jump to navigation

Apa Yang Diwariskan Cinta? Senin, 4 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel.
trackback

Tiga hal yang diwariskan (dihasilkan) cinta :

Agama, Kerendahan hati, dan Kemurahan hati”

(Imam al-Shadiq as) 1]

 

KITA hanya bisa memahami cinta dari apa yang dihasilkan (buahnya), atau tanda-tanda dari orang yang mengalami cinta. Karena hal inilah mengapa Imam Ja’far al-Shadiq, di dalam hadits di atas hanya menyebutkan buah-buah dari cinta, atau apa yang diwariskan dari cinta, sehingga dengan ciri-ciri tersebut kita bisa mengenal seseorang yang telah memiliki cinta. Seorang pencinta sejati, menurut Imam as, mesti memiliki tiga kriteria, ia mesti beragama (bukan dalam pengertian formal), rendah hati dan murah hati.

 

APA ITU AL DIEN?

Di dalam hadits di atas yang dimaksud al-dien adalah al-Islam, karena adanya alif lam ta’rif (al), sebagaimana di dalam sabda Rasulullah saww, “Kekasihku, Jibril as berkata,”Sesungguhnya perumpamaan agama ini (al-Islam) seperti sebuah pohon yang kokoh. Iman adalah akarnya, shalat seumpama urat-uratnya, zakat seumpama air yang dikandungnya, puasa seumpama pelepahnya, akhlaq yang baik seumpama dedaunannya, menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan seumpama buahnya. Maka tidaklah sempurna sebuah pohon kecuali dengan buah. Olehkarena itu tidaklah sempurna iman tanpa diiringi dengan penjagaan diri dari hal-hal yang diharamkan” 2]

 

Seorang pencinta sejati mesti memiliki karakteristik seperti yang disebutkan oleh hadits Rasulullah di dalam al-Dien. Karakteristik al-Dien yang disebutkan di dalam hadits di atas melengkapi definisi cinta Socrates yang mengatakan bahwa : cinta adalah kerinduan kepada kebaikan. 3]

Di dalam hadits lainnya Imam Ali as mengenalkan al-Dien dengan kata-katanya, ”Awal dari al-Dien adalah mengenal-Nya (ma’rifatuhu)”. 4]

 

Bahwa kemunculan cinta adalah dari pengenalan (ma’rifat) dan seorang pencinta tidak mungkin dapat mencintai Kekasihnya tanpa mengenalnya. Paling tidak, seorang pencinta mesti mengenal sifat-sifat Kekasihnya.

 

APA ITU TAWADLU’ ?

Kata tawadlu’ sepadan dengan kata dzullu yang berarti rendah hati. Di dalam ayat 54 Qur’an Surah al-Maidah disebutkan tentang sifat-sifat orang yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla, “…maka kelak Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap rendah hati (adzillatin) terhadap orang-orang mu’min” (Al-Quran Surah Al-Maidah [5] ayat 54)

 

Tawadlu’ adalah suatu keadaan jiwa dimana seseorang merasa tidak lebih baik atau lebih mulia ketimbang orang lain. Orang yang tawadlu’ cenderung melihat kelebihan orang lain ketimbang kekurangannya. Jika nampak olehnya kekurangan seseorang ia akan melihat kekurangan yang ada pada dirinya lebih banyak dibandingkan kekurangan orang tersebut.

 

Kata dzullu yang merupakan padanan kata tawadlu’ juga bermakna hina. Dengan demikian orang yang memiliki sifat tawadlu’ senantiasa merasa ‘hina’ di hadapan Tuhannya dan di hadapan orang-orang yang beriman. Tentu saja perasaan ‘hina’ di sini sebatas tidak menjatuhkan kehormatan dirinya dan kemuliaannya sebagai seorang yang merdeka. Seorang pencinta juga mesti memiliki karakter tawadlu’ dan jauh dari sifat sombong dan angkuh.

 

Dan mereka yang congkak dan sombong adalah orang-orang yang tidak lagi memiliki cinta. Cinta yang semula ada di dalam hati mereka telah pupus dan lenyap. Sedangkan pribadi yang telah mencapai kerendahan hati yang bersumber dari kekuatan batin, sesungguhnya hanya dapat dihasilkan oleh kegiatan produktif sejati. 5]

 

LALU APA ITU BADZL?

Badzl atau murah hati bermuara pada kepedulian akan orang lain. Orang yang murah hati adalah orang yang tidak dipengaruhi oleh kecintaannya pada dirinya sendiri. Bahkan pada tataran tertentu orang yang murah hati bisa lebih mencintai orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Pada tataran ini sifat murah hati seperti itu disebut itsar , mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Sifat seperti ini pernah dipraktekkan dan dicontohkan oleh para sahabat Nabi dari kalangan Anshar yang lebih mementingkan saudara-saudara seiman mereka dari kalangan Muhajirin ketimbang diri mereka sendiri. Allah ‘Azza wa Jalla memuji sifat dan sikap mereka itu, “Dan orang-orang yang menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tiada menaruh keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin) dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan (yu’tsiruuna) (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka sendiri (sebenarnya) dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Quran Surah 59 : 9)

 

Kemurahan hati adalah gerbang yang membawa seseorang ke dalam halaman depan Tuhan yang Maha Pengasih, Tuhan yang memberi dan mencintai tanpa syarat. Kemurahan hati mengalir secara spontan dari sebuah hati yang selalu bersyukur. Tidak ada ruang untuk kekhawatiran atau kesedihan, karena hati tersebut selalu diperkuat dengan sumber kemurahan hati (Allah). Inilah buah cinta, yaitu : Agama, Kerendahan Hati dan Kemurahan Hati.

 

CINTA YANG MEMBAKAR EGO

Sekedar melengkapi hadits di atas, diriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib as juga berkata, ”Tiga hal yang mesti ada di dalam cinta : akhlaq yang baik (Husnul Khulq), baik dalam berteman atau suka menolong (Husnu al-Rafq) dan rendah hati (Tawadlu’). 6]

 

Cinta sejati adalah cinta yang mampu membakar ego, yaitu sifat mementingkan diri sendiri, rasa ingin memiliki dan sifat-sifat yang semisal itu. Cinta, pertama-tama bukan soal hubungan dengan seseorang atau sesuatu, tetapi cinta merupakan suatu orientasi karakter yang menentukan hubungan seseorang dengan dunia secara keseluruhan dan bukan hanya terhadap suatu obyek tertentu. Jika seseorang hanya mencintai seseorang tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap yang lain maka hal itu tidak layak disebut cinta. 7]

 

Apa yang dikatakan Imam Ali as melengkapi dan memperkuat karakteristik sang pencinta, atau dengan kata lain seorang pencinta juga mesti memiliki akhlak yang baik, berjiwa sosial, baik dalam berteman yang berarti suka menolong teman atau memiliki tenggang rasa yang tinggi.

Seperti hadits sebelumnya, tawadlu’ diulang kembali sebagai salah satu dari tiga karakteristik lainnya. Ini menunjukkan bahwa sifat tawadlu’ merupakan salah satu hal terpenting yang mesti ada di dalam jiwa sang pencinta. Mungkin bisa dikatakan demikian karena sifat kerendahan hati mampu membakar ego di dalam hati sang pencinta. Atau dengan kata lain cinta meruntuhkan seluruh aspek egoisme dalam diri seorang pecinta. Sifat-sifat inilah yang muncul dan tumbuh dari cinta. Dan inilah yang dikatakan buah-buah Cinta Sejati.

 

AKHLAQ YANG BAIK

Akhaq yang baik merupakan hal yang teramat penting di dalam Islam, karena ia menjadi salah satu persyaratan agar seseorang bisa digolongkan ke dalam umat Nabi Muhammad saww yang sejati, sebagaimana sabda beliau saww sendiri, ”Tiga hal, barangsiapa yang tidak ada padanya (ketiga hal itu), maka bukanlah ia dari golonganku dan bukan pula dari golongan Allah ‘Azza wa Jalla”, Ditanyakan kepada Nabi saww : “Apakah ketiga hal itu, ya Rasulullah?”, Beliau menjawab: “Sifat santun (hilm), yang memalingkannya dari kejahilan orang yang jahil dan akhlaq yang baik di mana ia hidup (dengannya) di antara manusia serta wara’ yang mencegahnya dari maksiat kepada Allah” 8]

 

Rasulullah saww pun mensyaratkan cintanya kepada seseorang dengan akhlaq yang baik dan sifat tawadlu’ sebagaimana sabda beliau saww, ”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kamu dan yang paling dekat denganku pada Hari Qiyamat adalah orang yang paling baik akhlaqnya dan yang besar kerendahan hati (tawadlu’)-nya” 9]

 

Sebenarnya secara fitrah, seluruh manusia dengan berbagai perbedaannya (ras, warna kulit, pengaruh biologis, dan kebudayaan) – tanpa kecuali – cenderung, cinta, dan gemar pada akhlak terpuji. Manusia di seluruh dunia, entah berkulit hitam atau putih, di Barat atau di Timur, cerdas atau dungu, beradab atau tidak; semuanya menyukai, misalnya, keberanian dan kedermawanan. Ini sebagaimana mereka amat membenci diskriminasi dan kezaliman. Watak dasar semacam itu tidak memerlukan belajar dan pengajaran, melainkan bersifat fitrah. 10]

 

BAIK DALAM BERTEMAN (HUSNU RAFQ)

Sebenarnya, kata rafq memiliki arti dasar yaitu memberi manfaat atau faedah. Jadi, seorang yang memiliki sifat rafq adalah seorang yang suka memberikan manfaat atau faedah kepada orang lain atau dengan kata lain suka menolong. Rafq juga bisa berarti menjadi teman, karena seorang teman senantiasa memberikan manfaat kepada temannya. Bahkan al-rafiiq juga berarti al-‘asyiiq atau seorang yang dimabuk cinta atau kekasih. Jadi bisa disimpulkan bahwa makna husn rafq adalah baik dalam berteman atau baik dalam mencintai orang lain.

 

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Imam al-Baqir dan Imam al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya Allah mencintai sifat al-rafq dan apabila Dia mencintaimu niscaya Dia akan mencabut sifat dengki dan kedengkian dari dalam hatimu” 11]

 

Dalam riwayat lainnya, Imam Muhammad al-Baqir as berkata,”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla rafiiq dan mencintai sifat rafq dan Dia memberi atas dasar sifat rafq (Nya). Dia tidak pernah bersikap bengis dan kejam” 12]

 

Dari hdits ini, kita bisa memahami bahwa sifat ‘rafq itu lawan dari sifat bengis dan kejam, jadi seorang yang rafiq adalah seorang yang penuh kasih sayang dan perhatian. Rasulullah saww berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla suka memberi (rafiiq) dan mencintai sifat suka memberi dalam segala urusan” 13]

 

Imam Ali Zainal ‘Abidin as meriwayatkan bahwa Nabi Khidr as berwasiat kepada Nabi Musa as, “Tidaklah seorang yang suka memberi sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain di dunia melainkan Allah ‘Azza wa Jalla pun akan memberikan kepadanya yang bermanfaat di Hari Qiyamat” 14]

 

SEKALI LAGI TENTANG TAWADLU’

Seorang yang punya kedudukan dan posisi tinggi, namun menganggap dirinya rendah dan tiada arti, disebut sebagai seorang yang tawadhu’ atau rendah hati. Diriwayatkan bahwa Nabi Isa as berkata kepada para sahabatnya: “Aku mempunyai suatu keperluan.” Mereka menjawab, “Keperluan Anda akan terpenuhi.” Lalu mereka bertanya, “Apa keperluan Anda?” Beliau menjawab, “Keperluanku, aku hendak membasuh kaki kalian dengan tanganku.”

 

Kita mengetahui bahwa kedudukan spiritual Nabi ‘Isa as lebih tinggi ketimbang murid-muridnya atau sahabat-sahabatnya, tetapi demi mengajarkan sikap rendah hati kepada mereka, Isa as bersedia memberi teladan secara langsung makna kerendahan hati.

 

 

Sifat yang mutlak harus dimiliki oleh sang pencinta adalah : sifat rendah hati, pengendalian diri (ta’affuf), dan menahan diri (hashr). Dengan sifat-sifat ini, sang pencinta telah mengubah dirinya dan berdiam dalam keridhaan dan ketakwaan sejati. Seseorang mampu mengenali orang-orang semacam ini dari cahaya wajah mereka, dari kemurnian dan spontanitas tindakan mereka, serta dari aliran kasih sayang Allah kepada mereka.

 

Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as mengatakan, “Seseorang disebut rendah hati bila duduk di manapun, memberi salam kepada setiap orang yang ditemuinya, meninggalkan perdebatan sekalipun dirinya benar, dan tidak merasa senang tatkala dipuji lantaran ketakwaannya.”

 

Dalam buku Safinah al-Bihar tercantum sebuah kisah yang dituturkan seorang yang sombong, “Saya mengadakan perjalanan bersama Imam Ali al-Ridha ke Khurasan. Suatu hari, beliau memerintahkan kami membentangkan kain dan menyiapkan makan. Lalu beliau mengajak budak dari Sudan untuk duduk bersama mengelilingi hidangan itu. Saya mendekati beliau dan berkata,’Bukankah sebaiknya mereka makan secara terpisah dalam hidangan lain?’ Imam Ridha menjawab, “Tidak, sesungguhnya Allah SWT adalah SATU, ibu kita SATU, ayah kita pun SATU, dan pahala diperuntukkan bagi amal perbuatan.” 15]

 

Pada masa kita ini pun, kebanyakan orang-orang Muslim yang kaya enggan makan bersama pelayan atau pembantu mereka. Mereka membuat ruang makan khusus untuk pembantu mereka. Sebenarnya mereka tidak menyadari bahwa sikap mereka itu merupakan salah satu karakteristik kesombongan dan kepongahan. (Na’udzu billah)

 

 

 

 

 

Wahai engkau yang tidak mengenal mereka yang terbakar,
atau yang sedang terbakar,
Cinta adalah sesuatu yang muncul sendiri,
ia tiada diajarkan.
~ Abu Said Ibn Abi al-Khayr, Terry Graham, hal. 39)

 

 

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :

1. Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 78 : 229

2. Bihar al-Anwar 71 : 288

3. Binyamin Abrahamov, Rindu Tiada Akhir, hal. 20

4. Imam Ali bin Abi Thalib as, Nahjul Balaghah, Khotbah I

5. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 55-56

6. Ayatullah Ray Syahri, Mizan al-Hikmah 2 : 205

7. Erich Fromm, Ibid, hal. 77

8. Al-Bihar 69 : 306. Wara’ adalah sikap berhati-hati dengan menjauhi hal-hal yang syubhat – yang meragukan – . Jadi, seorang yang wara’ bukan saja menjauhi hal-hal yang haram, bahkan hal-hal yang masih samar hukumnya, yang masih meragukan ketentuan hukumnya ia tinggalkan.

9. Al-Bihar 71 :385 – Mizan al-Hikmah 3 : 142

10. Majid Rasyid Pur, Membenahi Akhlaq Mewariskan Kasih Sayang, hal. 29.

11. Al-Kulayni, Al-Kafi 2 : 120

12. Ibid 2 : 119

13. Muttaqi al-Hindi, Kanz al-’Ummal hadits no. 5370

14. Bihar al-Anwar 73 : 386

15. Majid Rasyid Pur, Membenahi Akhlaq Mewariskan Kasih Sayang, hal. 203 – 205

Dikutip dari buku Keajaiban Cinta.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: