jump to navigation

Mempraktikkan Kesadaran akan Kehadiran Tuhan Jumat, 22 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal, Tasawwuf.
trackback

flower.jpg

Sang Penciptalah yang menuntun kita

Menerobos tahapan evolusi

Dari “binatang” menjadi manusia

Tujuannya adalah untuk membuat kita pintar

dan sadar, agar kita mengenal-Nya.

~ Rumi  1]

Berbicara tentang nama-nama Tuhan atau memperbincangkan sifat-sifat atau perbuatan-perbuatan-Nya mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi mempraktikkan kesadaran akan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan kita sehari-hari mungkin merupakan salah satu hal yang paling sulit.
Pertanyaan pertama yang sering dilontarkan oleh banyak orang,”Di mana Tuhan?”
Apakah Dia berada di dalam diri kita, bersama kita, di sekitar kita ataukah Dia berada di atas langit sana? Al-Qur’an menjawab, ”Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat!” (QS 2 : 186)

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS 50 :16)

Seorang ayah mengajarkan agama kepada dua orang putranya, yang berusia 10 dan 8 tahun. Sang ayah menguji pengetahuan mereka, maka sang ayah memberikan beberapa permen (gula-gula) sambil mengingatkan mereka agar memakannya di tempat yang tak seorang pun melihat mereka. Setelah beberapa hari, sang ayah mememanggil kedua anaknya itu dan bertanya kepada di mana mereka memakan permen-permen itu.
Yang lebih tua menjawab, ”Aku sudah memakannya di kamar mandi dan aku yakin tak seoarng pun yang melihatku”
Sedangkan yang lebih muda mengembalikan permen yang dulu diberikan ayahnya kepadanya sambil berkata, ”Aku tak menemukan tempat di mana Tuhan tidak dapat melihatku”
Di dalam Islam, praktik kesadaran akan kehadiran Tuhan sangat ditekankan di dalam al-Qur’an, yang biasa kita sebut takwa. Umumnya, takwa diterjemahkan dengan takut kepada Tuhan, atau keshalihan. Di dalam surah al-Baqarah ayat 2-3, orang-orang yang bertakwa dideskripsikan sebagai orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, senantiasa melakukan shalat, mengeluarkan bagian infaq dari apa yang telah direzekikan Tuhan kepada mereka, tidak hanya mengimani Al-Qur’an, tetapi juga mengimani kitab-kitab lainnya yang telah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai imbalan ketakwaannya mereka akan mendapatkan petunjuk yang benar dari Tuhannya serta kesuksesan.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan merupakan sebuah perisai jiwa. Seorang Muslim sejati tidak pernah merasa kesepian, karena dia sadar bahwa dia bersama Tuhan kapan pun dan di mana pun.

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS 57 : 4)
Kesadaran akan kehadiran Tuhan akan membentuk sikap disiplin dan pengekangan di dalam diri seseorang. Puasa juga merupakan sebuah latihan praktik kesadaran diri akan Tuhan. Allah Swt mengatakan di dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (dapat belajar mengekang diri)” (QS 2 : 183)
Tak seorang pun yang mengetahui dengan pasti bahwa Anda sedang berpuasa kecuali Tuhan dan diri Anda sendiri. Mungkin karena itu pula Allah Swt berfirman di dalam sebuah Hadits Qudsi, ”Puasa itu perisai dari siksa neraka, karena puasa dilakukan untuk-Ku, dan Aku (sendiri) yang akan membalas ganjarannya” 2]
Kesadaran akan kehadiran Tuhan mengangkat martabat manusia di dalam pandangan Tuhan. Al-Qur’an mengatakan, “Sesungguhnya orang yang paling mulia (martabatnya) di antara kamu di dalam pandangan Allah adalah orang yang bertakwa (berkesadaran akan Tuhannya)” (QS 49:13)
Kesadaran akan kehadiran Tuhan juga merupakan “rasa takut akan Tuhan”. Hanya saja rasa takut kita kepada Tuhan berbeda dengan rasa takut kita kepada selainnya. Jika kita takut akan singa atau ular, maka kita akan lari menjauh darinya. Sebaliknya, jika kita takut kepada Tuhan, kita justru mendekat kepada-Nya, bukan sebaliknya. Kita takut jika Tuhan membenci kita. Kita takut kehilangan Kasih sayang-Nya, Rahmat-Nya, dan Berkah dari-Nya.
Orang yang memiliki kesadaran akan kehadiran Tuhan akan memperoleh banyak karunia dari Tuhannya, dan yang karunia-Nya yang paling baik dan indah adalah cinta-Nya, kemurahan-Nya, dan bimbingan-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS 8 : 29)
Jadi, tujuan penghadiran kesadaran kita akan Tuhan adalah agar kita memperoleh cinta-Nya, petunjuk-Nya dan ampunan-Nya.

APA TINDAKAN TINDAKAN PRAKTIK KESADARAN AKAN KEHADIRAN TUHAN?
Tindakan pertama adalah : membersihkan diri, secara fisik, mental mau pun ruhani. Membersihkan pikiran-pikiran kita dari niat-niat buruk dan memfokuskan semua pikiran, perkataan dan perbuatan kita dengan niat beribadah dan melayani-Nya. Semua aktivitas, kita pusatkan dan kita niatkan semata-mata untuk melayani, menghamba dan mengabdi kepada-Nya.
Tindakan kedua adalah memohon ampun kepada Tuhan.

“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS 42 : 25-26)
Yang dimaksud memohon ampun bukan sekadar mengucapkan istighfar, tetapi juga harus menyertakan kesadaran bahwa semua ibadah dan semua amal yang kita lakukan masih belum memenuhi kelayakan kita sebagai seorang hamba, seorang budak atau seorang pelayan. Masih terlalu banyak kelalaian kita, masih terlalu sedikit pengabdian kita dan semua ini harus kita mohonkan ampun kepada-Nya.

Tindakan ketiga adalah berkomunikasi dengan Tuhan, baik secara informal mau pun secara formal di dalam berdoa, yang akan mendekatkan kita dengan Tuhan dan menguatkan kesadaran kita akan kehadiran-Nya.
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS 40:60)
Berdoa dan berzikir kepada-Nya tidak hanya dapat menguatkan kesadaran akan kehadiran Tuhan, tetapi juga mendatangkan ketenangan dan kedamaian ke dalam hati.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS 13 : 28)

Duh Tuhan…
jadikan hati kami yang keras sehalus lilin
jadikan ratapan kami terdengar manis di telinga-Mu
dan obyek kebaikan-Mu…

~ Rumi 3]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Catatan Kaki

1. Mawlawi Jalaluddin Rumi, Matsnawi IV:3646-7

2. K.H. Firdaus A.N, 325 Hadits Qudsi Pilihan, hal. 120, Hadits Qudsi yang diriwayatkan Thabrani dan Baghawy

3. Mawlawi Jalaluddin Rumi, Matsnawi II:1992

Komentar»

1. iwan - Sabtu, 30 Juni, 2007

salam
tulisan yang bagus. terima kasih sudah memberi pelajaran mengingat Tuhan.

2. Quito - Senin, 2 Juli, 2007

Salam n sama2, mas Iwan, saya juga masih sedang terus belajar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: