Hidup Adalah “Peperangan” Yang Tiada Henti Jumat, 18 April, 2008
Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal.trackback
Satrio P. Motinggo
The optimist proclaims that we live in the best of all possible worlds and the pessimist fears this true. (James Branch Cabell)
Di dalam “peperangan” hidup yang berkelanjutan ini, orang yang berpendirian teguh pada pertahanannya akan keluar sebagai pemenang. Bahkan dengan segala kekuatan dan pemahamannya, jika seseorang merasa kurang memiliki harapan dan kurang berani, maka ia akan gagal. Sebenarnya apa yang membawa kegagalan di dalam peperangan ini? Jawabannya : sikap pesimis!
Dan yang membantu seseorang di dalam memenangkan peperangan hidup ini, betapa pun sulitnya adalah sikap optimis. Ada orang-orang di dunia ini yang melihat hidup ini dengan pandangan yang pesimis. Ia hanya melihat sisi gelap kehidupan ini saja.
Di dalam bukunya yang berjudul Silver Stallion, James Branch Cabell mengatakan, “Orang yang optimis menyatakan bahwa kita hidup di tempat terbaik di dunia yang serba mungkin. Sebaliknya orang yang pesimis justru takut akan kenyataan ini”
Meski ada faedahnya juga untuk melihat sisi sulitnya, namun hukum psikologi mengatakan bahwa sekali seseorang terkesan dengan keadaan yang sulit, ia akan kehilangan harapan dan keberanian.
Dengan demikian sikap optimis itu baik sepanjang mata kita (baca : kewaspadaan) terbuka. Tetapi jika mata kita tertutup, maka sikap optimis itu justru dapat membahayakan diri kita sendiri.
Selain itu, di dalam peperangan ini kita juga membutuhkan latihan. Latihan ini merupakan kontrol atas organ-organ fisik dan kemampuan pikiran. Karena jika seseorang tidak dipersiapkan dalam peperangan ini, betapapun berani dan optimisnya, ia tidak akan berhasil.
Hal lainnya adalah mengenal sesuatu tentang pertempuran ini, seperti : mengetahui kapan untuk mundur dan kapan untuk maju. Karena jika seseorang tidak tahu kapan ia harus mundur dan selalu saja ingin terus maju, maka ia akan selalu berada dalam keadaan berbahaya dan menjadi korban peperangan hidup ini.
Banyak orang yang mabuk atau lupa diri dalam peperangan hidup ini, ia terus saja berperang dan berperang hingga akhirnya menemui kegagalan. Biasanya anak-anak muda, yang kuat dan penuh harap, yang memiliki sedikit kesulitan sering berfikir tidak lain kecuali berperang melawan siapa saja yang ada di hadapannya.
Mereka tidak tahu bahwa tidaklah selalu arif untuk senantiasa melangkah maju. Yang paling pertama dibutuhkan di dalam peperangan ini adalah mempertahankan posisi, baru kemudian secara bertahap maju.
Kita dapat melihat hal serupa di dalam persahabatan, bisnis, atau dalam profesi. Orang yang tidak memahami rahasia hukum peperangan tidak akan dapat meraih kesuksesan.
Di samping itu ia harus melindungi dirinya dari segala sisi. Sangat sering orang yang sudah lupa dalam peperangan kemudian tidak melindungi dirinya. Betapa banyak orang di persidangan dan kasus-kasus hukum hanya karena hal-hal kecil mau menghabiskan uang mereka! Dan di akhir persidangan mereka kalah dan merugi.
Selain itu betapa banyak di dunia ini yang kehilangannya melebihi daripada perolehannya karena angan-angan dan kesombongan mereka!
Ada saat-saat ketika seseorang harus memberi, ada saat-saat ketika seseorang harus santai dan ada saat-saat ketika seseorang harus kuat-kuat memegang tali kendali kehidupan.
Ada juga saat-saat ketika seseorang harus gigih dan ada saat-saat ketika seseorang harus lunak. Hidup itu seperti “kemabukan” walaupun orang mengira bahwa ia sedang bekerja demi kepentingannya sendiri.
Mungkin hanya satu dari seribu orang yang benar-benar bekerja. Alasannya adalah orang terlalu hanyut dan terpikat dengan apa yang sedang mereka usahakan sehingga menjadi lupa atau mabuk olehnya dan mereka pun keluar dari rel kesuksesan yang sesungguhnya. Sangat sering orang mengambil keuntungan tertentu dengan mengorbankan kepentingan orang lain karena tidak mempedulikan mereka.
Yang harus dilakukan adalah melihat ke sekeliling dan tidak hanya pada satu arah saja. Mudah untuk jadi kuat, juga mudah untuk jadi baik, tetapi sangatlah sulit untuk menjadi arif.
Yang ariflah yang sungguh-sungguh menjadi pemenang dalam hidup ini.
Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Kadang seorang ‘arif (al-hakiim) itu adalah seorang nabi” 74]
SIFAT ALAMI KEHIDUPAN
Sifat alami kehidupan ini merupakan ilusi. Di balik keberuntungan ada kerugian, di balik kerugian ada keberuntungan. Menjalani kehidupan yang serba ilusi ini sangatlah sulit sehingga seseorang harus menyadari apa yang benar-benar baik baginya.
Bahkan orang arif sekalipun, karena kearifannya itu dituntut oleh hidup sekaligus juga oleh peperangannya. Semakin ia memberi kepada kehidupan, semakin banyak pula kehidupan menuntut padanya. Maka di sini ada peperangan lagi.
Tidak diragukan bahwa orang ariflah yang beruntung pada akhirnya, walaupun tampaknya merugi. Dimana orang awam tidak memberi, orang arif akan memberi ratusan kali. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan mereka bersembunyi di balik kegagalan mereka. Tetapi bila kita ingin membandingkan keberhasilan orang awam dengan orang arif, maka keberhasilan orang arif jauh lebih besar.
Di dalam hidup ini dibutuhkan “baterai”. Dan baterai tersebut adalah kekuatan kehendak. Dan di dalam “peperangan” hidup ini juga dibutuhkan angkatan bersenjata. Angkatan bersenjatanya adalah pemikiran dan tindakan yang bekerja secara psikologis untuk meraih sukses.
Misalnya orang yang setiap pagi berkata pada dirinya sendiri, ‘Setiap orang menentangku! Tidak ada yang suka kepadaku! Semuanya salah! Tidak ada yang adil! Semuanya gagal! Tidak ada harapan!” Orang seperti ini, ketika keluar dari rumahnya membawa pengaruh perkataan atau kata hatinya itu dan semua itu akan senantiasa menyertainya.
Kemana pun ia pergi, apakah ia berbisnis, menjalani profesinya, atau kemana pun, pengaruh buruk itu akan terus membuntutinya dan akhirnya dia akan menemui kegagalan dan kekeliruan. Tiada lagi yang tampak berharga di hadapannya, padahal dimana-mana ada jalan kembali untuknya.
Selain itu, orang arif mengetahui rahasia, dan rahasia itu adalah bahwa sifat alami manusia itu cenderung meniru (imitative). Misalnya orang sombong, ia akan selalu menonjolkan kecenderungan sifat sombongnya kepada orang-orang di sekitarnya, namun di hadapan orang yang rendah hati, orang sombong juga dapat menjadi rendah hati, karena orang rendah hati akan mengeluarkan kerendahhatiannya kepada orang sombong tersebut.
Dari sini kita dapat melihat bahwa dalam peperangan hidup orang dapat memerangi kesombongan dengan kesombongan, tetapi juga dapat dengan kerendahhatian.
Dari sudut pandang orang bijak, sifat alami itu kekanak-kanakan. Jika seseorang berdiri di tengah keramaian, dan berlaku sebagai penonton, ia akan melihat banyak anak-anak sedang bermain di sana.
Mereka sedang bermain, sedang berkelahi, sedang bertepuk tangan, sedang saling mengganggu untuk hal-hal yang sepele. Demikianlah orang-orang arif dalam memandang kehidupan ini.
Peperangan hidup tampak kecil dalam pandangan mereka. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang hidup ini tidak selalu datang dengan berperang, tetapi dengan memandangnya dengan mata terbuka lebar.
Seorang pejuang bukanlah orang yang tidak sabaran, yang tiba-tiba kehilangan wataknya, atau yang tidak memiliki kontrol atas denyut nadinya, atau yang siap melepas harapan dan keteguhan hatinya.
Pejuang yang sesungguhnya adalah yang dapat menanggung, yang memiliki kapasitas besar untuk bersikap toleran, yang memiliki kedalaman di dalam hatinya untuk mencerna segala hal, yang pandangannya cukup jauh untuk mencapai pemahaman atas segala sesuatu. Ia sangat berkeinginan memahami orang lain dan membantu mereka untuk dapat memahami.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana membedakan pejuang yang arif dan pejuang yang kurang berani dalam peperangan hidup ini? Segala sesuatu dapat dibedakan lewat hasilnya.
Ada pepatah Inggeris terkenal bahwa yang baik akan berakhir baik. Jika di akhir peperangan orang yang kalah benar-benar telah ditaklukkan, sudah pasti itu karena melalui kearifan dan bukan melalui keberanian semata-mata.
Seringkali pula keberanian tidak lain di akhirnya mengarah kepada kekecewaan. Ketahuilah bahwa keberanian adalah satu hal, tetapi pengetahuan tentang peperangan adalah hal lain. Orang yang berani tidak selalu menang. Para pemenang itu mengetahui dan memahami dan mengenal hukum kehidupan.
APAKAH SENSITIFITAS ITU?
Apakah sensitifitas atau kepekaan itu? Kepekaan adalah kehidupan itu sendiri. Oleh karena hidup itu memiliki sisi baik dan sisi buruk, serta memiliki kepekaan. Jika seseorang berharap ingin memiliki segala pengalaman hidup, maka ia harus memiliki kepekaan.
Jika seseroang ingin mengetahui, memahami dan mengapresiasi semuanya adalah indah, dan tidak tertarik kepada depresi, kesedihan, dan kesengsaraan dunia, ia harus memiliki kepekaan.
Orang bisa menjadi begitu sensitif sehingga ia terluka hatinya oleh orang lain, atau merasakan bahwa setiap orang menentangnya, berusaha untuk menyalahinya. Hal ini berarti ia sedang menyalahgunakan kepekaannya.
Sebelum menjadi sensitif ia harus menyadari bahwa di dunia ini ia sedang berada di tengah anak-anak, di tengah orang-orang yang sedang mabuk kepayang. Ia harus melihat segala yang datang padanya sebagai tindakan anak-anak dan orang-orang mabuk, maka kepekaannya dapat bermanfaat.
Jika di dalam kepekaan tidak terdapat kekuatan kehendak, maka hal ini juga berbahaya. Tidak ada yang dapat berkembang secara spiritual tanpa memiliki kepekaan. Tak syak lagi bahwa kepekaan adalah sebuah perkembangan manusia.
Akan tetapi jika tidak dipergunakan secara benar, ia bisa sangat merugikan. Orang yang sensitif dapat kehilangan harapan dan keberanian lebih cepat dari orang lain. Orang sensitif pun dapat dengan cepat mencari teman, tetapi dapat juga dengan cepat menolaknya.
Orang sensitif siap untuk sakit hati dan siap juga untuk mengambil hati setiap orang dan kehidupan bisa tak tertahankan baginya. Jika seseorang tidak sensitif berarti ia tidak hidup sepenuhnya dan oleh karenanya ia mesti sensitif atau peka namun juga jangan berlebihan. Harus ada keseimbangan antara kepekaan dan kekuatan-kehendak.
Kekuatan kehendak harus menyanggupkan seseorang untuk menampung semua pengaruh, semua kondisi, semua serangan yang ia temui dari pagi hingga malam. Dan kepekaan harus menyanggupkan seseorang untuk merasakan hidup, mengapresiasinya, dan hidup dalam keindahan kehidupan.
Peningkatan kekuatan-kehendak adakalanya dapat meyakinkan seseorang secara salah, dan ini berbahaya meskipun bahaya itu ada dimana-mana. Bahkan di dalam kesehatan saja ada bahaya, tetapi kita tidak harus sakit. Maka seseorang harus memiliki keseimbangan antara kekuatan dan kearifan.
Jika kekuatan bekerja tanpa cahaya kearifan di baliknya, ia akan selalu menemui kegagalan. Karena di akhirnya kekuatan itu menjadi buta. Namun apa gunanya orang arif yang tidak memiliki kekuatan amaliah dan kekuatan pemikiran? Ini menunjukkan kekuatan dibutuhkan kearifan dalam peperangan hidup ini.
Yang paling baik dalam hidup ini adalah menjadi orang yang peka untuk merasakan kehidupan ini dan keindahannya serta mengapresiasinya, tetapi pada saat yang sama memandang bahwa jiwa itu barsifat Ilahiah, sementara yang selainnya asing.
Segala sesuatu yang bersifat duniawi adalah barang asing bagi jiwanya. Semua itu tidak menyentuh jiwanya. Bila objek-objek itu datang ke depan mata, maka semua menjadi visi bagi mata, dan jika semua itu berlalu dari mata, mata pun menjadi bening.
Oleh karena itu pikiran harus diisi dengan keindahan, semua yang indah. Karena seseorang dapat mencari Tuhan dengan keindahan-Nya, maka selainnya pun terlupakan. Dengan mempraktekkan ini setiap hari, melupakan semua yang tidak menyenangkan, yang buruk, dan hanya mengingat yang indah-indah, yang membahagiakan, ia akan menghanyutkan dirinya ke dalam arus kebahagiaan. 75]

Terimakasih informasinya.
Hidup bagi seorang muslim adalah pemenuhan perannya secara baik.
Peran muslim di alam semesta adalah sebagai MUASiR, yaitu sebagai:
Mujahiddin (orang yang berjuang menegakkan nilai-nilai Islam).
Uswatun hasanah (orang yang dapat diteladani kebajikannya).
Assabiquunal awwaluun (orang yang mampu menjadi pioneer kebajikan).
Sirajanmuniran (orang yang mampu mencerahkan orang lain).
Rahmatan lil’alamiin (orang yang memberi manfaat optimal bagi alam semesta).
@Aristiono Nugroho
Sama2, Mas. Salam.
intinya keseimbangan hidup yang mesti dijaga biar hidup bermakna dan juga bermanfaat.
hidup tidak selalu indah hidup perlu kan pengorbanan yang mana pengorbanan itu menguatkan lagi hati nurani kita untuk berjuang di jalan Allah insyaallah