – ”Kebencian dimantapkan dengan kemarahan” 2]

DARIMANA PRASANGKA PRASANGKA DATANG?

Imam Ali as berkata, “Hati-hatilah kamu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk itu dapat merusak ibadah” (Mizan al-Hikam 5 : 626)

Prasangka buruk merupakan keputusan atau pandangan yang prematur – sikap positif atau negatif yang ditujukan kepada seseorang atau kelompok orang yang tidak didasarkan pada fakta-fakta yang bisa dipertanggung jawabkan.

Semua penghukuman sebelum pemeriksaan (prejudgement) biasanya didasari pada peniruan pandangan yang terlalu menyederhanakan dan terlalu menggeneralisasi tipe-tipe orang. Atau juga sebuah prejudgment mungkin didasari pada pengalaman emosi dengan orang yang serupa, jenis tiruan (stereotype) pribadi kita sendiri.

Tiruan-tiruan itu juga memberikan kita karakter yang kita harapkan, yaitu bagaimana kita mengharapkan orang lain menghubungi kita dan orang lain.

Budaya Amerika memiliki ratusan dari stereotype yang siap dibuat : pemimpin-pemimpin yang sok kuasa, orang-orang yang congkak, istri-istri yang baik tetapi kepalanya kosong, remaja-remaja yang tergila-gila dengan musik-musik tertentu, atau tergila-gila pada benda-benda tertentu : mobil, pakaian, perhiasan dan yang semacamnya.

Atau orang-orang yang cerdas pintar tetapi aneh dan menyebalkan dan seterusnya. Tentu saja, seorang pemimpin atau seorang istri atau remaja, kadang-kadang, sedikitnya seperti stereotype, tetapi tidak adil jika kita secara otomatis mengasumsikan mereka semua sama.

Prasangka, dalam penempatannya yang negatif, membenarkan penindasan atau penganiayaan dan “menolong” pelakunya berada “di puncak” rasa tak bersalah tentang keberadaannya itu.

Prasangka dapat menjadi sebuah permusuhan, benci, rasa marah – kebencian tak berdasar pada seseorang, menyalahkan secara tidak wajar, atau menjelek-jelekkan orang lain. Hal ini suatu sikap yang buruk yang membantu kita merasa unggul atau berlagak patriotik secara berlebihan.

Tentu saja, kesalahan menilai dan tekanan seseorang yang dalam rasa benci dan marah berakibat memutuskan suatu keputusan yang tak adil. Diskriminasi (seperti agresi) merupakan suatu perlakuan hubungan dengan seseorang atau suatu kelompok yang tidak sama dengan yang lainnya.

Seseorang mungkin secara positif atau negatif berprasangka terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Sikap ini tidak memerlukan pencerminan sikap (prasangka) dari orang yang berprasangka terhadap orang atau kelompok lainnya.

Anda mungkin bisa mengenali bagaimana prasangka Anda tampak tidak masuk akal atau tidak layak dan bahkan berakibat penolakan untuk melakukan cara-cara yang adil.

Di Amerika Serikat, prasangka-prasangka yang tidak menguntungkan ini biasa terjadi dan mengorbankan orang-orang kulit hitam, para wanita, orang-orang Yahudi, Arab, Jepang, Jerman, orang-orang miskin, kaya, para petani, para buruh, orang yang sangat gemuk, orang-orang cacat, orang-orang yang tak berpendidikan, orang-orang tua, orang-orang beragama Katolik, Islam, Komunis, Atheis, Fundamentalis, orang-orang Latin, Indian dan masih banyak lagi.

Semua bersumber dari prasangka yang dihembuskan lewat media televisi, internet, dan media-media lainnya. Dan sudah bukan rahasia umum lagi bahwa mayoritas pemilik jaringan media-media publikasi masyarakat itu adalah orang-orang Yahudi yang berafiliasi ke Zionis Israel! 3]

PELANGGARAN ATAS TIGA NORMA

Rasulullah Saw bersabda , “Sesungguhnya sifat pengecut, kikir, tamak berasal dari naluri yang sama (yang satu) yang terkumpul semuanya di dalam prasangka buruk” (Bihar al-Anwar 73:304)

Ketika kita berprasangka, kita melanggar tiga norma : akal, keadilan, dan toleransi. Kita tidak layak menghukum orang lain secara negatif tanpa bukti atau hanya karena dengki, atau menggunakan stereotype tanpa bisa menerima perbedaan-perbedaan individu.

Adalah tidak adil jika kita mendiskriminasi dan membayar kaum lelaki 1/3 lebih besar dari kaum wanita dengan pekerjaan yang sama atau memilih laki-laki menjadi pemimpin lebih banyak ketimbang wanita (padahal mereka juga memiliki kemampuan yang sama), dan hal-hal seperti itu.

Kita tidak bersikap toleran jika kita menolak atau tidak menyukai orang hanya karena mereka berbeda dengan kita, misalnya berbeda agama, berbeda mazhab, berbeda ras, berbeda status sosio-ekonominya, atau berbeda dalam menempatkan nilai-nilai.

Kita sudah melanggar ketiga norma tersebut, jika kita menjadikan seseorang sebagai korban untuk dibodohi, yakni orang yang tak berdaya dan tak bersalah yang kita jadikan kambing hitam untuk melampiaskan prasangka-prasangka dan kebencian kita yang tak berdasar.

Pada masa-masa awal sejarah setelah Rasulullah saww wafat, prasangka dan kebencian kepada Ahlul Bait dihembuskan secara sistematis. Salah seorang sahabat menghembuskan rasialisme dan kesukuan dengan perkataannya,”…agar kekhilafahan ini tidak hanya berputar di kalangan Bani Hasyim saja”.

Saya tidak bermaksud ingin menoreh luka lama, akan tetapi perlu kita pahami bersama darimana akar kebencian terhadap Ahlul Bait bermula.

Kecintaan Rasulullah saww yang sangat kepada Imam Ali as dan keluarganya menjadikan sebahagian besar sahabat Nabi iri dan dengki kepada Imam Ali as dan keluarganya. Betapa banyak dan betapa sering Rasulullah memuji dan menyanjung keutamaan Imam Ali dan keluarganya di hadapan para sahabat beliau.

Tujuan Rasulullah saww semata-mata agar mereka “mengenal” sang Imam secara utuh dan proporsional. Betapa banyak hadits-hadits Nabi yang menyebutkan hal ini. Bahkan Ahmad bin Hanbal, seorang tokoh pengumpul hadits (kitabnya yang populer : Musnad Ahmad dan juga tokoh utama fiqih mazhab Hanbali), mengatakan, “Tidak ada seorang pun di antara para sahabat yang memiliki keutamaan dengan sanad-sanad yang sahih seperti Ali bin Abi Thalib” (Pengantar Jalaluddin Rahmat atas buku Teladan Suci Keluarga Nabi, hlm. 7, Penerbit al-Bayan, Cet. IV, 1994)

Kedengkian dan prasangka tak berdasar terhadap Imam Ali dan Ahlul Bait Nabi dari sebahagian besar para sahabat Nabi ini disingkapkan Allah SwT dalam firman-Nya :

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepada manusia itu? Sesungguhnya Kami (juga) telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kerajaan yang besar kepada mereka” (al-Qur’an Surah al-Nisa [4] ayat 54)

Jika keluarga (keturunan) Ibrahim dianugerahi Allah dengan Kenabian dan Risalah, maka keturunan Muhammad saww dianugerahi Imamah.

Jika Anda membenci dan dengki kepada seseorang atau kepada suatu kelompok atau suatu kaum, tanpa didasari ilmu pengetahuan, keadilan dan toleransi, maka Anda akan jatuh ke dasar jurang penyesalan yang panjang di kemudian hari.

Imam Muhammad al-Baqir as mengatakan, “Sesungguhnya dengki itu memakan iman sebagaimana api memakan kayu bakar.” (Mizan al-Hikmah 2,426).

Imam Ja’far al-Shadiq as juga mengatakan,”Rusaknya agama itu karena dengki, ujub dan takabur.” (Mizan al-Hikmah 2,426)

Gordon Allport (1954) telah memikirkan secara mendalam tentang prasangka, yakni, bahwa suatu proses psikologis universal tentang keberadaan frustrasi atau permusuhan dan kemudian memindahkan kemarahan itu dari sumber yang sesungguhnya kepada minoritas yang tidak bersalah.

Penjelasan ini menyiratkan bahwa prasangka mengambil tempat di dalam kepala kita. Pada sisi lain, seorang sarjana besar kulit hitam, W. E. B. DuBois, mengingatkan orang kulit putih bahwa prasangka tidak hanya muncul dari pikiran manusia yang berada dalam kevakuman. (Gaines & Reed, 1995).

Prasangka merupakan eksploitasi, bukan hanya sebuah proses mental, yang memperbesar prasangka atas kaum minoritas dalam pendiskriminasian.

Sebagai contoh, sejak Rasulullah saww wafat, para pengikut Ahlul Bait atau Syi’ah Ali adalah kaum minoritas. Dari masa kekhalifahan, Bani Umayyah, Bani Abbas sampai saat ini mereka adalah minoritas. Mereka mengalami pendiskriminasian secara konstan di mana seolah-olah diingatkan bahwa mereka adalah kaum minoritas.

Saya pikir sudah tidak layak lagi kita memilah-milah manusia atas dasar ras, suku, agama, status sosial-ekonomi, gender, apalagi mazhab. Hal ini juga bukan berarti kita ingin menafikan realitas yang melekat pada masing-masing manusia atau kelompok, akan tetapi penempatan nilai-nilai atas dasar prasangka dan diskriminasi itulah yang tidak sesuai dengan akal, keadilan dan toleransi.

Mengikuti DuBois, banyak ahli psikologi mengikuti prasangka sebagai akibat dari masalah-masalah sosial, seperti terlalu padatnya wilayah perkotaan, kelebihan penduduk, pengangguran, persaingan antara kelompok, dan lain lain. Sebagai contoh, bahwa orang-orang yang adalah rendah status ekonomi-sosial mereka atau menjadi lebih dirugikan, barangkali disebabkan mereka mencari orang-orang yang ingin dijadikan kambing hitam.

KEPRIBADIAN DAN PRASANGKA

Rasulullah Saw bersabda, “Hati-hatilah kamu dari prasangka-prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dustanya kedustaan” (Bihar al-Anwar 75 :194)

Selama Perang Dunia II, negara Jerman yang berada dibawah kekuasaan Hitler secara terbuka mengumumkan perang atas kebanyakan dunia dan dengan diam-diam membunuh enam juta orang-orang Yahudi. Hitler telah dipilih dengan pengakuannya bahwa negerinya telah terancam dari dalam : dari para mahasiswa pengacau, dan dari luar : dari Rusia Komunis. Ia menuntut hukum. Akhirnya orang-orang Yahudi dipersiapkan untuk dijadikan kambing hitam. Hitler menjadi kuat, dan menjadi pemimpin otoriter, dan banyak dari orang-orang Jerman menerima kepemimpinannya.

Pada masa-masa gelap sejarah Islam, di mana para penguasa baik dari Bani Umayyah mau pun Bani Abbas, melakukan hal serupa. Mereka menjadikan Ahlul Bait dan para pengikutnya sebagi bulan-bulanan korban teror, pengejaran, pembunuhan dan pembantaian besar-besaran.

Kekejaman ini sampai menimbulkan ketakutan yang luar biasa terhadap masyarakat Muslim saat itu, mereka takut memberikan nama pada anak-anak mereka dengan nama-nama dari pemimpin Ahlul Bait seperti nama Ali, Hussain, atau Hasan misalnya. Siapa saja yang memberikan nama seperti itu pada anak-anak mereka akan mengalami teror, pengucilan dan bahkan pembunuhan terang-terangan maupun secara misterius (Baca : Maqatil al-Thalibin yang ditulis oleh Abu al-Faraj al-Isfahani)

Mengapa sebagian orang memuja pemimpin-pemimpin mereka yang seperti itu?

Mengapa beberapa orangtua menuntut ketaatan dan dengan kasar menghukum setiap kelakuan buruk, terutama ketika marah kepada anak-anak mereka?

Mengapa orang-orang tertentu lebih “langsung”, keras, tidak ramah, tidak toleran, dan bermusuhan ketika orang lain tidak suka mengikuti norma-norma sosial, bersikap toleran, dan penuh kasih?

Nabi saww bersabda, “Unsur-unsur kekufuran itu ada empat : takut, harap, benci, dan amarah” (Al-Kafi 2 : 289)

SEPERTI SEMUA PRILAKU, PRASANGKA MEMPUNYAI BERBAGAI PENYEBAB

Duckitt ( 1992) meringkas semua penyebab prasangka tersebut :

(1) Proses psikologis universal yang terjadi pada kita semua, seperti pembelokkan atau mengganti sasaran kemarahan, proyeksi kepribadian yang kita tidak inginkan tercirikan atas orang lain, membenci orang-orang yang “berbeda” dengan kita.

(2) Dinamika antar kelompok, seperti persaingan dalam pekerjaan, eksploitasi satu kelompok atas kelompok lainnya,

(3) Penyampaian sikap prasangka, seperti bagian dari kelompok keluarga memaksa untuk menyukai dan memdiskriminasikan jenis tertentu orang-orang atau ras tertentu, penjelasan prilaku (kejahatan, pelarian keluarga, penggunaan obat-obat terlarang) yang diwariskan kepada anak-anak muda.

(4) Kecenderungan individu tertentu menjadi kritis dan tidak adil, seperti otoriter, orang-orang yang marah mencari seseorang untuk diserang, orang-orang yang memiliki rasa percaya diri yang rendah, dan lain lain.

Karena penyebab-penyebabnya kompleks, maka solusinya pun kompleks.

Orang-orang yang ditekan atau ditindas tetapi masih penuh harapan butuh untuk diikutsertakan, dengan semakin banyak orang dan dengan suatu kesadaran hukum tertentu.

Sebagaimana Tavris (1984) menyarankan, pemikiran dan pembicaraan tentang ketidakadilan mungkin membangkitkan suatu kemarahan yang bermanfaat. Kemarahan telah disebut sebagai sesuatu yang menolong keadilan.

Barangkali mengawasi kemarahan, seperti tidak melakukan kekerasan dalam aksi sosial, atau suatu kombinasi ancaman para pemberontak (bad guys) dan lebih dari para penengah perselisihan yang layak (good guys) menawarkan harapan yang terbaik demi perubahan dunia yang “tanpa belas kasih” ini.

Itu hanyalah ketidaksempurnaan yang tidak toleran atas apa yang sempurna. Semakin sempurna kita, kita semakin lembut dan tenang, kita menjadi berhadapan dengan kerusakan-kerusakan yang lain.

Satu-satunya cara yang pasti dan aman untuk “menghancurkan” musuh adalah membuat musuh Anda menjadi teman Anda. Mengubah mereka agar bersimpati kepada Anda, dengan berprasangka baik, memberi kepercayaan yang layak, dan memperlakukan mereka sebagai orang-orang yang belum mengenal Anda lebih jauh.

USAHA USAHA MASYARAKAT YANG MUNGKIN DAPAT MENGURANGI PRASANGKA DAN KEBENCIAN

Morton Deutsch (1993) telah merekomendasikan perubahan-perubahan di sekolah-sekolah untuk “mempersiapkan anak-anak untuk tinggal di dunia yang penuh damai”

Langkah yang pertama adalah penggunaan teknik-teknik belajar yang kooperatif (cooperative learning), saling mendukung, dan saling bekerjasama yang mengajak kita saling berinteraksi dengan orang lain dan mengajar kita untuk saling bergantung secara positif (positive interdependence). Hal ini akan memakan waktu 2 atau 3 tahun agar para guru mempelajari metode-metode ini.

Langkah kedua adalah mengajarkan teknik-teknik menyelesaikan konflik yang merupakan ketrampilan penting untuk kita semua ketahui. Pelatihan dalam penanganan konflik akan memerlukan beberapa kursus dan tempat untuk para siswa, ditambah dengan banyaknya praktek.

Langkah ketiga adalah penggunaan teknik-teknik kontroversi yang konstruktif (constructive controversy techniques), yang mengajak para siswa berargumentasi tentang isu-isu penting seperti suatu diskusi yang mempromosikan pemikiran yang kritis dan empatis.

Langkah keempat adalah penggunaan teknik-teknik meditasi di sekolah-sekolah oleh para siswa dan para guru untuk memecahkan berbagai macam perselisihan paham. Kita melihat bahwa semua perselisihan-perselisihan paham dapat diselesaikan jika kita rasional dan bersikap adil.

Belajar untuk menjadi seorang penengah membutuhkan 30 sampai 40 jam. Setiap orang membutuhkan pelatihan yang ketika digunakan memberikan kebaikan pengalaman praktis dalam menangani kemarahan.

Kita menyadari bahwa kita tidak bisa melakukan ini semua sendirian, tetapi kita dapat mendorong sekolah kita untuk mencoba mengurangi rasa benci, dendam dan permusuhan di antara orang-orang dan kelompok-kelompok. Kita dapat berpikir. Kita dapat menjadi pelopor untuk pertama-tama mengambil bagian.

Paling tidak, beberapa sekolah di seluruh Indonesia harus dengan jujur mengevaluasi kemarahan dan menjalankan program-program pengurangan prasangka.

Catatan Kaki :

1] Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul Bait, Imam Hasan as, Pustaka Hidayah, hlm. 160-161, Cet. I, Januari 1993. Jakarta

2] Marcus Tullius Cicero, seorang pengacara, penulis, orator, sarjana, dan negarawan Romawi Kuno, 106 SM – 43 SM

3] Di Indonesia, kaum Wahabi-Salafy menyebarkan prasangka buruk bahkan pengkafiran pada golongan Muslim seperti : Ikhwanul Muslimin, Syiah, Kaum Sufi, PKS, Hizbut Tahrir dan masih banyak muslim lainnya termasuk tokoh-tokohnya yang mereka kafirkan hanya lewat sebuah fatwa dari orang-orang buta yang tinggal di Arab Saudi. Memang, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa peran Kerajaan Saudi Arabia di dalam penyebaran “Islam” ke seluruh dunia. Mereka mengeluarkan biaya untuk ini secara besar-besaran!

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 210 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: