Jumat, 10 Oktober 2008 | 01:28 WIB
Washington, Kamis – Situasi keamanan di Afganistan dilaporkan semakin parah. Bahkan, Afganistan semakin masuk ke dalam cengkeraman kelompok perlawanan Taliban. Dua hal itu tercantum dalam laporan sementara milik Lembaga Intelijen AS yang dipaparkan harian The New York Times, Kamis (9/10). Fakta ini lalu meningkatkan keraguan berbagai pihak mengenai kemampuan pemerintah Afganistan dalam meredam pengaruh Taliban.
Laporan yang seharusnya ”rahasia” itu mengungkapkan bahwa melemahnya otoritas pemerintah pusat Afganistan disebabkan— dan diperparah—meluasnya tindak korupsi dalam pemerintahan Presiden Hamid Karzai. Selain itu, juga karena serangkaian serangan kelompok militan yang beroperasi dari perbatasan antara Pakistan dan Afganistan. Semua masalah yang dihadapi Afganistan disepakati sebagai ”akibat dari ulah” Afganistan sendiri.
Laporan intelijen yang disusun oleh National Intelligence Estimate (NIE) mengenai Afganistan itu diperkirakan rampung setelah pemilihan presiden AS, November. Harian The New York Times menilai, laporan NIE akan menjadi laporan perkembangan kondisi di Afganistan yang paling lengkap yang pernah dimiliki AS. Laporan ini merupakan dokumen formal penilaian dan analisis bersama dari 16 agen intelijen AS.
Menurut harian The Washington Post, analisis intelijen AS itu menyimpulkan, elemen Al Qaeda dan Taliban kini bekerja sama dalam memperluas jaringan. Akibatnya, upaya menumpas kelompok perlawanan menjadi semakin sulit dan rumit. ”Seiring dengan semakin dekatnya pemilihan presiden AS, para pejabat senior semakin khawatir dengan situasi di Afganistan dan Pakistan yang dikhawatirkan tercerai-berai ketika pemerintahan AS yang baru mulai bekerja,” tulis harian The Post.
The New York Times menjelaskan, penasihat senior Presiden AS George W Bush khusus untuk Irak dan Afganistan, Letnan Jenderal Douglas Lute, meminta para pejabat Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri untuk ”kembali pada pertanyaan mendasar”, seperti ”apa saja tujuan AS” dan ”harapan yang bisa tercapai” di Afganistan.
Dalam laporan NIE itu juga dipaparkan jaringan ekstremis yang berada di Pakistan. Ada tiga elemen, yakni ekstremis Pakistan yang bekerja sama dengan kelompok Kashmir, Afgan Taliban, dan kelompok suku tradisional di Pakistan barat yang membantu kelompok lain.
”Al Qaeda sebagian besar terdiri dari warga Arab. Kini makin banyak anggota yang datang dari Uzbekistan, Chechnya, dan berbagai negara di Asia Tengah lainnya. Mereka itu yang menjadi penyokong utama finansial serta pemberi materi-materi pelatihan dalam jaringan ekstremis itu,” sebut The Post.
Obat terlarang
Laporan itu juga menyinggung perdagangan obat terlarang yang melonjak dan telah menyumbang sekitar 50 persen dalam pertumbuhan ekonomi Afganistan yang kini menjadi sumber dari 92 persen peredaran heroin dan opium di dunia. Lonjakan perdagangan obat terlarang inilah yang diduga meningkatkan gejolak kekerasan. Menteri Pertahanan AS Robert Gates menyatakan Taliban mengambil keuntungan 60 juta-80 juta dollar AS setiap tahun dari perdagangan obat terlarang ini.
Oleh karena itu, Menteri Pertahanan Afganistan Mohammad Rahim Wardak meminta dukungan NATO untuk melawan perdagangan obat terlarang hingga dapat menghentikan aktivitas Taliban. (REUTERS/AFP/LUK)
_________________
Sumber : Kompas, 10 Oktober 2008



Berjuang di jalan Allah dengan menjual opium?
ah ane kaga setuju..
ntu berita kompas kan dapet dari reuters, bbc, voa, ma afp.
beritanya subjektif dan memojokkan mujahidin afghan.
sesungguhnya tipu daya syaithan (media barat) amatlah nyata dan menyesatkan. jangan tertipu wahai saudaraku
Mengapa kita harus benarkan orang-orang yang mengancur kan masa depan dan moral bangsa..obat-obatan terlarang dapat mengancur kan moral manusia. manusia tetap selalu dipimpin oleh roh-roh iblis.
ckckck… udh pd gk bner