jump to navigation

Makhluk Apakah Syiah Itu? Selasa, 5 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

KH. DR. Jalaluddin Rahmat

Di dunia ini segala hal berubah kecuali tulisan yang menentang Syi’ah. Segala permulaan ada ujungnya, kecua­li tuduhan terhadap Syi’ah. Mengapa ?

Apakah syi”ah itu pembuat onar atau pembikin kekacauan, yang hanya ingin mengganggu orang?” Begitu tulis al-Syaikh Jawad al-Mughniyah, alim besar dari Libanon, ketika ia mengantar­kan buku Abdullah bin Saba wa Asathir Ukhra. Kalimat-kali­matnya lebih merupakan semacam keluhan, daripada pernyatan ilmiah. Sebagai seorang Syi­’ah, ia tentu sering membaca kecaman-kecaman terhadap Syi’ah yang tidak didasarkan bukti-bukti yang dapat diper­tanggung jawabkan. Seakan-akan untuk mengecam Syi’ah tujuan menghalalkan segala macam cara: berdusta, memfitnah atau memalsukan keterangan tidak diperbolehkan, kecuali untuk menghantam Syi’ah.

Banyak buku telah ditulis tentang Syi’ah oleh lawan-­lawan Syi’ah. Selama ratusan tahun, Syi’ah telah menampung semua tuduhan yang paling nista: fasik, kafir, musyrik, zindik, munafik. Tidak jarang bersamaan dengan meruntuhkan kehormatan Syi’ah, orang pun menumpahkan darah mereka. Tidak ada mazhab di dalam Islam yang begitu banyak menanggung penindasan seperti orang Syi’ah. Tidak heran kalau mereka sering meneriak­kan kalimat (yang oleh musuh Syi’ah boleh jadi (sebut teriakan teroris), Setiap hari bagi kami hari Karbala, dan mihrab kami adalah mihran darah.” Bukan lantaran Syi’ah adalah drakula penghisap darah. Mereka adalah orang-orang yang sepanjang abad darahnya boleh ditumpahkan tanpa belas kasihan.

Dalam kitab al-Fatawa al­-Hamidiah dikisahkan jawaban seorang alim besar ketika ditanya mengapa orang Syi’ah wajib dibunuh. Sang alim besar ini menjawab, “Ketahuilah bahwa orang-orang Syi’ah itu adalah orang kafir, durhaka, ahli maksiat. Mereka menghim­pun sifat-sifat kekufuran, kedurhakaan, keingkaran dan berbagai macam kefasikan, atheisme, dan sifat-sifat zindik. Barangsiapa tidak mau mengkafirkan mereka, merekapun kafir seperti mereka.” Maka kalau darahnya boleh ditumpah­kan apalagi kehormatan mereka. Dan kecaman pun mengalir deras, menggabungkan imajina­si, kreativitas, dan ketidak­tahuan.

Kalau Syi’ah itu bukan drakula, lalu makhluk macam apakah dia?

Pada suatu hari Abu Ja’far as, imam Syi’ah yang kelima, yang digelari “Baqir ‘ilm al-na­biyyin” (penyimpan ilmu para nabi), berkata kepada muridnya Abu Bashir, “Nama tidak akan melemahkanmu.” Abu Bashir bertanya, “Nama apa?” Kata Abu Ja’far, “Syi’ah!” “Tetapi orang mempermalukan kita dengan nama itu?”, ujar Abu Bashir. Abu Ja’far berkata, “Apakah kalian tidak mendengar firman Allah “wa innamin syi’atihi la Ibrahim.” (QS Al-Shaaffaat [37] ayat 83) dan “fastaghatsahu lladzimin syi’atihi ‘alalladzimin ‘aduwwih” (QS Al-Qashash [28] ayat 15)

Abu Ja’far menyebut 2 ayat al-Qur’an yang menyebut Syi’ah. Tulisan ini akan melacak makna Syi’ah dari al-Quran, kemudian al-Hadis. Setelah menjelaskan kata “syi’ah” menurut kamus-kamus bahasa Arab, kita akan menunjukkan dalil-dalil naqli (Al-Qur’an dan al-Hadits) dengan dalil-dalil aqli (argumentasi logis) tentang eksistensi mazhab Syi’ah.

SYI’AH DI DALAM AL-QUR’AN

Hanna E. Kassis ( 1983 1164 ) dalam karya besarnya A Concordance of the Qur’an, menyebutkan 11 ayat yang mengandung kata syi’ah, syiya’, dan asy-ya’. Dalam bentuk tunggal, syi’ah berarti : a sect, a faction, party. Dalam bentuk jama’ syiya’ dan asy-ya’ berarti : ones of the same persuasion, the likes of someone. (orang-orang yang akhlaknya sama, orang-orang yang seperti seseorang).

Kata Syi’ah disebut 4 kali : QS Maryam [19] ayat 69 ; Al-Qashash [28] ayat15 ; Shaad [38] ayat 83 .

Kata Syiya’ disebut 5 kali : QS Al-Hijr [15] ayat 10 ; Al-An’aam [6] ayat 65 ; Al-An’aam [6] ayat 159 ; Al-Qashash [28] ayat 4 , Al-Ruum [30] ayat32.

Kata Asy-ya’ disebut 2 kali : QS Al-Qamar [54] ayat 51 ; Saba’ [34] ayat 54. Pada umumnya, semuanya berarti pengikut atau kelompok. Syi’ah yang menjadi mudhaf (disandarkan kepada sesuatu atau seseorang) hanya disebut 2 kali.

Mengingat relevansinya dengan istilah Syi’ah dalam tulisan ini, kita akan memba­has komentar para ahli tafsir tentang syiatihi – syi’ah sebagai mudhaf. Untuk menying­katkan tulisan ini, dan menghind­ari perulangan yang tidak perlu, kita membahas QS Al-Shaaffaat [37] ayat 84 : “Sesungguhnya diantara syi’ah­nya itu Ibrahim.”

Konentar A1-Syawkani (1383 . 400 )

Dan sesungguhnya diantara syi’ahnya itu Ibrahim, yakni di antara ahli agamanya dan orang yang mengikutinya dan menyerupainya dalam berdakwah kepada Allah, kepada mengesa­kan-Nya, dan kepada mengimani­Nya. Kata Mujahid: artinya, berada pada jalan hidup dan sunnahnya. Kata Al-Ashma’i : syi’ah itu pendukung, diambil dari kata syiya’, yang artinya ranting-ranting kayu yang dibakar beserta kayu yang besar, sehingga bernyala besar. Kata Al-Fura : Artinya, diantara syi’ah Muhammad adalah Ibrahim; kata ganti “nya” dimaksudkan Muhammad saw.”

Komentar Ibn Katsir (tt:12)

Kata Ali bin Abi Thalhah dari Ibn Abbas r.a. (Dan sesungguhnya diantara syi’ah­nya itu Ibrahim), artinya diantara ahli agamanya . Kata Mujahid: “Berada pada hidup dan sunnahnya.”

Komentar Al-Zamakhsyari (tt;344)

(Di antara Syi’ahnya) di antara orang yang mengikutinya pada pokok-pokok agama, walaupun berbeda syari’atnya, atau mengikutinya dalam berpegang teguh pada agama Allah dan bersabar menghadapi para pendusta. Mungkin juga syari’at mereka (yakni, Ibrahim dan Nuh -pen.) bersa­maan dalam banyak hal. Dari Ibn Abbas r.a. : Artinya, dari ahli agamanya dan mengikuti sunnahnya. Antara Nuh dan Ibrahim ada dua nabi – Hud dan Shalih a.s. – dan antara Nuh dan Ibrahim ada 2640 tahun . Jika anda bertanya, mengapa dikaitkan dengan zharaf? (kata “idz” atau “ketika” -pen.). Aku jawab: Karena “Syi’ah” berarti mengikuti, yakni di antara orang yang mengikutinya, yakni di antara orang yang mengikutinya pada agamanya dan taqwanya ketika mendatangi Tuhannya dengan hati yang selamat adalah Ibrahim. Atau artinya : Ingatlah!

Komentar Al-Thabrasi (tt 448)

(Dan di antara Syi’ahnya itu Ibrahim) yakni, mengikuti jalan hidupnya dan sunnahnya dalam tawhid, keadilan, dan mengikuti yang benar. Begitu menurut Mujahid. Kata orang, maknanya itu di antara Syi’ah Muhammad itu ialah Ibrahim”.

Komentar Al-Thabathabai ( 1393 : 147 )

(Dan di antara syi’ahnya itu Ibrahim) Syi’ah adalah kaum yang mengikuti yang lain, yang menjalani jejak mereka. Pokoknya, siapa saja yang bersamaan dengan seseorang dalam jalan hidupnya, ia disebut syi’ah, apakah ia datang sesudahnya atau sebe­lumnya. Firman Allah :

Dan sebuah tabir telah dipasang antara mereka dan apa yang mereka inginkan, seba­gaimana dilakukan oleh pengi­kut mereka dahulu. Sesungguh­nya mereka adalah dalam kera­gu-raguan yang mencemaskan.” (QS Saba’ [34] ayat 54)

Dari konteksnya kata ganti “nya” pada “syi’ahnya” adalah Nuh. Artinya Ibrahim adalah orang-orang yang menyerupai Nuh dalam agamanya, yaitu agama Tawhid.

Kata orang: “nya” itu kepada Muhammad saww. Tetapi dari konteks, tidak ada petunjuk ke sana. Ada yang berkata : Di antara keindahan susunan ayat ini ialah melanjutkan kisah Nuh a.s. – ia adalah Adam kedua dan Bapak umat manusia dengan kisah Ibrahim a.s. – Bapak para nabi, asal-usul kebanya­kan para nabi sesudahnya; dan pada agama Ibrahim ditegakkan agama-agama Tawhid yang hidup dewasa ini seperti agama Musa, ‘Isa, Muhammad saw. Juga Nuh as diselamatkan Allah dari tenggelam (al-gharg) dan Ibrahim a.s. dari pembakaran (al-harq).”

Komentar Dr. Muhammad Nahaud Hijazi (1968:31)

(Syi’ahnya) Syi’ah seseo­rang adalah pengikutnya dan pembelanya. Setiap kaum yang berkumpul pada suatu hal, maka mereka adalah syi’ahnya. Setelah meninggal Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, kata Syi’ah diartikan sebagai kelompok khusus.”

Secara singkat, di dalam isti­lah al-Qur’an syi’ah seseorang adalah yang mengikuti, yang mendukung, yang meniru, yang menyerupai, yang berkumpul dalam jalan hidup dan sunah orang itu. Dalam arti inilah kita memahami kata Syi’ah Nuh, Syi’ah Ibrahim, Syi’ah Musa, Syi’ah Muhammad, Syi’ah Ali dan sebagainya.

— ooo —

Bandung, 24 September 1989.

Iklan

Komentar»

1. aziz - Kamis, 29 November, 2007

waduh, saya bingung! Banyak informasi yang beraneka ragam.

2. Quito Riantori - Kamis, 29 November, 2007

Gak usah bingung, gunakan saja logika yang lurus, dengar kata hati Anda, jangan ikuti org2 yang berakhlak buruk, dan mohon petunjuk Allah Swt. Insya Allah Anda gak akan bingung lg!

3. arie - Kamis, 29 November, 2007

mas aziz -benar kata mas quito- kadang bingung itu justru dapat menjadi awal sesuatu yang baik, justru itu menandakan bahwa anda jujur terhadap diri sendiri, tidak merasa benar sendiri, tidak merasa berilmu tinggi. Merasa tidak tahu apa2 itu disukai Allah, dan itu pula yang dapat mendorong seseorang untuk mendapatkan kebenaran sejati, tanpa terhijab ilmunya sendiri, dan puncaknya dapat meraih apa yang selama ini diimpikan seluruh hamba Allah, yaitu shalat yang khusyu, sehingga tersingkaplah segala hakikat di balik dunia “usang” ini. beruntunglah bagi orang yang pernah mangalami perjumpaan dengan-Nya dalam shalat, walaupun hanya satu rakaat saja ia diterima oleh Allah. Karena Allah menerima amal yang sedikit dari hambanya, asal dibarengi ikhlas, bagaimanapun bentuk ikhlas itu, pasti bermuara pada Allah. Semoga kita dapat sampai pada keadaan hati yang tenang, selamat, sehingga Allah ridha memberikan syafaat kepada kita, keluarga kita dan umat ini melalui wasilah2Nya yang mempunyai “wilayah”, Rasulullah dan para ahlulbayt suci beliau Saaw, alhamdulillahirabbil’alamin

4. adek - Jumat, 14 Maret, 2008

setuju…nga usah bingung.contoh aja rasulullah yg enggak pernah melaknat org termasuk musyrikiin.nah,klo ada faham yg suka melaknat org apalagi sahabat,itu nga sejalan sama rasulullah.bayangkan!iblis aja yg memang sudah dilaknat allah,klo di dunia ini kita enggak melaknatnya,toh diakhirat kelak kita enggak ditanya allah knp kita tidak melaknat iblis.jadi,laknat melaknat itu bukan ajaran rasulullah saw.coba klo teman kita dilaknat orang,pasti kita marah kan.apalagi nabi muhammad…!!!.

5. Quito Riantori - Sabtu, 15 Maret, 2008

@adek
Maaf, apakah adek sdh meneliti bahwa Rasulullah SAw tidak pernah melaknat org? Mohon lebih teliti. Setahu saya banyak sekali hadis2 Nabi yang menjelaskan bahwa Nabi Saw melaknat org2 yang tidak taat kepadanya. Allah Swt di dalam banyak ayat juga melaknat kaum Yahudi dan org2 yang durhaka. Saya harap anda lebih teliti di dalam mengkaji ajaran2 Islam.

6. Quito Riantori - Sabtu, 15 Maret, 2008

@adek
Banyak sekali perbuatan keji kaum Zionis Israel yang dikutuk oleh bangsa2 yang beradab. Pemerintah Indonesia pun sering mengutuk perbuatan keji yang dilakukan bangsa2 lain seperti Serbia yang telah membantai dan memperkosa kaum Muslim Bosnia. Akan terlihat naif jika anda tidak mengutuk mereka!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: