jump to navigation

Sufisme Dan Hakikat Manusia Rabu, 20 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

sufisme.jpg

Kata Sufi, mungkin diperoleh dari sebuah kata dari bahasa ‘Arab shuf yang artinya kain yang terbuat dari kulit binatang (kambing atau unta). Di dalam banyak riwayat disebutkan bahwa jubah Rasulullah saww terbuat dari kain kulit binatang yang kasar. Sebagaian para sahabat beliau mencoba mengikuti beliau, dengan memakainya di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Adapun tujuan penggunaan pakaian ini adalah untuk menunjukkan kesederhanaan hidup mereka. Dengan menggunakan pakaian yang kasar, mereka ingin ‘menikmati’ hidup sebagai orang-orang yang fakir (faqir). 1]

Kaum sufi biasa menyebut diri mereka sebagai para fakir di jalan Tuhan. Kata faqir sendiri di dalam bahasa Arab berarti butuh. Sehingga hal ini berarti keinginan mereka, kaum sufi, untuk selalu ‘merasa’ butuh kepada Yang Maha Kaya.
“Hai manusia, kalianlah orang-orang yang butuh kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.(QS Al-Fathir [35] ayat 15)

Perasaan inilah yang mereka jaga dengan berbagai disiplin ketat demi memperoleh kedekatan dengan-Nya. Mereka yakin, bahwa semakin kuat rasa kebutuhan mereka kepada Tuhan maka semakin dekatlah mereka kepada-Nya. Inilah tujuan seorang Sufi, yang tiada lain adalah Tuhan itu sendiri. Semua yang mereka lakukan, termasuk ibadah dan amal-amal shalih mereka, semata-mata hanya mengharapkan Tuhan, bukan selain-Nya.

BAGAIMANA MENGENAL TUHAN?
Bagi sang Sufi, Tuhan hanya bisa dikenal lewat nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan seluruh nama dan sifat-Nya termanifestasi di alam dan di dalam diri manusia itu sendiri. “Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk (alam) dan (bahkan) pada diri mereka sendiri” (QS 41 : 53)

Dan sabda Nabi saww, ”Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu’ –
Barangsiapa mengenal dirinya maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya’
(al-hadits).

Karena itulah para Sufi berusaha mengenal diri mereka sendiri, yaitu kedirian mereka sendiri atau manusia itu sendiri, demi mencapai pengenalan kepada Tuhannya. Apa atau siapakah manusia itu?

ASAL DAN ESENSI MANUSIA
Manusia adalah misteri Tuhan. Sebuah misteri, di mana ia (manusia) diciptakan dari tanah lempung dan ruh yang ditiupkan Tuhan ke dalam dirinya, yang karenanya para malaikat diperintahkan Tuhan untuk sujud.

Di dalam Islam, siapa pun tidak diperkenankan sujud kepada selain Tuhan, tetapi seperti kita lihat di dalam ayat di bawah ini, Tuhan justru memerintahkan para malaikat sujud kepada Adam as, yang sejatinya adalah manusia : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : “Sesungguhnya Aklu akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya Ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur bersujud kepadanya” (QS 38 : 71-72)

Ayat ini merupakan salah satu indikasi bahwa manusia adalah misteri Tuhan. Dan di dalam diri manusia inilah Ruh Ilahi (Divine Spirit) atau percikan Ilahi (Divine Spark) berada dan menjadi esensi manusia. Tubuh manusia terbuat dari unsur-unsur materi : api, bumi, udara, dan air. Dan juga dilengkapi lima indera eksternal : penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan serta lima fakultas internal : pikiran yang bebas, imajinasi, kesangsian, ingatan, dan keinginan. Semua kuatan-kekuatan ini, baik indera-indera eksternal maupun fakultas-fakultas internal, berfungsi melayani hati (qalb). Hati yang dimaksud di sini bukanlah hati yang bersifat fisik, tetapi hati yang bersifat immateri/nonmateri yang membedakan manusia dengan binatang.

Imam Musa al-Kazhim as mengatakan kepada muridnya Hisyam tentang ayat tersebut, ”Wahai Hisyam! Sesungguhnya Allah telah berfirman,”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki qalbu” (QS Qaaf [50] ayat 37), qalbu yang dimaksud di sini adalah akal!” Imam melanjutkan membaca, ”Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan hikmah kepada Luqman” (QS 31:12), hikmah dalam ayat ini adalah : pemahaman dan akal!” 2]

MANUSIA : SANG MIKROKOSMOS
Posisi manusia di alam semesta ini teramat penting. Manusia dalah Mikrokosmos, miniatur dari alam semesta yang merupakan Makrokosmos. Hal ini bisa kita lihat pada aspek fisik manusia yang mengandung semua unsur yang sama dengan unsur-unsur yang ditemukan di alam ini.

Sedangkan pada aspek-aspek batin manusia, terkandung kualitas-kualitas potensial dari semua ciptaan-Nya, dari yang paling rendah, setan dan hewan, sampai yang paling tinggi adalah malaikat. Kualitas-kualitas nafsu syahwat dan mementingkan diri sendiri yang ada pada manusia, terdapat juga pada hewan babi; kualitas kecemburuan dan kemarahan ada pada anjing; kelicikkan dan sifat curang juga ada pada setan. Adapun kekuatan dan cahaya ruhaninya ada pada malaikat. Tetapi yang paling penting, melalui cinta dan ketaatan kepada Tuhan, manusia dapat mencapai suatu kualitas yang lebih tinggi dari para malaikat sekali pun dan oleh karena itulah Tuhan memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada manusia.

Bahkan Allah tundukkan semua yang ada di langit maupun di bumi ini bagi manusia. “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah menundukkan bagimu malam dan siang dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya” (QS Ibrahim [14] ayat : 32-34)

Jika alam (makrokosmos) diciptakan untuk melayani manusia, maka manusia diciptakan untuk melayani Tuhan dan memang itulah tujuan dari penciptaan manusia. “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi (melayani)-Ku” (QS Al-Dzaariyaat [51] :56)

Bagi mereka yang menyimpang dari tujuan penciptaannya, ia menjadi tidak layak memperoleh bimbingan dan petunjuk dari Tuhannya. Dan sebagai konsekuensinya, mereka akan ditinggalkan dalam cengkraman dan pengaruh kekuatan-kekuatan hewani dan setaninya, yang akan menyeret mereka ke tempat yang paling rendah dan hina.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Catatan Kaki
1. Tentu saja cara berpakaian seperti ini tidak bisa dipraktikan pada saat ini, karena berpakaian seperti itu bisa menimbulkan perhatian banyak orang. Jika seseorang melakukan suatu praktik keshalihan tetapi juga ingin diperhatikan oleh banyak orang, maka hal ini bisa jatuh ke dosa ‘ujub.
2. Bihar al-Anwar 78 : 299

Iklan

Komentar»

1. ahmad - Rabu, 19 September, 2007

kenapa manusia mengabdi (melayani) Tuhan
seharusnya mengabdi dan tidak melayani…..?
Tuhan tidak butuh apa apa……………………..!

2. Quito Riantori - Rabu, 19 September, 2007

Kalau Anda berargumen bahwa Tuhan tidak butuh dilayani, maka Tuhan pun tidak butuh pengabdian. Sebaiknya Anda membaca artikel saya lainnya, seperti makna ibadah dan ubudiyyah, di sana masalah seperti yang Anda tanyakan sudah saya bahas. Trims & Salam.

3. marcell - Sabtu, 29 September, 2007

hamba adalah abdi,abdi adalah yg mengabdi kpd segala ciptaanNya.

4. WIJIANTO - Minggu, 11 November, 2007

aku butuh kumpulan tujuh rahasia dalam tujuh hari

5. par - Rabu, 25 Februari, 2009

mohon penjelasan dong
1. hakikat manusia
2. asal usul manusia

6. M. Yanuar - Rabu, 28 Oktober, 2009

Apa cuma itu penjelasan tentang hakikat manusia. Ada lagi apa enggak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: