jump to navigation

Humanisme Universal Di Dalam Islam Kamis, 9 Agustus, 2007

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, All About Love, Artikel, Bebas, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

humanisme.jpg

Islam secara literal berarti “pasrah.”, “berserah diri”, atau “menyerahkan diri”

Islam merupakan agama yang mengedepankan keramahan, kedamaian, dan mengutamakan cinta kasih.

Prinsip-prinsip ini sangat melekat dengan kehidupan kaum Muslim yang ketika mereka memulai menjalankan shalat, mereka memutuskan hubungan dengan seluruh ikatan duniawi mereka, tunduk dan bersujud di hadapan Tuhan, lalu berdiri tegak sambil mengangkat kedua tangan mereka seraya meng-agungkan-Nya.

Ketika mereka selesai melaksanakan shalat, mereka memulai kehidupan baru mereka.

Mereka mengakhiri shalat mereka dengan salam dan berdoa dengan mengharapkan kesehatan, keamanan, dan kedamaian bagi orang lain. Memberi salam dan mendoakan kedamaian orang lain merupakan tindakan yang paling mulia di dalam Islam.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari oleh Abdullah bin Amru, ia berkata: Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw: “Islam manakah yang paling baik? (Ayyul Islam khayrun?)” Rasulullah Saw. menjawab: “Memberikan makanan (kepada orang miskin), mengucapkan salam (taqra’u salâm) kepada orang yang engkau kenal (‘arafta) maupun yang tidak engkau kenal (lam ta’rif).” [1]

Dengan tegas Rasulullah Saw mengajarkan agar kita mendoakan keselamatan bagi siapa pun. Bahkan hadis ini menjelaskan bahwa cara ini merupakan amalan Islam yang paling baik.

Masih banyak kalangan non-Muslim yang menyangka bahwa Islam mengajarkan cara-cara teror. Pandangan keliru seperti ini hanya didasarkan pada tindakan sekelompok orang yang menggunakan label Islam untuk memperoleh kekuasaan. Tentu saja Islam tidak membenarkan pandangan yang seperti ini. Islam adalah agama cinta damai dan tidak membenarkan penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan.

Mereka yang menuduh Islam seperti itu pun sebenarnya tidak mengetahui dan tidak mampu menyerap Ruh Islam yang sebenarnya, yang padahal jika dilihat dari kata Islam itu sendiri sudah tersurat dan tersirat bahwa pondasi ajaran ini didasarkan pada kecintaan kepada keselamatan, kedamaian dan keamanan.

Seseorang yang benar-benar ingin mengenal Islam semestinya mencari sumber dari sumber-sumber Islam itu sendiri, bukan dari lawan-lawan Islam. Juga tidak mendasarinya dari tindakan-tindakan kriminal “segelintir” orang-orang bodoh yang keliru dalam memahami Islam. Islam tidak mengajarkan kekerasan dan fanatisme seperti yang dilakukan oleh Al-Qaeda, Taliban atau kaum Wahabi yang senang bertikai dengan orang lain.

Islam mengajarkan kasih sayang dan toleransi kepada siapa pun. Tujuan diutusnya Nabi Saw ke dunia ini pun semata-mata sebagai penyebaran kasih sayang atas seluruh alam semesta, bukan hanya untuk kaum Muslim saja.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya [21] ayat 107)

Saya sudah menjelaskan pada artikel sebelumnya tentang konsep Rahmatini . Namun saya kutip kembali satu ayat lagi tentang keluasan rahmat Tuhan yang mesti direalisasikan oleh kaum Muslim sendiri yaitu :

“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki, dan Kasih (Rahmat)-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS Al-A’raaf [7] : 156)

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Islam mengajarkan Kasih-Sayang kepada seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Di dalam banyak riwayat, kita akan menemukan hadis-hadis yang mengajarkan agar kita bersikap toleran terhadap orang-orang yang berbeda pandangan atau berbeda agama sekali pun. Di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa : Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau pun berdiri (untuk menghormati). Ketika dikatakan : “Itu Jenazah orang Yahudi!” Rasulullah Saw menjawab : “Bukankah ia juga manusia!” [2]

Perkataan Rasulullah Saw yang cukup tegas : “Bukankah ia juga manusia!” menunjukkan pola pandangan humanisme Rasulullah saw yang universal. Artinya, walaupun kita memiliki pandangan atau agama yang berbeda, namun paling tidak kita wajib menghormati manusia dari sisi kemanusiaannya.

Diriwayatkan bahwa di dalam Perang Jamal, di tengah-tengah pertempuran — antara pasukan Imam Ali dengan pasukan ‘Aisyah –, Qambar, pelayan Imam Ali membawa sedikit air dan menyodorkannya kepada Imam Ali : “Tuanku, matahari sedemikian panas dan Anda masih terus akan bertempur, minumlah segelas air dingin ini agar bisa menyegarkan Anda?” Imam Ali melihat ke sekitarnya lalu menjawab: “Mungkinkah aku minum ketika beratus-ratus orang mati terkapar dan sekarat karena kehausan dan terluka parah? Ketimbang engkau memberikan air untukku, lebih baik engkau berikan kepada orang-orang yang terluka ini.” Qambar melihat orang-orang yang terluka seraya menjawab: “Tuanku, mereka itu adalah musuh kita!” Imam Ali berkata, “Mungkin mereka musuh kita, namun mereka juga manusia. Datangi dan rawat mereka!” [3]

Inilah pandangan Islam tentang humanisme universal.

Di dalam riwayat lainnya yang dikutip oleh Sarjana Muslim, Mahmud Al-Aqqad, bahwa pada masa kekhalifahannya, sekali waktu Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib menemukan baju besinya berada di tangan seorang Nasrani (Kristen) dan karenanya ia segera menghadap kepada Qadhi (Hakim) untuk menuntut baju besi miliknya itu.

Hakim menghadapkan Imam Ali kepada lelaki Nasrani ini sebagaimana layaknya orang biasa, tanpa hak istimewa sedikit pun juga. Di hadapan pengadilan, Imam Ali berkata, “Itu adalah baju besi milik saya.

Saya tidak pernah menjualnya atau memberikannya kepada siapa pun jua.” Sang Hakim lalu bertanya kepada lelaki Nasrani yang menjadi lawan Amirul Mukminin ini, “Apa pendapatmu tentang apa yang dikatakan oleh Amirul Mukminin?”

Orang Nasrani itu menjawab, “Baju besi ini milik saya, akan tetapi Amirul Muminin juga bukan seorang pendusta!.”

Hakim berpaling lagi kepada Imam Ali, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah Anda mempunyai saksi?”

Mendengar pertanyaan ini, Imam tertawa dan berkata, “Suraih (nama lelaki Nasrani itu) menang, saya memang tidak memiliki saksi dan bukti.”

Hakim pun kemudian memutuskan bahwa baju besi itu menjadi milik Suraih, yang serta merta mengambil baju besi tersebut dan langsung beranjak pergi.

Sementara Imam Ali hanya memandangnya saja. Namun belum lagi beberapa langkah si Nasrani itu pergi, ia berbalik kembali menghadap ke Imam Ali seraya berkata, “Sungguh saya bersaksi bahwa ini adalah pengadilan yang hanya mungkin dilakukan oleh para Nabi saja. Seorang khalifah menuntut saya di hadapan Hakim yang nyata-nyata adalah bawahannya, tetapi keputusannya demikian ini. Asyhadu anlaa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu war rasuluh. Saya bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Baju besi ini demi Allah, wahai Amirul Mukminin, memang milik Anda! Saat itu saya menyertai Anda di dalam perang Shiffin dan saya mengambilnya ketika baju ini terjatuh dari kuda Anda!”

Mendengar pengakuan Suraih itupun, Imam Ali tersenyum dan berkata, “Tapi kalau Anda sudah menyatakan Islam, biarlah baju besi ini menjadi milik Anda!” [4]

Dalam riwayat lainnya, pada masa kekhalifahannya, Imam Ali pergi bersama sahabat-sahabatnya. Di dalam perjalanan, mereka bertemu dengan seorang laki-laki tua yang sedang mengemis. Imam Ali bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Mengapa laki-laki ini mengemis?”

Mereka menjawab, “Dia seorang Nasrani.”

Imam Ali as marah seraya berkata, “Pada saat ia masih muda bukankah kalian mempekerjakannya, lalu mengapa setelah ia tua kalian membiarkannya begitu saja?”

Setelah itu Imam memerintahkan agar laki-laki tua itu diberi tunjangan hari tua dari Baitul Mal. [5]

Di dalam surat Imam Ali kepada putranya, Imam Hasan, beliau berwasiat: “Dan layanilah musuhmu dengan budi kebaikan (bil fadhli), maka sesungguhnya yang demikian itu salah satu dari dua kemenangan!” [6]

Inilah keindahan Islam dan keindahan toleransi yang diajarkan oleh pribadi-pribadi besar seperti Rasulullah Saw dan Imam Ali as.

Apakah jika Anda melihat seorang wanita tua yang terjatuh di tengah jalan, Anda akan bertanya terlebih dulu apa agamanya sebelum Anda menolongnya?

Laa hawla wa laa quwwata illa billah


Catatan Kaki :

[1] Shahih Bukhari, Kitab al-Iman, hadis no. 11, dan 27. dan Kitab Isti’zan, hadis no. 5767; Al-Nasai, Bab Iman, hadis no.13.
[2] Shahih Bukhari, Kitab Al-Jana’iz, hadis no. 1229; Shahih Muslim, Kitab Al-Janaiz, Hadis no. 1596; Al-Nasai, Kitab Al-Janaiz, hadis no. 1895; Musnad Ahmad, Juz 6, Hlm. 6.

[3] Gold Profile of Imam Ali, Bab Sikap Mulia Imam Ali Kepada Musuh, Penerbit IIMaN, 2007.

[4] Mahmud al-‘Aqqad, Abqariyat al-Imam

[5] Ali Shafi, Kisah-Kisah Imam Ali, hlm. 55, Penerbit Lentera, 2003

[6] Nahjul Balaghah, Surat ke:31, hal.403, Cet. Darul Kitab Lubnan, 1983 M

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: