jump to navigation

Jangan Beribadah Berlebihan Senin, 13 Agustus, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

ibadah.jpg

“Jangan jadikan dirimu enggan
di dalam menyembah Tuhan,
yakni jangan terlalu membebani dirimu sendiri
dengan ibadah ‘yang dianjurkan’ lalu melelahkan dirimu sendiri,
yang akibatnya engkau akan menjadi enggan beribadah (wajib)”
(Imam Shadiq as, al-Kafi 2 : 86)

Yang dimaksud ibadah di atas adalah ibadah-ibadah ritual yang disunnahkan (dianjurkan). Sesungguhnya ibadah merupakan suatu nilai nyata, namun jika tidak waspada seseorang atau masyarakat akan terjerumus ke dalamnya secara berlebihan hingga berkesimpulan bahwa Islam hanya terbatas pada ibadah-ibadah ritual (mahdhah) seperti shalat, berjama’ah ke masjid, berdzikir, hajji, membaca do’a, membaca al-Qur’an, bermunajat, berpuasa, i’tikaf dan yang semacam itu.

Jika masyarakat secara berlebihan hanya menyibukkan diri dengan ibadah ritual (mahdhah), maka nilai-nilai Islam lainnya lambat laun akan pupus dan terabaikan, sebagaimana telah menjadi bukti sejarah umat Islam, ketika kecenderungan yang berlebihan ini mendominasi aktivitas umat Islam.

Sekarang pun dapat kita temukan beberapa individu dan kelompok tertentu yang sedemikian peduli terhadap ibadah-ibadah ritual (mahdhah) namun mengabaikan kewajiban-kewajiban lainnya yang justru lebih penting. Ketika orang-orang ini jatuh ke dalam kekeliruan semacam ini, mereka tidak dapat lagi menjaga keseimbangan. Mereka tidak menyadari bahwa dirinya diciptakan Allah SwT sebagai manusia, bukan malaikat. Manusia tidak diciptakan melulu untuk beribadah ritual, tetapi juga wajib melakukan ibadah-ibadah sosial. Insan sempurna adalah insan yang mampu mengembangkan seluruh nilai insaninya secara seimbang dan stabil, dan bahkan jika ia mampu menyeimbangkan nilai-nilai insaninya ini, maka ia mencapai derajat yang lebih tinggi dari para malaikat muqarrabun sekali pun.

Namun tidak ada yang mampu melakukan hal itu kecuali hanya sedikit orang saja. Oleh karena itu perlu kita pahami bahwa semua ibadah kita mesti kita sesuaikan dengan : kapasitas ilmu, kapasitas kemampuan kita saat itu, dan kapasitas kesungguhan kita. Jika kemampuan yang kita miliki hanya sebatas melakukan ibadah wajib saja, dan kita melakukan ibadah-ibadah wajib tersebut sesuai dengan ketentuan, maka tentu saja itu sudah sangat luar biasa. Anda tidak perlu melakukan ibadah-ibadah sunnah jika Anda belum istiqamah melakukan ibadah-ibadah wajib.

Di dalam sebuah riwayat, Utsman bin Mazh’un, salah seorang sahabat Nabi Saw yang terkenal tekun dan taat beribadah. Saking tekunnya, dia mengabaikan kewajibannya terhadap isteri. Akhirnya, isterinya datang ke hadapan Rasulullah Saw dan mengadukan perilaku suaminya : ”Suamiku sudah lama telah meninggalkan urusan duniawi dan mengabdikan dirinya sepanjang waktu untuk beribadah kepada Allah SwT. Ia berpuasa setiap hari dan menghabiskan malamnya dengan melakukan shalat dan beribadah.”

Nabi Saw terkejut, karena beliau selalu menekankan sikap agar tidak berlebih-lebihan dalam hal apa pun. Segera setelah mendengar hal ini, beliau segera pergi ke tempat Utsman bin Mazh’un biasa melakukan ibadahnya. Ketika Nabi Saw datang, Utsman sedang shalat. Begitu ia mengetahui kedatangan Nabi ia pun bersegera mengakhiri do’anya dan memuliakan beliau. Nabi Saw pun langsung menasihati Utsman bni Mazh’un, ”Wahai Utsman! Allah tidak menetapkan kehidupan kerahiban (kependetaan) dan penolakan total terhadap dunia di dalam agamaku. Sebaliknya, Allah Swt menunjukku untuk misi kerasulan dengan sebuah agama yang suci, sederhana dan bebas. Aku sendiri yang merupakan nabimu juga melakukan puasa, dan shalat, tetapi juga memperhatikan isteriku dan urusan kehidupan. Barangsiapa yang menyukai agamaku, ia juga harus mengikuti cara hidupku (sunnah). Salah satu sunnahku adalah menikah dan membentuk keluarga serta memperhatikan isteri dan mencari penghidupan” 66]

Di dalam sebuah riwayat lainnya, ketika Imam Ali as merasa sudah dekat dengan ajalnya, Imam berwasiat kepada putranya, “Wahai Anakku! Janganlah bersikap berlebih-lebihan di dalam mencari penghidupan dan jangan juga berlebihan di dalam beribadah kepada Allah sehingga engkau senantiasa mampu menetapinya” 67]

Sebagian orang melakukan ibadah-ibadah sunnah sedemikian rupa sampai ia bosan lalu meninggalkannya sama sekali. Sebagian lagi melakukannya sedemikian rupa sampai mengakibatkan ia kedodoran melakukan hal-hal yang wajib. Hal-hal seperti ini termasuk perbuatan-perbuatan yang berlebihan dan keliru. Imam Muhammad Baqir as mengatakan kepada putranya, “Wahai anakku! Selalulah memilih jalan yang diinginkan di antara dua jalan – yang salah dan tidak diinginkan-” Sang putra bertanya, “Lalu yang manakah jalan yang diinginkan?” Imam Baqir menjawab, “Kita telah membaca di dalam al-Quran bahwa berlebih-lebihan di dalam pengeluaran dan kebakhilan, adalah tindakan tercela. Di antara kedua hal ini ada jalan yang diinginkan, yaitu sikap tidak berlebih-lebihan dan jalan tengah. Penting bagimu untuk menjalankan sikap yang tidak berlebih-lebihan.” 68]

Alangkah baiknya jika kita senantiasa melakukan hal-hal yang sesuai dengan kadar kemampuan dan keimanan kita. Sebelum seseorang melakukan ibadah-ibadah sunnah, sebaiknya ia melihat kemampuan dan kapasitas keimanannya. Untuk tahap awal, sebaiknya seseorang melakukan ibadah-ibadah yang wajib terlebih dahulu sambil terus menyempurnakan pengetahuan fiqih dan adab-adab batinnya. Jika ia telah melakukan ibadah wajibnya secara istiqamah (rutin) dalam jangka waktu tertentu, barulah ia melakukan ibadah-ibadah sunnah mu’akkad, melakukan shalat tahajjud atau shalat lail misalnya. Begitulah seterusnya dengan tahapan-tahapan dan disiplin yang dibuat sesuai dengan perkembangan mental dan spiritual kita. Namun yang paling baik adalah mencari guru atau mursyid yang mumpuni dan jujur.

MEMBUJUK HATI KEPADA IBADAH
Imam al-Shadiq as mengatakan, ”Janganlah engkau paksakan dirimu untuk beribadah (yang sunnah)” 69]

Diriwayatkan bahwa Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib as mengirim surat kepada sahabatnya, Harits al-Hamdani : ”Bujuklah hati anda kepada ibadah, bujuklah dia, dan jangan anda paksa dia, libatkanlah dia (dalam ibadah) bilamana ia lapang dan gembira, kecuali mengenai kewajiban-kewajiban yang fardlu bagi Anda, karena kewajiban mesti dilaksanakan tepat pada waktunya dan tidak boleh diabaikan” 70]

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Ya’qub dengan sanad yang sampai kepada Abu Abdillah as., beliau berkata, “Jangan kamu paksakan suatu ibadah dalam dirimu.”

Diriwayatkan dari Abu Abdillah as., Rasulullah saw bersabda, “Wahai Ali, sungguh agama ini adalah agama yang kuat (matin), maka sikapilah ia dengan penuh keramahan. Jangan kau paksakan beribadah kepada Tuhanmu terhadap dirimu (karena ia akan menanamkan kebencian).”

Imam Hasan al-Askari as. Berkata, “Apabila kalbu tengah giat maka lepaskanlah (ia dalam ibadah), dan apabila kalbu tengah enggan maka jangan kau paksakan.”

Demikianlah tuntunan para Imam yang sangat lengkap, di saat kalbu dalam keadaan bergairah, isilah waktu Anda dengan beribadah, dan di saat ia dalam keadaan tak bergairah, berilah kesempatan untuk beristirahat. Sikap seperti ini juga harus diperhatikan di saat Anda menuntut ilmu dan ma’rifat, jangan sampai terjadi keterpaksaan atau ketak-bergairahan. 71]

Hadis-hadis yang secara eksplisit berbicara tentang hal ini jumlahnya cukup banyak. Antara lain, seperti diriwayatkan bahwa Abu Abdillah as berkata, “Ketika aku masih remaja, aku banyak melakukan ibadah. Ayahku menegurku, katanya, ‘Wahai puteraku, apa yang kaulakukan? Sungguh, apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia rela atas yang sedikit dari hamba-Nya.”

Abu Ja’far as juga meriwayatkan hadis dari Nabi saw, bahwa beliau Saw bersabda, “Sungguh agama ini adalah agama yang kuat, maka perlakukanlah ia dengan penuh kemesraan. Jangan kamu paksakan ibadah Allah kepada hamba-hamba-Nya, sehingga kamu akan menjadi seperti penunggang onta kecil yang tidak mampu menempuh perjalanan dan tidak ada punggungyang bisa ditunggang.” 72]

Imam al-Shadiq as berkata, ”Hendaklah engkau bersungguh-sungguh, namun jangan engkau keluar dari batas-batas kemampuan dirimu. Karena bagaimana pun juga Allah takkan dapat diibadati sebagaimana seharusnya Dia mesti diibadati” 73]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki
[66] Syaikh al-Qumi, Safinah al-Bihar 2 : 574
[67] Amali al-Thusi 2 : 67
[68] Tafsir al-Iyasyi 2 : 319
[69] Al-Kulainy, Al-Kafi 2 : 86
[70] Nahjul Balaghah, Surat ke 69
[71] Imam Khomeini, Mi’raj Ruhani hal. 63
[72] Ibid, hal. 65
[73] ‘Uddah al-Da’y hal. 238

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: