jump to navigation

Apakah Tanah Fadak Milik Eksklusif Nabi Saw? Minggu, 24 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel.
trackback

fadak.jpg

KONTROVERSI FADAK
(Bagian ke-2)

“Seseorang tidaklah dicela karena menuntut haknya,
tetapi seseorang menjadi tercela karena merampas

hak orang lain.”

FADAK DI DALAM KITAB KITAB SUNNI
Untuk membuktikan bahwa kasus Fadak tercatat di dalam kitab-kitab Sunni, saya akan mendasari kasus ini dari 3 kitab Sunni :
1. Mu’jam al-Buldan-nya Yaquut al-Hamawi Jil. 14, hlm. 238
2. Tarikh al-Khamis, Jil. 2, hlm. 88
3. Wafa al-Wafa-nya Nuruddin al-Samhuudi, Jil. 4, hlm. 1480
Pada ketiga kitab itu tertulis :

“Fadak adalah sebuah kota, yang jaraknya 2-3 hari perjalanan dari Madinah. Di sana banyak sumur-sumur air dan pohon-pohon kurma. Fadak juga merupakan tanah yang dikatakan Fathimah kepada Abu Bakar, “Ayahku (Rasulullah SAW) menghadiahkan kepadaku Fadak sebagai hadiah.” Abu Bakar lalu meminta mengajukan Fathimah saksi-saksi atas persoalan ini.”
Sebenarnya sangat aneh jika Abu Bakar meminta saksi kepada Fathimah, karena kita semua tahu bahwa Aisyah, putrinya sendiri mengatakan tentang Fathimah :
“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih jujur dari Fathimah, kecuali Rasulullah.” Lalu ada orang bertanya, “Apakah ada sesuatu (cerita) tentang dia?” Aisyah lalu berkata, “Ya. Rasulullah menyayanginya (Fathimah), karena dia tidak pernah berdusta.” Dan di dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abdul Barr dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorangpun yang ucapannya lebih benar dari Fathimah, kecuali seseorang yang menjadi orang tuanya.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Mustradak-nya Jil. 3, hlm. 160-161 dan ditetapkan sebagai hadits shahih menurut kriteria yang dipakai oleh Imam Muslim dan disepakati pula oleh Adz-Dzahabi.
Apakah Anda juga meragukan Sayyidah Fathimah? Na’udzubillah min dzalik!

Jika Anda mengatakan tidak layak Fathimah meminta-minta haknya seperti itu. Layakkah? Tentu saja layak! Mengapa tidak! Seseorang tidak menjadi terhina atau menjadi hina karena dia menuntut haknya, tetapi seseorang menjadi terhina ketika dia merampas hak orang lain.
Pada peristiwa tersebut (penuntutan hak Fadak), Sayyidah Fathimah membacakan ayat Quran : “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan itu. Maka kesabaran itulah yang baik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Yusuf [12] ayat 83)

PENDAPATAN YANG DIPEROLEH DARI TANAH FADAK
Di dalam kitab hadis Ahlus Sunnah, yaitu Sunan Abu Dawud, Jil. 3, hlm. 144, Dzikr Fa’i, tertulis : “Abu Dawud mengatakan bahwa ketika Umar bin Abdul ‘Aziz menjadi khalifah, pendapatan yang diperoleh dari tanah fadak adalah 40.000 Dinar.”

Di dalam Syarah Ibn Abil Hadid, Jil. 4, hlm. 108 tertulis :
“Umar (bin Khaththab) mengeluarkan orang-orang Yahudi dari tanah Fadak. Dan nilai tanah tersebut berikut kurmanya adalah 50.000 Dirham.”

BERKAH YANG DATANG DARI KURMA-KURMA FADAK
Ibn Abi Al-Hadiid di dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya pada Jil. 4, hlm. 108
menulis : “Ada 11 macam pohon buah-buahan yang tumbuh di Fadak, yang Rasulullah Saw tanam lewat tangan beliau sendiri. Anak-anak Fathimah biasa menghadiahkan hasil kebun Fadak tersebut kepada orang-orang yang pergi hajji dan mereka (para hajji dan hajjah) memberikan kepada anak-anak Fathimah beberapa dinar dan dirham atas pelayanan mereka.”

PENDAPATAN DARI FADAK DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN MILITER
Kita bisa juga membaca di dalam kitab yang ditulis oleh seorang alim dari Ahlus Sunnah wal Jamaah: Insanul Ayun fi Siirah al-Halabiyah Jil. 3, hlm. 487-488, Bab Wafatnya Rasulullah Saw :
“Umar marah kepada Abu Bakar, lalu berkata, “Jika Anda mengembalikan Fadak kepada Fathimah, (maka hal itu akan menjatuhkan Anda) padahal (hasil keuntungan Fadak) itu bisa digunakan untuk angkatan perang dan pertahanan. Saat ini semua bangsa Arab sedang bangkit melawan Anda!” (maka) Dia (Abu Bakar) mengambil dokumen Fadak dari Fathimah dan merobek-robeknya menjadi potongan-potongan kecil.”
Kita telah melihat bahwa fakta sejarah ini telah menunjukkan secara jelas bahwa kepemilikkan sah tanah Fadak ada di tangan Sayyidah Fathimah, namun dengan alasan untuk pertahanan dan angkatan perang, tanah tersebut “terpaksa diambil alih”. Dengan demikian kita juga memperoleh data yang menunjukkan bahwa hasil yang sedeemikian besar yang diperoleh dari Fadak telah digunakan untuk kepentingan pertahanan kekuasaan. Bisa dipahami jika beberapa sejarawan yang menduga ada ketakutan tersembunyi dari beberapa sahabat Nabi jika tanah Fadak digunakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as dan sahabat-sahabat setianya untuk melawan mereka, yaitu orang-orang yang tidak menyetujui kekhalifahan berada di tangan Imam Ali as.

PERBEDAAN GHANIMAH DENGAN FA’I
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara Ghanimah dan Fa’i.
Di dalam Tafsir Kabir, Jil. 8, hlm. 125, dan Tafsir Maraghi, tentang tafsir Surah al-Hasyr : “Ghanimah adalah harta yang untuk memperolehnya kaum Muslim mesti berkerja keras (bertempur) untuk itu. Sementara Fa’i adalah harta yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta (artinya tanpa harus bertempur).”
Adapun tanah Fadak adalah rampasan perang yang diperoleh dari Fa’i (kemenangan perang yang didapat tanpa pertempuran.)
Mari kita lihat ayat Quran yang berhubungan dengan ini :

“Dan apa saja harta rampasan (afaa-i)yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6)
Fakhruddin al-Razi di dalam Tafsir Kabir-nya mengatakan :
“Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Fadak, yang mana Rasulullah Saw memeprolehnya dari penaklukan tanpa pertempuran.” (Tafsir al-Kabir, Jil. 10, hlm. 506)

– Tafsir Mazhari, hlm. 238
– Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Maraghi, Tafseer Surah Hashr.
– Tafsir Durr al-Mantsur, Tafsir Surah Hashr.
– Tafsir Jawahir li al-Tanthawi, Tafsir Surah Hashr
.
Dari tafsir-tafsir Quran ini telah jelas bahwa Fadak diperoleh dari Fa’i, yang kemudian menjadi milik Rasulullah Saw dan selanjutnya diberikan beliau kepada putri tercintanya Sayyidah Fathimah as. sebagai hadiah. Namun setelah Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar mengambilnya secara paksa dari Sayyidah Fathimah as. Inilah salah satu penyebab tertekannya batin Sayyidah Fathimah as dan menjadi beban deritanya sepeninggal ayahnya, Rasulullah Saw.

“Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS Al-Israa’ [17] ayat 82)

BAGAIMANA SEJARAH FADAK SAMPAI MENJADI MILIK EKSKLUSIF RASULULLAH SAW
Di dalam kitab-kitab Sunni berikut ini :
1. Abi al-Hassan Baladzuri, Fathul Buldan, hlm. 46.
2. Majmu’ al-Buldan, Jil. 14, hlm.139
3. Tarikh al-Thabari, Jil. 3, hlm. 1583
4. Ibn Atsir, Tarikh al-Kamil, Jil. 2, hlm. 108
5. Husayn Diyar Bakari, Tarikh al-Khamiis, Jil. 2, hlm. 58

Semua kitab di atas mencatat bahwa :
“Ketika Rasulullah Saw kembali dari Khaybar, beliau mengirim Muhisa bin Mas’ud untuk mendakwahkan Islam ke penduduk Khaybar. Pemimpin Yahudi Khaybar saat itu adalah Yusya bin Nun. Penduduk Fadak menolak menerima Islam, namun memberikan separuh dari tanah Fadak mereka. Rasulullah Saw mengambil separuh tanah itu dan mengijinkan mereka untuk tetap tinggal di separuh lagi dari tanah itu. Sejak saat itu setengah tanah Fadak teresebut menjadi kekayaan milik Rasulullah Saw, yang diperoleh kaum Muslim tanpa harus mengendarai kuda dan unta.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata terbelalak.” (Al-Quran Surah Ibrahim [14] ayat 42)

RASULULLAH SAW AKHIRNYA MENDAPATKAN KESELURUHAN TANAH FADAK
Di dalam kitab-kitab yang ditulis para alim dari Ahlus Sunnah di bawah ini :
1. al-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim, Jil. 2, hlm.92
2. Sunan al-Nasaai, Jil. 7, hlm. 137
3. Wafa’ al-Wafa’, Jil. 4, hlm. 1280
4. Ibn Hisyam, Sirah al-Nabi, Jil. 3, hlm. 353
5. Tarikh Abul Fida, hlm. 140, Dzikr Ghazwah al-Khaybar

Kelima kitab di atas mencatat bahwa :
“Setelah kesepakatan damai (dengan kaum Yahudi Khaybar), separuh tanah Fadak yang telah diberikan orang-orang Yahudi, akhirnya seluruhnya menjadi milik Rasulullah Saw. Sec1/3 lembah Qari dan 2 kastil Khaybar menjadi eksklusif milik Rasulullah Saw dan tak seorang pun yang memperoleh bagian dari ini.”

Hanya orang-orang bebal seperti Ibn Taymiyah dan kaum Wahabi sajalah yang menolak bahwa Fadak adalah milik eksklusif Rasul Saw. Dan memang pantas jika Sayyidah Fathimah as mengatakan : “Dan kami meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta!” (QS Ali Imran [3] ayat 61)
Ayat di atas (QS 3 : 61)
adalah ayat MUBAHALAH, yang mana Sayyidah Fathimah as adalah salah satu yang diajak oleh Rasulullah Saw untuk ikut saling mengutuk dengan orang-orang yang tidak beriman. Lalu mungkinkah Sayyidah Fathimah as yang pernah diajak oleh Rasulullah Saw bermubahalah melakukan dusta tentang tanah Fadak? Tentu saja tidak. Maka semoga laknat Allah Swt, Rasul-Nya dan seluruh Imam Ahlul Bait Nabi as bagi mereka yang mendustakan fakta-fakta sejarah yang juga telah dicatat oleh para alim Ahlus Sunnah!

UMAR BIN KHATHTHAB JUGA MENGANGGAP BAHWA FADAK ADALAH KEKAYAAN EKSKLUSIF MILIK RASULULLAH SAW
Syibli Numani di dalam bukunya al-Faruq menulis :
“…setelah penaklukkan Sirian dan Irak, Umar memanggil para sahabat; dia mengumumkan dengan dasar al-Quran bahwa penaklukan wilayah-wilayah bukanlah milik siapa pun, tetapi semuanya menjadi kekayaan negara, seperti yang telah diabahs tentang Fa’i. Bagaimanapun, dari ayat Quran sendiri muncul bahwa tanah Fadak adalah milik pribadi Rasulullah saw, dan Umar sendiri pun memahami bahwa ayat itu mengimplikasikan demikian. Apa yang Allah perbuat atas orang-orang ini (Bani Nadhir) dengan mengirim Rasul-Nya untuk penaklukkan yang kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan seekor untapun (seperti Fadak), tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 6) Sambil membaca ayat ini, Umar menyatakan bahwa tanah itu memang diberikan untuk Nabi Saw. Hal ini juga tercantum di dalam Shahih Bukhari secara rinci pada Bab Khums al-Maghazi dan al-Mirats.” (Syibli Numani, Al-Faruq, Jil. 2, hlm. 289-290.)

APA YANG DIBELANJAKAN RASULULLAH SAW DARI FADAK?
Seorang penulis buku Qishash al-Anbiya’, Ahmad Jawdat Pasha menyatakan bahwa Abu Bakar menggunakan Fadak untuk kepentingan para tamu dari luar kota atau negeri, para pelancong, para duta besar. Benarkah? Lalu apakah Rasulullah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Abu Bakar?
Mari kita buka kitab Shahih Muslim Bab al-Fa’i, Bab 19, hadis no. 4347 :

“Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata : “Harta benda (tanah) Bani Nadhir adalah termasuk kekayaan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yang diperoleh kaum Muslimin tanpa perang dengan menunggang kuda atau unta. Harta rampasan itu khusus untuk Nabi saw. lalu menafkahkan untuk keluarga beliau (ahlihi) selama setahun, sisanya beliau pergunakan untuk membeli hewan angkutan serta persenjataan perang di jalan Allah.(Jika masih meragukan hadis2 yang saya kutip di sini silahkan Anda melihat sendiri pada situs resmi kerajaan Saudi Arabia di sini : http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1019)
Umar sendiri mengatakan bahwa harta yang diperoleh dari Bani Nadhir atau Fadak adalah diberikan khusus untuk Nabi Saw secara eksklusif dan digunakan oleh Rasulullah Saw untuk kebutuhan keluarganya dan membeli persenjataan. Jadi sangat berbeda dengan apa yang ditulis oleh Ahmad Jawdat Pasha! Dan jika Umar mengatakan bahwa Fadak adalah anugerah Allah Swt yang khusus sepenuhnya diberikan kepada Rasulullah Saw, lalu mengapa dia dan Abu Bakar berani lancang merampasnya dari Sayyidah Fathimah as?
“Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kerabat (li dzil qurba), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS al-Hasyr [59] ayat 7)
(Bersambung)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Iklan

Komentar»

1. Badari - Jumat, 6 Juli, 2007

Maaf, saya pengunjung baru blog Anda. Bagian ke-1 dari tulisan di atas ada di mana ya? Mohon infonya karena saya mau baca juga bagian ke-1 tsb. Ditunggu bagian ke-3-nya. Terima kasih.
Salam ‘alaikum.

2. Quito Riantori - Jumat, 6 Juli, 2007

Anda bisa cari di kolom search : Kontroversi Tanah Fadak, itu bagian pertamanya. Bagian ke-3 nya akan saya muat secepatnya. Terima Kasih atas kunjungan Anda.
Salam.

3. wa_one - Sabtu, 9 Februari, 2008

anda menulis seperti anak TK dan tidak menggunakan akal, menafsirkan seenaknya anda menggambarkan seolah-olah sayyidat fathimah al bathul seorang yg gila harta dan seorang abu bakar yg rasulullah sendiri mengatakan bahwa beliau akan mati dlm keaadaan “syahid” adalah seorang yg takut kekuasaan nya terancam, itu adalah kebohongan besar yg akan menyesatkan org yg membaca nya memang benar yg anda kutib ini “Diriwayatkan dari Umar, bahwa ia berkata : “Harta benda (tanah) Bani Nadhir adalah termasuk kekayaan fai` yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, yang diperoleh kaum Muslimin tanpa perang dengan menunggang kuda atau unta. Harta rampasan itu khusus untuk Nabi saw. lalu menafkahkan untuk keluarga beliau (ahlihi) selama setahun, sisanya beliau pergunakan untuk membeli hewan angkutan serta persenjataan perang di jalan Allah.” tapi jgn lupa pula bahwa rasulullah pernah bersabdah bahwa ” kami para nabi tidak mewariskan apapun , apa yg kami tinggalkan adalah sadakoh ” anda harus nya tau bahwa ahlil bait di haramkan menerima sadakoh. Saran saya blajar lagi beb. semoga allah membuka pintu hati anda untuk memilah mana yg benar dan mana yg salah . wassalam

4. Ane - Selasa, 15 April, 2008

@wa_one

“anda menulis seperti anak TK dan tidak menggunakan akal, menafsirkan seenaknya anda menggambarkan seolah-olah sayyidat fathimah al bathul seorang yg gila harta”

Saya kira mas Quito R (QR) bukan anak TK dan sudah memakai akalnya serta secara ilmiah menggunakan data dan referensi, dan sepertinya tidak menafirkan kok, sebab peristiwa ini banyak sudah referensinya…Dan Fathimah binti Rasulullah tidak gila harta, akan tetapi hanya menuntut haknya saja, dan tidak hina seseorang jika menuntut haknya, seperti yang telah dikemukakan mas QR.

” kami para nabi tidak mewariskan apapun , apa yg kami tinggalkan adalah sadakoh ”

Apakah hadist ini benar-benar shahih?? Karena ada nabi yang saling mewariskan. Contohnya Nabi Sulaiman mewarisi apa yang dimiliki oleh nabi Daud.

Akan lebih baik kalau kita menanggapi masalah atau tulisan yang ditulis dengan ilmiah (data/referensi)..dicounter dengan sanggahan yang ilmiah juga.

Untuk Mas QR.. salam kenal, saya pengunjung baru dalam blog Anda.., teruskan bekarya demi bertambahnya khzanah keilmuan kita.

Wassalam.

5. Quito Riantori - Rabu, 16 April, 2008

@Ane
Terima kasih atas tambahan penjelasannya utk Ane. Terus terang memang sulit dan teramat sulit bagi org2 yang sudah sedemikian fanatik buta, sehingga penjelasan apa pun akan menjadi tidak bermanfaat. Terima kasih juga atas kunjungan dan doanya. Salam sejahtera selalu buat Anda.
Saya paling males melayani org2 guoblog seperti wa_one itu…percuma, kegoblokannya tidak akan membantu dia dalam memahami ajaran2 Islam yang murni!

6. Ali husen - Minggu, 14 Desember, 2008

Dialog Ja’far al-Shiddiq dengan seorang Syi‘ah.[3]

Seorang rawi[4] menuturkan bahawa ada seorang Syi‘ah mendatangi Ja’far bin Muhammad al-Shiddiq[5] Karramallah Wajha lalu segera mengucap salam: “Assalamu‘alaikum waRahmatullahi waBarakatuhu.” Ja’far terus menjawab salam tersebut.

(Dialog pertama):

Syi‘ah tadi bertanya: Wahai putra Rasulullah, siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Ja’far al-Shiddiq menjawab: Abu Bakar (radhiallahu ‘anh).

Syi‘ah bertanya: Mana hujahnya dalam hal itu?

Ja’far menjawab: Firman Allah Ta‘ala:

Kalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad) maka sesungguhnya Allah telahpun menolongnya, iaitu ketika kaum kafir (di Makkah) mengeluarkannya (dari negerinya Makkah) sedang ia salah seorang dari dua (sahabat) semasa mereka berlindung di dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan semangat tenang tenteram kepada (Nabi Muhammad) dan menguatkannya dengan bantuan tentera (malaikat) yang kamu tidak melihatnya. [al-Taubah 9:40]

Ja’far melanjutkan: Cuba fikirkan, apakah ada orang yang lebih baik dari dua orang yang nombor ketiganya adalah Allah ? Tidak ada seorang pun yang lebih afdhal daripada Abu Bakar selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka Syi‘ah berkata: Sesungguhnya ‘Ali bin Abu Thalib ‘alaihi salam telah tidur di tikar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (demi menggantikannya dalam peristiwa hijrah) tanpa mengeluh (jaza’, ertinya tabah) dan tidak takut (faza’, ertinya ia tegar).

Maka Ja’far menjawab: Dan begitu pula Abu Bakar, dia bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa jaza’ dan faza’.

Syi‘ah menyanggah: Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyatakan berbeza dengan apa yang anda katakan !

Ja’far bertanya: Apa yang difirmankan oleh Allah?

Syi‘ah menjawab: …ketika ia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita” bukankah ketakutan tadi adalah jaza’ ?

Ja’far menjelaskan: Tidak kerana Huzn (sedih) itu bukan jaza’ dan faza’. Sedihnya Abu Bakar adalah khuatir jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dan agama Allah tidak lagi ditaati. Jadi kesedihannya adalah terhadap agama Allah dan terhadap Rasul Allah, bukan sedih terhadap dirinya. Bagaimana (dapat dikatakan dia sedih untuk dirinya sendiri padahal) dia disengat lebih dari seratus sengatan dan tidak pernah mengatakan “His” juga (tidak pernah) mengatakan “Uh” (tidak mengerang kesakitan).

Quito Riantori - Senin, 15 Desember, 2008

@Ngali Ngusen
Wah, dapet hadis/riwayat darimana neh? ngarang? Gak jelas periwayatannya!

7. Ali husen - Jumat, 19 Desember, 2008

Kasihan QR ilmunya belum sampe disini, tetapi sdh lancang membuat propaganda2 basi.

Teks dialog ini tersimpan dalam dua manuskrip, yang pertama di Perpustakaan Syahid ‘Ali Basha, Istanbul bernombor 2764 sebanyak 10 mukasurat, yang kedua di Perpustakaan Zhahiriyyah, Damsyik, bernombor 111 sebanyak 9 mukasurat.
Kalau guru syiah ente menyembunyikan ini itu sudah biasa.

Belajar terus…..dan kaji hakekat yang disampaikan Imam Jafar yg kalian bilang makshum.
Sekarang bagimana tanggapan kalian atas hujjah2 yg disampaikan oleh imam Jafar yg kalian bilang makshum.

Silahkan kalian syiah membantah imam maksumnya sendiri..
Yang dismapaikan imam Jafar adalah Asli dari Al-quran.

Jadi ada 2 yang kalian syiah harus membantahnya, yaitu :
1. Al-qur’an
2. Imam Jafar “makshum”
==================

Quito Riantori - Jumat, 19 Desember, 2008

@Ali Ngusen
Saya justru kasian pada anda: pertama, anda mengatakan bahwa semua dalil/argument yang saya ajukan sebagai propaganda basi, padahal semua itu ditulis oleh ulama2 ahlus-sunnah yang ternama! Jadi semakin jelas anda bukanlah pengikut ahlus-sunnah tapi pengikut Wahabi-Salafy produk Saudi-Inggeris!
Kedua, apakah anda benar2 punya/ada teks asli kitab “syiah” yang anda sebut itu atau hanya kutap-kutip dari Syekh2 bayaran Saudi-Wahabi. Ketiga, Al-Quran atau Tafsir al-Quran atau Asbabun Nuzul? Coba lebih teliti, Tong! Kalo Tafsir Al-Quran, sudah biasa diperdebatkan, apalagi Asbabun Nuzul…
Keeempat, Imam Ja’far memang dijamin ma’shum, riwayat-riwayatnya? He…3x, Hadis dari Nabi Saw aja banyak yang palsu! Gak aneh lah…Mengataskan nama Nabi Saw aja berani apalagi Imam Ja’far, Tong. Kelima, kalo anda katakan guru syiah menyembunyikan bukti itu, lalu darimana anda tahu riwayat itu? Tuduhan yang akhirnya berbalik ke anda : jangan2 anda dan syekh2 wahabi yg bikin itu riwayat?
Makanya kalo otak cuma berisi copy-paste jangan komentar dah! Nanti ketahuan blo’onnya!
Seharusnya anda lebih fokus atas apa yang saya tulis, bukan ngelantur ke sana-kemari. Belajar fokus ya…

8. radhi - Sabtu, 20 Desember, 2008

@ Ali Husen

Afwan ana sedikit agak nakal dalam pembicaraan antum..

pertama ana mau tanya niw, apakah antum mengcopy paste sebuah kajian yang dipotong potong,

ana quote ya :

Dialog Ja’far al-Shiddiq dengan seorang Syi‘ah.[3]

Seorang rawi[4] menuturkan bahawa ada seorang Syi‘ah mendatangi Ja’far bin Muhammad al-Shiddiq[5] Karramallah Wajha lalu segera mengucap salam: “Assalamu‘alaikum waRahmatullahi waBarakatuhu.” Ja’far terus menjawab salam tersebut.

Jafar bin Muhammad al shidiq iki sopo?
kok ada gelar imam ali di belakang muhammad al Shiddiq?

ref nya dunk…

kedua,
Pernah dan masih pakai Kitab Bukhari ndak?

Ada hadits dari Jalur aisyah (putri Khalifah pertama) bahwa : “tidak ada Satu ayatpun yang turun berkaitan keluarga Kami”

nah antum dapat dalil mengarang ataukah bagaimana…?

soale saya jujur lebih percaya kitab jumhur (syaikh Bukhari)

afwan nih..

Quote :
..Teks dialog ini tersimpan

un quote :
bagaimana khalayak tahu bahwa simpanan ini lebih valid dari Bukhari..?

wah wacana baru ni…

mohon penjelasan ya saudaraku…

9. radhi - Sabtu, 20 Desember, 2008

@wa_one

quote :

seolah-olah sayyidat fathimah al bathul seorang yg gila harta

Un Quote :

Bang…
menuntut hak yang dirampas bukan gila harta. Tapi Jihad..

nah kalau istri antum di rampas, apakah antum akan katakan gila wanita..

(belakangan saya sering dengar hujjah ‘gila harta’ ini yang marak di suarakan kaum ummayah, saya hanya katakan, yang berbicara demikian tidak mampu membedakan mana menuntut Hak dan rakus hak orang lain. Alias, ente dibuat bingung sama kajian ‘qola ustadz’)

Mohon penjelasan Bang Wawan…

10. Sofiya - Jumat, 18 Juni, 2010

terus berkarya QR semoga bahagia dan berumur panjang agar dapat membuka mata dunia bahwa ISLAM ADALAH NABI MUHAMMAD dan AHLUL BAYT bkan saudi atau wahabi,bahkan orang terbodoh sekalipun akan memperhitungkan hidup anak cucunya setelah kematiannya agar tidak menjadi santapan bagi orang orang yang haus kekuasaan serta menyimpan dendam disekelilingnya,pabilasay bertoleransi dengan tidak menyebut nama tokoh didalam sejarah peradaban islam seperti sebagian saudara seislam saya apakah ada gunanya /sedangkan saya mengaku sebagai ahly sunnah yang seharusnya mengikuti tingkah laku nabi bukan tingkah laku sahabat yang dijuluki dunia sebagi negarawan besar.saya pengunjung baru blog ini,tapi mata saya sudah terbuka lebarseperti hampir masuk ketika sayyidah fatimah zahratengah mengalaminya thank’s QR

11. pembela kebenaran - Minggu, 7 Agustus, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: