jump to navigation

Siti Fadilah Supari Menguak Konspirasi Rencana Penciptaan Senjata Biologis Senin, 3 Maret, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bebas, Bilik Renungan, Opini.
trackback

hiroshima3.jpg

 

Doddy Salman

Buku Menkes Fadilah Yang Bikin Gerah AS-WHO

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fadilah menuangkannya ke dalam bukunya yang berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.

“Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.

Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu tidak saya tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada mereka, kita sudah kaya,” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total jadi 2.000 eksemplar buku.

“Saat ini banyak yang memintanya, jadi dalam waktu dekat saya akan menerbitkan cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang membicarakannya dengan penerbit besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid ke-dua.

“Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.

“Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,”
katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

Mengubah Kebijakan

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.

Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi, “ tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.

Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.

Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.

Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.

Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.

Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO pada akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Komentar»

1. Quito Riantori - Senin, 3 Maret, 2008

Semoga Allah Swt memperbanyak org2 seperti Bu Mentri Siti Fadilah ini dan semoga Allah Swt segera menghancurkan AS & Zionis beserta antek2nya di manapun mereka berada termasuk di Indonesia! Amin!

2. Menkes vs Susu Formula « Sumbangsih Untuk Indonesiaku - Senin, 3 Maret, 2008

[...] Menkes vs Susu Formula Ribut-ribut mengenai susu formula yang mengandung bakteri E. sakazakii saya teringat sebuah buku karangan Menkes Siti Fadilah Supari yang menyoal ada hidden agenda dibalik pengiriman sample virus flu burung (H5N1) yang melanda negara-negara berkembang kepada WHO beberapa waktu lalu. Di internet pun sudah banyak beredar berita tentang bagaimana perlawanan beliau untuk meminta kembali sample virus H5N1 yang berasal dari Indoensia. Salah satunya saya baca dari sini. [...]

3. Badari - Senin, 3 Maret, 2008

Mudah2an Allah Yang Maha Penyayang memenangkan perjuangan melindungi umat manusia dari penindasan industri senjata berkedok pengobatan.
Mudah2an Allah swt. melindungi Ibu Siti Fadilah Supari & semua pihak yg berjuang melawan penindasan senjata biologis dari segenap kejahatan & konspirasi busuk industri senjata Zionis & AS.
Mudah2an Allah Yang Maha Perkasa mengazab & menghancurkan sehancur-hancurnya industri senjata yg berusaha menjajah umat manusia lewat virus atau vaksin.

4. KRIS - Selasa, 4 Maret, 2008

trims buat bu fadilah, maju terus ….. pantang mundur!!!! semoga sikap ibu dapat membangkitkan semangat bangsa indonesia untuk bangkit melawan penjajahan barat yang selama ini masih kita rasakan…. God bless you mom…..!!!!

5. shantoy hades - Selasa, 4 Maret, 2008

Tiap orang memiliki 2 sisi. Terlepas dari berbagai pernyataan blunder dari Bu Menkes, langkah ini setidaknya bisa membuka mata dunia dan memberi inspirasi bagi banyak umat manusia akan sebuah penjajahan dan tindakan amoral bangsa2 maju.
Mudah2an Presiden SBY lebih menjaga harkat dan martabat bangsa ini dengan lebih bijak menyikapi penerbitan buku Bu Menkes dan tak hanya menjadi seorang boneka bangsa barat yang memposisikan kebutuhan militer bangsa kita sebagai posisi tawar untk mengenyahkan nilai kemanusiaan. Tidak perlu senjata canggih, kita hanya butuh generasi yang sehat dan pintar!!!
Selamat berjuang Bu Menkes, kami mendukung langkah Anda (asal jangan suka bikin pernyataan blunder lagi yah Bu)

SAATNYA AKSES KESEHATAN TERJANGKAU DAN PENDIDIKAN MURAH!!!

6. phuongnana - Selasa, 4 Maret, 2008

This post is very hoting, and this blog is high ranked in
the top blogs report
. You can
earn some money with a good blog
like this.

7. realylife - Selasa, 4 Maret, 2008

harapannya , semoga ada lagi yang mau berjuang seperti itu , tanpa harus mikir apa yang akan di dapatkan nanti
itu saja

8. ahmad - Selasa, 4 Maret, 2008

kini saatnya dunia kedokteran khususnya masalah kesehatan dibawah naungan menteri kesehatan banyak bekerja sama dengan ala china atau sinshe..

9. darkslordcommunity - Kamis, 6 Maret, 2008

Jangan sombong bu menkes.kl kita tdk bekerjasama dengan bangsa barat tidak mungkin indonesia.maju

10. Sulistyo - Selasa, 11 Maret, 2008

Saatnya bangsa Indonesia berani dan percaya diri untuk menentang hegemoni yang menginjak-injak martabat manusia. bukan hanya di bidang kesehatan, pada semua bidang jika kezaliman muncul harus diberangus. keadilan harus ditegakkan. Tuhan pasti berpihak pada penentang kezaliman.

11. ABiq - Rabu, 12 Maret, 2008

Salut buat Bu Menteri, atas kejujuran dan keberanianmu menyampaikan sesuatu yg haq walaupun harus ditentang banyak pihak. Maju terus pantang mundur Bu…. kami butuh Pejabat Negara seperti Ibu….. Sukses selalu….

12. desty - Kamis, 13 Maret, 2008

semakin banyak orang yang berani dan cerdas melihat situasi seperti bu menkes, insyaAllah Indonesia akan maju. Membuktikan bahwa Bu Menkes memang berjuang tuk kebenaran dan kemajuan bangsa dan negara, walau harus mempertaruhkan kedudukan, jabatan, dan nama besarnya. Selamat berjuang Bu! Kami bangga padamu!!!

13. G_vin - Sabtu, 26 April, 2008

Kita harus tau kalo virus itu,bisa di lemahkan untuk menjadi vaksin.Tapi bisa juga di kuatkan untuk menjadi senjata biologis…Indonesia sendiri pernah kecolongan Pada kasus small pox-cacar.taun 1974 indonesia dinyatakan bebas cacar oleh who.taun 1984 who datang ke indonesia untuk memusnahkan virus cacar sekaligus laboraturiumnya di biofarma bandung.sejak saat itu indonesia tidak lagi memiliki virus cacar.tiba-tiba pd 2003 who mengumumkan adanya SENJATA BIOLOGIS dari virus cacar.taun 2005 indonesia harus membeli vaksin dari who karena ada senjata biologi dari small pox.yang bikin siapa saya tidak tahu.tapi yang punya vaksin adalah perusahaan amerika… menurut ibu siti fadilah supari.selanjutnya seluruh dunia harus membeli vaksin untuk persediaan harganyapun super mahal mencapai Rp 600 milyar pemerintah tidak punya uang.pengalaman ini tidak boleh terjadi pada flu burung.kalau menjadi senjata biologi bisa mencelakakan manusia…kata bu mentri. Jadi maju terus bu mentri kami mendukungmu…

14. wijaya - Kamis, 22 Oktober, 2009

wah .. hebattt ..
saya dulu juga udah curiga pas terjadi virus flu burung kok negara maju gak kenak .. aneh … hebat hebatt bu Fadilah .. semoga Alloh SWT meridhoi melindungi usaha ibu .. amien999x …

15. muhammad syafii masykur - Kamis, 22 Oktober, 2009

Dulu saya adalah orang yang sentimen terhadap Bu Fadilah Supari. Terutama ketika banyak obat-obat palsu beredari di masyarakat. Tapi, sekarang saya malah begitu kagum dengan keberaniannya. Saya mulai berusaha mencari informasi tentang beliau justru setelah beliau tidak direkrut lagi oleh SBY dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Kalau tahu demikian pasti kemarin berprediksi kalau Bu Fadilah tidak direkrut lagi. Habis langkahnya bisa bikin pemerintah jantungan sich.

16. amri sanjaya - Rabu, 4 November, 2009

siapa lagi orang idealis di indonesia skg ini………………….

17. Ekaryana - Jumat, 25 Desember, 2009

Terbukti lagi, kalo Negri ini sudah dibawah ketiak bangsa AS
Lihat saja di Taman Menteng Jakarta Pusat.. masa ada patung Barack Obama (Gelooo..) mang siapa dia ? Pahlawan Republik Indonesia ?
Ditaman yg strategis seperti itu pantasnya dipajang patung Jend. Sudirman atau tokoh pahlawan nasional..
Bukan presiden AS, yg kita tdk tau nantinya dia jd penjahat ato pahlawan dunia…