jump to navigation

Kasih-Ku Meliputi Segala Sesuatu (Bag. 1). Senin, 7 Mei, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki,

dan Kasih (Rahmat)-Ku meliputi segala sesuatu.

Maka akan Aku tetapkan Kasih–Ku untuk orang-orang yang bertaqwa,

yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami”

(Al-Quran Surah Al-A’raf [7]: 156)

Di dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman, “Dia telah menetapkan atas Diri-Nya Kasih Sayang” (Al-Quran Surah Al-An’am [6]: 12)

DUA MACAM RAHMAT TUHAN

Dari seluruh Surat (114 Surat) yang ada di dalam al-Qur’an, kecuali Surat al-Taubah, semuanya diawali dengan kalimat : Bismillah al-rahman al-rahim (Dengan Nama Allah Yang Rahman dan Rahim). Namun kalimat Bismillah al-Rahman al-Rahim tetap berjumlah 114, karena di dalam Surat al-Naml, kalimat Bismillah al-Rahman al-Rahim disebut 2 kali.

Kata al-Rahman dan al-Rahim adalah dua sifat yang berakar dari kata al-Rahmah. Al-Rahman bersifat umum sedangkan Al-Rahim bersifat khusus. Al-Rahman menunjuk kepada rahmat Tuhan kepada seluruh alam, jin dan manusia, baik yang kafir maupun yang beriman. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam al-Qur’an yang mulia, “Katakanlah : Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan maka biarlah Tuhan Yang Maha Rahman memperpanjang tempo baginya” (QS 19 : 75)

Sedangkan al-Rahim menunjuk kepada rahmat yang khusus dikaruniakan kepada orang-orang yang beriman, seperti yang dinyatakan Allah SwT dalam firman-Nya, “Dan Dia-lah Yang Rahim terhadap orang-orang yang beriman” (QS 33 : 43)

Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengasih (al-Rauf) dan Pernyayang (al-Rahim) kepada mereka (yang beriman)” (QS 9 : 117) 1]

Jadi, Allah memiliki dua derajat tingkat Kasih Sayang (al-Rahmat) untuk makhluk-Nya. Satu bersifat umum, yang Kasih-Nya mencakup dan meliputi semua mahluk, sampai-sampai jika Kasih-Nya ini tidak ada, niscaya tidak ada sesuatu pun yang maujud. Bentuk Kasih Sayang-Nya ini meliputi tidak hanya kepada orang-orang yang beriman saja bahkan kepada orang-orang kafir, para pendurhaka, dan orang-orang yang zalim sekalipun. Namun yang kedua bersifat khusus, Kasih Sayang-Nya hanya bagi orang-orang yang beriman.

Pun, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita, umat Islam untuk memulai seluruh aktivitasnya dengan membaca Bismillahirrahmanirrahim, yang mengisyaratkan agar umat Nabi Muhammad tidak memiliki niat dan tujuan di dalam seluruh aktivitasnya melainkan untuk memanifestasikan Kasih dan Sayang-Nya kepada alam dan manusia. Dan dia (Nuh) berkata, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya (bahtera Nuh) dengan menyebut nama Allah (Bismillah) di saat berlayar dan berlabuh” (Al-Quran Surah Hud [11] : 41)

MAKNA RAHMAT, RAHMAN DAN RAHIM

Sifat Penyayang (rahimiyat)-Nya, yang memancar (rashahat), merupakan bimbingan dan pemandu di jalan-Nya. Hal itu terutama untuk mereka yang beruntung dan memperoleh kedudukkan yang tinggi, tetapi hal itu pun merupakan hubungan-hubungan yang umum, yang mana makhluk yang lain pun memperoleh bagian mereka juga. Jika Sifat Penyayang-Nya yang umum ini tidak terliputi oleh mereka yang jahat (ashqiya’) bukan karena Dia membatasi Kasih Sayang-Nya, tetapi justru karena mereka tidak berusaha untuk masuk ke dalam ruang Kasih Sayang (rahimiyat)-Nya. Oleh karena itu, bimbingan dan undangan Kasih Sayang-Nya ini merupakan anugerah untuk seluruh ummat manusia, seperti yang dikatakan di dalam al-Qur’an yang mulia di atas.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa, “Sifat al-Rahman (Nya) merupakan salah satu bagian dari nama (Nya) untuk sifat (Nya) yang umum, sedangkan sifat al-Rahim (Nya) merupakan salah satu nama (Nya) yang umum untuk salah satu bagian dari sifat (Nya)” 2]

Akar kata rahim (arham) memiliki makna “mengasihi atau menyayangi” (rahima). Rahim (ibu) dengan fungsi reproduksinya merupakan sebuah perwujudan nyata dan bukti langsung akan rahmat Allah yang tiada putus-putusnya.3]

Di lain riwayat disebutkan bahwa,”Sifat al-Rahman-Nya adalah untuk semua ciptaan-Nya, sedangkan sifat al-Rahim-Nya hanya untuk orang-orang yang beriman” 4]

Juga disebutkan dalam hadits lainnya,”Wahai Yang Rahman di dunia kini, dan Yang Rahim di Akhirat nanti” 5]

Maksud dari kedua hadits tersebut di atas adalah bahwa, sifat Pengasih (Rahman)-Nya terwujud di dunia ini untuk seluruh makhluknya tidak terbatas hanya kepada orang-orang yang beriman saja, tetapi sifat Penyayang (Rahim)-Nya hanya dibatasi untuk orang-orang beriman di Akhirat nanti.

TIDAK SEORANG PUN MASUK SURGA MELAINKAN KARENA KASIH SAYANGNYA

Rasulullah saww bersabda, ”Tidak (akan pernah) seorang pun masuk Surga melainkan karena Kasih Sayang (Rahmat) Allah”. Sahabat-sahabat Nabi bertanya,”Tidak juga engkau?”. Beliau bersabda,”Bahkan aku pun tidak (masuk Surga) kecuali karena Allah mengasihiku” 6]

Hadits ini bukan berarti Allah ‘Azza wa Jalla mengabaikan amal shalih dan ibadah sama sekali. Karena selain rahmat-Nya, amal shalih pun menjadi syarat keselamatan manusia sebagaimana khutbah Rasulullah saww, “Wahai manusia! Sesungguhnya antara Allah dan seseorang itu tidak ada nasab. Tidak ada sesuatu yang mendatangkan kebaikan atau kejahatan kepadanya selain amal. Ingatlah! Jangan sekali-kali seseorang mengaku-aku dan berangan-angan. Demi Yang Mengutusku dengan kebenaran, tidak akan ada yang menyelamatkan selain amal yang disertai Rahmat-Nya. Dan sekiranya aku berbuat maksiat niscaya aku pun akan celaka. Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?” 7]

Hadits ini menjelaskan hakikat Rahmat dan Kasih-Nya yang meliputi seluruh maujud yang ada ini, sehingga kita mesti menyadari bahwa seluruh keberadaan kita, akal, ruh, hati, petunjuk, bahkan amal ibadah kita semua pada hakikatnya adalah dari Dia jua.

Al-Qur’an yang mulia menyebutkan, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka itu dari kesalahan dirimu sendiri” (Al-Quran Surah Al-Nisa [4] : 79)

Sekiranya tidaklah karena Karunia Allah dan Rahmat-Nya

kepada kamu sekalian, niscaya tiada seorang pun dari kamu yang bersih

(suci dari perbuatan keji dan munkar)”

(Al-Quran Surah Al-Nur [24]: 21)

Catatan Kaki

1. Allamah Thabathaba’i, Tafsir al-Mizan Jil 1, Surah al-Fatihah.

2. Tafsir Majma’ul Bayan, Jil. 1, hal. 21

3. Syekh Fadlullah Haeri, Tafsir Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat : 6

4. Syaikh al-Shaduuq, Ma’ani al-Akhbar hal.3.; Al-Bihar 89 : 229.

5. Ushul al-Kafi 4 : 340, Kitab al-Du’a, hadits ke 6 ; Al-Shahifah al-Sajjadiyyah, Do’a no. 54.

6. Kanzul ‘Ummal hadits no. 10407.

7. Ibn Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah 2 : 863.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: