jump to navigation

5 Kecenderungan Manusia Selasa, 19 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

horsefarm.jpg

Satrio Pinandito Motinggo

“It must be borne in mind that the tragedy of life does not lie in not reaching your goal. The tragedy of life lies in having no goal to reach.” Benyamin E. Mays mengatakan, “Harus ada di dalam benak anda bahwa tragedy hidup bukan berada dalam mencapai tujuan. Tragedi hidup ada dalam ketiadaan ambisi untuk mencapai(nya). “
Jangan heran jika banyak orang yang dalam menempuh hidupnya seperti meraba-raba dalam kegelapan. Mereka selalu merasa tidak puas dan tidak senang mengerjakan satu pekerjaan atau hal-hal lainnya. Segala sesuatu yang mereka kerjakan seolah tidak ada hasilnya. Mengapa demikian?
Mungkin saja karena mereka tidak memiliki pengetahuan. Yaitu pengetahuan tentang tujuan hidup.
Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap obyek mempunyai tujuan. Misi sains pun menemukan tujuannya di dalam obyek-obyek tertentu. Sains dalam ilmu kedokteran, filsafat, dan semua aspek ilmu pengetahuan muncul dari hasrat untuk menemukan tujuan berbagai macam obyek. Namun semua tujuan pengetahuan tersebut berbeda dengan tujuan pengetahuan mistik. Pengetahuan mistik bertujuan untuk menemukan tujuan hidup manusia.

Sudah sebegitu jauh pun perjalanan hidup manusia, masih banyak orang yang belum menemukan tujuan hidupnya. Padahal berbagai pengalaman telah mereka kecap, baik diakhiri dengan keberhasilan mau pun kegagalan.
Ini menjadi sebuah kenyataannya, bahwa sebenarnya mereka tidak ‘hidup’.
Mungkin kita lihat banyak orang memiliki banyak harta, memiliki posisi dan berbagai kenyamanan serta fasilitas yang menyenangkan, namun tetap saja masih ada di antara mereka yang merasa kehilangan ‘sesuatu’, sesuatu yang utama, yang dapat membuat mereka bahagia, yakni pengetahuan tentang tujuan hidup. Inilah yang tidak mereka miliki.
Manusia sedemikian tertarik dengan ribuan hal. Awalnya ia tertarik pada satu hal, kemudian tertarik kepada hal lainnya, dan seterusnya dan seterusnya, tetapi ia tidak pernah menemukan tujuan hidupnya. Mereka membawa anak-anak mereka ke lembaga-lembaga pendidikan, tetapi tidak pernah berpikir tentang tujuan hidup mereka sendiri. Mereka hanya melihat apa yang bermanfaat bagi anak-anak mereka, tetapi tidak memberikan perhatian sejak dini bahwa anak-anak harus diberi pengetahuan tentang apa tujuan hidup mereka.
Betapa banyak hidup manusia hancur karena alasan ini. Mungkin saja seorang anak dibesarkan dengan berbagai fasilitas, akan tetapi ironisnya, ia semakin dijauhkan dari pemahaman akan tujuan hidupnya. Betapa pun tidak bahagianya seseorang, jika ia mengetahui tujuan hidupnya, ia seperti telah menyalakan obor yang menerangi hidupnya. Mungkin ia tidak mampu untuk menyelesaikan sesuatu, tetapi saat ia mengenal tujuan hidupnya, ia akan mendapatkan segala harapan dan kekuatan untuk merengkuh kebahagiaan. Sepuluh orang yang mengetahui tujuan hidupnya, memiliki kekuatan (power) yang jauh lebih besar ketimbang seribu orang yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Di samping itu, apa yang kita sebut salah atau benar, baik atau buruk, berbeda-beda didasarkan pada tujuan hidup masing-masing orang. Semakin dalam seseorang mempelajari hidup, semakin besar kesadarannya bahwa tujuanlah yang dapat membedakan mana yang salah atau benar, baik atau pun buruk, bukan perbuatan. Semakin kita maju, semakin pula kita menyadari, dan semakin luas pula tujuan hidup kita. Kita memulai kehidupan kita dengan tujuan individual, kemudian kita sampai pada suatu tahap dimana tujuan setiap jiwa adalah satu dan sama. Hal ini dapat dipelajari dengan mempelajari berbagai kecenderungan manusia. Manusia memiliki kecenderungan yang tersembunyi di dalam hatinya yang terdalam. Bila manusia hanyut dalam kehidupan duniawi, ia akan melupakan tujuan utamanya. Akan tetapi pada saat yang sama ada beberapa kecenderungan yang sama yang ada pada manusia. Hal ini merupakan salah satu petunjuk bahwa sebenarnya tujuan utama kehidupan manusia adalah satu dan sama.

LIMA KECENDERUNGAN MANUSIA
Yang pertama dari lima kecenderungan adalah cinta akan pengetahuan. Dan bukan hanya kaum intelektual dan para cendikiawan saja yang mencari pengetahuan, bahkan bayi pun mempunyai hasrat untuk mengetahui suara-suara. Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan manusia saat ini telah ditempatkan di dalam situasi dimana mereka tidak pernah mempunyai waktu sesaat pun untuk memperoleh pengetahuan yang semestinya mereka peroleh. Mereka bekerja dari pagi hingga malam, dan begitu hanyut di dalamnya. Dahaga akan pengetahuan pun seolah sirna dan pikiran mereka menjadi tumpul. Kita telah membuat hidup kita seperti ini. Mungkin kita menyebutnya sebagai kemajuan dan kebebasan, tetapi sebenarnya pikiran kita terbelenggu.
Jika semua pemikiran dan semua kehidupan ini hanya diisi dengan mempelajari sesuatu bagaimana cara mencari makan atau bagaimana bisa menjadi kaya dan yang semacam itu, maka kapankah pemikiran dan pikiran kita diisi dengan sesuatu yang dibutuhkan jiwa?
Di antara orang-orang yang memiliki sedikit kebebasan dalam hidupnya, yang memiliki waktu berpikir untuk memperoleh beberapa pengetahuan, ada yang mencari kesenangan baru. Mereka berpikir bahwa belajar berarti hanya untuk mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Ada beberapa pencari yang menemukan bahwa dari setiap gagasan, betapa pun sederhananya, menjadi ilham bagi pikirannya. Dan ilham tersebut mengajarkan sesuatu kepadanya sesuatu yang tidak pernah ia ketahui selama ini.
Kecenderungan kedua adalah cinta kepada kehidupan. Bukan hanya manusia yang cinta kepada hidupnya, bahkan serangga kecil pun akan melarikan diri jika hendak disentuh. Indikasi apakah ini? Bisa dikatakan bahwa ini menunjukkan setiap makhluk ingin hidup, dengan kata lain secara naluriah ia ingin mempertahankan hidupnya walaupun ia hidup dalam keadaan susah dan tidak bahagia.
Bisa saja di saat ditekan kesedihan atau kesulitan hidup seseorang ingin melakukan bunuh diri, akan tetapi jika ia berada dalam kondisi normal, ia tidak akan pernah berpikir ke arah itu. Bukan karena dunia ini begitu sayang padanya, tetapi karena naluri dan kecenderungan jiwanya untuk bertahan hidup.
Apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh para Nabi, orang-orang suci, filosof, mistikus, dan guru-guru besar? Sebenarnya, mereka berjuang untuk menemukan obat yang dapat mengobati manusia dari kematian. Tapi kematian yang bagaimana?
Jiwa akan merasakan kebahagiaan apabila ia bebas dari beban fisiknya. Selama ia berpikir bahwa ia hanyalah tubuh jasadinya, selama itu pula ia mati. Secara intelektual hal ini tidak akan dapat dimengerti, karena jiwa harus menyaksika jiwa itu sendiri, dengan kata lain jiwa harus menyadari dirinya. Nabi Muhammad bersabda, ”Mut qabla an tamuut!” Matilah sebelum engkau mati.” Ada dua jenis kematian di dalam kata-kata Nabi ini. Kematian dalam kata pertama dalam kalimat di atas adalah mati hissi, yaitu kematian dalam pengertian berpisahnya nyawa dari badan. Kematian dalam kata kedua adalah kematian ma’nawi, kematian dalam pengertian maknawi.
Orang yang yang telah mati secara ma’nawi adalah orang yang telah mencapai tahapan fana. Nabi Muhammad saww mengatakan tentang Imam Ali as, ”Barangsiapa yang ingin melihat orang mati yang berjalan, lihatlah Ali bin Abi Thalib” 2]
Siapa pun yang ingin mencapai-Nya harus mematikan kesadaran semu-nya agar kesadaran sejatinya hidup. Dengan kata lain, seseorang yang ingin mendapatkan kesadaran sejatinya mesti mematikan ego (nafs) nya
Saat seseorang berpikir bahwa suatu hari ia harus meninggalkan dunia ini, ia akan merasa sangat sedih, karena ia harus meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Karena, siapa pun yang hidup tidak berhasrat untuk mati.
Kecenderungan ketiga manusia adalah memperoleh kekuatan (power) dengan jalan apa saja. Setiap manusia berjuang di sepanjang hidupnya untuk memperoleh kekuatan. Alasannya adalah jiwa berjuang agar menjadi ada (exist) melawan gangguan hidup, karena berbagai kondisi hidup menyapu bersih segala sesuatu yang tidak mempunyai kekuatan. Ketika setangkai bunga tidak memiliki kekuatan, maka ia pun jatuh. Daun-daun yang tidak lagi memiliki kekuatan jatuh berguguran. Secara alami jiwa berhasrat menjaga kekuatannya. Oleh karena itu setiap individu mencari kekuatan. Namun, biar bagaimana pun juga kekuatan itu terbatas. Suatu ketika manusia melihat bahwa kekuatan orang lain lebih besar daripada yang ia miliki. Ia pun merasa terbatas dan kecewa. Bangsa-bangsa yang kuat sekalipun bisa hancur dalam waktu singkat. Sebut saja Uni Soviet. Dahulu ia menjadi salah satu dari dua negara adidaya di dunia. Dan kini, ia telah binasa ditelan sejarah. Amerika Serikat sekalipun, bisa saja dalam waktu dekat mengalami nasib yang serupa dengan Uni Soviet. Maka kekuatan yang sebenar-benarnya kekuatan adalah kekuatan yang tersembunyi. Ia adalah kekuatan Yang Maha Kuasa. Al-Quran yang mulia mengatakan, “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Quran Surah Al-Munafiquun [63] ayat delapan) Jalinan hubungan dengan kekuatan tersembunyi ini, membuat seseorang memperoleh kekuatan yang dibutuhkannya. Rahasia segala keajaiban dan fenomena orang-orang arif dan orang-orang suci terletak di dalam kekuatan mereka. Mereka mampu menarik kekuatan itu dari dalam batin mereka. Ada orang-orang yang sakti yang bisa berjalan di atas api, atau memotong-motong tubuhnya dan mengembalikannya seperti semula. Tetapi, ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada ini. Kekuatan yang memberikan bukti bahwa ruh memiliki kekuatan di atas materi. Namun ruh terkubur oleh materi selama beberapa waktu dan membuat manusia menjadi tak berdaya.
Kecenderungan manusia yang keempat adalah ia ingin bahagia. Manusia mencari kebahagiaan dalam kesenangan dan kenikmatan, tetapi semua itu hanyalah bayang-bayang dari kebahagiaan. Kebahagiaan yang sesungguhnya berada di dalam hati manusia. Tetapi manusia tidak mencarinya. Ia mencari kebahagiaan di dalam kesenangan, dan setelah kesenangan berlalu, ia pun kecewa dan tidak bahagia lagi. Dan karena jiwa tidak menemukannya, ia selalu mencari sesuatu yang dapat membuatnya bahagia. Tetapi apa yang didapatinya tidak benar-benar membuatnya bahagia, yaitu kebahagiaan sejati.
Dosa dan kebajikan, benar dan salah, baik dan buruk, bisa dibedakan atas dasar prinsip ini.
Nabi Saw pernah ditanya, “Apa itu dosa ya Rasulullah?” Nabi Saw menjawab, ‘Yang membuat hatimu gelisah.”
Kegelisahan tidak pernah membuat seseorang menjadi bahagia. Kebajikanlah yang benar-benar membawa kebahagiaan sejati. Yang disebut benar adalah yang mengarah kepada kebahagiaan. Yang dinamakan baik adalah baik karena memberikan kebahagiaan. Jika tidak, ia tidak bisa disebut baik, benar, atau bajik.
Kecenderungan yang kelima adalah mencari kedamaian. Bukan dalam ketentraman, kenyamanan, atau kesunyian yang membuat manusia merasa damai. Kedamaian adalah seni, seni yang harus dipelajari. Seni para mistikus membuat seseorang mengalami kedamaian. Jika memang alamiah bagi jiwa untuk mengalami kedamaian, kenapa orang harus melakukan latihan, meditasi, atau kontemplasi. Jawabannya adalah memang alamiah jiwa mengalami kedamaian, tetapi kehidupan di dunia ini sudah tidak lagi alami. Burung-burung dan semua binatang mengalami kedamaian, sementara manusia tidak. Karena manusia menjadi rampok atas kedamaiannya sendiri. Manusia telah menjadikan hidupnya sedemikian palsunya sehingga ia tidak pernah lagi dapat membayangkan betapa jauh ia menyimpang dari kehidupan normal, yaitu kehidupan yang alami. Atas dasar inilah kita membutuhkan seni menemukan kedamaian di dalam diri kita.
Lalu apakah kedamaian itu? Kedamaian adalah kondisi alami dari jiwa. Kondisi yang tidak alami membuatnya resah. Kondisi pikiran yang normal itu tenang, jiwanya tidak mengalami sesuatu kecuali ketenangan.
Setiap orang yang berpikir akan bertanya, apa tujuan penciptaan di dunia ini? Jawabannya adalah untuk memecahkan kehidupan yang monoton. Serulah Allah, serulah Yang Wujud, serulah Sumber dan Tujuan segala sesuatu. Hanya Dia. Dia ingin mencipta agar ada yang mengenal-Nya. Tujuan penciptaan adalah agar setiap jiwa mengenal sumber dan tujuannya, pasrah kepadaNya dan menjalin hubungan dengan-Nya, dengan keindahan, kebijaksanaan, dan kekuatan, sehingga ia dapat menyempurnakan dirinya. 2]
Horace Walpole mengatakan,“Berbuat dengan akal sehat, sesuai dengan momennya, adalah sebaik-baik kebijaksanaan dan sebaik-baik filsafat adalah mengerjakan tugas-tugas, memandang dunia sebagaimana adanya, pasrah sepasrahnya, mensyukuri kebaikan sebanyak kebahagiaan yang telah kita terima, apa pun bentuknya.” 3]

Catatan Kaki
1] ‘Allamah Thabathaba’i, Menapak Jalan Spiritual hal. 104.
2] Hazrat Inayat Khan, The Purpose of Life.
3] Horace Walpole, 4th Earl of Orford (1717-1797), seorang novelis Inggeris kelahiran London. Setelah kuliah di Eton College dan Universitas Cambridge, beliau melancong ke Perancis dan Itali bersama sahabatnya, seorang penyair Inggeris, Thomas Gray.

Iklan

Komentar»

1. Cahaya Islam - Selasa, 19 Juni, 2007

Salam…
kecenderungan meraih kebahagian abadi…….. yang ada pada manusia mukmin..

2. Quito Riantori - Selasa, 19 Juni, 2007

Salam juga. Iya betul…

3. Mendapatkan vs Memiliki « Ma-Me-Ma,, Just being Me!!!! - Rabu, 4 Juli, 2007

[…] Ma ga tau deh,, […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: