jump to navigation

Marah Itu Baik Atau Buruk? Selasa, 5 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Anger Management, Artikel.
trackback

marah-itu-baik-atau-buruk.jpg

Barangsiapa yang sanggup mengendalikan dirinya (nafsahu),

ketika ia berharap, takut, malu, marah, dan ridha,

niscaya Allah haramkan jasadnya dari siksa neraka.

~ Imam Ja’far al-Shadiq as 1]

Sebenarnya, marah itu sendiri, tidak buruk dan juga tidak baik, atau dengan kata lain : netral. Marah merupakan salah satu emosi seperti emosi-emosi lainnya. Ada 4 dasar emosi manusia : sedih, marah, gembira dan takut…semua emosi yang ada pada setiap manusia merupakan derivasi dan kombinasi dari keempat dasar emosi ini. Keempatnya adalah emosi utama… Anda lihat saja…keempat emosi itu ada pada anak-anak dan bahkan binatang.

Emosi merupakan insting untuk bertahan hidup, jika kita tidak memiliki perasaan yang pasti, maka kita tidak tahu bagaimana cara bertahan hidup. Ini dapat kita perhatikan lebih jelas di dalam binatang… jika seekor binatang tidak memiliki rasa takut, maka pastilah ia tidak akan tahu bagaimana cara ia dapat melindungi dirinya agar ia dapat bertahan hidup ketika ia berada dalam situasi bahaya. Dengan cara yang sama manusia pun menggunakan emosinya untuk mengevaluasi suatu situasi. Bedanya, binatang tidak mempunyai intelek yang berkembang, ia juga tidak memiliki ide atau konsep yang telah terbentuk tentang situasi, juga tidak memiliki keahlian berbahasa untuk menyampaikan apa yang ia inginkan…Seperti bayi, ia pun hanya memiliki insting untuk bereaksi dalam situasi-situasi tertentu. Jika ia menyukai sesuatu ia akan mengekspresikan kebahagiaannya dengan tersenyum. Sebaliknya jika ia tidak menyukai sesuatu ia akan marah dan mengekspresikannya lewat tangisan.

Marah itu baik, jika ia layak atau diekspresikan pada tempatnya, dengan kata lain, ketika suatu situasi memerlukannya dan diungkapkan secara tepat. Ketika kita melihat seorang anak dipukul (tidak keras), karena ayahnya merasa marah, itu normal-normal saja sepanjang kemarahan itu tidak berbentuk penghinaan, sikap kasar, bengis atau kejam. Sebagaimana suatu kenyataan lainnya, jika seseorang tidak pernah merasa marah pada suatu situasi tertentu di mana ia seharusnya marah, maka tentu saja hal seperti ini merupakan kelemahan.

Apa yang membuat kemarahan menjadi ‘buruk’ adalah ketika kemarahan muncul tanpa alasan yang layak dan dinyatakan dengan tidak tepat seperti : berteriak, menjerit-jerit histeris, melakukan pemukulan dan yang semacamnya.

Suatu saat anak Anda memecahkan vas bunga kesayangan Anda…lalu Anda memukul anak Anda sampai memar dan membuatnya menjadi depresi selama satu bulan penuh…Ini jelas tidak layak dan di luar kepantasan, karena kita menghukum seorang anak kecil yang melakukan kesalahan yang tidak disengaja (mishap), ditambah lagi perlakuan Anda yang di luar batas, memukul anak Anda sampai memar, bengkak atau terluka.

Dalam situasi seperti itu berarti Anda telah membiarkan kemarahan mengendalikan Anda…pada tataran di mana Anda telah kehilangan pandangan yang jernih atas suatu masalah. Anda juga telah kehilangan kemampuan untuk mengenal faktor-faktor yang berpengaruh atas aksi Anda dan sudah semestinya Anda mempertimbangkannya secara rasional…misalnya, usia sang anak, atau apakah itu sekadar ketidak sengajaan?…Apakah Anda sudah mencoba untuk mencegahnya? Apakah vas bunga Anda sudah Anda letakkan di tempat yang tidak bisa dijangkau anak-anak? Dan lain-lain. Oleh karena itu kendalikan emosi-emosi Anda, pikirkanlah matang-matang sebelum Anda memberikan hukuman yang pantas.

Sebaliknya, ketika kebanyakan orang berpikir tentang kemarahan, mereka menduga bahwa kemarahan itu negatif secara menyeluruh. Seolah kemarahan merupakan ekspresi dan sikap yang tidak matang…dan karenanya menetapkan bahwa kemarahan itu merupakan sikap yang salah dan buruk.

Dalam segala situasi, baik, buruk atau jelek…manusia harus belajar mengendalikan emosi-emosi mereka, dan bukan dengan cara lain. Anda mesti bertanggung jawab atas emosi-emosi Anda, yaitu dengan cara bagaimana agar emosi Anda tidak mengendalikan hidup Anda. Yaitu ketika kita membiarkan emosi kita mengambil alih kendali dan mengekspresikannya secara tidak tepat.

Islam mengajarkan kepada kita pentingnya pengendalian amarah…bahwa kita mesti tetap mencari bagaimana caranya agar kita dapat mengekspresikannya dengan tepat.

Dengan membiarkan kemarahan mereda dan memberi maaf merupakan jalan paling baik. Islam juga mengajarkan kepada kita untuk berpikir, merenungkan, dan membuat pertimbangan atas segala sesuatu…ini termasuk diri kita, pikiran kita, perasaan dan perbuatan kita.

Islam juga mengajarkan kepada kita bahwa kita bertanggung jawab atas pikiran, perasaan, dan perbuatan kita, karena hal itu akan menjadi penting bahwa kita membuat pilihan yang tepat pada setiap situasi.

Al-Qur’an yang suci mengatakan, ”….dan orang-orang yang menahan

amarahnya (wal kaazhimin al-ghayzh) dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan” (Qur’an Surah Ali Imran ayat 134)

Mengenai ayat ini, Syaikh Abdu ‘Ali ibn Jum’ah al-‘Arusy al-Jauzy, penyusun Tafsir Nur al-Tsaqalain, menukil sebuah hadits dari Abi Abdillah as, bahwa beliau berkata, ”Ada tiga perkara, yang barangsiapa ada padanya ketiga perkara tersebut, niscaya telah sempuna imannya. (1) sabar atas kezaliman (orang lain), (2) menahan amarahnya, (3) mempertimbangkan, memaafkan dan mengampuni (kesalahan orang). Orang yang memiliki ketiga hal ini, akan Allah Ta’ala masukkan ke dalam surga tanpa hisab (perhitungan)” 2]


Dalam ayat lainnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu!” (QS Al-Nisa [4] : 77)

Menurut sebagian besar mufassir, ayat ini berkenaan dengan segolongan sahabat (Menurut Al-Nasai dan al-Hakim, berkenaan dengan Abdurrahman bin ‘Auf dan teman-temannya) yang menginginkan perang padahal kondisi kaum muslimin saat itu masih teramat lemah (di Makkah). Mereka berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah Allah telah mengizinkan kita untuk memerangi orang-orang musyrik?” Rasul Saw menjawab,”Sesungguhnya aku telah diperintahkan untuk bersabar” 3]

Akan tetapi setelah kaum muslimin berhijrah dan berhimpun di Madinah serta memiliki kekuatan yang memadai barulah perintah perang diturunkan. Anehnya, ketika ayat perintah perang turun, Abdurrahman bin ‘Auf dan kelompoknya itu justru enggan melaksanakannya. 4]

Pelajaran yang dapat kita ambil di sini adalah bahwa kita harus pandai-pandai memilih sikap yang tepat. Bersabar pada momen yang tepat dan marah pada momen yang tepat. Bahkan amarah pun mesti mengenai objek yang tepat.

Dan memang, untuk menjadi mu’min sejati bukan perkara yang mudah, dan ketidak mudahan ini tidak bisa menjadi alasan untuk tidak melakukannya.

We struggle with the complexities and avoid the simplicities.”, Norman Vincent Peale mengatakan,”Kita berjuang dengan kerumitan-kerumitan dan menghindari hal-hal yang sederhana dan mudah”

Ayat lainnya yang bisa kita kaji adalah :

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan perbuatan keji dan apabila mereka marah, mereka memberi ma’af…. Dan bagi orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri” (QS Al-Syuuraa [42] : 37, 39)

Ini berarti yang paling baik bagi seseorang yang dizalimi (secara personal, bukan sosial) adalah memaafkan kesalahan si pelaku kezaliman, walaupun Tuhan tidak melarang seseorang untuk membalas kezaliman tersebut lewat jalur hukum.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah saww mendatangi suatu kaum, tetapi mereka justru melempari beliau dengan batu.

Maka Rasulullah pun bersabda kepada mereka, ”Orang yang paling kuat di antara kalian adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah dan orang yang paling santun di antara kalian adalah orang yang memberi maaf, padahal ia mampu untuk melakukan pembalasan5]

Sebaliknya, jika Anda tidak marah atas kesalahan atau “dosa sosial” seseorang atau sekelompok orang maka hal ini merupakan kelemahan dan sangat tercela.

Imam Muhammad al-Baqir as berkata, ”Allah SwT berfirman kepada Nabi Syu’aib as, “Aku akan mengazab 100 ribu kaummu : 40 ribu dari mereka yang jahat dan 60 ribu dari mereka yang baik”. Nabi Syu’aib (heran dan) bertanya, ”Yang jahat memang pantas diazab, tetapi mengapa yang baik juga diazab?” Allah SwT menjawab, ”(Karena) Mereka tidak mencegah orang-orang yang berbuat maksiat dan tidak marah dengan kemarahan-Ku”

Ayat berikutnya adalah : “….maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik” (QS 15 : 85) Di dalam Tafsir al-Tsaqalain : Dalam Kitab Amali al-Shaduq, diriwayatkan (sebuah hadits) dengan isnadnya dari al-Shadiq, Ja’far bin Muhammad as, dari ayahnya berkata : “Telah berkata Ali Zainal ‘Abidin as tentang ayat – di atas – “fashfahish shafha al-jamiil”, maknanya : “maafkanlah tanpa mencela atau mencerca – al-‘afwu min ghairi ‘itaab –“ 6]

Jadi, bagaimana kita belajar mengendalikan kemarahan kita? Mungkin kedengarannya sangat sederhana, tetapi hal ini merupakan langkah dasar dari kesadaran diri (self-awareness).

Belajar memperhatikan pikiran dan pemikiran kita, perasaan-perasaan dan perbuatan-perbuatan kita. Menjadi sadar bagaimana Anda bereaksi atas situasi-situasi, bagaimana Anda berpikir saat Anda marah. Kenyataannya adalah bahwa tak seorang pun dapat mengubah Anda kecuali diri Anda sendiri. Jadi, Anda bertanggung jawab atas pilihan Anda. Anda harus mengontrol luapan hati seperti berteriak-teriak, menjerit-jerit atau bahkan memukul.

Uzma Mazhar, seorang ahli psikiatri dari St. Louis, USA, mengatakan,”Salah satu latihan yang saya coba terapkan atas semua pasien saya, adalah agar mereka (pasien-pasiennya) membayangkan bahwa seolah-olah di atas bahu mereka ada sebuah video camera yang mampu merekam segala sesuatu …semua pemikiran mereka, perasaan, dan perbuatan mereka. Ini sangat membantu Anda untuk memperhatikan diri Anda sendiri.

Lalu Anda menjadi tersadarkan akan pikiran-pikiran, perasaan, dan tindakan negatif Anda. Biasanya Anda dapat mengenalinya setelah peristiwa terjadi, perasaan dan tindakan-tindakan Anda, tetapi setelah Anda mempraktekkan, Anda akan mulai mengontrol diri Anda lebih dini dan sesegeranya – di tengah-tengah kejadian dan teraktualisasi bahkan sebelum Anda kehilangan kendali diri Anda sendiri. Sepanjang Anda mengontrol diri Anda, Anda dapat melatih dan memilih serta lebih mengontrol tindakan-tindakan Anda. Cobalah!

Anger is a great force. If you control it, it can be transmuted into a power which can move the whole world.” Sri Swami Sivananda mengatakan,”Amarah merupakan kekuatan yang besar. Jika Anda mengontrolnya, ia dapat diubah menjadi sebuah kekuatan yang dapat menggerakkan dunia ini seluruhnya”

Berbicara dengan tenang merupakan jalan yang jauh lebih baik ketimbang marah yang berefek menjadi tindak kekerasan.

Belajar tentang jalan terbaik dengan merenungkan bagaimana jika amarah yang kelak bisa menjadi sebuah tindak kekerasan. Belajar mengontrol tidaklah mudah, tetapi juga bukan berarti tidak mungkin. Memang membutuhkan waktu, kesabaran dan upaya. Itu bisa diselesaikan.

Catatan Kaki:

1. Wasail al-Syi’ah 15 : 162

2. Syaikh Abdu ‘Ali ibn Jum’ah al-‘Arusy al-Jauzy, Tafsir Nur al-Tsaqalain 1 : 389, baris ke 22.

3. Muhammad Jawad al-Mughniyyah, Tafsir al-Kasyif 2 : 381, baris pertama.

4. Jalaluddin Al-Suyuthi fie Lubab al-Nuqul fie Asbab al-Nuzul, Quran Surah Al-Nisa [4] ayat 77.

5. Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 74 : 150

6. Syaikh Abdu ‘Ali ibn Jum’ah al-‘Arusy al-Jauzy, Tafsir Nur al-Tsaqalain 3 : 27, baris ke 5.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: