jump to navigation

Kesedihan: Sisi Indah Kehidupan Selasa, 10 Juli, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal, Tasawwuf.
trackback

sedih.jpg

Satrio Pinandito Motinggo

“Experience teaches only the teachable”
~ Aldous Huxley

Pengalaman hanya mengajar (orang) yang dapat diajar” begitu kata filosof Aldous Huxley 1]
Apa yang kita alami dalam hidup kita sejatinya berasal dari apa yang telah kita alami dari masa lalu, atau saat ini, maka jadilah kita yang sekarang ini. Kita mengambil unsur sehingga membentuk diri kita sekarang ini. Sangatlah sulit bagi seseorang saat mendengar sesuatu untuk pertamakalinya dan menerimanya dengan segera. Sebagaimana dikatakan oleh Emerson, “Berpikirlah dulu sebelum kamu menginginkan sesuatu”

Seluruh penciptaan didasarkan pada ini, bahkan buah-buahan dan bunga-bunga, tanaman dan tumbuhan, untuk membentuk diri mereka, mereka membutuhkan unsur yang membuat mereka. Jika bau harum dimiliki oleh semua bunga, maka setiap bunga memiliki bau harum; tetapi hanya bunga tertentu yang memiliki bau harum; yaitu bunga yang mengambil unsur wewangian padanya. Setiap bunga memiliki warna berbeda. Karena tiap-tiap bunga mengambil unsur warnanya sendiri-sendiri. Setiap biji atau ramuan yang memiliki nilai medis menunjukkan bahwa keunikan atau keganjilan yang ada pada mereka didasari oleh unsur yang mereka serap. Tumbuhan memiliki sejumlah kemampuan alamiah yang efektif dalam membentuk masa depannya. Tumbuhan memiliki daya untuk menyerap materi dari bumi dan udara. Tumbuhan memiliki daya yang membantunya dari dalam untuk tumbuh dan berkembang. Tumbuhan juga memiliki daya yang memungkinkannya beranak-pinak. 2]

Kehidupan serangga juga menunjukkan bukti yang sama. Warna mereka yang hijau, biru atau merah, bentuk mereka yang indah atau buruk, semua didasarkan dan dikendalikan oleh apa yang mereka serap. Serangga-serangga yang bergerak di antara bunga-bunga indah menunjukkan warna-warna mereka yang indah, dalam membangun diri mereka, mereka hidup dalam keindahan dan mereka pun menyerap keindahannya itu. Serangga yang hidup di lumpur menunjukkan kwalitas yang berbeda pula. Semakin banyak kita mempelajari ilmu pengetahuan, baik alam atau kimia, kita akan temukan dalam tiap-tiap makhluk dan objek dengan keunikan tertentu menunjukkan bahwa mereka membentuk seperti unsur unik yang mereka serap.

Tetapi muncul pertanyaan, jika benar bahwa bunga-bunga dan tumbuhan, menyerap unsur-unsur yang menjadikan warna mereka, kadang-kadang ada sedikit perbedaan pada warna bunga dan daunnya. Jawabannya adalah bergantung pada masa lalu mawar tersebut. Mungkin bibitnya telah mengandung unsur-unsur yang ditunjukkannya, yang mewariskan bau dan warnanya. Tetapi pada saat yang sama ia juga menyerap udara dan sinar matahari yang merupakan substansi yang membuatnya menjadi mawar yang sempurna. Dengan kata lain, mungkin saja ada di taman lain tanaman yang berbeda, yang bunganya tidak berbau. Padahal ia menyerap sinar matahari yang sama, udara dan tanah yang sama, namun hanya mawar yang menyerap unsur tertentu yang menjadikannya bunga itu menjadi mawar.

Walau bunga lain berada di tempat yang sama, ia tidak menyerap unsur yang membuatnya menjadi seperti mawar. Secara simbolis seseorang berkata, bahwa yang satu buruk, yang lainnya cantik, yang satu berjalan, dan yang lainnya terbang; mereka semua berada di bumi yang sama dan menerima sinar matahari yang sama pula.

Tidak ada kwalitas yang dapat eksis tanpa dibentuk oleh apa yang mereka serap setiap saat setiap hari. Karena tubuh ragawi kita bergantung pada makanan ragawi untuk eksistensinya, dan karena pikiran kita bergantung pada makanan dari lingkungannya sendiri-sendiri, tiap-tiap kwalitas bergantung pada makanan yang ia serap untuk hidupnya. Sebagaimana tubuh akan berhenti mengada jika tidak diberi makanan, maka setiap kwalitas juga berlaku demikian. Berapa banyak orang yang belajar menyanyi tetapi tidak dapat menyanyi dengan baik, karena kwalitasnya bergantung pada masa lalunya juga.

George Orwell mengatakan, “Barangsiapa yang sanggup mengendalikan masa lalunya niscaya ia akan dapat mengendalikan masa depannya dan barangsiapa yang sanggup mengendalikan masa depannya maka ia dapat mengendalikan masa lalunya

Jadi, keberhasilan, kegagalan, kesenangan, dan kesedihan seseorang bergantung pada apa yang ia serap selama ini. Kebodohan masing-masing manusia-lah yang membuatnya terbelakang, tidak maju berkembang menuju kesempurnaan. Dan ini hanya dapat diserap oleh ilmu Ilahi. Karena realitas yang lebih tinggi hanya dapat dicapai melalui ilmu ini.

KESEDIHAN DAN KEBAHAGIAAN
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan!” [Al Qur’an Surat Alam Nasyrah (94) : 5-6]

Sangat sering penderitaan menunjukkan dirinya dengan topeng kebahagiaan, sangat sering kesedihan menunjukkan dirinya dengan topeng kesenangan. Orang yang tidak menuntut kesedihan akan menuntut kesenangan; tetapi ia tidak tahu bahwa mungkin saja di balik kesenangan itu bersembunyi kesedihan. Seorang yang menuntut keberhasilan tidak melihat kegagalan yang bersembunyi di baliknya, padahal pada saat itu keberhasilan boleh jadi menuntunnya kepada kegagalan. Karena keberhasilannya hanyalah keberhasilan lahiriah, namun realitasnya ia telah mengalami gagal.

Hidup itu sebuah komedi, semakin Anda memerhatikannya, semakin membuat Anda tersenyum padanya, tersenyum tidak pada orang lain, tetapi pada diri Anda sendiri. Kehidupan selalu berbeda dengan apa yang Anda pikirkan, dan ini pun berlaku pada kesedihan, kesenangan, penderitaan, kebahagiaan, keberhasilan dan kegagalan, atau segalanya.

Orang sering bertanya kenapa beberapa jiwa dilahirkan di dalam keadaan yang menyedihkan sedangkan yang lainnya tidak. Jiwa tidak selalu datang ke bumi dengan mata terbuka. Umumnya datang dengan mata tertutup, sebagaimana ditunjukkan oleh bayi yang tidak dengan segera membuka matanya. Tetapi untuk membandingkan satu kondisi dengan kondisi lainnya kita perlu terlebih dahulu mengenal kondisi-kondisi ini serta waktu ketika dilahirkan. Jika kita memandang persoalan ini secara lebih mendalam, kita akan sampai pada realisasi terbesar atas rahasia hidup, khususnya rahasia tentang nasib baik dan buruk. Maka seseorang akan menyadari bahwa jiwa tidak selalu dirancang begitu terbatasnya sehingga ia tidak bisa keluar dari kondisi tertentu, tetapi bahwa setiap jiwalah yang membuat kondisinya sendiri, bahkan setelah datang ke bumi ini. Banyak orang yang hidup dalam kesengsaraan, dalam kondisi yang buruk, karena mereka tahu tidak ada yang lebih baik. Jika mereka tahu ada yang lebih baik dari itu, mereka pun akan mengatur diri mereka ke arah yang lebih baik.

Hukum ini berlaku bagi semua orang dalam kehidupan ini. Banyak kesengsaraan di dunia ini adalah karena ketidaktahuan mereka. Jika mereka tahu bagaimana keluar dari penderitaan mereka, maka banyak pula jalan-jalan yang dapat mereka tempuh ke arahnya. Tetapi apapun kondisi seseorang, tetap saja tidak adil, karena keuntungannya tidak selalu sama dengan kerugiannya. Ini karena kita tidak selalu melihat nilai sesungguhnya dari keuntungan dan kerugian.

Maka oang mungkin memiliki kesulitan dan penderitaan dan yang lainnya berada dalam kedamaian. Semuanya terus terjadi. Bila dalam kesulitan besar seseorang melihat orang lain bahagia, tidaklah mudah untuk membuktikan dia itu bahagia. Kebahagiaan terdiri dari satu hal saja; realiasi Tuhan, kesadaran akan Tuhan. Menyadari Tuhan berarti menghilangkan dirinya. Tidak diragukan lagi bahwa sebagaimana cahaya matahari meniadakan cahaya lilin, maka kebahagiaan dari kesadaran akan Tuhan meniadakan segalanya. Hidup menjadi lebih menyenangkan bila kita semakin maju menuju kesadaran akan Tuhan.

“Jika kamu melihat dunia sebagai tak nyata, dapatkah kamu mengalami Kemanunggalan?
Jika kamu melihatnya sebagai nyata, dapatkah kamu mengalami Kemanunggalan?

Jika ia terlihat sebagai nyata dan tak nyata, dapatkah kamu mengalami Kemanunggalan?

Adalah kebebasan sejati dengan melihat segala sesuatu sebagai Tunggal
.” 3]

Semua kondisi adalah ilusi belaka, semakin kita dekat, semakin kita sampai pada keseimbangan. Bagaimanapun juga jiwa-jiwa yang puas adalah jiwa-jiwa yang hilang rasa laparnya ketika melihat orang lain makan, ketika melihat orang lain berpakaian bagus. Karena pengorbanan tidaklah memberikan penderitaan melainkan kebahagiaan.

Cahaya Surga ini sebenarnya ada dalam setiap jiwa. Karena ia sudah ada, jadi tidaklah perlu mempelajarinya. Ia adalah bintang yang kecemerlangannya meredupkan semua kotoran kehidupan, dan merubahnya menjadi kesucian yang adalah cahaya Ilahi. Jika tidak ada penderitaan, orang tidak akan merasakan kesenangan. Penderitaanlah yang membuat seseorang merasakan kesenangan. Segala sesuatu bisa dibedakan dengan lawannya. Orang yang sangat menderita semakin sanggup mengungkapkan kesenangannya. Jika tidak ada penderitaan, maka hidup akan terasa hambar, sensasi setelah penderitaan adalah kesenangan yang lebih dalam. Tanpa kesulitan atau penderitaan, musisi, atlit, peneliti dan pemikir tidak akan mencapai tahap yang mereka capai di dunia ini. Jika mereka selalu senang, tidak ada sentuhan akan kedalaman hidup ini. Apakah penderitaan itu? Dalam arti kata yang sesungguhnya penderitaan adalah kenikmatan yang paling dalam. Jika kita memiliki imajinasi, kita dapat menikmati tragedi melebihi sebuah komedi. Dengan penderitaanlah seseorang dapat disebut sebagai berjiwa tua, usianya boleh jadi muda tetapi pemikirannya mendalam.

Jika penderitaan dan kesedihan tidak memiliki realitas, lalu kenapa Nabi Isa as berkata, ‘Jiwaku melampaui penderitaanku.’ Kita harus membedakan antara sisi manusia dari kehidupan seorang Pemimpin dan sisi Ilahiahnya. Jika sisi manusianya bukan manusia, lalu akan jadi apa manusia? Kenapa Tuhan mengirim risalah-Nya kepada manusia melalui manusia dan tidak melalui malaikat? Karena hanya manusialah yang mengetahui umat manusia. Dia mengenal mereka dengan mengalami keterbatasan manusia.

Ketika dia merasa sedih maka itulah sisi indahnya kehidupan. Jika dia tidak merasakannya, bagaimana mungkin ia bersimpati kepada orang-orang yang berada dalam kesedihan. Jika kita semua dilahirkan sempurna maka tidak ada makna kehidupan ini. Tujuan hidup ini adalah berkembang menuju kesempurnaan; dari keterbatasan menuju kepada kesempurnaan. Keindahannya berada di dalam mencapai kearifan, dalam hidup yang penuh dengan kegagalan dan kesalahan. Semuanya berharga, dan semuanya menyempurnakan kedatangan kita ke bumi.

DUNIA KITA HANYA ILUSI?
Tentu ada kasih sayang dan ilusi, walau sekecil apapun pada diri manusia. Karena jika tidak ada kasih dan ilusi, ini seperti siang tanpa malam. Dalam ilusi dan kasih sayang tidak ada kekuatan motif, dan dengan kekuatan motif tujuan hidup disempurnakan. Dan jika tidak ada ilusi dan kasih sayang, jiwa tidak akan sanggup memegang tubuh, bahkan sampai sekecil apapun, karena ini hanya dapat dilakukan melalui kasih sayang. Orang yang sakit bahkan bertahun-tahun lamanya tanpa menemui ajal, alasanya adalah karena kasih sayang jiwanya kepada raganya.

“Semua inderamu adalah seperti awan. Semua yang mereka tunjukkan itu adalah khayalan yang tiada habisnya.” 4]

Semua indera kita seumpama awan-awan. Semua yang diperlihatkan merupakan khayalan yang tak ada akhirnya. Lalu kita bertanya, jika dunia yang kita lihat tidak memiliki realitas, dan semua itu ilusi, lalu apakah karena ilusi-ilusi itukah yang menyengsarakan kita?

Orang menggunakan kata ilusi secara konvensional, namun arti sebenarnya adalah tidak sadar sampai realitas hidup itu dipahami, atau sampai yang paling dalam atau kehidupan yang kekal disadari. Maka segala sesuatu adalah ilusi, ilusi adalah sesuatu yang tampaknya ada tetapi tidak ada dalam segala bentuknya. Eksistensi mereka fana semata dan hingga batas tertentu efek yang dihasilkannya adalah jiwa kita yang termabukkan. Kita seolah tersihir oleh apa yang kita lihat hingga kita lupa bahwa semua itu tidak abadi. Oleh karenanya ada cara mistik dengan mendekatkan mata dan hati kepada yang tidak abadi, untuk memperoleh kesempatan menemukan adanya kehidupan yang tidak fana. Seseorang mempraktekan meditasi dan konsentrasi untuk membebaskan pikirannya dari kemabukan yang terus-menerus menghampirinya, sementara kebanyakan manusia menghabiskan segala usahanya untuk mendapatkan kemabukan ini hingga pada akhirnya berujung pada kekecewaan.

Fariduddin Attar mengatakan :
Sibaklah hijab-hijab dari semua yang kamu lihat di dunia ini,
dan kamu akan menemukan dirimu menyendiri dengan Allah.
Jika kamu singkapkan hijab-hijab gemintang dan alam,

kamu akan melihat bahwa semua menyatudengan Esensi jiwamu yang azali.
Jika kamu akan menyibak hijab,

kamu akan melihat ketiadaan (nonexistence),

dan kamu akan segera melihat arti sesungguhnya dari maksud Allah.

Jika kamu telah menyingkap hijab,

kamu akan melihat Esensi.

Jika kamu menyibak hijab dari Wajah Sang Tercinta,

segala yang tersembunyi akan termanifestasi,

dan kamu akan menyatu dengan Allah,

maka kamu akan menjadi Esensi Ilahi
. 5]

Kita tidak dapat menyatakan bahwa tidak ada kesenangan dan tidak ada penderitaan. Dengan berkata demikian berarti kita mengalahkan argumen kita sendiri. Kita dapat berkata bahwa tidak ada sesuatu melainkan ilusi semata; tetapi kata-kata ini saja lemah karena orang lain tidak melihatnya dengan cara yang sama. Jadi realisasi yang dibutuhkan bukanlah sebuah pernyataan. Kebajikan yang sesungguhnya, yang dipelajari melalui realitas dengan sendirinya akan dapat dipahami. Bila seseorang sadar akan realitas, cahaya realitas pun akan bersinar di hadapannya.

MENYERAP DIRI YANG SESUNGGUHNYA
Ada dua cara dalam menyerap dan menarik apa yang membentuk diri seseorang. Cara pertama adalah dengan menyerap sesuatu yang berada di luar kehidupan dirinya untuk membentuk kehidupannya menjadi sempurna, kaya, berkedudukan, berkuasa dan lain sebagainya.
Tetapi ada cara serapan yang lain, dan ini adalah menyerap diri yang sesungguhnya. Dengan menyerap dirinya yang sesungguhnya secara alamiah mengharmoniskan ruhnya, dan ia menjadi begitu harmonisnya sehingga baik teman maupun lawan merasakan keharmonisannya. Setiap kita berkomunikasi dengan diri kita, kita menyerap diri kita, diri yang sebenarnya, secara alamiah kita menjadi harmonis dengan kesenangan dan penderitaan, kita memahami arti keberhasilan dan kegagalan.

Pengalaman lahiriah dalam kehidupan kita yang beraneka rupa memunculkan di dalam hati yang paling dalam suatu keharmonisan, yaitu suatu kedamaian, juga suatu kekuatan yang menjaga kita agar tetap terpusatkan. Agar kita tidak basah karena hujan, kita tidak perlu menghentikan hujan. Karena kita hanya membutuhkan sebuah payung bukan kemampuan menghentikan hujan. Atau dengan kata lain pengembangan diri kita secara fisik dan spiritual-lah yang kita butuhkan bukan kemampuan menghentikan konsekwensi-konsekswensi hidup ini. Albert Camus berujar, Kamu tidak dapat memperoleh pengalaman dengan membuat eksperimen-eksperimen. Kamu tidak dapat menciptakan pengalaman. Kamu harus menjalaninya.” 6]

Catatan Kaki :
1.
Aldous Leonard Huxley, 1894-1963, seorang novelis Inggeris dan juga penulis essay, kritikus dan penyair. Dia menyelesaikan studinya di Eton College dan Universitas Oxford.
2. Al-Syahid
Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, Bab 22
3.
Avadhuta Gita, Dicetak ulang dari Abhayananda, S., Dattatreya: The Song Of The Avadhut, Olympia, Wash., Atma Books, 1992.
4.
Avadhuta Gita , Jonathan Star, the Inner Treasure, Tarcher Putnam Publisher.
5.
Fariduddin Attar, tokoh sufi termasyhur, Essential Sufism, by James Fadiman & Robert Frager, Harper San Francisco, p.233.
6.
Albert Camus, 1913-1960, novelis keturunan Perancis-Aljazair, juga seorang penulis essay, drama, dan jurnalis.

Iklan

Komentar»

1. bhita - Rabu, 11 Juli, 2007

es muss sein..it must be so… 🙂
kadang hal2 terjadi tanpa bisa kita cegah ya, jadi jalani saja…

2. Quito Riantori - Kamis, 12 Juli, 2007

Ya…

3. bumisegoro - Rabu, 18 Juli, 2007

aku suka musyawarah burung tulisan fariduddin attar. udah berkali-kali baca kaga ngarti-ngarti. payah ya…

4. Quito Riantori - Rabu, 18 Juli, 2007

Kebanyakan tulisan para sufi berisi simbol-simbol, kata orang, buku itu pun berisi simbol-simbol tentang para salik yang mencari Sang Tuhan. Terus terang saya juga tidak sepenuhnya paham ttg buku itu. Mungkin kita butuh membaca beberapa buku dasar sufi. Mungkin ya…paling tidak membaca buku Attar lainnya yang diringkas AJ. Arberry : Warisan Para Awliya yang diterbitkan Pustaka Salman.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: