jump to navigation

Memahami Penyebab Kemarahan Kamis, 19 Juli, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

memahami-kemarahan.jpg

Sesungguhnya angan-angan
menghilangkan akal,
mendustakan janji-janji Tuhan,
mendorong kepada kelalaian,
mewariskan kepayahan.
Oleh karena itu dustakanlah angan-angan(mu),
karena sesungguhnya ia akan menipu(mu
)”
~ Imam Ali as *]

FRUSTRASI MENDORONG SESEORANG UNTUK MELAKUKAN PENYERANGAN (AGRESI)
Para peneliti emosi manusia mengenali bahwa kejadian-kejadian tertentu dan aksi atau perbuatan orang lain tampak membuat kita menjadi marah (mad), seperti ketika kita secara sengaja disakiti, dihina, ditipu, dibohongi atau diolok-olok – semua ini membangkitkan kemarahan dan sikap agresif kita (Byrne & Kelley, 1981).

Dalam setiap kasus, kita berusaha untuk bersikap lebih penuh pertimbangan, lebih adil, dan lebih memahami. Kita mengalami frustrasi, ketika kita merasa terhalang atau dihalangi untuk dapat mencapai tujuan dan harapan-harapan kita. Beberapa teori percaya bahwa kemarahan secara alami hanya ditimbulkan oleh rasa frustrasi. Ini disebut : hipotesa frustrasi-agresi (the frustration-aggression hypothesis)

Rasa frustrasi kita akan semakin kuat jika tujuan kita sedemikian diinginkan dan diharapkan. Dan jika kita semakin dekat dengan tujuan kita dan berusaha untuk mendapatkannya, namun tiba-tiba muncul rintangan yang menghalangi kita, kita akan merasa bahwa semua ini tidak adil. (Aronson, 1984; Berkowitz, 1989).

Ada beberapa reaksi psikologis bahwa frustrasi selalu diiringi, termasuk tekanan darah tinggi, dan banyak berkeringat. Gejala-gejala psikosomatik (psychosomatic symptoms), seperti penyakit jantung, sering terjadi pada orang-orang yang cenderung sinis, dan tidak mempercayai orang lain tetapi menahan amarah mereka.

Sebagian dari kita bahkan meledakkan amarahnya dan selebihnya mengenyampingkan perasaan-perasaan mereka. Kadang-kadang tekanan darah kita naik lebih tinggi ketimbang ketika amarah kita meledak, dan pada waktu-waktu lainnya tekanan darah kita naik lebih tinggi ketimbang ketika kita mengenyampingkan perasaan-perasaan kita. Semuanya bergantung pada situasi.

Reaksi-reaksi kemarahan yang lebih merusak secara psikologis tampak terjadi pada dua kondisi ekstrem, yakni, ketika kita benar-benar merasa putus asa, atau, sebaliknya, ketika kita terlampau optimis berharap dari tujuan-tujuan yang takkan pernah dapat kita capai.

Ternyata, walaupun kita frustrasi dan merasa marah, kita tidak mesti selalu menjadi agresif – Kita dapat mengontrol kemarahan kita, tetapi sebagai dasar gerakan yang tinggal di sana untuk mencari beberapa ekspresi. (Freud and Dollard and Miller, 1950).

Ada dua pengertian (Keduanya dengan serius dipertanyakan baru-baru ini): 1. Amarah yang tak diharapkan akan terlampiaskan keluar dalam arah-arah lainnya (tidak tersalurkan pada sasaran yang sebenarnya) Sebagai contoh, Dollard dan Miller menggambarkan seorang remaja laki-laki yang tidak dapat pergi tamasya, karena kawannya sakit demam.

Tak lama kemudian ia bertengkar dengan adik perempuannya. Kemarahan yang tidak terlampiaskan kepada sasaran yang sebenarnya, akhirnya dialihkan kepada sasaran yang bukan sesungguhnya.

Inilah sebuah pelepasan yang sepihak dari frustrasi yang terpendam, tetapi menjadi kekecewaan awal yang boleh jadi tidak pernah dialami sepenuhnya. Tentu saja, pengalihan sasaran ini juga dapat menjadi sumber yang nyata dari kemarahan.

2. Ketika rasa marah terbentuk di dalam diri, barangkali seperti tekanan yang ada dalam sistem hidrolik, yang telah dipikirkan oleh banyak ahli terapi menjadi sedikit berkurang ketika perasaan-perasaan diekspresikan. Hal ini disebut “menyalurkan” atau catharsis (pelepasan emosi yang dihubungkan dengan ekspresi dari konflik ketidaksadaran), sebuah pembersihan sistem.

Pada awal-awal karir Freud, terapi psikoanalisis bergantung kuat pada catharsis ini – penutupan trauma-trauma emosi lama dan “menyalurkan” perasaan itu sampai kita memahami stres internal dan “mengeringkan atau mengosongkan” sepenuhnya emosi-emosi yang terkurung -. Ini sangat populer dan gagasan umum, bahwa perasaan butuh untuk diekspresikan secara terbuka dan menyeluruh.

Contoh jelasnya, ketika seorang anak kecil menginginkan sesuatu, tapi tidak bisa mendapatkannya, maka ia akan langsung menangis, marah, atau bahkan memukul. Kita, orang-orang dewasa, tentu saja tidak seperti itu, akan tetapi kita melihat kemunculan frustrasi sebagai reaksi yang sangat bisa dipahami.

Bagaimanapun, riset terbaru pantas dipertimbangkan, yang telah ditafsirkan sedemikian untuk mengangkat keraguan atas nilai usaha “mengosongkan” kemarahan kita.

Yang pertama dari semua itu, adalah sangat jelas ketika kita menyaksikan prilaku dan tindak kekerasan pada film-film di bioskop, atau pada acara-acara TV, dan bahkan di arena-arena olah raga, dan berakibat meningkatkan respon agresif kita ketimbang mengosongkan kemarahan kita (Bandura, 1973).

Mungkin hal ini jadi tampak masuk akal, ketika kita menyaksikan tindakan-tindakan agresi yang ditampilkan di layar kaca atau layar lebar atau bahkan di ring-ring tinju memainkan peran yang mungkin menyediakan suatu model dan beberapa dorongan kepada seseorang yang sedang marah.

Yang pasti, menyaksikan suatu film tidak sama halnya dengan terapi katarsis, di mana suatu pengalaman pribadi yang menyakitkan dikenang lagi di dalam amarah yang kuat dan niat yang spesifik, demi mengosongkan seseorang dari racun kemarahannya. [Psychological Self Help, p. 642]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Catatan Kaki :
* Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 77 : 293


Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: