jump to navigation

Hakikat Tasbih Dan Tahmid Jumat, 15 Februari, 2008

Posted by Quito Riantori in All About Zikir, Artikel, Bilik Renungan.
trackback

galaxy2.jpg

Subhanallah, Maha Suci Allah! Dia bebas dari segala ketidaksempurnaan!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah !

Inilah 2 kalimat yang menduduki tempat terpenting di dalam etos spiritual Islam dan kehidupan kaum Muslim.

Kalimat pertama menyangkal segala jenis sifat makhluk kepada Allah; dan kalimat yang kedua mendudukkan segala Keagungan kepada-Nya dan sekaligus kepada segala atribut-Nya.

Setiap hari Muslimin sedunia di waktu shalat atau do’a dan percakapan mereka, seringkali mengucapkan dua kalimat ini.

Untuk menafikan segala sifat ketidaksempurnaan kepada Allah itulah yang disebut sebagai tasbih (mensucikan-Nya), dan untuk mendudukkan segala kwalitas terpuji kepada-Nya adalah tahmid atau hamdalah.

Tasbih yang dimaksud adalah pernyataan bahwa setiap makhluk itu serba terbatas dan serba berkekurangan; sehingga dengan demikian, kita langsung terhubungkan dengan Sang Maha Sempurna, Allah Swt yang menciptakan segala sesuatu.

Dan dengan tahmid sang makhluk serba lemah ini, kita menyadari Sifat Pemurah Sang Pencipta dan mengakui-Nya sebagai sumber segala kebaikan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap makhluk di dalam Alam Semesta ini selalu bertasbih dan bertahmid:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tiada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih-tahmid mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun, Maha Pemurah.” (QS Al-Isra [17] ayat 44)

Tasbih-tahmid dianggap sebagai suatu aktifitas kognitif, karena dengannya para makhluk menyatakan pengenalannya kepada Allah dan mengakui kemakhlukannya yang spesifik.

la juga merupakan aktifitas moral, karena dengannya keagungan moral Allah ditegaskan oleh makhluk-makhluk-Nya. la juga merupakan aktifitas ontologis, karena dengannya semua makhluk menghubungkan diri mereka kepada Yang Dibutuhkan.

Namun bukan berarti Allah butuh atas penyangkalan dan penegasan makhluk-Nya melalui tasbih dan tahmid, namun itu semua karena setiap makhluk butuh untuk bertasbih dan bertahmid demi melaksanakan kemakhlukan mereka dengan andil bagian di dalam Kemuliaan dan Keagungan Sang Pencipta. Karena tanpa melalui bantuan-Nya, sang makhluk tidak dapat dengan sendirinya mengenal dirinya.

Sang makhluk membutuhkan Dia, Sang Pencipta secara mutlak.

Allah adalah cahaya lelangit dan bumi.”, begitu kata al-Quran.

Melalui Allah-lah semua makhluk dapat mengenal makhluk yang lain dan terutama diri mereka sendiri. Tasbih dan Tahmid bukan hanya sarana untuk menyatakan pengenalan kita kepada Allah sebagai Tuhan yang sesungguhnya, dan pada saat yang sama tasbih dan tahmid juga berarti pernyataan kita akan pengenalan diri kita sendiri, yang tidak mungkin dapat mengenal diri kita sendiri tanpa melalui pertolongan -Nya. Oleh karena itu tasbih dan tahmid mencerminkan suatu kesadaran akan Allah di dalam diri sang makhluk. Sebenarnya kesadaran kepada Allah dan kesadaran-diri bukanlah 2 hal yang berbeda namun bahkan merupakan 2 aspek dari ilmu yang sama. Itulah mengapa Imam Ali (as) diriwayatkan telah berkata:
Barangsiapa yang mengenal dirinya, (maka) mengenal Allah.

Dan firman Allah Swt :
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah pun menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS al-Hasyr [59] ayat 19)

Lebih dari itu, Al-Quran mengajarkan bahwa tatanan Alam Semesta, ciptaan-Nya ini bebas dari segala kerusakan terhalus sekalipun, ketidakseimbangan, ketimpangan (QS:67:3-4).

Begitu juga fitrah manusia yang cenderung kepada kebaikan dan condong untuk meluruskan diri dengan bimbingan Sang Pencipta.

Karena Allah tidak hanya menciptakan makhluk-Nya tetapi juga membimbing mereka sesuai dengan fitrah yang telah Dia anugerahkan kepada mereka (QS:20:50).

Dan Dia membimbing makhluk-Nya melalui Perintah-Nya (al-amr) atau Hukum-Nya (al-Din).

Kebahagiaan manusia bergantung pada bimbingan-Nya yang disampaikan melalui para Rasul dan para Imam ini. Mereka yang menolak bimbingan dan petunjuk Ilahi pastilah akan hancur berantakan bak benda langit yang keluar dari orbit. Al-Quran menggambarkan orang-orang yang enggan mengikuti bimbingan dan petunjuk-Nya:

Dan orang-orang yang ingkar, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi air itu tidak didapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak pula, di atasnya lagi awan ; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, barangsiapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (QS Al-Nur [24] :39-40)

Bukankah ini perumpamaan yang luar biasa.

Karena manusia-manusia ‘tak tercerahkan’ inilah seluruh tatanan dunia dan masyarakat menjadi rusak dengan terwujudnya kejahatan ketidakbermoralan mereka:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, (dan) agar mereka kembali.” (QS Rum [30] ayat 41)

Walaupun Al-Quran berbicara tentang tatanan fitrah yang penuh dengan tanda-tanda, petunjuk, terhadap-Nya, ia juga menunjukkan tanda-tanda yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang secara langsung dibimbing – orang-orang yang di dalam Al- Quran disebut Ulul Al-Bab.

Dengan demikian, sumber petunjuk yang terbaik adalah risalah-risalah Allah yang disampaikan melalui para Rasul-Nya dan disebarkan serta dijelaskan oleh para Rasul dan para pengganti mereka (aimmah). Dengan melalui para Rasul dan para Imam-lah maka Allah dikenal dengan sebenar-benarnya.

Sekalipun tatanan sempurna dari fitrah ini merupakan suatu petunjuk atas Sang Pencipta Yang Maha Penyantun dan Maha Bijaksana serta Maha Pengasih, namun suatu tatanan sosial yang korup dan timpang tidak dapat bertindak untuk membimbing manusia kepada Allah.

Sama kelirunya, orang-orang yang membentuk keyakinannya kepada Allah atas dasar observasi lingkungan sosialnya.

Al-Quran telah melarang keras manusia merusak lingkungan sosial mereka (QS:7:57,85)

Dia juga menegur keras orang-orang yang mengimani Allah dengan jendela-jendela gelap suatu tatanan sosial yang menindas dan tak adil dan melalui berbagai pengalaman sia-sia mereka.

About these ads

Komentar»

1. dhans - Selasa, 12 Oktober, 2010

artikelnya sangat bagus,..thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 187 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: