Boediono Ekonom Kapitalis Neo-Liberalis? Kamis, 14 Mei, 2009
Posted by Quito Riantori in Apa Kabar Indonesia?, Artikel.trackback

Prof Dr Boediono adalah seorang ekonom profesional yang mumpuni dari mazhab trickle down effect. Penganut mazhab ini umumnya lebih mementingkan membantu para pengusaha besar daripada membantu para petani, para pekerja yang bergaji rendah, dan para pencari kerja.
Kepiawiaannya dalam pasar uang dan ekonom kapitalis neo-liberalisme membawa namanya menjadi menteri yang sangat disanjung oleh para kapitalis terutama asing. Karena itupula, Boediono sangat disukai oleh lembaga-lembaga Amerika Cs seperti WB, ADB.
Pada waktu menjabat sebagai Menteri Keuangan saat pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dia menyatakan bahwa pada dasarnya subsidi bagi rakyat harus dihapus. Dan ketika para petani tebu meminta proteksi, Boediono dengan enteng menyatakan, ”Kalau petani tebu merasa bahwa menanam tebu kurang menguntungkan, tanamlah komoditas lain yang lebih menguntungkan.”
Tampaknya pendapat Boediono sejalan dengan Taufiq Kiemas, suami Megawati, yang menyatakan subsidi seperti candu. Pada kenyataannya mereka tak konsisten, mereka malah mensubsidi para bankir.
Secara singkat, menurut Prof. Mubiyarto, sejak private debt (utang bank swasta) dijadikan public debt (utang negara), sejak utang para konglomerat ”ditalangi” pemerintah, perbankan selalu mendapat subsidi, industri perbankan yang seharusnya menghasilkan pendapatan (revenue) ternyata menjadi beban (expenditure) negara.
Pada tahun 1998, ”bunga utang” para konglomerat yang dibebankan kepada APBN besarnya Rp 60 trilliun, empat kali lipat dari anggaran untuk pendidikan yang hanya sekitar Rp 15 trilliun.
Mazhab trickle down effect yang dianut oleh doktor-doktor tamatan Universitas Berkeley dan pengikutnya, pada awalnya membawa kemajuan bagi perekonomian kita meskipun melanggar UUD 1945.
Mereka itu melupakan asas koperasi sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945 dan sepenuhnya membantu pengusaha besar, yang dibiarkan menggaji di bawah upah minimum. Itulah sebabnya Bung Hatta menamakan kelompok ini Mafia Berkeley. Jelas, ekonom-ekonom Mafia Barkeley bertentangan dengan UUD 1945, bertentangan dengan Mazhab Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta.
Dan ekonom Berkeley Amerika sendirilah yang menghancurkan ekonominya dan krisis global 2008. Ini juga membuktikan kegagalan mazhab Barkeley yang mengagung-agungkan Kapitalis dan neo-liberalisme.
Mafia Berkeley berasumsi pemerintah perlu menyubsidi pengusaha besar agar mereka sukses. Dan bila mereka sukses, keuntungannya akan menetes ke bawah. Tetapi ketika mereka telah menjadi konglomerat, ketika mereka diimbau oleh Presiden Soeharto agar memberikan 25 persen sahamnya kepada koperasi karyawan, mereka menolak, dan hanya bersedia memberikan 1 persen.
Hanya beberapa pengusaha, di antaranya Jusuf Kalla, yang bersedia memberikan 2 persen saham, artinya mereka tidak ikhlas membagi keuntungan kepada karyawan sendiri.
Sindiran Presiden Soeharto kepada mantan tokoh mahasiswa yang telah menjadi konglomerat bahwa modal mereka hanya ”jaket kuning” tidak menggerakkan hati mereka untuk mengucurkan keuntungan kepada karyawan.
Ironisnya, ketika terjadi krisis moneter, para konglomerat bersekongkol dengan kroni Soeharto agar seluruh rakyat Indonesia yang menanggung dan menalangi utang mereka sebesar Rp 650 trlliun berikut bunga. Besar bunganya sekitar 10 persen setiap tahun dan diperkirakan baru lunas pada 2030.
Inikah keadilan dan kebenaran bagi rakyat??
______________
Sumber :
http://nusantaranews.wordpress.com/2009/05/14/tuhan-memilih-cawapres-boediono-melalui-istikharah-sby/
Rakyat Indonesia Say No to Bodiono………….Tulisan ini sangat menarik dan bisa menjadi pertimbangan kita bila benar-benar SBY memilih dia sebagai Cawapresnya. Jadi kita memilih pada tanggal 9 Juli Capres yang berpihak kepada RAKYAT!!!!!!!!!!! Pilihlah Sendiri mana yang meRakyat………
SBY memilih Boediono mungkin karena pesanan Tuannya yaitu Mr. Obama. Ketum PD saja bilang duet SBY – Boediono seperti Obama – Byden.
Indonesia sepantasnya memilih ekonomi syariah yang benar-benar sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan.
SAY NO TO BOEDIONO SAY YES TO BUDI ANDUK
[...] Boediono Ekonom Kapitalis Neo-Lib? [...]
Terima kasih Mas sudah bantu memberi informasi kepada rekan-rekan.
O,ya saya sudah tambahkan satu lagi tulisan saya sekaligus mencoba menjawab tulisan Pak Faisal Basri : Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal:
http://nusantaranews.wordpress.com/2009/05/15/menelusuri-sisi-sisi-lain-pak-boed-yang-saya-kenal/
Trims
saya ingin bertanya
tentang liberalisme yang dianut oleh cawapres boediono,bagaimana seh?
trimz…
cepat dibalas ya…sangat saya butuhkan