jump to navigation

Empat Tahapan mencapai Kesempurnaan ‘Nafs’ (Bag. II / Tamat) Kamis, 8 Maret, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

khomeini1.jpg

TAHAPAN KETIGA: MENAKLUKKAN DIRI ATAU JIHAD AL-NAFS

Berbeda dengan maujud-maujud lainnya manusia adalah maujud yang dapat terpisah dari ke-insan-annya. Jika kita tak dapat memisahkan sifat ke-batu-an dari sebongkah batu dan tidak bisa memisahkan sifat ke-kucing-an dari seekor kucing atau sifat ke-harimau-an dari seekor harimau, sebaliknya manusia justru harus bersusah payah mewujudkan ke-insan-an pada dirinya.

Manusia harus berjihad dan berperang terhadap nafs-nya untuk menjadi manusia yang utuh. Ia mesti menaklukan nafs hewani-nya, karena kecenderungan-kecenderungan hewaninya ini merupa­kan musuhnya yang terbesar. Jika ia tidak berjuang menaklukkan musuhnya ini ia tiada berbeda dengan hewan.
Rasulullah saww bersabda, “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafs-mu yang ada di antara dua sisimu (lambungmu)” (Bihar al-Anwar70:64)

Imam Musa al-Kazhim as berkata, “Berjihadlah atas nafs (diri)-mu untuk menolaknya dari hawa (nafs)-nya, karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban atasmu sebagaimana berjihad terhadap musuhmu!” (Bihar Al-Anwar 78:315)

Dalam rangka menaklukkan atau menjinakkan nafs kita agar terkendali, kitapun harus membuat program untuk melatih diri kita. Tanpa riyadhah (latihan dan disiplin) kita hanya akan menjadi makhluk yang tiada berbeda dengan hewan. Jika rutini­tas kita di dalam urusan-urusan duniawi melalaikan kita dari urusan-urusan akhirat, maka kita tidak akan terangkat menjadi Insan Ilahiyah, bahkan terperosok menjadi makhluk yang hina . Imam Ali as adalah contoh Insan Ilahiyah yang telah berhasil menaklukkan diri(nafs)-nya, yaitu ketika beliau berperang tanding melawan musuhnya. Pada saat musuhnya terjatuh, Imam segera mengayunkan pedangnya, namun sebelum Imam menggerakkan pedangnya, musuhnya meludahi wajah beliau. Wajah Imam Ali memerah. Namun yang mengejutkan musuhnya, Imam justru berbalik mengurungkan niat untuk membunuhnya. Hal ini menyebabkan sebahagian sahabat beliau bertanya kepada Imam, “Mengapa anda tidak jadi membunuhnya?” Imam menjawab, “Ketika lelaki itu meludahi wajahku, aku menjadi marah, namun aku ragu: apakah aku marah karena Allah atau karena wajahku diludahi? Karena itu kuurungkan niatku untuk membunuhnya, aku khawatir jika aku membunuhnya bukan karena Allah”. Sosok pribadi yang mulia ini telah memberikan teladan yang begitu indah. “Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS 29:69)


TAHAPAN KEEMPAT: MEMFANAKAN DIRI

Memfanakan diri atau meniadakan diri adalah upaya untuk hijrah dari rumah kedirian (ego). Ini tahapan tertinggi di dalam jenjang (maqam) kaum irfan. Biasanya setelah ini kaum irfan akan sirna dalam Allah (Wahdat al-Wujud). Pada saat ini kita masih terperangkap dalam kedirian kita yang teramat gelap. Kita masih berputar-putar dalam keinginan-keinginan diri kita semata. Apapun yang kita inginkan, kita menginginkan untuk diri kita sendiri. Pandangan dan pikiran-pikiran kita hanya terpaku pada kepentingan-kepentingan diri kita sendiri dan duniawi belaka. “Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan duniawi sedang tentang akhirat, mereka lalai!” (QS 30:7)

Pada tahapan ini seseorang harus rela menanggalkan cinta diri dan cinta dunia. Kita harus menjadi seperti Nabi Musa as yang hendak menghadap Tuhannya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesung­guhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa!” (Quran Surah Thaha:12)

Sebahagian ahli Irfan menakwilkan kedua terompah sebagai diri dan dunia. Karena itu di kalangan para Irfan ada golongan yang disebut “Khala’ al-Na’lain” (Melepaskan Kedua terompah).

Pada tahapan ini seseorang harus memandang dirinya sebagai berhala yang paling besar. Ini dikarenakan kita sering melaku­kan kebaikan atau amal shalih hanya jika itu mendatangkan keuntungan bagi kita dan pada saat yang sama pula kita menolak kebenaran dan kebaikan jika itu tiada mendatangkan keuntungan pada diri kita. Semua tindak tanduk kita terpusatkan kepada diri kita sendiri. Bahkan kepedulian dan perhatian kita kepada orang lain hanya muncul apabila itu mendatangkan keuntungan bagi kita. Mungkin inilah yang dinamakan egoisme: Yang menarik seseorang kepada keinginan-keinginan diri sendiri.

Manusia memerlukan tangan-tangan gaib untuk dapat membebaskannya dari kuil diri atau dari penyembahan diri yang tiada disadari. Tangan-tangan gaib itu adalah para Nabi dan para wali-Nya yang suci. Kita perlu banyak berdo’a dan bertawassul kepada orang-orang suci. Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah dialog Nabi saww dengan seorang yang bernama Majasyi’.

Seseorang bernama Majasyi’ datang kepada Rasulullah saww dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju pengenalan kepada Allah (al-Haq)?”

Rasul saww menjawab, “Pengenalan diri (nafs)”

Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara menyesuaikan diri dengan Allah?”

Rasulullah saww menja­wab, “Menyelisihi ego (nafs)”

Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana jalan menuju keridhaan Allah?”

Jawab Nabi, “Membenci ego (nafs)”

Dia bertanya lagi, “Wahai Rasu­lullah, bagaimana cara untuk sampai kepada Allah?”

Jawab Nabi, “Hijrah dari ego (nafs)”.

Orang itu masih bertanya lagi: “Wahai Rasulullah bagaimana jalan untuk taat kepada Allah”

Jawab Nabi, “Menentang ego (nafs)”.

Orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara berdzikir kepada Allah?”

Jawab Nabi, “Melupakan ego (nafs)”

Dia terus bertanya lagi, “Wahai Rasu­lullah, bagaimana cara mendekat kepada Allah?”

Jawab Nabi, “Menjauhi ego (nafs)”

Dia bertanya lagi, “Wahai Rasu­lullah, bagaimana cara berakraban dengan Allah?”

Nabi menjawab, “Melepaskan diri dari ego (nafs)”.

Sampai pada akhirnya orang itu bertanya lagi, “Wahai Rasulul­lah, bagaimana jalan untuk mencapai-Nya”

Rasulullah saww menjawab, “Memohon pertolongan kepada Allah di dalam mengatasi ego (nafs)” (Mizan al-Hikmah 6:142-143)

Quito R. Motinggo

 

Utan Kayu, 8 Juni 1999

Iklan

Komentar»

1. arie kariana - Kamis, 21 Februari, 2008

jawaban yang sangat2 efisien…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: