jump to navigation

Rahasia Hidup Rabu, 14 Mei, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal.
trackback

Satrio P. Motinggo

“He who is not everyday conquering some fear has not learned the secret of life.”

Ralph Waldo Emerson mengatakan, “Barangsiapa yang setiap hari tidak dapat menundukkan rasa takutnya maka dia tidak akan bisa belajar rahasia hidup.” 46]

Sesungguhnya sikap manusia itu sendiri merupakan rahasia hidupnya, karena keberhasilan dan kegagalannya bergantung pada sikap yang diambilnya. Sikap yang saya maksudkan disini adalah gerak hati yang seperti baterai di balik mekanisme pemikiran.

Sikap manusia bukanlah pemikiran manusia, tetapi sesuatu yang berada di belakang pemikiran manusia yang mendorongnya ke depan. Sesuai dengan kekuatan gerak hatinya, pemikiran menjadi terealisasi. Di balik setiap kata manusia berbicara, sikap adalah sesuatu yang paling penting dalam membawa apa yang manusia katakan kepada prestasi keberhasilannya.

Elbert Hubbard, seorang penulis berkebangsaan Amerika mengatakan, “Karakter atau watak kita merupakan hasil dari dua hal : sikap mental dan jalan di mana kita habiskan waktu kita” 47]

Menyangkut hal ini ada 3 aspek yang berbeda yang harus manusia amati. Aspek pertamanya adalah sikapnya terhadap dirinya, apakah ia memperlakukannya sebagai teman atau sebagai musuh, apakah ia harmonis dengan dirinya atau tidak.

Tidak setiap manusia harmonis dengan dirinya sendiri, dan tidak setiap memperlakukan dirinya sebagai teman, meskipun ia menganggapnya demikian. Karena pada umumnya manusia adalah musuh bagi dirinya sendiri. Ia tidak mengenal dirinya, ini tampak dalam perbuatannya. Kita dapat simak dalam Al-Qur’an, ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.’ (QS al-Ahzab (33) : 72)

Bodoh karena ia bahkan tidak mengenal dirinya sendiri, dan zalim karena betapa sering ia menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Selain zalim kepada orang lain, ia terlebih dahulu bersikap zalim terhadap dirinya, dan sikap zalim ini adalah karena kebodohannya.

Imam Ali as mengatakan, “Manusia memusuhi apa yang tidak diketahuinya

Manusia mungkin memandang dirinya sangat praktis dan pintar, tetapi sebenarnya ia menjadi musuh terhadap dirinya sendiri.

Sa’di bahkan berkata, ‘Kepintaranku justru sering menjadi musuhku yang paling buruk.’ Kepintaran duniawi tanpa iman dan kekuatan serta kepercayaan, biasanya hanyalah angan-angan semata.

Adalah pengembangan kepercayaan hati, pengembangan iman, yang pertama-tama membuat manusia bersahabat kepada dirinya. Dan ia menjadi dirinya sendiri dengan membuat wujud lahiriahnya menjadi harmonis dengan wujud batiniahnya.

Karena ketika wujud batiniah mencari sesuatu, sedangkan wujud lahiriah mencari yang lain, maka ada yang tidak harmonis di dalam dirinya. Ketika hasratnya yang lebih tinggi melangkah ke satu arah, sementara hasratnya yang lebih rendah melangkah ke arah yang lain, akibatnya akan seperti letusan vulkanik.

Dua sisi dari wujudnya sendiri yang seharusnya menyatu dalam cinta, malah bertubrukan dan mengakibatkan kebakaran. Apa yang menyebabkan manusia melakukan bunuh diri? Apa yang membuat orang sakit, depresi dan putus asa? Karena sering terjadi konflik di dalam diri manusia.

Maka pertama-tama ia harus bersikap bersahabat, baik dan harmonis pada dirinya. Bahkan dalam masalah-masalah spiritual manusia tidak boleh bertentangan dengan dirinya sendiri.

Ketika seseorang berpikir tentang berbagai persoalannya dengan teman-temannya, dengan kerabatnya, dengan orang-orang yang berhubungan dengannya dalam kehidupan sehari-hari, ia akan melihat bahwa ia menarik hati atau menolak mereka bergantung kepada sikapnya.

Rahasia magnetisme bergantung kepada apakah ia memandang dirinya sebagai teman, musuh ataukah orang asing.

Demikian juga halnya dengan kejujuran an ketidakjujuran seseorang, ia tercermin pada perbuatannya. Jika sikapnya tidak benar, maka sikap salah ini tercermin pada apa yang dikerjakannya.

Karenanya benar dan salah bukan saja ajaran relijius, tetapi sesuatu yang dipaksakan kepada manusia. Ia adalah kebenaran saintifik dan logika. Karena dengan sikap yang salah tidak ada yang benar yang dapat dikerjakan, dan dengan sikap yang benar tidak ada sikap yang salah yang dapat dikerjakan, bahkan jika ada berbagai macam kesulitan.

Di dalam hati kita tersembunyi suatu kekuatan yang menakjubkan. Ia adalah kekuatan ilahi, kekuatan yang suci, dan dapat dikembangkan dan dihargai dengan menjaga sikap kita yang benar.

Tidak mudah menjaga sikap yang benar, karena berbagai pengaruh kehidupan di bumi ini yang begitu penuh dengan perubahan, godaan dan kebatilan, dan terus-menerus mengganggu kestabilan sikap kita. Kurangnya ketetapan hati akan menyebabkan kegagalan dan kekecewaan.

Perkataan Hindustani mengatakan, ‘Kestabilan sikap akan menjaga keberhasilan.’ Dan ketika kita memasuki alam spiritual, terdapat juga aturan yang sama. Jadi bukan doa yang manusia panjatkan, bukan rumah tempat ia beribadah, bukan keyakinan yang ia yakini, yang diperhitungkan dalam agama adalah sikap seseorang.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana membedakan sikap yang benar dari yang salah. Ini semuah melihat segalanya ketika mata terbuka. Bila ia tidak menyadari sikapnya salah, berarti pada saat itu matanya tertutup.

Manusia tidak suka untuk mengakui sikap salahnya pada dirinya sendiri. Ia takut akan kesalahan-kesalahannya sendiri.

Tetapi sifat manusia pada umumnya tidaklah demikian, bahkan sebaliknya. Ia lebih tertarik untuk mengkritik orang lain. Kesalahan manusia tak habis-habisnya, kesadaranlah yang mengoreksinya, membuat dirinya menjadi lebih baik, dan mengambil sikap yang benar, inilah rahasia keberhasilan, dengan sikap ini manusia dapat mencapai tujuan setiap jiwa.

Menurut sudut pandang Sufi, hanya ada satu guru sejati, Dialah Allah. Tiada seorang pun yang dapat mengajari orang lain. Orang melakukannya terhadap orang lain adalah untuk memberi mereka pengalamannya sendiri agar orang itu sukses. 48]

Darcy E Gibbons konon pernah mengatakan,”Sukses itu hanyalah masalah sikap.”

Komentar»

1. Yaya - Senin, 19 Mei, 2008

yg terlihat itu tdk terjadi begitu sj; itu dimulai dari sesuatu yg tak terlihat.