jump to navigation

Cetak Biru Orisinal Ilahi Rabu, 18 April, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

baby2.jpg

Tiap-tiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah sehingga lidahnya lancar berkata-kata. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nashrani, atau seorang Majusi” (Rasulullah Saw, Hadits Riwayat Al-Aswad bin Sari’)

Setiap anak manusia dilahirkan secara sama, yaitu dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu cetakbiru orisinil (Original Blueprint) 1) – meminjam istilah Fadhlullah Haeri – Bahwa penciptaan manusia seluruhnya didasarkan pada fitrah ini, atau kata lainnya : watak primordial (primordial disposition) manusia pada Yaum al-Mitsaq 2) sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an,“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab,”Benar (balaa – Engkau Tuhan kami), kami telah bersaksi”. (Kami –Tuhan- lakukan yang demikian itu) agar pada Hari qiyamat nanti kamu tidak mengatakan,”Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)” (QS 7 : 172).

Setiap anak manusia dilahirkan sesuai dengan ‘perjanjian’ ini, perjanjian yang diambil ‘pada’ zaman azali, di mana keberadaan manusia ada sebelum waktu atau di luar waktu, dan merupakan sifat alamiah manusia tunduk kepada keesaan Tuhan.
Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan,”Setiap hidup (manusia) –sejatinya – suci (fitra – the natural state) dan tak berdosa, tidak ternodai oleh tujuan pribadi dan benar-benar dalam keadaan “Benar (balaa)” 3)
Sudah menjadi sifat alami semua keberadaan (makhluk), manusia khususnya tunduk menyerah kepada Kehadiran Yang Mahasuci, Yang Mahaagung (Jalal) lagi Mahaindah (Jamal)….sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an yang suci,”Langit yang tujuh, bumi, dan apa-apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tiada memahami tasbih mereka (tasbiha-hum)” (QS 17 : 44) 4)
Agama bukan ekspresi ego pribadi kita, dengan kata lain, agama yang benar bukan untuk melayani pendirian seseorang secara eksklusif atau karena superioritas seseorang, bukan juga dimotivasi oleh kebencian, rasa takut, dan juga bukan hasil paksaan. Agama yang asli, hanya menginginkan agar kita menyempurnakan fitrah alami kita, kesadaran kita akan Tuhan, dan tidak membiarkan diri kita mengikuti tuhan-tuhan palsu yang diciptakan oleh kita atau pikiran kita. Berhala-berhala diri (nafs), kekuasaan, ketamakan, dan yang semacamnya yang telah merusak fitrah alami manusia. 5)
Orang tua, budaya, dan masyarakatlah yang membuat anak manusia menjadi seorang Kristen, seorang Yahudi, atau seorang Majusi. Lingkungan dan pengaruh-pengaruh eksternal mempengaruhi cetakbiru tersebut. Semua itu melengkapi perubahannya (yang negatif). Akhirnya cap orisinil ke-Ilahi-an (baca : fitrah) yang masing-masing anak dilahirkan dengannya tercemar dan rusak.

Bagaimanapun, sebenarnya makna fitrah merupakan istilah netral yang berarti: ‘pecahan, pembelahan atau pembukaan asli’ yang menyebabkan terjadinya penciptaan. Fadhlullah Haeri menyebutnya dengan ‘diri yang asli’ (the original self).
Kita bisa lihat betapa pentingnya bentukan alami ini yang disatukan di dalam diri yang asli, sebagaimana firman Allah Swt,”Hai sekalian manusia! Bertaqwa-lah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (esensial – nafs wahidah)” (QS 4 : 1)
Ini artinya bahwa seluruh manusia diciptakan dari rancangan orisinil yang satu (one original design), cetakbiru yang satu, fitrah yang satu! Dari cetakbiru yang satu inilah dikembangkan bentuk diri pribadi (the individual self), yang disebut dalam Qur’an sebagai “kamu” (kum). Diri pribadi ini muncul ketika ia membedakan dirinya dengan yang lain, yaitu diri esensial, yang merupakan pondasi dari masing-masing realitas personal. 6)
Sebaliknya, jika kita tetap lurus searah dengan diri esensial ini, maka kita akan tetap cenderung untuk beribadah, dan patuh kepada Tuhan. Itulah kecenderungan yang berakar kuat dalam fitrah dasar manusia. Setiap manusia dengan fitrahnya tersebut cenderung ingin lebih dekat dengan Sang Mahasempurna, sementara penyelewengan dan politeistis (syirk) merupakan hasil inspirasi dan pendidikan yang tidak benar, atau hasil ketidaktahuan dan penerapan yang buruk. 7)
Islam merupakan sebuah agama yang tumpuannya adalah fitrah manusia dan yang mewarnai ciri paling pokok dari eksistensinya, yaitu dapat menggerakkan manusia untuk berjuang dan mewujudkan revolusi melawan dirinya sendiri. 8)
Permasalahan kita sekarang adalah kita cenderung menjadikan Islam sekedar agama formal bukan agama fitrah. Sudah banyak watak dan cirinya yang khas telah hilang, salah satunya adalah rasa kemanunggalan diri kita dengan saudara-saudara muslim serta manusia lainnya telah terkikis habis, atau dengan kata lain, kepedulian kita dan rasa kebersamaan kita telah pupus. Sebuah hadits sudah banyak dihafal,“Seorang muslim dengan muslim lainnya bagaikan satu tubuh, apabila sakit salah satu anggota tubuh, maka anggota yang lainnya pun ikut merasakan” (Hadits Masyhur)
Leo Tolstoy mengatakan,”Pemahaman terhadap kemanunggalan seseorang dengan seluruh umat manusia berasal dari pemahaman terhadap sumber Ilahi dalam diri kita semua dan memberi kita kebaikan spiritual dan fisik yang paling besar” 9)
Apakah kita juga merasakan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudara kita di Afghanistan, Irak, Palestina, Kashmir, Chechnya, Bosnia, Thailand dan belahan bumi lainnya? Seberapa pedih luka hati yang kita rasakan bergantung dari besarnya rasa kemanunggalan kita dengan saudara-saudara kita itu, dan besarnya rasa kemanunggalan kita dengan saudara-saudara kita bergantung dari besarnya cahaya fitrah yang masih maujud di dalam diri kita.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah – Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua.

Parung Bogor, 11 Desember 2004.

Catatan Kaki
1] Syekh Fadhlullah Haeri, Cosmology of The Self, Chapter One – When Heaven and Earth Meet, Nuradeen Magazine.
2] Sebagian ulama menyebutnya : Yaumul Alastu atau Alam al-Dzar : Alam Perjanjian.
3] Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Fusus al-Hikam, Bab – Hikmah Nabi Musa. Penerbit Islamika, Maret 2004.
4] Imam Khomeini, Adab Salat, Chapter : A Brief Exegesis of the Blessed Surah of al-Hamd and Some Disciplines of Praising and Recitation, Ahlul Bait Islamic Digital Library.
5] Kabir Helminsky, Establishing the Truth of Tawhid in Our Minds and Hearts, Sept 2001
6] Syekh Fadhlullah Haeri, ibid.
7] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Falsafah Tauhid, hal. 44, Penerbit Arasy, Cet. I, Juli 2003.
8] Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, Bab Mazhab Pemikiran atau Ideologi.
9] Leo Tolstoy, Kalender Kearifan, hal. 365, Penerbit Bentang, Cet. I, Juli 2003.

Iklan

Komentar»

1. bilal - Senin, 30 April, 2007

saya tertarik dengan tulisan seperti ini. karena saya haus dengan wacana pencerahan seperti ini. saya dalam stagnan keimanan. bisakah kita bersahabat dan bersaudara ?

2. Quito Riantori - Jumat, 31 Agustus, 2007

Insya Allah bisa kita wujudkan dan saya sangat terbuka menerima tangan Anda untuk bersahabat dna bersaudara. Maaf baru saya balas, Bilal! Semoga keimanan Anda dan kita semua tidak lagi stagnan, tapi terus berevolusi menuju kesempurnaan, Amin….Salam n terima kasih banyak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: