jump to navigation

Ekspresi Ekspresi Cinta Selasa, 26 Juni, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

ekspresi_2.jpg

“Cinta dan kasih,
keduanya membutuhkan polaritas dan hubungan,
yakni, mereka membutuhkan ‘sesuatu yang lain’,
sebuah obyek, yang terletak di pusat proses kreatif”

~ Muhyiddin Ibn ‘Arabi 1]

AKTIF DAN KREATIF
Walau bagaimana pun, cinta membutuhkan obyek untuk dicintai, sehingga potensi cinta yang ada dalam diri sang pencinta bisa dilimpahkan kepada yang dicinta. Proses ketika sang pencinta melimpahkan rasa dan luapan cintanya itulah yang disebut mencintai. Dengan kata lain, tanpa obyek untuk melimpahkan cinta dari sang pencinta, berarti sang pencinta belum mewujudkan bentuk kecintaannya dengan proses kreatifnya yaitu mencintai. Pelimpahan cinta dan proses kreatif dimana sang pencinta mengeluarkan segenap daya dan upayanya demi mewujudkan cinta merupakan karakter utama cinta dalam makna memberi bukan menerima dan dinamis bukan statis (diam).

KEMERDEKAAN (AL HURRIYAH)
Imam Ali as berkata, ”Janganlah engkau menjadi budak bagi orang lain, karena sungguh Allah telah menjadikanmu dalam keadaan merdeka” 2]
Seorang yang terbelenggu kebebasannya takkan mampu mengekspresikan rasa cintanya, karena kemerdekaan dan kebebasan merupakan prasyarat utama untuk terwujudnya cinta sejati. Cinta yang terbelenggu dan terkungkung ikatan-ikatan dan batasan-batasan tertentu bukanlah cinta yang sesungguhnya. Cinta harus terpancarkan dan terbebaskan dari keterpendaman.
Hakikat kemerdekaan dan kebebasan (al-hurriyah) adalah kemerdekaan dan kebebasan spiritual, karena banyak orang yang secara fisik bebas merdeka tetapi ruhaninya terbelenggu dan menjadi budak hawa nafsu. Sebaliknya banyak orang yang menjadi budak secara fisik tetapi secara ruhani ia adalah seorang yang berjiwa bebas merdeka, karena ia terbebaskan dari perbudakan hasrat-hasrat rendah.

Ketika Nabi Yusuf as – yang saat itu masih menjadi seorang budak pejabat Mesir – digoda oleh Zulaikha – wanita tercantik di seantero Mesir, sekaligus salah seorang isteri pejabat Mesir – Yusuf as dengan tegas menolak dan berkata, ”Secara fisik, saya memang budak Anda, tetapi jiwa dan ruh saya merdeka dan bukan budak nafsu syahwat. Saya hanyalah hamba bagi Zat Yang Esa dan jiwa saya tunduk pada perintah-Nya3]
Yusuf as rela dipenjara (fisiknya) karena menginginkan kebebasan dan kemerdekaan jiwanya, sementara Zulaikha, seorang wanita yang cantik, kaya, dan merdeka secara fisik telah membiarkan jiwanya diperbudak nafsu syahwat.

Imam Muhammad al-Baqir as berkata, ”Ada suatu kaum yang beribadah (mengabdi) kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur (nya). Itulah ibadah seorang yang merdeka” 4] Seorang yang bebas merdeka melakukan ibadah karena dorongan rasa cinta dan syukur kepada-Nya. Motivasi ibadahnya bukan karena dorongan rasa takut atau karena dorongan mengharapkan imbalan. Cinta adalah tindakan, sebentuk praktek kekuatan manusia yang hanya dapat diwujudkan dalam kebebasan dan kemerdekaan. Cinta tidak pernah bisa terwujud oleh paksaan. 5]
L’amour est l’enfant de laliberte
– cinta adalah anak kandung kebebasan ; cinta tidak pernah lahir dari dominasi atau paksaan.

KEKSATRIAN (FUTUWWAH)
Diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhy bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad (ash-Shadiq) as tentang futuwwah. Kata Imam Ja’far as balik bertanya, “Apa pendapatmu?” Syaqiq menjawab, “Futuwwah, jika kita diberi sesuatu, kita bersyukur dan jika tidak diberi, kita bersabar.” Imam Ja’far as berkata, “Anjing-anjing kita di Madinah juga bersikap begitu.” Syaqiq bertanya, “Wahai cucu putri Rasulullah, kalau begitu apakah futuwwah itu dalam pandangan Anda ?” Imam Ja’far as menjawab, “Futuwwah adalah, jika kita diberi sesuatu, kita berikan kepada orang lain, dan jika tidak diberi, kita bersyukur.” 6]

Diriwayatkan bahwa setelah Imam Ali bin Abi Thalib as berhasil merobohkan Amr bin ‘Abd al-Wuud di dalam perang Khandaq, terdengar suara dari langit : “Laa fataa illa ‘Ali wa laa saifa illa Dzulfiqar” – Tiada pemuda (yang ksatria) kecuali Ali dan tiada pedang kecuali pedang Dzulfiqar!.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda (fityah) yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS Al-Kahfi [18] ayat 13)
Fataa
atau Fityah adalah istilah untuk pemuda yang berjiwa ksatria. Al-Qur’an menyebut para pemuda al-Kahfi sebagai fityah, pemuda-pemuda yang berani menentang penguasa zalim yang memaksa mereka untuk tunduk dan menyembah berhala. Mereka, pemuda-pemuda ini menolak, lalu berhijrah dan bersembunyi di dalam gua. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi tentang Musa as yang lari dari Mesir, mereka, para pemuda al-Kahfi berhijrah dan bersembunyi di gua (al-Kahfi) bukan karena takut mati. Begitu pun Rasulullah saww bersembunyi di gua Tsur dan berhijrah ke Madinah, bukan karena takut mati. Mereka adalah para pencinta Tuhan, yang melakukan semua itu demi mempertahankan cinta mereka, bukan mempertahankan hidup mereka.

PERHATIAN AKTIF
Di luar unsur memberi, karakter cinta yang aktif membuktikan bahwa cinta selalu memuat elemen-elemen dasar tertentu, yakni perhatian, tanggungjawab, penghargaan serta pemahaman. Bukti bahwa cinta memuat perhatian (care) nampak jelas dalam cinta seorang ibu terhadap anaknya. Kita akan meragukan ketulusan cinta seorang ibu jika kita menyaksikan sang ibu kurang memberi perhatian terhadap bayinya, lalai dalam memberinya makan, memandikan atau memberikan kesenangan jasmani. Sementara kita akan terkesan dengan cinta seorang ibu yang kita lihat memberi perhatian kepada anaknya. Hal ini juga berlaku dalam hal cinta kepada binatang piaraan atau bunga-bunga. Ketika kita melihat orang yang menyatakan bahwa dirinya mencintai bunga-bunga tetapi ia lupa menyiraminya, maka kita tidak akan mempercayai pernyataannya itu. Cinta adalah perhatian aktif terhadap kehidupan serta perkembangan dari yang kita cintai-entah sesuatu atau seseorang. Cinta akan dianggap tidak ada jika tidak ada perhatian aktif ini. 7]

KEDERMAWANAN (AL JAWAD)
Imam Ali as berkata, ”Sifat (al-juud) dermawan itu merupakan tabiat yang mulia (al-karam)” 8]
Sifat dermawan atau murah hati dibutuhkan cinta untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh yang dicintainya. Sang pencinta dengan sifat dermawannya itu akan rela mempersembahkan (bukan mengorbankan) kekayaannya, jiwa raganya, bahkan seluruh yang dimilikinya termasuk eksistensinya sendiri. Di dalam karakter Dermawan mengandung empat sifat utama lainnya, al-Karam, al-Itsar, al-Nail, dan al-‘Afwu.
Al-Karam
merupakan kecenderungan untuk mudah menginfakkan hartanya di jalan yang berhubungan dengan kemuliaan.
Al-Itsar
, kebajikan jiwa yang dengan sifat ini seseorang menahan diri dari yang diingininya, demi memberikannya kepada orang lain yang menurutnya lebih berhak. (Lihat Bab Cinta Altruistik)
Al-Nail
, kegembiraan ketika berbuat baik dan menyukai perbuatan itu.
Al-‘Afwu
, mudah memaafkan orang lain yang langsung berkenaan dengan dirinya.
Penghulu para syuhada (martir), Iman Husain as pun berkata, ”Barangsiapa yang dermawan niscaya ia menjadi mulia (saada)” 9]
Hadits-hadits di atas telah dibuktikan oleh sejarah orang-orang mulia itu sendiri. Kita tidak pernah melihat orang yang memiliki pribadi yang luhur dan mulia melainkan sifat dan tindakan-tindakan dermawan telah menghiasi hidup orang itu. Para ulama sejati, para fuqaha unggul dan para mujahid ulung tidak ada yang tidak memiliki sifat ini. Kemuliaan dan kedermawanan seolah menjadi padanan kata dan sifat yang tidak mungkin bisa terpisahkan. Dan para pencinta sejati tidak bisa tidak menyandang sifat ini karena salah satu karakter pencinta sejati adalah keinginan untuk memberi, memberi dan memberi, sebagai sebuah ungkapan cintanya yang universal. Cinta yang luas tidak mendapatkan cukup tempat dalam dada orang yang kikir dan bakhil. Cinta yang murni tidak memiliki tempat dalam dada orang-orang pendendam. Cinta yang tulus tidak mampu bertahan dalam dada orang-orang yang tidak memiliki kepedulian pada orang lain. Berbuat baik serta berderma itu tidak hanya berwujud bantuan materi, tetapi dapat juga dengan memberikan bantuan spiritual. Bantuan spiritual, moral dan koreksi prilaku merupakan nilai yang lebih tinggi ketimbang berderma materi. Rasulullah saww pernah bersabda kepada Imam Ali as, ”Seandainya Allah memberikan petunjuk kepada manusia melalui dirimu, maka hal itu lebih baik dari semua yang ada di muka bumi (ini)” 10]

KEMURAHAN HATI (AL SAKHA’)
Rasulullah saww bersabda, ”Murah hati (al-Sakha’) adalah salah satu akhlaq Allah Yang Paling Agung (Al-A’zham)” 11]
Imam al-Shadiq as berkata, ”Murah hati (al-Sakha’) itu adalah salah satu dari akhlaq para nabi dan murah hati itu merupakan tiang iman, tidaklah seseorang menjadi mu’min melainkan ia seorang yang murah hati (sakhyia), dan tidaklah seseorang menjadi murah hati melainkan ia telah memiliki keyakinan dan tekad yang menjulang. Karena sesungguhnya murah hati itu merupakan pancaran cahaya keyakinan (nur al-yaqin)” 12]
Imam al-Shadiq mengaitkan sifat murah hati (sakha’) dengan iman, yang mana sifat ini menjadi kemestian bagi seorang mu’min. Imam Ali as berkata, ”Murah hati (al-Sakha’) itu merupakan upaya cinta (al-mahabbah)13] Murah hati merupakan upaya persiapan batin untuk memperoleh cinta Ilahi.

CINTA HANYA INGIN MEMBERI BUKAN MENERIMA
Karakter aktif dari cinta dapat dijelaskan lewat pernyataan bahwa cinta pertama-pertama adalah persoalan memberi dan bukan menerima. 14]
Norma yang menyatakan bahwa “Tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah” bagi mereka mengandung arti bahwa lebih baik menderita kekurangan ketimbang menikmati kesenangan. Dalam tindakan memberi, pribadi dengan karakter ini merasakan kekuatannya, kemakmurannya, kekuasaannya. Memberi adalah pengalaman akan potensi dan vitalitas manusia yang menghasilkan kegembiraan luar biasa. Dalam tindakan memberi, manusia-manusia berkarakter produktif mengalami dirinya sebagai makhluk yang berkelimpahan, yang penuh berkah serta hidup, dan oleh karenanya mereka gembira. Memberi bagi manusia berkarakter produktif lebih menggembirakan ketimbang menerima. Bukan karena hal tersebut merupakan sebentuk kerugian, tetapi karena dalam tindakan memberi terdapat ungkapan akan kehidupan (aliveness).
Sementara dalam urusan material, memberi sama artinya dengan menjadi kaya. Orang kaya bukanlah orang yang memiliki lebih banyak, tetapi adalah mereka yang memberi lebih banyak. Para penimbunan harta yang selalu ketakutan akan kehilangan hartanya layak disebut sebagai orang miskin dan melarat meski dia memiliki harta yang terhitung jumlahnya. Sementara pribadi yang sanggup memberikan dirinya kepada orang lain layak disebut sebagai orang kaya.
Memberi telah menjadi tindakan yang lebih memuaskan dan lebih menggembirakan ketimbang menerima. Mencintai juga telah menjadi sesuatu yang lebih penting ketimbang dicintai.
Dari karakteristik cinta yang hanya ingin memberi, cinta seakan juga ingin memberi sebuah kehidupan dan keabadian. Karena boleh dikatakan hakekat cinta adalah berusaha demi sesuatu dan membuat sesuatu itu tumbuh, hidup dan abadi. Cinta dan usaha tidak dapat dipisahkan. Seseorang mencintai apa yang dia usahakan dan berusaha demi sesuatu yang dia cintai. Perhatian dan kepedulian memuat aspek lain dari cinta, yaitu tanggung-jawab. Saat ini, tanggung-jawab kerapkali dipakai untuk menyatakan sebuah tugas, sesuatu yang dibebankan kepada seseorang dari luar dirinya. Tetapi tanggung-jawab dalam arti yang sebenarnya adalah perbuatan yang benar-benar bersifat sukarela. Tanggung-jawab adalah respon atas kebutuhan-kebutuhan manusia, baik yang terungkapkan maupun yang tidak terungkapkan. Bertanggung-jawab berarti mampu dan siap untuk “merespon”. 15]

KEBERANIAN (SYAJA’AH)
Imam Ali as berkata, ”Keberanian seseorang sesuai dengan kadar tekadnya (himmatuhu)” 16]
Keberanian adalah salah satu prasyarat yang harus dimiliki oleh seorang pencinta sejati. Karena, tanpa jiwa yang berani cinta tak dapat diekspresikan. Seseorang yang tidak memiliki keberanian tidak akan dapat mewujudkan cinta dari dalam hatinya. Itu karena cinta mesti diwujudkan dan diekspresikan. Cinta tidak bisa dipendam atau disembunyikan. Keberanian juga bermakna kesiapan jiwa untuk menerima segala penderitaan di dalam tekadnya untuk tetap berada dalam keyakinan dan cintanya. Sifat berani dan keksatriaan dibutuhkan cinta untuk membuktikan dan menampakkan keberadaan cinta itu sendiri dalam bentuk tindakan dan usaha, seperti pembelaan, pertolongan dan pelindungan (al-wali – al-wilayah) terhadap kekasih, atau cinta itu sendiri.
Imam Ali as berkata, ”Keberanian seseorang sesuai kadar kekuatannya (di dalam) menolak kejahatan”17]
Boleh dikatakan kekuatan disini adalah kemampuan menguasai diri. Menguasai diri terlihat pada waktu berselisih, atau pada saat peperangan, ketika orang membela dan mempertahankan kaum yang lemah, wanita, anak-anak dan syariat. “Mengapa kalian tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang tertindas baik laki-laki, perempuan mau pun anak-anak…”
(QS al-Nisaa [4] 75)
Menguasai diri ini terjadi bila jiwa mampu mengendalikan gerakan-gerakannya pada kondisi-kondisi di atas disebabkan oleh seriusnya kondisi-kondisi itu. 18]
Imam Ali as berkata, ”Sabar merupakan keberanian dan kelemahan merupakan kebinasaan. Sabar itu ada dua macam, sabar atas apa yan tidak disukai dan sabar atas apa yang disukai” 19]

ANDA AKAN MELIHAT CINTA PADA HARI ITU
Ketika al-Hallaj diseret ke atas tiang salib. Ratusan ribu orang berkumpul untuk menyaksikannya. Mereka histeris melihat ketabahan al-Hallaj. Saat itu muncul seseorang yang menghampiri al-Hallaj sambil mengiba memohon kepada al-Hallaj untuk mengajarkan kepadanya hakikat cinta.
Al-Hallaj mengatakan bahwa orang itu akan akan melihat CINTA pada hari itu, besoknya, dan besoknya lagi. Al-Hallaj dibunuh pada hari itu, hari berikutnya tubuhnya dibakar, dan pada hari ketiga abu jasadnya ditebarkan ke angin. Melalui kematiannya, al-Hallaj menunjukkan bahwa Cinta berarti (berani) menderita demi kepentingan orang lain. 20]
Itulah yang juga diperlihatkan oleh Imam al-Husain as pada hari ‘Asyura di padang Karbala. Beliau menunjukkan cintanya yang luar biasa besar kepada Allah Yang Maha Pemurah. Imam Husain as beserta keluarga dan sahabat-sahabat sejatinya telah mentransfusikan darahnya hingga saat ini, juga saat Hizbullah berjuang melawan Hizbusy Syaithan: AS, Zionis Israel dan konco-konconya. Inilah logika CINTA, logika para syuhada. Al-Hujwiri mengatakan, ”Para pencinta Tuhan adalah orang-orang yang mengabdikan diri mereka pada kematian dalam kedekatan kepada-Nya, bukan orang-orang yang mencari watak (kayfiyyat)-Nya karena sang pencari bersandar pada dirinya sendiri, namun ia mengabdikan dirinya pada kematian (mustahlik) bersandar pada Yang Dicintai. Dan para pencinta yang paling sejati adalah mereka yang suka mati seperti itu dan terkuasai. Karena wujud fenomenal tidak mempunyai cara untuk mendekati Yang Qadim kecuali melalui Kemahakuasaan Yang Qadim. Ia yang mengenal cinta sejati, tidak lagi merasakan kesulitan dan semua keraguannya lenyap.” 21]

KEINGINAN UNTUK MENYATU
Dalam teologi Barat konvensional, usaha yang dilakukan untuk mengenal Tuhan adalah dengan pikiran, dengan membuat pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan. Di sini diasumsikan bahwa kita dapat mengenal Tuhan lewat pikiran kita. Dalam pandangan irfan atau tasawwuf – yang merupakan hasil tak langsung dari monoteisme, usaha untuk mengenal Tuhan dengan pikiran digantikan dengan pengalaman akan kesatuan dengan Tuhan. Pengalaman akan kesatuan, baik dengan manusia atau dalam wacana religius dengan Tuhan bukanlah tindakan yang irasional. Manusia adalah individu yang unik, yang hanya diberi satu kali kesempatan untuk hidup dengan segenap harapan dan kekecewaan, dengan segala kedukaan dan ketakutan, dengan kerinduan akan cinta dan ketakutan akan ketiadaan dan keterpisahan. Untuk mendapatkan kesatuan terletak dalam tindakan kreatif, seperti yang dipraktekkan oleh para seniman dan kaum tukang. Dalam tindakan kreatif, seseorang menyatukan dirinya dengan bahan-bahan material yang merepresentasikan dunia diluar dirinya. Hal itu terjadi pada seorang tukang kayu yang sedang membikin meja, seorang pengrajin emas yang sedang membuat perhiasan, seorang petani yang sedang menanam gandum, atau seorang pelukis yang sedang melukis. Dalam sebuah bentuk tindakan kreatif, terjadi penyatuan antara sang pekerja dengan objeknya. Dalam proses kreatif tersebut, manusia menyatukan dirinya dengan dunia. Namun situasi semacam ini baru benar-benar terjadi hanya dalam hal-hal yang bisa dikategorikan sebagai kerja-kerja produktif, yaitu kerja-kerja yang direncanakan, dikerjakan dan dinikmati hasilnya secara mandiri. Sementara dalam proses kerja yang berlangsung di dunia modern, pekerja tak ubahnya berada dalam sebuah lingkaran tanpa ujung, yang hampir tidak ada kesatuan antara subjek yang bekerja dengan objek yang dikerjakan. Pekerja se-mata-mata berfungsi sebagai perpanjang tangan dari mesin atau organisasi birokratik yang ada. Pekerja dalam dunia modern telah berhenti menjadi dirinya sendiri karena tidak adanya kesatuan yang diraih dalam konformitas di dunia kerja. 22] Hasrat akan peleburan interpersonal adalah dorongan paling kuat yang ada dalam diri manusia. Manusia, akan tetap tinggal sebagai misteri bagi diri kita sendiri, dan jalan satu-satunya untuk menyingkap rahasia tersebut adalah menyingkap dengan cinta dan cinta melampaui pikiran, melampaui kata-kata. Cinta adalah sebuah lompatan keberanian ke dalam pengalaman kesatuan.

PENYERAHAN DIRI UNTUK MENEMBUS YANG DICINTA
Dalam tindakan mencintai, dalam tindakan penyerahan diri, dalam tindakan menembus Yang Dicinta, kita serasa menemukan (wajd) dan mengenal diri kita dan Yang Dicinta. Kerinduan untuk mengenal diri dan manusia telah diungkap secara jelas dalam hadits “Barangsiapa yang mengenal dirinya niscaya ia mengenal Tuhannya” 23]

Segala sesuatu,
kecuali cinta kepada Tuhan
Yang Maha Indah,
meskipun secara lahiriyah
ia tampak mnyenangkan
seperti memakan manisan,
sesungguhnya ia adalah penderitaan ruh.
Apa yang dimaksud dengan penderitaan ruh ini?
Penderitaan itu adalah mendaki kematian fisik
tanpa pernah meminum Air Kehidupan.

~ Rumi 24]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki
1. Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah II : 310
2. Bihar al-Anwar 77 : 214.
3. Murtadha Muthahhari, Jejak Jejak Ruhani, hal. 20.
4. Bihar al-Anwar 78 : 187.
5. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 37.
6. Al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairi, hal. 274
7. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 44-45
8. Bihar al-Anwar 77 : 421.
9. Bihar al-Anwar 78 : 121
10. Syaikh Abbas al-Qummi, Safinah al-Bihar 2 : 700.
11. Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal hadits no. 15926.
12. Bihar al-Anwar 73 : 169.
13. Ray Syahri, Mizan al-Hikmah 4 : 420
14. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 37.
15. Ibid, hal. 46-47.
16. Ghurar al-Hikam, hal. 447.
17. Nahjul Balaghah, Hikam no. 47.
18. Ibn Maskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlak, hal. 48
19. Raudlah al-Wa’izhin 2 : 422.
20. Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamnia, Para Sufi Agung, hal. 33.
21. Al Hujwiri, Kasyful Mahjub, hal. 275-276.
22. Erich Fromm, The Art of Loving, hal. 53.
23. Al-Bihar 2 : 32.
24. Rumi, Matsnawi I 3686-7

Iklan

Komentar»

1. tama - Selasa, 14 April, 2009

ga mudeng ning,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: