jump to navigation

Apa Itu Cinta Diri? Senin, 18 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

pamela.jpg

“Tidaklah beiman seseorang di antara kamu
sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana
ia mencintai dirinya sendiri”

~ Rasulullah saww, Hadits Riwayat al-Tirmidzi.

Ada keyakinan luas bahwa mencintai orang lain adalah baik, sementara mencintai diri sendiri adalah buruk. Juga ada anggapan bahwa cinta pada diri sendiri sama dengan mementingkan diri sendiri. Apakah ini benar? Jika benar, maka hal ini bertentangan dengan pernyataan hadis di atas yang menganggap mencintai diri sendiri adalah suatu hal yang lumrah. Lalu bagaimana sebenarnya permasalahan ini bisa dipahami? Mari kita mencoba memahami hal ini.

DUA JENIS CINTA DIRI
Sebenarnya tidak ada pertentangan sama sekali antara pandangan yang pertama dengan pandangan yang kedua. Karena sesungguhnya ada dua jenis Cinta Diri. Yang Pertama, adalah Cinta Diri Positif sedangkan Yang Kedua adalah Cinta Diri Negatif. Pada teks hadis di atas cinta kepada diri seperti itu merupakan cinta diri yang positif, bahkan bersifat fitrah, dan yang dimaksud dengan cinta diri yang negatif adalah cinta diri yang sudah mengarah kepada bentuk mementingkan diri sendiri.

APA ITU CINTA DIRI POSITIF?
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki menulis surat kepada Abu Dzarr al-Ghifari (semoga Allah meridhainya). Di dalam suratnya, ia meminta nasihat kepada Abu Dzarr. Di antara nasihat Abu Dzarr tersebut tertulis bahwa beliau menasihati dengan nasihat yang sangat sederhana tetapi mengandung makna yang dalam, ”….Janganlah engkau berbuat jahat terhadap orang yang engkau cintai!”
Laki-laki tersebut terkejut, bagaimana mungkin seseorang bisa berlaku jahat terhadap orang yang dicintainya? Lelaki tersebut bingung dan tidak memahami maksud nasihat Abu Dzarr, sehingga ia pun kembali bertanya di dalam surat keduanya, ”Apakah Anda pernah melihat seseorang yang berbuat jahat terhadap orang yang dicintainya?”

Abu Dzarr pun menjawab dalam suratnya, ”Kecintaanmu kepada dirimu sendiri jelas melebihi kecintaanmu kepada orang lain. Namun demikian jika engkau tidak mentaati Allah, engkau pasti akan disiksa, dan ini berarti engkau telah berbuat jahat terhadap dirimu sendiri”. 1]

Suatu kesalahan logis apabila dikatakan bahwa cinta pada orang lain dan cinta pada diri sendiri tidak dapat saling berdampingan. Jika mencintai sesama manusia merupakan suatu kebajikan, maka mencintai diri sendiri pun tentu merupakan kebajikan, karena sebagaimana orang lain, kita sendiri pun adalah manusia. Tidak ada konsep tentang manusia di mana kita tidak termasuk di dalamnya. 2]

Sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saww bersabda, “Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri” 3] menunjukkan bahwa penghormatan atas integritas dan keunikan diri serta cinta dan pengertian terhadap diri sendiri tidak dapat dipisahkan dari penghormatan dan cinta terhadap manusia lainnya. Cinta pada diri sendiri memiliki kaitan yang tak terpisahkan dengan cinta pada semua makhluk lainnya.
Kita juga diperintahkan Allah SwT untuk menyayangi diri kita beserta keluarga kita dengan menjaga dan memeliharanya dari kecelakaan dan bencana terperosok ke dalam siksa api neraka, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu!” (QS Al-Tahrim [66] ayat 6) Tentu saja pola cinta diri seperti ini bukan saja positif dan dibenarkan, bahkan diperintahkan oleh Tuhan.
Dengan demikian cinta diri dan cinta kepada orang lain bukan merupakan alternatif. Sebaliknya, senantiasa harus akan ada sikap cinta terhadap diri sendiri pada orang-orang yang mampu mencintai orang lain. Pada prinsipnya, cinta tidak akan terbagi sejauh hubungan antara obyek dan diri sendiri diperhatikan. 4]

Pergumulan dengan cinta diri adalah pergumulan dengan keterbatasan diri. Diri ini harus dimekarkan, atau dengan kata lain kepribadian diri kita mesti direntangkan hingga mampu menggapai seluruh manusia bila bukan seluruh alam ciptaan. 5]

Pada hakikatnya, semua maujud yang ada di alam ini termasuk diri kita sendiri merupakan pengejewantahan (manifestasi) dari al-Haqq, sehingga cinta kita kepada diri kita, manusia lainnya, makhluk-makhluk lainnya dan alam semesta, sejatinya merupakan cinta kita kepada al-Haqq, Allah Rabb al-‘Alamin.

APA ITU CINTA DIRI NEGATIF?
Sebaliknya, seseorang yang mencintai dirinya sendiri, bahkan kepada orang lain sekali pun, tetapi menganggap bahwa dirinya, atau orang lain tidak memiliki keterhubungan dengan al-Haqq, adalah tidak saja merupakan bentuk cinta diri negatif, bahkan pola pemikiran seperti ini merupakan jenis syirik yang teramat besar atau pandangan dualisme yang dapat menimbulkan sekian banyak dilema-dilema di dalam realitas kehidupan manusia. Bentuk cinta diri seperti inilah yang dikatakan sebagai mementingkan diri sendiri. Cinta seperti ini bukanlah cinta yang sesungguhnya, karena cinta yang sejati harus mampu melepaskan manusia dari egoisme.

KISAH SIRRI AL SAQATHI
Konon Sirri al-Saqathi, salah seorang kaum Sufi, pernah berkata, ”Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar kepada Allah hanya karena ucapan al-hamdulillah yang keluar dari mulutku” Tentu saja banyak orang menjadi bingung dengan pernyataannya itu lalu bertanya kepadanya, ”Bagaimana itu bisa terjadi?”

Sirri berkata, ”Saat itu aku memiliki toko di Baghdad. Suatu saat aku mendengar berita bahwa pasar Baghdad hangus dilalap api, padahal tokoku berada di pasar tersebut. Aku bersegera pergi ke sana untuk memastikan apakah tokoku juga terbakar ataukah tidak? Seseorang lalu memberitahuku, ”Api tidak sampai menjalar ketokomu” Aku pun mengucapkan, ”Alhamdulillah!” Setelah itu terpikir olehku, ”Apakah hanya engkau saja yang berada di dunia ini? Walaupun tokomu tidak terbakar, bukankah toko-toko orang lain banyak yang terbakar. Ucapanmu : alhamdulilah menunjukkan bahwa engkau bersyukur bahwa api tidak membakar tokomu. Dengan demikian, engkau telah rela toko-toko orang lain terbakar asalkan tokomu tidak terbakar! Lalu aku pun berkata kepada diriku sendiri lagi, ”Tidak adakah barang sedikit perasaan sedih atas musibah yang menimpa banyak orang di hatimu, wahai Sirri?” (Di sini Sirri menyitir hadis Nabi, ”Barangsiapa melewatkan waktu paginya tanpa memerhatikan urusan kaum muslimin, niscaya bukanlah ia termasuk dari mereka (kaum muslimin)”). Sudah 30 tahun saya beristighfar atas ucapan alhamdulillah itu. 6]

Kisah tentang Sirri al-Saqathi ini merupakan sebuah contoh bentuk cinta diri negatif yang bisa kita katakan sebagai sifat mementingkan diri sendiri. Cinta diri seperti ini menutup pintu bagi segala bentuk perhatian yang sungguh-sungguh pada orang lain. Orang yang mementingkan diri sendiri hanya tertarik pada diri sendiri, dia menghendaki segala-galanya bagi dirinya sendiri, tidak merasakan kegembiraan dalam hal memberi dan hanya senang jika menerima. Dunia luar hanya dipandang dari segi apa yang dapat dia peroleh. Dia tidak berminat untuk memerhatikan kebutuhan-kebutuhan orang lain dan tidak menghargai kodrat serta integritas mereka. Orang macam ini tidak bisa melihat apa-apa selain dirinya sendiri. Dia menilai setiap orang atau lainnya hanya semata dari sisi manfaat buat dirinya. Pada dasarnya orang macam ini tidak punya kemampuan untuk mencintai.

Cinta diri dalam bentuk ini bukanlah sesuatu yang sesungguhnya maujud. Cinta semacam ini sesungguhnya hanyalah suatu bentuk kegandrungan seseorang pada dirinya sendiri. Karena itu cinta diri seperti ini harus disingkirkan. Sebaliknya cinta diri yang merupakan fithrah yang ada pada diri manusia seperti keinginan untuk memuliakan diri, mensucikan diri dan hal-hal semacam itu tentu saja tidak boleh diabaikan atau pun dibuang. Perbaikan dan penyempurnaan diri (nafs) manusia justru merupakan kemestian dan keharusan bagi manusia untuk mewujudkannya. 7]

Cinta sejati justru meruntuhkan kendala defensif dan menggantikannya dengan cinta kepada selain diri sendiri. Sebelum manusia mampu keluar dari dirinya sendiri, ia adalah lemah, kikir, kaku, tamak, anti kemanusiaan, pemberang, serakah dan sombong. Jiwanya tidak memancarkan kecemerlangan, tidak bersemangat atau bergairah, selalu dingin dan terpencil. Namun begitu ia keluar dari ‘diri’ dan meruntuhkan kendala-kendala defensif ini, sifat dan tabiat-tabiat buruk yang ada dalam ‘diri’ itu pun runtuh! 8]

Orang yang mementingkan diri sendiri tidak terlalu banyak mencintai dirinya sendiri, justru dia sangat kurang mencintai dirinya-bahkan sesungguhnya ia membenci dirinya. Kurangnya kesukaan dan perhatiaan terhadap dirinya yang merupakan ungkapan dari kurangnya produktifitas menyebabkan orang tersebut diluputi rasa hampa dan derita kegagalan. Karena itulah ia menjadi tidak bahagia dan selalu diliputi rasa takut. 9]

Orang yang mementingkan diri sendiri itu narsistis, mereka mengalihkan cintanya untuk orang lain kepada dirinya sendiri. Memang benar bahwa orang-orang yang mementingkan diri sendiri tidak memiliki kemampuan untuk mencintai orang lain, tetapi lebih dari itu, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk mencintai dirinya sendiri. 10]

Orang yang mencintai keluarganya tetapi sama sekali tidak berperasaan terhadap orang lain menunjukkan ketidakmampuannya untuk mencintai. 11]

Begitu juga kecintaan kepada suku, keturunan atau kebangsaan yang berlebihan akan menciptakan ego kesukuan, keturunan atau kebangsaan. Dan Rasulullah Saw menyebut kecintaan yang berlebihan seperti ini sebagai salah satu sifat-sifat jahiliyyah. Sifat psikis batin ini terlihat ketika seseorang melindungi dan membela keluarganya serta orang-orang yang memiliki pertalian atau hubungan tertentu dengannya, baik itu keyakinan agama, ideologi, tanah atau tempat tinggal. 12]

Tingkat kecintaan yang berlebihan (‘ashabiyyah) seperti ini dapat mengakibatkan tercerabutnya iman dari dalam hatinya. Rasulullah saww bersabda, ”Siapa yang melakukan ‘ashabiyyah dan siapa yang karena kepentingannya melakukan ‘ashabiyyah, maka terlepaslah ikatan iman dari lehernya” 13]

CINTA DIRI YANG PALING BERBAHAYA
Pada kondisi kejiwaan tertentu, cinta diri bahkan — menurut Imam Khomeini qs — merupakan akar seluruh dosa. 14] Cinta diri seperti inilah yang dikatakan sebagai egoisme. Pada tahap kejiwaan seperti ini seseorang merasa dirinya telah mencapai suatu tahap kesempurnaan. Kita menganggap diri kita telah sedemikian sempurna sementara di mata kita orang lain penuh cacat dan cela. Kita sibuk melihat cela dan aib-aib orang lain tetapi lalai menengok dan bercermin untuk melihat keburukkan yang kita miliki. Oleh karena itulah cinta diri seperti ini merupakan bentuk kelalaian. Karena jika kita secara jujur melihat kejelekkan diri kita sendiri niscaya kita akan bersegera memperbaiki kerusakkan jiwa yang ada pada diri kita sendiri itu. Jika kita menyadari hal ini dan bersegera membenahi jiwa dan diri kita sejak dini, maka hal itu juga merupakan bentuk cinta diri namun tentunya dalam bentuk yang positif.

BERHALA TERBESAR DARI SEGALA BERHALA
Sebaliknya, jika perhatian kita kurang terhadap usaha-usaha untuk memperbaiki diri kita sendiri maka bentuk cinta diri seperti ini adalah bentuk yang negatif, yang pada kondisi tertentu bisa menjadi berhala (idol) terbesar dan lebih buruk dari semua berhala. Cinta diri seperti ini adalah raja dari segala berhala yang akan memaksa kita untuk menyembahnya dengan kekuatan yang lebih besar daripada berhala-berhala yag lain. Sebelum seseorang mampu menghancurkan berhala ini, niscaya ia tidak akan berpaling kepada Allah. Allah dan berhala, egoisme dan keilahian tidak bisa berada dalam hati kita secara bersamaan. 15]

Imam Khomeini qs mengatakan, ”Waspadalah bila (semoga Tuhan melindungi kita) cinta dunia dan cinta diri mulai meningkat dalam dirimu sampai ke suatu titik di mana Iblis mampu mengambil keimananmu. Dikatakan bahwa seluruh usaha Iblis ditujukan kepada hal ini, seluruh tipu dayanya, di malam dan siang hari, bertujuan untuk mencabut keimanan manusia. Tak seorang pun dapat menjamin bahwa kalian akan tetap mempertahankan iman kalian selamanya. Keimanan kalian mungkin diberikan hanya sebagai pinjaman, sehingga pada akhirnya Iblis akan berhasil mengambilnya kembali dari kalian dan kalian akan meninggalkan dunia ini dengan penuh rasa benci pada Tuhan dan para awliya-Nya.” 16].

Jadi pergumulan dengan diri adalah pergumulan dengan keterbatasan diri, karena itu cinta diri yang negatif tidak lain merupakan keterbatasan atas proses konsepsi dan motivasi. Cinta sejati mengarahkan kasih sayang dan naluri manusia ke luar dirinya. Cinta sejati meluaskan eksistensinya dan mengubah titik fokus di dalam wujud manusia. Dengan alasan yang sama, cinta sejati adalah faktor moral yang agung dan mendidik, dengan syarat bahwa ia mesti memperoleh tuntunan yang baik dan digunakan dengan tepat. 17]

DIALOG AL HALLAJ DENGAN IBLIS

Diriwayatkan di dalam kisah-kisah sufi bahwa ketika sufi besar al-Hallaj dijatuhi hukuman mati, ia diseret ketiang gantungan. Beliau disiksa dan dihinakan oleh pemerintahan pada masa itu. Saat al-Hallaj meringkuk lemah di tiang kematiannya, Iblis datang dan bertanya kepadanya, ”Kamu telah mengatakan ‘Aku’ dan aku pun telah mengatakan ‘Aku’. Tetapi mengapa kamu mendapatkan ampunan dari Tuhan yang Mahakekal sementara aku mendapatkan kutukan abadi?” Al-Hallaj menjawab, “Engkau mengatakan ‘Aku’ seraya memandang besar pada dirimu sendiri, sementara aku menjauhkan diriku sendiri dari diri (ego). Oleh karena itu, aku memperoleh ampunan dari Tuhan sedangkan engkau mendapatkan kutukan. Memandang besar diri adalah hal yang tidak layak, sedangkan melepaskan diri (ego) adalah perbuatan baik di atas semua kebaikan!” 18]

Abu Sa’id Abi al-Khayr bersyair :

Selama egomu menyertaimu,

Engkau takkan pernah tahu apa-apa tentang Tuhan,

Karena ego itu tidak menyukai al-insan al-kamil 19]

Dan Rumi berujar :
Baju siapa pun yang lumat oleh cinta,
Tercuci bersih dari tamak dan noda! 20]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki
1. Muhsin Labib & Farauk bin Dhiya, Kisah Para Pencinta Allah, hal. 41, Penerbit Rosda, Cet I, 1995, Khalil al-Musawi, Bagaimana Menyukseskan Pergaulan Anda, hal. 21.
2. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 99.
3. Hadits Riwayat Ibn Majah.
4. Erich Fromm, hal. 100.
5. Murtadha Muthahhari, Ali bin Abi Thalib di hadapan kawan dan lawan, hal. 50.
6. Murtadha Muthahhari, Falsafah Akhlaq, hal 16-17.
7. Murtadha Muthahhari, Ali bin Abi Thalib di hadapan kawan dan lawan, hal. 50.
8. Murtadha Muthahhari, Ali bin Abi Thalib di hadapan kawan dan lawan, hal. 49.
9. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 103
10. Ibid.
11. Ibid, hal. 101.
12. Imam Khomeini, Empat Puluh Hadits I, hal. 141.
13. Al-Kulayni, Ushul Kafi, hal 419.
14. Imam Khomeini, Mata Air Kecemerlangan, hal. 90.
15. Imam Khomeini, Rahasia Basmalah dan Hamdalah, hal. 66.
16. Imam Khomeini, Mata Air Kecemerlangan, hal. 92.
17. Murtadha Muthahhari, Ali bin Abi Thalib di hadapan kawan dan lawan, hal. 50.
18. Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamnia, Para Sufi Agung, hal. 34-35.
19. Ibid, Para Sufi Agung, hal. 55
20. Jalaluddin Rumi, Matsnawi I
Dikutip dari buku Keajaiban Cinta.

Iklan

Komentar»

1. Rizma - Selasa, 19 Juni, 2007

Wah,, keren banget,,

tapi kayanya jaman sekarang yang namany bersenang senang saat orang sedih dan kita bahagia itu dianggap gapapa,, malah dipikir aneh orang yang tersinggung itu,, padahal kita harusnya menghargai perasaan sesama, ya,,

Kita sibuk melihat cela dan aib-aib orang lain tetapi lalai menengok dan bercermin untuk melihat keburukkan yang kita miliki

Iya,, malah Ma bingungnya kalo orang yang mencela yang lain tapi pake pake nama agama buat ngedukung ke-egoisannya,,

Some life, eh,,

salam,,

2. Quito - Rabu, 20 Juni, 2007

Komentar yg menarik, Rizma…thx!

3. tawakkalgrenity - Minggu, 17 Oktober, 2010

cintailah dirimu , karena jika bukan dirimu yang mencintai dirimu , siapa lagi yang akan mencintai dirimu , , ,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: