jump to navigation

Pro Kontra Sanksi DK PBB Ke Iran Kamis, 5 April, 2007

Posted by Quito Riantori in Apa Kabar Indonesia?, Artikel, Bebas, Iran Vs Thaghut.
trackback

1276.jpg

Simbol Ketidakberdayaan Masyarakat Internasional

Oleh: Rakaryan Sukarjaputra

Faktor Iran

Sejak awal persoalan Iran de­ngan Barat, seperti disampaikan Menlu Hassan, yaitu menyangkut ketidakpercayaan. Negara-negara Barat jelas tidak percaya terha­dap program nuklir Iran yang diklaim untuk tujuan damai, apa­lagi setelah Iran menolak bekerja sama dengan IAEA.

Di pihak Iran, negara itu juga belajar dari preseden buruk soal Irak yang sebelumnya menjadi bulan-bulanan tudingan Barat dan pemeriksaan IAEA hingga kemudian tetap menjadi sasaran serangan militer AS meski IAEA tidak menemukan petunjuk kuat mengenai pengembangan senjata pemusnah massal di negara itu.

Jadi, sikap Iran yang keras me­nolak DK itu juga memang bukan sesuatu yang berdiri sendiri, me­lainkan reaksi atas “ketidakberes­an” IAEA dan negara-negara Ba­rat serta ketidakberdayaan ma­syarakat internasional melawan unilateralisme AS.

Faktor Iran itulah yang agak­nya lupa diperhatikan secara mendalam oleh pemerintah. Iran, bukan hanya dalam artian sesama negara berpenduduk mayoritas Islam dan teman RI, tetapi yang lebih mendasar lagi adalah negara yang saat ini dalam kondisi “di­zalimi” oleh ketidakadilan sistem global.

Mendukung Iran, bukan berarti kita mendukung Peme­rintah Iran secara membabi buta, melainkan pemihakan kita untuk melawan ketidakadilan dan ke­tertindasan.

Kita selayaknya tak melupakan peta nonproliferasi nuklir di ting­kat global yang tidak adil. Iran ditekan, tetapi AS membantu In­dia dalam pengembangan nuklir. Inggris pun dengan bebas akan memperbarui kekuatan kapal se­lam pengangkut senjata nuklir. Israel juga telah memiliki senjata nuklir, tetapi juga tidak pernah diutak-atik Barat.

Kita juga selayaknya ingat de­ngan posisi RI yang menentang arus, ketika masalah Irak akan dibawa ke DK PBB. Ketika itu dalam pembahasan di Dewan Gu­bernur IAEA, Indonesia tidak mendukung dibawanya masalah Iran ke DK PBB dengan meng­ambil sikap abstain.

Dari situ saja sebenarnya RI tak mempunyai “keterkaitan ba­tin” dengan Resolusi 1737. Jika kemudian pemerintah merasa memiliki keterkaitan dengan Re­solusi 1737 itu, dan kemudian mengambil keputusan mendu­kung Resolusi 1747, di sinilah ba­nyak orang melihat ketidakkon­sistenan RI itu dan dugaan RI tunduk pada tekanan AS.

Pemerintah agaknya juga ku- rang memperhitungkan dampak Resolusi 1747 itu terhadap eska­lasi ketegangan di kawasan Teluk Persia. Pemerintah seolah-olah lupa, di sana AS sudah hadir dengan kekuatan militer yang se­makin besar, serta bocoran-bo­coran informasi mengenai renca­na negara adidaya itu untuk me­nyerang Iran. Secara tak lang­sung, RI justru membantu me­ningkatkan ketegangan di kawas­an Teluk melalui dukungan atas Resolusi 1747, padahal yang diha­rap adalah peredaan ketegangan.

Pilihan telah diambil. Hal yang bisa dilakukan RI adalah menje­laskan dengan sejelas-jelasnya maksud dukungan atas Resolusi 1747 itu kepada masyarakat in­ternasional.

(Kompas, 1 April 2007)

Iklan

Komentar»

1. SAPTO - Jumat, 3 September, 2010

nggak usah dipikirin dengan barat apakah hany mereka say yang punya OTAK? Ummat Muhammadpun ternyata punya Akal, alhamdulillah, terus kembangkan persentaan nuklir Iran karena Alquran mengatakan, Orang Beriman Tidak takut akan pengurang pahala dan penambahan Dosa, Selama Membela “KEBENARAN”

afrisan - Senin, 29 November, 2010

mantap…i like it…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: