Quito R. Motinggo
Tingkat angka pembunuhan di Amerika Serikat adalah 4 sampai 8 kali lebih besar daripada negara2 besar di Eropa dan Jepang. Jelas hal ini tak memiliki kaitan dgn faktor2 yg diwariskan dan pasti ada sesuatu yang membuat masyarakat Amerika lebih cenderung melakukan kekerasan.
Pertama-tama adalah, ada standar nilai yang tinggi thd keberhasilan atau kesuksesan yang memudahkan banyak orang lebih frustrasi.
Yang ke-2, jika Anda tidak bisa sukses dg cara yg sah, Anda mungkin akan mempertimbangkan cara yg tidak legal, atau bahkan dengan cara kekerasan.
Jadi, rendahnya tingkat2 sosioekonomi lebih mencenderungkan (banyak orang) utk melakukan kejahatan.
Yang ke-3, ada bagian sisi budaya (subcultures) termasuk di Amerika, seperti gangster, keluarga mafia, dan kelompok-kelompok macho, di mana hal itu menjadi dorongan untuk melakukan tindak kejahatan.
Yang ke-4, beberapa faktor lainnya termasuk di dalamnya sisi budaya (subculture) yang menciptakan stres :
(1) konflik yg kuat antar nilai-nilai, seperti superioritas orang kulit putih atau superioritas kaum pria dan kesempatan2 yg sama (equal opportunities).
(2) rasa ketidakadilan yang dicabut dan dihilangkan. (sekarang sudah/sedang terjadi di negeri ini, anak mencuri dihukum 15 tahun, org dewasa (Afriyani Susanti) yg menabrak (membunuh) 9 org hanya dihukum 6 tahun)
(3) pengaruh ekonomi, rasialisme, kejahatan sexual, dan semacamnya.
dan (4) kepercayaan akan suatu penegakkan hukum – the establishment – (seperti polisi atau pengadilan) yang mengatasi situasi lokal dengan buruk.
Singkatnya, jika Anda miskin, melawan pendiskriminasian atau pembedaan, distreskan, ditindas, termasuk di dalamnya sebuah subkultur kekerasan, dan juga sedikitnya harapan untuk memperbaiki kondisi masyarakat, maka semua ini bisa menjadi kesempatan masyarakat secara umum untuk menjadikan kemarahan dan agresivitas mereka meledak. Masih Mau Mengonsumsi Kapitalisme? (Quito Riantori, Anger Management, 2006)
