jump to navigation

Duel Paling Dahsyat Sepanjang Sejarah Islam Kamis, 7 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Ahlul Bayt, Artikel, Bilik Renungan.
trackback

Tak seorang pun di seantero jazirah Arab yang tidak mengenal Amr bin Abda Wudd. Namanya sudah masyhur sebagai seorang ksatria ahli tarung di kalangan bangsawan Quraisy.

Dia terkenal mahir bertarung dengan tombak dan pedang. Tubuhnya besar, tegap, dan berwajah bengis. Ketenarannya dalam berduel memang sukar dicari tandingannya. Ketika perang Khandaq berlangsung, Amr merupakan salah seorang tokoh Quraisy yang bergabung di dalam tentara sekutu (Al-Ahzab) yang bertujuan memusnahkan kaum Muslim dan Islam. Dia juga merupakan salah seorang yang berhasil dengan kudanya meloncati parit lebar yang dibuat kaum Muslim. Sesampai di seberang Amr bin Abda Wudd berteriak : ”Siapa di antara pengikut Muhammad yang berani berduel denganku?!”

Tantangan yang didengar kaum Muslim membuat kebanyakan para sahabat Nabi kecut. Mereka mengenal betul siapa Amr bin Abda Wudd. Suasana menjadi hening dan mencekam. Amr menunggu kedatangan “jagoan” kaum Muslim yang bersedia bertaruh nyawa dengannya. Namun tak seorang pun dari barisan kaum Muslim muncul dan maju menjawab tantangan Amr.

Allah SwT menggambarkan rasa takut para sahabat Nabi saat itu dengan begitu gamblang : “Ketika mereka (tentara al-Ahzab) datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat. (QS Al-Ahzab [33] : 10) 1]

Sementara Imam Ali as gelisah, karena tak seorang pun dari sahabat Nabi yang menanggapi tantangan Si JagoanQuraisy. Imam Ali as segera berkata kepada Rasulullah Saw, ”Wahai Rasulullah, izinkan aku maju melawan Amr!”

Rasulullah tidak menghiraukan kata-kata Imam Ali seraya melihat ke segenap wajah-wajah sahabatnya yang tampak pucat-pasi. Imam Ali menunggu jawaban Nabi Saw, tetapi Nabi malah mengatakan, ”Duduklah kamu”

Terdengar lagi suara lantang Amr menggelegar seolah memenuhi langit Madinah:

”Mana orang-orang Muslim yang ingin masuk surga, mari kuantar kalian ke surga lewat pedangku ini!!”

Ejekan Amr tersebut membuat hati Imam Ali semakin panas, dan sekali lagi beliau berkata kepada Rasul, ”Izinkan aku berduel dengannya, wahai Nabiyallah!”

Rasulullah kembali menoleh ke deretan wajah-wajah pucat sahabat-sahabatnya, seolah tidak mendengarkan permintaan Imam Ali dan berkata lagi kepada Imam Ali, ”Duduklah kamu”. Ali bin Abi Thalib menaati titah Rasul Saw dan kembali duduk.

Di dalam suatu riwayat, Amr bin Abda Wudd mulai kesal, karena menunggu tantangannya yang tidak dipenuhi, dia mendengus marah, lalu Amr memotong salah satu kaki kudanya dan melemparkannya ke arah barisan pasukan kaum Muslim sambil berteriak :

”Hei!!! Apakah kalian takut dan ragu atas keyakinan kalian sehingga kalian enggan memenuhi tantanganku atau jangan-jangan kalian tidak lagi percaya akan keberadaan surga?”

Potongan kaki kuda yang jatuh tepat di hadapan para sahabat Nabi serta ringkikan kuda yang memelas karena derita yang dialaminya makin menambah rasa gentar di hati mereka. Tetapi tidak dengan Rasul Saw dan Imam Ali as. Rasulullah Saw masih menunggu respon sahabat-sahabatnya untuk bangkit memenuhi tantangan Amr, tetapi tak seorang pun dari mereka yang bahkan berani memandang wajah Rasulullah Saw.

Ali pun kembali meminta izin Nabi, ”Wahai Rasulullah, izinkan aku menutup sesumbar mulutnya dengan pedangku. Aku yakin aku dapat membunuhnya dengan izin Allah”. Setelah merasa kecewa karena tak seorang pun sahabatnya yang berani turun ke gelanggang tempur, akhirnya Rasulullah Saw mengizinkan Imam Ali as maju untuk berduel dengan Amr bin Abda Wudd.

Inilah pertempuran yang sangat sangat menentukan kelangsungan hidup dakwah Islam. Di dalam banyak riwayat disebutkan bahwa begitu Imam Ali as berdiri dan berlari menyongsong Amr bin Abd Wudd, wajah Rasulullah Saw tampak tegang. Beliau berdoa kepada Allah Swt : “Allahumma hadzaa ‘Aliyyun akhi wabna ‘ammiy falaa tadzarniy wahdan wa ‘alaika tawakkaltu!”

Ya Allah, ini Ali saudaraku, putra pamanku. Jangan engkau biarkan aku seorang diri tanpa dia. Hanya kepada-Mu-lah aku bertawakkal”

Imam Ali berlari mendatangi Amr bin Abda Wudd. Mereka berhadap-hadapan.

“Siapa kamu anak muda ?” tanya Amr dengan suara khasnya yang berat.

“Aku Ali putra Abi Thalib!” jawab Imam Ali tegas.

“O, ternyata kau putra Abi Thalib. Sebaiknya kau kembali ke pasukanmu. Aku tidak tega membunuhmu.”

“Wahai Amr, engkau telah berjanji kepada Tuhan bahwa tak ada seorang Quraisy yang memberimu dua pilihan tanpa engkau pilih salah satunya.” Suara Imam Ali terdengar bening.

“Betul!” jawab Amr, ”Pilihan apa itu?”

“Aku menyerumu untuk menerima Islam dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya!”

“Aku tidak mau!” tegas Amr sambil tersenyum sinis

“Kalau begitu kita bertarung!” kata Imam

“Kembalilah, aku dan ayahmu bersahabat baik, dan aku pun enggan membunuhmu!”

“Demi Allah, sebaliknya aku tidak enggan membunuhmu!” jawab Imam Ali tegas dan jelas.

Mendengar kata-kata Imam Ali terakhir ini, Amr menjadi murka.

“Engkau ingin membunuhku?” Amr maju mendekati Imam Ali dengan pedangnya yang terhunus. Amr masih menganggap enteng Imam Ali yang dianggapnya masih terlalu muda untuk berhadapan dengannya yang sudah sangat berpengalaman dalam bertempur.

Imam Ali mencabut pedang Dzulfiqar.

Tak lama setelah itu mereka berduel. Debu mengepul.

Beberapa lama setelah itu terdengar seruan Allahu Akbar, dan tampak tubuh Amr bin Abda Wudd tewas tersungkur dengan bahu terbelah. Melihat kemenangan berada di tangan Imam Ali, seluruh kaum Muslim bersorak sorai dan meneriakkan takbir, ”Allahu Akbar!!!”

Wajah Rasulullah saw berseri-seri melihat keberhasilan Imam Ali memenangkan pertarungan. Setelah bersujud syukur di atas tanah, beliau berucap, ”Laa saifa illa Dzulfiqar wa laa fataa illa ‘Ali!!!” “Tidak ada pedang kecuali pedang Dzulfiqar dan tidak ada pemuda segagah Ali!”

Filosof Muslim terkemuka, Ibn Sina, mengatakan,”Sayyidina Ali dan Al-Qur’an merupakan dua mukjizat Muhammad Rasulullah Saw!”

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

(Sumber : Kitab al-Irshad Li Mufid; Hamid Al-Husaini, Imam al-Muhtadin; Haekal, Sejarah Muhammad)

Catatan kaki :

1. Di dalam kitab-kitab Sejarah Islam manapun, kisah pertarungan dahsyat ini direkam oleh banyak sejarawan Muslim, baik Sunni maupun Syiah.

Di antaranya adalah Haekal yang menulis :

“Berita keberangkatan mereka ini sampai juga kepada Muhammad dan kaum Muslimin di Madinah. Mereka merasa gentar. Ya, sekarang seluruh kabilah Arab sudah bersatu sepakat hendak menumpas dan memusnahkan mereka, sudah datang dengan perlengkapan dan jumlah manusia yang besar, suatu hal yang dalam sejarah peperangan Arab secara keseluruhannya belum pernah terjadi.

Apabila dalam perang Uhud Quraisy telah mendapat kemenangan atas mereka, ketika mereka keluar menyongsong keluar Madinah, padahal baik jumlah perlengkapan maupun jumlah manusia jauh di bawah pasukan sekutu ini, apalagi yang dapat dilakukan kaum Muslimin sekarang dalam menghadapi jumlah pasukan yang terdiri dari beribu-ribu rnanusia itu – barisan berkuda, unta, persenjataan serta perlengkapan lainnya?!

(M.H. Haekal, Sejarah Muhammad, Bab 18. Perang Khandaq Bani Quraizha)

Iklan

Komentar»

1. al sajjad - Kamis, 14 Juni, 2007

Allahu Akbar!!!
Kisah hayatus sahabah adalah contoh orang orang sukses yang dijanjikan Allah SWT. Maka ikuti dengan ‘baik’, insya Allah kita akan bersama dengan mereka RadhiaLlahu ‘anhum

2. Quito Riantori - Jumat, 15 Juni, 2007

Saya dulu punya buku itu, tapi kedua2nya hilang dipinjam teman. Antum punya? Kalo gak salah penulisnya Yusuf Qandahlawi.
Thx & Salam

3. Dadin - Selasa, 27 Mei, 2008

Sungguh kebenaran sejati tidak akan pernah bisa untuk ditutupi hujah demi hujah telah tampak dengan begitu jelas,akankah kita masih meragukan akan keagungan Ahlul Bayt Rosul??

4. fadil - Jumat, 25 Juli, 2008

asm, ana minta testi nya ya,,
buat ana tampilkan di http://www.rabbaniunand.or.id, sukron…
nama ana fadil

5. Teguh - Rabu, 30 September, 2009

Subhanallah
memang benar Laa saifa illa Dzulfiqar wa laa fataa illa ‘Ali!
Mohon ijin copy yah……
moga tetap eksis dakwahnya

Quito Riantori - Kamis, 1 Oktober, 2009

@Teguh
Silahkan dicopas! Terima kasih, mohon doanya selalu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: