jump to navigation

Memahami Bahasa Jiwa : Inspirasi, Ilham, Visi Dan Imajinasi Jumat, 4 Juli, 2008

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal, Tasawwuf.
trackback

Satrio Pinandito Motinggo

(Lanjutan Berbincang Dengan Alam)

INSIPRASI ATAU ILHAM

Langkah selanjutnya yang berkaitan dengan intuisi adalah inspirasi. Para penyair, penulis, musisi, pemikir, filosof, mampu menggunakan kemampuan ini. Sedangkan orang lain memiliki juga tetapi mereka tidak tahu bagaimana menggunakannya.

Dalam seni, puisi atau musik, dengan inspirasinya dalam beberapa menit seseorang dapat menciptakannya sementara orang lain dalam waktu bertahun-tahun. Ia mengalir alami, sehingga tidak sulit baginya dalam mencipta. Inspirasi itu datang sebelum ditata dan sangat sedikit pengaruh kerja otak dan pikiran.

Selain segala sesuatu yang datang melalui inspirasi adalah hidup dan sangatlah indah, sangat harmonis, dibandingkan seni, atau puisi atau musik yang berasal dari otak. Musik para musisi besar di masa lalu seperti Mozart atau Beethoven masih hidup hingga kini. Tak masalah seberapa sering orang mendengarnya, orang masih menikmatinya.

Sementara musik modern yang terasa dibuat-buat tidak memiliki daya tarik. Inspirasi itu datang seperti datangnya intuisi sehingga seorang seniman tidaklah dapat memaksakan diri dalam berkarya kecuali memang ada inspirasi padanya, sehingga karyanya dapat dirasakan sebagai karya yang tidak dibuat-buat melainkan sebuah karya alami.

Demikian pula pada para penyair, seperti Rumi, Hafiz, atau Sa’di. Karya-karya mereka kini telah menjadi bagian dari sebuah budaya. Orang lain akan membutuhkan puluhan tahun untuk menciptakan karya-karya para masterpiece seperti mereka.

VISI

Langkah selanjutnya setelah inspirasi adalah visi. Visi lebih tinggi ketimbang inspirasi. Kita tidak perlu bermimpi dulu untuk melihat visi. Kita dapat melihat visi ketika jaga. Inilah wawasan batiniah. Ilmu atau pengetahuan itu datang dan masalah pun terpecahkan.

Alam telah memanifestasi ke dalam bentuk yang sangat jelas. Atau seseorang bisa saja berhubungan dengan sesuatu atau orang lain dalam jarak jauh, para psikolog modern menyebutnya sebagai telephaty. Banyak orang salah paham terhadap arti sesungguhnya dari visi, namun perkembangan visi batiniah yang sesungguhnya menandakan kemajuan jiwanya yang besar.

IMAJINASI

Albert Einstein mengatakan, “Imagination is more important than knowledge…”. Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Kebanyakan orang menganggap bahwa ilmu pengetahuan atau sains yang didasarkan pada pengetahuan dari berbagai fakta dibuktikan oleh akal dan logika, dan sedikit sekali yang mengetahui bahwa pada mulanya selalu ada intuisi dan imajinasi.

Semua temuan saintifik berkembang dari kedua hal ini, baru kemudian akal mengambil alih dan logika membantunya. Jadi intuisi dan imajinasi lebih dulu yang mengawali sebuah penelitian atau penemuan hampir setiap pengembangan saintifik.

“Imagination is the beginning of creation. You imagine what you desire, you will what you imagine and at last you create what you will”. George Bernard Shaw mengatakan, “Imajinasi adalah awal penciptaan. Anda mengimajinasikan apa yang anda kehendaki, anda menghendaki apa yang anda imajinasikan dan akhirnya anda menciptakan apa yang anda kehendaki” (George Bernard Shaw : 1856 – 1950)

Manusia masa kini tidak lagi percaya untuk menyandarkan diri mereka pada intuisi, inspirasi atau bahkan imajinasi. Hal ini dikarenakan oleh lingkungan yang sedemikian sudah materialistis sehingga kepercayaan atas daya intuisi, inspirasi dan imajinasi mereka pun pudar.

Hal ini pun pada akhirnya berpengaruh atas karya-karya seni mereka. Jika mereka adalah seniman karya-karya mereka terasa kering sehingga tidak menyentuh karena tidak muncul dari dari perasaan atau feeling tetapi dari otak.

Bila seseorang terus menerus menggunakan intuisinya, inspirasi dan imajinasi konstruktifnya, maka suatu saat akan datang padanya yang disebut sebagai wahyu. (Wahyu di sini bukan semata-mata yang berhubungan dengan apa yang kebanyakan orang sebut dengan Kenabian.)

Semua makhluk Tuhan, sejatinya memiliki kemampuan ini. Lihat saja banyak sekali ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa “wahyu” tidak hanya semata ditujukan kepada para Nabi dan Rasul. Kepada Maryam as, ibunda Nabi Isa as, misalnya, lihat QS 12 : 15, juga kepada ibu Nabi Musa as, lihat QS 20 : 38, bahkan kepada lebah pun Allah SwT menyampaikan wahyu-Nya, lihat QS 16 : 68. Pada ayat lain pun, wahyu tidak selalu dinisbahkan dari Tuhan saja, syaithan pun bisa saja membisikkan wahyu kepada manusia, lihat ayat QS 6 : 121) *]

Dengan demikian makna wahyu di sini bermakna penyingkapan (revelation), di mana Allah SwT menyingkapkan rahasia segala sesuatu baginya. Hal ini merupakan kejelasan wawasan batiniah.

Seseorang bisa saja berhubungan dengan orang lain dari jarak jauh tanpa bantuan peralatan komunikasi. Pengetahuan seperti ini bisa datang seketika dan segala problem terpecahkan, apakah itu masalah filosofis, hukum kehidupan, alam ghaib, atau alam yang telah termanifestasikan dalam bentuk yang sangat jelas padanya.

Banyak orang salah paham terhadap arti visi yang sesungguhnya dan bahkan seringkali berpura-pura menjadi seorang visioner. Namun perkembangan visi batin yang sesungguhnya menunjukkan kemajuan jiwa yang besar.

MEMAHAMI BAHASA JIWA

Bagaimana mungkin orang yang mengalami atau menerima intuisi atau inspirasi, lalu orang tersebut melihat visi-visi dan menerima wahyu? Di antara kisah para Nabi, ada seorang nabi yang dengan cepat mengenal berbagai bahasa. Ini bukan berarti bahasa Perancis atau Inggeris, Jerman atau Spanyol. Artinya ia bisa mengetahui bahasa jiwa, jiwa bisa berbicara pada mereka, ia dapat berkomunikasi dengan setiap orang.

Dan arti dari wahyu adalah memahami bahasa jiwa. Jika kita dapat mendengarnya, sebenarnya jiwa kita berbicara. Tidak selalu dari yang kita dengar lewat suara dunia atau suara manusia; tetapi bahkan pohon-pohon atau gunung-gunung pun berbicara kepada kita bila kita mampu mendengar mereka. Ini disebut bahasa vibrasi, bahasa yang tidak dapat dipersepsikan, dan pikiran yang bebas dapat menyerap atau memahaminya.

Misalnya saja musik, bagi seorang musisi musik merupakan bahasa yang mengatakan sesuatu kepadanya. Ada not rendah dan tinggi, halus dan tajam; semua ekspresif dan mengatakan sesuatu kepadanya. Semua punya arti. Orang yang tidak sekolah musik atau bukan musisi, tidak mengenal bahasa tersebut. Ia bisa menikmati musik tetapi tidak tahu bahasa musik.

Ada bahasa kehidupan, karena kehidupan itu juga musik. Tiap-tiap orang mewakili not dalam musik tersebut dan membuat simponi kehidupan. Yang satu berada dalam irama, sedang yang lain di luar irama. Yang satu menyuarakan not yang benar, sedang yang lain salah.

Di sini, tiap-tiap orang membuat atau malah merusak alunan musik tersebut. Wahyu datang dari memahami musik ini. Anda tidak dapat mempelajarinya, anda tidak dapat mengajarinya, tetapi anda dapat mengiramakan hati anda dengan sebuah pitch atau pola nadanya, dari mana memulai hidup dan menikmati musik kehidupan.

Dengan cara seperti ini wahyu dipahami. Ini terjadi bila hati telah terjaga dan hidup, sehingga dapat merasakan vibrasi yang datang dari setiap jiwa, dan setiap kondisi yang memberikan makna tertentu padanya.

Para nabi dan orang-orang suci yang telah membawa agama kepada umat manusia, yang telah menginspirasikan tujuan yang lebih tinggi kepada manusia, yang telah membimbing manusia kepada pencapaian spiritual, mereka adalah jiwa-jiwa yang memiliki wahyu.

Dan yang telah mereka berikan kepada manusia adalah interpretasi dari wahyu-wahyu mereka yang berasal dari musik kehidupan. Tetapi bila seorang komposer tidak cepat-cepat menuliskan musiknya ke atas kertas, akan banyak yang hilang darinya. Demikian juga para nabi terhadap wahyunya. Kata-kata yang kita terima dari para nabi adalah interpretasi dari wahyu yang nabi terima.

Jika semua manusia di dunia mengetahui ruh agama, maka tidak akan ada banyak perbedaan agama dan keyakinan. Mereka akan berpegang pada satu kebenaran. Ada begitu banyak keyakinan dan agama, hal ini karena mereka tidak memahami agama. Jika paham, hanya ada satu agama yang ditafsirkan secara berbeda oleh guru umat manusia yang berbeda-beda. 52]

Catatan Kaki:

*] Sebagian mufassir menafsirkan kata “wahyu” pada beberapa ayat Quran sebagai ilham.

Komentar»

1. hartono - Jumat, 6 Februari, 2009

aduh bagus sekali bahasanya aku senang karena aku tidak bisa mengeluarkan seperti kalimat tsb,tetapi aku belum sampai pada kata fisi