jump to navigation

Hukum Potong Tangan : Jari atau Tangan? Selasa, 18 November, 2008

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt.
trackback

imam_al_baqir5

Zarqan sahabat setia Ibnu Abi Du’ad (salah seorang hakim pada masa khalifah Makmun) menceritakan:

Suatu hari dalam keadaan sedih Ibnu Abi Du’ad pulang dari istana khalifah Muktashim. Aku bertanya kepadanya, “Mengapa ia demikian sedih?” Ia menjawab, “Andai aku mati 20 tahun lalu.”

Aku bertanya lagi kepadanya, “Mengapa demikian?”

“Karena suatu kejadian yang membuatku malu me­nyangkut perbuatan khalifah Muktashim terhadap Abu Ja’far as (Imam Muhammad al-Baqir),” jawabnya.

Apa gerangan yang terjadi?” tanyaku.

Ia menjelaskan, “Seorang pencuri telah dibawa ke hadapan khalifah. Pencuri itu mengakui perbuat­annya dan meminta kepada khalifah agar menjalankan hukuman terhadapnya.

Khalifah mengundang para fukaha (ahli fikih), termasuk Abu Ja’far as. Khalifah bertanya mengenai “dari batas manakah tangan pencuri harus dipotong”

Aku menjawab: “Dari pergelangan tangan.”

Khalifah bertanya kembali: “Apa dalilnya?”

Aku jawab: “Yang disebut tangan adalah dari jari hingga perge­langan tangan, karena Tuhan telah berfirman di dalam ayat :

Ayat Tayyamum : “Setelah itu, usaplah tanah ke mukamu dan tanganmu,” (QS Al-Maidah [5]: 6).

Maksud dari tangan di dalam ayat ini adalah jari-jari hingga pergelangan tangan. Sejumlah ahli fikih sepakat denganku bahwa tangan pencuri harus dipotong dari pergelangan tangan.

Namun beberapa ahli fikih berpendapat bahwa tangan pencuri harus dipotong dari siku, karena Tuhan berfirman dalam ayat wudhu’, “Basuhlah tangan kalian hingga ke siku!” Dan ayat ini menunjukkan bahwa batas tangan adalah siku.

Kemudian Muktashim memandang Abu Ja’far as dan bertanya, “Bagaimanakah pendapatmu?”

Abu Ja’far as berkata, “Hadirin dan ulama sudah memberikan jawaban, maka tidak diperlukan lagi pendapatku.” Muktashim sekali lagi mendesak Abu Ja’far as untuk menyampaikan pendapatnya. Abu Ja’far as kali ini pun minta maaf.

Akhirnya Khalifah Muktahsim berkata, “Demi Tuhan! Sampaikanlah apa yang engkau ketahui tentang masalah ini.”

Abu Ja’far as berkata, “Kini, karena engkau menyumpahku atas nama Tuhan, maka aku akan menyampaikan pendapatku. Sebenarnya hanya jari-jari pencuri saja yang harus dipotong, dan telapak tangan harus dibiarkan.”

Khalifah Muktashim bertanya, “Apakah dalil dari fatwamu ini?”

Abu Ja’far as berkata, “Rasul Saw telah bersabda: “Sujud dilakukan dengan 7 anggota badan; wajah (kening), 2 telapak tangan, 2 lutut, 2 kaki (2 jari (jempol) besar kaki).

Oleh karena demikian, jika tangan pencuri diputus dari pergelangan tangan sampai siku atau sampai pergelangan tangan, maka tidak ada tangan yang tersisa untuk memenuhi syarat sujud.

Allah Swt telah berfirman: “Dan sesungguhnya tempat-tempat sujud kepunyaaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping menyembah Allah”. Maksud dari tempat sujud adalah tujuh anggota badan yang digunakan sujud, dan apa yang untuk Allah tidak boleh diputus.”

Khalifah Muktashim setuju dengan fatwa Imam dan memerintahkan, agar jari-jari pencuri itu saja yang dipotong.

Ibnu Abi Du’ad berkata, “Saat itu, aku merasa sudah kiamat dan aku merasa lebih baik mati dan tidak menyaksikan kejadian yang sangat merendahkanku itu.”

(Baqir Khusru Syahi, Warisan Hikmah Biharul Anwar – Kisah-kisah Sufistik, hlm. 148-150)

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 188 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: