Wawancara Eksklusif dengan Andrea Hirata Penulis Novel Laskar Pelangi Kamis, 29 Mei, 2008
Posted by Quito Riantori in Artikel.trackback
“Lebih Senang Dikontak Guru Ketimbang Pejabat”
Pengantar Redaksi
Buku Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov merupakan karya Andea Hirata Seman yang mencengangkan banyak orang di negeri ini. Tiga buku, minus Maryamah Karpov, meledak di pasaran. Selain di Indonesia, Laskar Pelangi juga diterbitkan di Malaysia, Singapura, Spanyol, dan beberapa negara Eropa lainnya.
Akan tetapi, melihat kondisi sosial kampung di Belitong, ia merasa sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan pemerintah Kabupaten Belitong Timur selama ini. “Pemerintah Kabupaten Beltim sama sekali tak punya konsep learning society dan tak mampu berpikir sampai ke tingkat kultural edukasi.”
Akibat tak punya learning society itu, kata Andrea, Pemkab Belitong Timur seolah membiarkan menjamurnya tempat-tempat maksiat model baru nun di hutan dan semak-semak pinggiran kampung, kafe hutan istilahnya. Di sanalah orang-orang muda terorientasi. “Saya kira hal ini mencoreng identitas kita dan itulah wajah learning society Beltim khususnya di kampung saya di Kecamatan Gantung. Jika Anda ke sana, Anda akan disambut sebuah papan iklan minuman keras yang sangat besar, jauh lebih besar dari papan reklame ekowisata Beltim di sebelahnya yang miring, kumal, dan menyedihkan,” papar Andrea.
Andrea Hirata, yang dalam buku itu dikisahkan sebagai Ikal, berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Seman Said Harun Hirata (75), adalah pensiunan pegawai rendahan di PN Timah, sementara ibunya, Masturah (72), adalah ibu rumah tangga. Empat abang dan satu adiknya menekuni profesi seperti umumnya kaum marjinal di Belitong.
Berikut wawancara Nasrul Azwar dari Metro Bangka Belitong dengan Andrea Hirata.
Bisa digambarkan secara umum sejauh mana pengaruh dan dampak tiga novel Anda yang Anda ciptakan itu terhadap masyarakat Belitong?
Memantau pengaruh sebuah karya tulis apalagi karya sastra di sebuah bangsa yang tak gemar membaca itu tidak mudah. Apalagi di Belitong di mana minat baca sangat rendah. Di Indonesia, saya percaya sebuah karya tulis baru bergaung ke daerah jika telah lebih dulu bergaung di kota-kota besar. Tetralogi Laskar Pelangi mulai ditanggapi di Belitong setelah tampil di berbagai media cetak dan elektronik nasional, dan karena rencana pembuatan film Laskar pelangi. Tanggapan itupun sifatnya masih euforia seperti Pemda setempat mengundang untuk diskusi buku, workshop penulisan di sekolah-sekolah, dan saya diundang oleh PGRI Belitong Timur.
Pengaruhnya? Secara signifikan belum terlihat, baru berupa pengenalan saja. Jika pihak terkait (Pemda dsb) mampu menerjemahkan moment tetralogi Laskar Pelangi ini dengan baik dan mampu membuat desain yang cerdas bagaimana memanfaatkan tetralogi Laskar Pelangi sebagai education and cultural icon di Belitong. Saya yakin pengaruhnya pasti segera terlihat. Smart, itulah kata kuncinya.
Tiga buah novel yang diterbitkan Bentang, yaitu Laskar Pelangi (terjual 200.000 eksemplar), Sang Pemimpi (30.000 eks), dan Edensor (15.000 eks), dan itu jumlah yang sangat fantastik di Indonesia . Bagaimana komentar Anda?
Tetralogi Laskar Pelangi bercerita tentang orang Indonesia kebanyakan. Sehingga pembaca melihat dirinya sendiri dalam karya itu. Karena itu tetralogi Laskar Pelangi mendapat acceptance (penerimaan) yang luas. Saya senang buku-buku yang tidak metropop semacam Laskar Pelangi ini bisa juga best seller, namun yang lebih penting bagi saya bagaimana membuat buku yang memiliki tingkat acceptance yang besar sekaligus tingkat literary yang tinggi. Dalam bahasa industrinya: bagaimana membuat karya bermutu sekaligus laku, mematahkan mitos paradoks buku Indonesia di mana buku yang bermutu sering tak laku.
Untuk Laskar Pelangi, kabarnya novel ini menjadi best seller di Malaysia dan Singapura. Lalu negara Spanyol dan beberapa negera Eropa lainnya juga berminat menerbitkannya. Apa yang Anda ingin katakan untuk ini?
Fantastik! Itu saja kata saya. Setiap penulis (mengaku atau tidak) memiliki keinginan agar karya-karyanya dibaca orang banyak. Sebagai penulis pemula yang tengah belajar menulis sastra, saya rasa rencana-rencana ini sangat fantastik, Insya Allah lancar.
Dan untuk Laskar Pelangi direncanakan akan difilmkan dengan sutradara Riri Reza, apakah Anda yakin “ruh” novel itu tak bergeser ketika ia menjadi karya sinematik?
Saya melihatnya dari sisi lain, jika filmnya sama persis dengan bukunya buat apa bikin film? Baca saja bukunya dan silakan pembaca membuat filmnya sendiri dalam kepala mereka masing-masing. Saya mendapat ribuan E-mail, SMS, telepon, dan surat dari pembaca yang menolak Laskar Pelangi difilmkan. Namun, ingin saya katakan bahwa dimensi apresiasi film dan buku serta kapasitas artistiknya sama sekali berbeda. Saya harap para pembaca memaklumi keadaan ini. Saya menampilkan Laskar Pelangi dalam buku dan Riri Riza filmnya, biarlah komplit dan kita lihat saja hasilnya. Saya bebaskan Riri Riza berkreasi. Saya percaya penuh padanya. Ia salah seorang sutradara muda paling berbakat negeri ini, dan satu dari sedikit saja sutradara yang punya integritas.
Bisa diceritakan proses kreatif Anda untuk melahirkan 3 novel itu?
Spontan, demikian filosofi kreativitas saya. Saya tak perlu waktu khusus untuk menulis dan tak perlu bersusah-susah menyiasati mood. Saya tak tergantung mood, dan selalu berusaha belajar menjadi pribadi yang efektif.
Novel-novel yang Anda tulis (terutama Laskar Pelangi) semula didedikasikan untuk guru Ibu Muslimah Hafsari. Bisa diceritakan kesan yang paling membekas bersama Ibu Muslimah Hafsari saat di sekolah dasar itu sampai sekarang?
Kesan yang paling membekas adalah bagaimana beliau selalu berhasil membuat kami murid-muridnya untuk mencintai ilmu. Dengan beliau, mata pelajaran apapun tak pernah menjadi beban. Pekerjaan rumah adalah hiburan, ulangan adalah petualangan dan tantangan yang menyenangkan.
Bagaimana nasib sekolah dasar Muhammadiyah itu saat ini?
Sekolah itu telah roboh tahun 1991, dan tak pernah dibangun lagi
Royalti yang diterima cukup besar, tidak ada rencara membagun pustaka sejenis ini di Belitong?
Menurut saya, perpustakaan adalah konsep yang keliru bagi masyarakat yang tak gemar membaca bahkan antibuku. Saya punya konsep sendiri, yaitu learning centre. Learning centre tak lain tempat orang datang untuk belajar dan buku-buku yang ada di dalamnya mendukung tujuan belajar spesifik. Bentuk learning centre itu misalnya workshop tiga hari mengajari orang Belitong membuat gerabah dengan guru-guru yang didatangkan dari Jogjakarta. Giliran berikutnya bagaimana industri gerabah diciptakan di Belitong.
Saya akan mengalokasikan royalti buku dan film Laskar Pelangi untuk membuat sebuah program yang saya sebut “Laskar pelangi in action”. Learning centre dalam “Laskar pelangi in action” tahun ini berupa bimbingan belajar intensif gratis matematika, fisika, kimia, biologi, dan bahasa Inggris bagi siswa-siswa kelas 3 SMA dari Belitong yang akan mengikuti SPMB. Cita-cita saya adalah ide “Laskar pelangi in action” menginspirasi dan ditiru orang lain sehingga menjadi seperti MLM intelektualitas, dan mudah-mudahan “Laskar pelangi in action” bisa menjadi sebuah model learning society.
Kaum intelektual muda dan tua Bangka Belitong yang ingin bergabung dengan “Laskar pelangi in action” sebagai relawan pengajar atau membantu apa saja, silakan hubungi saya.
Tokoh-tokoh dalam 3 novel itu pada intinya berjuang dan berjuang untuk mewujudkan mimpi masa depan. Bagaimana Anda melihat hal ini pada pelajar dan kaum muda di Belitong saat kini?
Tidak bisa gegabah menghakimi sebuah generasi. Saya tak pernah tahu masa lalu, jangan-jangan orang jaman dulu juga pemalasnya minta ampun. Saya tak punya data ini dan tak pernah merisetnya. Tokoh-tokoh dalam novel saya berjuang sebab jika tidak berjuang tak bisa makan atau tak bisa sekolah. Setiap generasi punya persepsi, value, style, dan karakternya masing-masing sesuai lingkungannya.
Namun di Belitong saya melihat minat orang muda untuk maju besar. Di Tanjungpandan banyak anak muda kreatif yang telah mampu membuat video klip dan bermain musik dengan kemampuan mengejutkan, menulis musik sendiri, merekamnya, dan menyerahkan karyanya pada saya untuk dipertimbangkan menjadi soundtrack film Laskar Pelangi, sangat mengesankan hasil karya mereka.
Orang muda Belitong menyerap dengan mudah apa-apa yang berasal dari kota, namun kemajuan mengarah pada hedonisme bukan pendidikan. Persepsi kejayaan dicitrakan sebagai implikasi materi dan politik oportunistik. Belakangan orang-orang muda Belitong memiliki nature yang cenderung politikal. Saya melakukan riset langsung dan mendapatkan fakta yang mencengangkan bahwa jumlah tamatan SMA Belitong yang dikirim orangtuanya untuk kuliah ke Jawa meningkat dramatis, namun jumlah mereka yang berhasil lulus SPMB terjun bebas. Dalam bahasa kasarnya dapat disebut orang-orang Belitong makin kaya namun anak-anaknya makin tak mampu secara akademik.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Beltim misalnya (yang saya amati langsung) sama sekali tak punya konsep learning society dan tak mampu berpikir sampai ke tingkat kultural edukasi. Dari bertubi-tubinya benchmark atau studi banding yang mereka lakukan apakah mereka tak pernah belajar dari Jogjakarta, misalnya yang memulai leraning society di gang-gang kampung dengan mencanangkan jam belajar masyarakat dari pukul 19.00-22.00. Lalu, jika di kota-kota lain kita disambut berbagai slogan yang penuh integritas ketika masuk kota tentang takwa, iman, dan bersih, dan belajar. Masuk kampung saya di Kecamatan Gantung di Belitong Timur (Beltim), Anda akan disambut sebuah papan iklan minuman keras yang sangat besar, jauh lebih besar dari papan reklame ekowisata Beltim di sebelahnya yang miring, kumal, dan menyedihkan. Lalu muncul menjamur (juga di Beltim) tempat-tempat maksiat model baru nun di hutan dan semak-semak pinggiran kampung, kafe hutan istilahnya. Di sanalah orang-orang muda terorientasi. Saya kira hal ini mencoreng identitas kita dan itulah wajah learning society Beltim khususnya di kampung saya.
Bagaimana Anda membaca perkembangan pemuda, mahasiswa, pelajar, dan generasi muda Bangka Belitong pasca menjadi provinsi ke 31 ini? Dan apa bedanya sebelum menjadi provinsi?
Saya tak memiliki data ini dan tak pernah merisetnya.
Nilai-nilai tradisi Melayu di Belitong dan Bangka Belitong umumnya, terkesan tergerus karena perkembangan zaman, selain itu strategi pengembangan dan pelestariannya oleh pemerintah terkesan sangat kurang. Bagaimana Anda membaca ini?
Saya juga tak punya data tentang ini dan tak mau sok tahu dengan berandai-andai, namun sikap saya sedikit banyak telah terwakili dari pernyataan saya tentang identitas orang Melayu sebagaimana saya sebutkan di atas.
Tampaknya militansi dan kerja keras untuk meraih mimpi masa depan semakin mengecil di dalam spirit kaum muda Bangka Belitong, apakah ini terkait juga dengan pola hidup budaya malas yang umumnya dilakoni masyarakat Melayu?
Ha, ha, menarik, saya sendiri baru belakangan tahu jika ternyata orang luar melihat kita begitu. Saya sempat tergelak dengan stereotype orang Melayu pemalas itu. Bagaimana saya tak tahu dan tak menyadari hal itu selama ini? Kita dan bagaimana persepsi orang tentang kita, seperti ikan yang tak menyadari dikelilingi air untuk hidup. Saya belajar introspeksi, berdasarkan persepsi itu saya segera memperhatikan attitude anggota keluarga saya sendiri, para ponakan dan sebagainya, lalu saya mengambil kesimpulan: sedikit banyak stereotype itu ada benarnya.
Keberhasilan Anda di dunia sastra memberi spirit baru bagi masyarakat Bangka Belitong, apakah Anda pernah ditelepon atau dikontak bupati, gubernur, atau pejabat lainnya di Bangka Belitong?
Saya sering dikontak beberapa orang yang mengaku dirinya pejabat baik di Bangka atau di Belitong, dari berbagai instansi atau wakil rakyat. Saya tidak menyukai pembicaraan politik, ide-ide politik, dan segala remeh temeh basa-basi retorikal ala politisi. Saya kira dari pada repot-repot mengontak saya lebih berguna jika mereka menggunakan waktu mereka untuk membuat spanduk dan kalender. Saya sama sekali tak berminat pada politik. Saya orang yang free, non partisan, non sekterian. Dengan demikian saya bisa obyektif dan tetap tajam dengan kritik-kritik sosial saya, dan kritik sosial itu adalah tugas saya, moral responsibility saya sebagai seorang penulis dan pengamat sosial. Dalam sebuah sistem yang dinamik para politisi mesti memahami orang-orang semacam saya sebagai bagian dari kontrol sosial. Saya kira saya lebih senang jika dikontak seorang guru di pedalaman Belitong daripada para pejabat itu.
Apa komentarnya Anda tentang Tambang Inkonvensional (TI) yang demikian banyak di Bangka Belitong ini?
No comment
Apa komentar Anda tentang pemerintah Kabupaten Belitong dan PT Timah?
Tentang pemerintah Kabupaten Belitong sedikit banyak pandangan dan aroma kritik sosial juga pujian telah saya tiupkan di atas. Dan tentang PT Timah, semoga lebih gencar dengan program CSR (Corporate Social Responsibility) terutama CSR pendidikan. Saya kira setiap BUMN diwajibkan untuk melakukan CSR.
Dari royalti buku yang demikian besar itu, apa rencana Anda untuk masyarakat Belitong?
Semua rencana itu tercakup dalam “Laskar pelangi in action”
Apa untuk mencapai sukses seperti yang Anda nikmati sekarang, kita harus miskin dulu? Bagaimana Anda menjelaskan hal ini?
Tidak ada hubungan antara kemiskinan dan kesuksesan. Banyak orang kaya jadi miskin, orang kaya makin kaya, dan orang miskin makin miskin. Tapi yang banyak terjadi adalah adalah orang kaya berwawasan miskin. Hubungan kaya, miskin, dan sukses adalah semata persoalan integritas, sikap, dan mentalitas
Bagaimana kabar A-Ling dan Arai? Di mana mereka sekarang?
Ikuti cerita mereka di novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi berjudul Maryamah Karpov yang akan terbit usai pembuatan film Laskar Pelangi.
Apakah Anda tak berniat belanjutkan studi ke S3?
Berminat
Provinsi Kepulauan Bangka Belitong yang kini baru berusia tujuh tahun sejak resmi jadi provinsi tahun 2000. Apa yang ingin Anda katakan terhadap jalannya roda pemerintahan selama 7 tahun itu?
Mengelola daerah bukanlah pekerjaan mudah, tak bisa dipungkiri, tampak jelas kemajuan sana-sini setelah menjadi provinsi sendiri. Saya tidak akan bicara seperti seorang politisi, yang ingin saya katakan/tanyakan hanya: mengapa ya sepertinya (khususnya di Belitong) makin banyak orang dewasa yang tak pandai mengaji Al-Qur’an? Bagaimana ya agar masjid-masjid kembali menjadi seperti oase bagi anak-anak kecil seperti masa kecil saya dulu? Tanggung jawab pemerintahkah ini? Bagian dari pembangunankah ini? Parameter dari kemajuan Babel 7 tahun itukah ini? Saya tak tahu.
Dan saya ingin pula menyampaikan bahwa saya telah mengunjungi banyak tempat di Indonesia, namun baru di Belitong saya menjumpai nama asli daerah dibahasaindonesiakan. Sehingga terkesan konyol misalnya Aik Kelik menjadi Air Keli (Kelik sesungguhnya adalah ikan lele). Saya mengunjungi tempat dengan nama yang amat susah ditulis, dieja, dan diucapkan. Di Aceh misalnya Ueleuleu, namun sedikitpun mereka tak merubahnya karena orang Aceh bangga akan nama daerahnya. Menurut saya pembangunan di Babel musti dimulai dari kebanggaan akan identitas kita sendiri, dan saya harap ada kebijakan Pemda Babel untuk mengembalikan nama daerah ke nama-nama aslinya.
Apakah Anda melihat para pejabat masih terkesan eforia pasca menjadi provinsi?
Saya jarang menyaksikan tabiat mereka karena saya tinggal di Jawa.
Bagaimana penilaian Anda terhadap pembangunan yang dilakukan selama ini, khususnya di Belitong?
Sangat baik, saya melihat kemajuan di sana-sini, fisikal terutama, spiritual? Mental? Masih pertanyaan besar, iklan minuman keras di gerbang kampung saya, kafe-kafe hutan, dan data edukasi saya tadi saja contohnya.
Kabarnya Anda pulang kampong ketika Hari Raya Idul Adha, apa yang Anda lakukan di kampong?
Memperbaiki toilet di rumah ibu saya yang meluap-luap, atap bocor di mana-mana
Di bidang pendidikan tinggi apakah sudah sangat perlu didirikan perguruan tinggi setingkat universitas di Bangka Belitong?
Diperlukan penelitian lebih lanjut, mendirikan pesantren, pusat studi Islam, tempat orang belajar mengaji saya kira jauh lebih urgent.
Setelah Sabron Aidit (almarhum), tampaknya Anda penerus sebagai sastrawan dari Belitong.
Saya amat respek pada almarhum tapi saya belum berani menyebut diri saya ini sastrawan, ada konsekuensi besar menjadi seorang sastrawan yang tak sembarang orang mampu memanggulnya.
Biografi:
Nama: Andrea Hirata
Tempat/tgl lahir: Belitong, 24 Oktober
Pendidikan
S1 Fak Ekonomi Universitas Indonesia
S2 Economic Theory (European Union Scholarship) Universite de Paris, France (Cum Laude)
S2 Economic Theory (European Union Scholarship) Sheffield Hallam University, United Kongdom, (Cum Laude)
Pekerjaan: Instruktur di kantor Pusat PT.Telkom Bandung
Hobi: Naik komidi putar
Karya:
1. The Science of Business, Teori Ekonomi dalam Perspektif Telekomunikasi (Penerbit ITB)
2. Laskar Pelangi (National Best Seller)
3. Sang Pemimpi (National Best Seller)
Edensor (National Best Seller dan nominator penghargaan nasional sastra Khatulistiwa Literary Award/KLA 2007)
Ditulis y2n
Sumber : http://www.bangkabelitungprov.go.id/content/view/146/5/lang,id_ID/

hai mas andrea , gw ngedans bgt ma laskar pelangi……..btw da ga sabar liat filmnya. pasti sukses
btw pelem nya lama banget ne munculnya
aku udah baca 3 novel karangan kak Andrea Hirata : Laskar Pelangi, Sang Pemimpi. Edensor. satu novel bisa aku baca dalam 1 hari karena isi ceritanya bener” nggak ngebosenin, sangat mendidik, bekal untuk diri sendiri, adik dan ke anak-anak aku nanti. Aku kagum juga iri sama kak Andrea karena memiliki hidup yang sulit tapi seperti mendapat kemudahan untuk mendapatkan yang terbaik. Pokoknya aku nge fans banget sama kak Andrea Hirata dan udah nggak sabar nunggu film Laskar Pelangi dan novel terakhir Maryamah Karpoov. Walaupun Maryamah Karpoov novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi, kak Andrea harus lanjut bikin novel karya sastra lagi ya! Pasti aku bakal jadi kolektor sejati karya” kak Andrea!!
baru sekarang aku ngerasa baca novel sampe tergugah..
Saya seorang guru di Bengkulu, sangat terkesan dengan karya mas andrea, saya bermimpi mas andrea bisa datang ke bengkulu, ke sekolah kami dan menjadi inspirasi bagi murid murid kami disini, thanks
salam… saya seorang pengajar sebuah sma di kota kecil caruban, madiun. Setelah saya membaca tetralogi laskar pelangi, edensor dan sang pemimpi dua tahun lalu, dalam beberapa kesempatan mengajar, saya selalu menyisipkan nilai-nilai semangat dari personil laskar pelangi (utamanya ikal dan lintang), mengingat semakin memudarnya semangat belajar siswa2 sekarang. Alhamdullilah, setelah perpustakaan sekolah melengkapi koleksinya dengan novel tersebut, anak-anak menjadi terinspirasi dan menempatkan motivasi dan semangat menimba ilmu sebagai bekal mereka untuk berangkat sekolah. Meskipun tidak seluruhnya demikian, tetapi saya sangat bersyukur sekali. Secara pribadi saya juga sangat salut dengan semangat andrea hirata dan tanggung jawabnya terhadap pendidikan dan kehidupan di masa mendatang.. Andai saja di negeri kita tercinta ini ada beratus-ratus atau berjuta-juta Ikal….. alangkah Indahnya masa depan pendidikan di Indonesiaku ini……. salam
@yantri
setuju buanget…, dan untuk anda tetap semangat ya mengajar, karena jangan lupa dalam buku Laskar Pelangi peran sang guru pun bukan main dahsyatnya, begitu tegar dan tanpa pamrih dalam menjaga benih2 potensial masa depan bangsa, hebat.
salam hangat, salamun ‘alaykum
aku suka bgd sama cerita laskar pelangi, semoga dengan adanya novel dan film ini bisa menggugah hati para pengajar di Indonesia dan menyadari bahwa pendidikan tidak harus selalu dengan materi…..
dan pentingnya arti kesabaran dalam mengajar
saya begitu sangat menikmati suatu cerita kebaikan yang sarat dengan nilai pelajaran hidup…seperti kisah laskar pelangi itu… tapi sayang saya hanya seorang “konsumen kebaikan” orang lain …
rasanya saya ingin juga menjadi seorang “produsen kebaikan” yang dapat dinikmati juga oleh orang lain wal bil khusus untuk dapat disuguhan kepada Illahi.
kapan buku ke empatnya terbit????????
Buku Laskar Pelangi mengajarkan banyak hal. Bukan hanya semangat, tapi juga tentang arti kata ikhlas. Ibu Muslimah mengajar dengan keikhlasan hakiki. Lintang menanggalkan cita-citanya dan menyelamatkan keluarga dengan keikhlasan sufistik. Buktinya, setelah sekian tahun menjalani penderitaan, keduanya kini terangkat ke permukaan. Simak lagi wawancara Ibu Muslimah di Kick Andy. Betapa hanya mereka yang bertindak ikhlas yang akan terangkat derajatnya.
Sebelumnya, maaf kalau ada kata-kata yang tak berkenan. – Saya telah membaca ke 3 buku anda dan sangatlah baik untuk dijadikan contoh bagi young generation juga anda telah sanggup menyatakan/mengungkapkan kejadian/situasi sehingga semua terhanyut di dalamnya. Tetapi ada hal yang membuat saya gusar hal ini disebabkan penjelasan anda mengenai status keberadaan anak dan gaya hidup PN Timah, tembok pemisah, dll yang mana saya tidak mengalaminya. Perdebatan sempat terjadi diantara saya dan anak Belitong lainnya (sebelum saya baca 1/2 buku terakhir). Mohon penjelasan, situasi tersebut terjadi di tahun berapa?
Maaf saya sempat marah besar kepada anda but on the other hand saya bangga kepada anda dan Sukses. Regards-
Saya lahir di Manggar tahun 1962.
Aq sdh nonton filmnya 6 kali. Keren. Lebih realistis dalam menggambarkan kejeniusan lintang dan mahar. Tapi bukunya lebih keren. Lagi nunggu maryamah karpov.
Om Andrea…
Aku tinggal di daerah yang memang bisa disebut agak terpencil.
Untuk cari toko buku pun, dibutuhkan waktu 2 jam sampai toko buku..
Aku memang nggak punya novel-nya…
tapi,,, udah pernah baca kok…
Seruuuu !!!!!!!!!!!
Met ultah to Andrea Hirata… 24 Oktober 2008
I wish u luck….
Rahmatan Lil Alamin….
Semua Karya baiknya membawa berkah…
untuk Andrea dan kita semua…
Andrea Hirata
Seorang yang cerdas yang dibangun Al-Qur’an!
Ayo pemerintah Berpikirlah untuk lebih menanamkan pondasi Islam pada generasi penerus Indonesia!!!
bangga banget ada putra indonesia yang cerdas abizz.moga za generasi indonesia bisa nerusin
Berkunjung dan baca infonya, mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang, sukses ya.
I Like Relationship
Q udach baca buku MARYAMAH KARPOFx aduuuh ceritaX asyik bGt….EhY Om….(?,?) Ap om puXa rencNa gebWt fiLm Sg PemiMp …Wachh Klo tu fIlm Udc nGo Lg d BioskOp.wach ANE Pst nontOn dEch… DjM!n…
bagus banget yau tolong buatn puisi dong
saya baru membaca novel saudara menarik kisah di belitong
WAHH JADI BAHAN NIH! IJIN COPY MAS,
tenang aja sumber saya sertakan ko’
Jangan lUpa VISIT BALIKNYA!
ismail-zone.blogspot.com