jump to navigation

Apa Esensi Perjuangan Kemerdekaan? (Bag.1) Rabu, 22 Agustus, 2007

Posted by Quito Riantori in Apa Kabar Indonesia?, Artikel.
trackback

esensi-kemerdekaan1.jpg

Quito R Motinggo

“Tidak ada cara pandang dan pemahaman murni tentang sejarah yang tidak mengacu pada suasana kekinian, dengan kata lain, sejarah mesti dipandang dan dipahami hanya dan selalu melalui suatu pandangan yang penuh kesadaran dalam suasana kekinian”
~ Richard E. Palmer 1]

Perjuangan manusia adalah perjuangan yang tak memiliki akhir. Perjuangan manusia hanya berakhir saat kematian menjemputnya. Begitu pun halnya dengan pejuangan setiap bangsa. Perjuangan setiap umat atau bangsa hanya berakhir pada kematiannya, atau lebih tepatnya kepunahannya.

Al-Qur’an yang suci mengatakan, ”Tiap-tiap umat mempunyai ajal atau batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya (ajalnya) mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya” (QS Al-A’raf [7] ayat 34)

Ada bangsa yang hampir punah karena kebodohan dan kemiskinannya, atau dengan kata lain karena keprimitifannya. Banyak contoh mengenai hal ini, antara lain bangsa Indian di Amerika atau suku Aborigin di Australia yang merupakan bangsa-bangsa yang hampir mengalami kepunahan.

Ada juga bangsa yang benar-benar punah justru karena kepintaran dan kekuatannya. Al-Qur’an memberi contoh dengan kemusnahan kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, dan kaum Luth.

“Belum datangkah kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, yaitu kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata. Maka sekali-kali Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka-lah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS Al-Taubah [9] ayat 70)

Jika kita menengok sejarah, kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim dan penduduk Madyan adalah bangsa yang memiliki militer yang kuat dan peradaban yang maju. Al-Qur’an mengatakan,”Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?, yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong-motong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak” (QS Al-Fajr [89] ayat : 6-10)

Benarlah apa yang dikatakan Einstein,”Agama tanpa ilmu buta, ilmu tanpa agama pincang”. Bagaimana pun sebuah bangsa yang tidak memiliki ilmu yang disertai moral yang kokoh, cepat atau lambat akan mengalami kemusnahan.

“Berapa banyak kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya kepada-Ku lah kembalinya (segala sesuatu)” (QS Al-Hajj [22] ayat 48)

APA TUJUAN SEBUAH PERJUANGAN?
Setiap makhluk hidup pasti tumbuh dan berhasrat mencapai kesempurnaannya. Mereka membutuhkan tiga hal bagi pertumbuhan dan perjalanan evolusi mereka : makanan, keamanan dan kemerdekaan atau kebebasan. Makanan dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup. Keamanan dibutuhkan untuk menjaga kehidupan, kesehatan, dan kepemilikkan terhadap agresi. Sedangkan kemerdekaan dibutuhkan untuk pertumbuhan evolusi dan pencapaian kesempurnaan. 2]

Untuk ketiga faktor itulah manusia berjuang dan dari ketiga faktor tersebut, kemerdekaan merupakan faktor yang paling utama dan paling mulia. Bahkan untuk memperoleh kemerdekaan, betapa seringnya manusia mengorbankan kedua faktor lainnya. Hal ini pula yang menjadi tolok ukur nilai sebuah perjuangan. Kemerdekaan diperjuangkan untuk pertumbuhan evolusi dan pencapaian kesempurnaan manusia dan kemanusiaan.

Kesempurnaan manusia justru diperoleh hanya dengan membebaskan dirinya dari belenggu-belenggu ego dan materiliasme dan mengikatkan diri dengan Kesempurnaan Mutlak, yaitu Tuhan. Semakin dekat kita mengikatkan diri kita dengan Tuhan semakin bebaslah kita dari belenggu egoisme dan materialisme. Atau dengan kata lain semakin total kita menghamba kepada Tuhan, maka semakin merdekalah kita dari ikatan-ikatan hawa nafsu dan duniawi. Bagitu juga dengan kemerdekaan sebuah bangsa, semakin kuat moral dan spiritual yang dimiliki oleh bangsa tersebut semakin terlepaslah bangsa tersebut dari ketergantungannya dari bangsa-bangsa lain.

SALAH SATU MISI DAN TUJUAN DIUTUSNYA PARA NABI
Salah satu misi dan tugas para nabi diutus ke dunia ini adalah membebaskan manusia dari kungkungan dan belenggu kemanusiaannya.

Sekali lagi al-Qur’an mengatakan, ”Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang mereka dapati (namanya) tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan perbuatan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka” (al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 157)

Para nabi tidak saja memerdekakan manusia dari sisi fisik, tetapi bahkan mereka bertujuan membebaskan esensi kemerdekaan itu sendiri, yaitu KESADARAN!

Lihatlah apa yang dilakukan Nabi Ibrahim as! Ibrahim as tidak menghancurkan semua berhala-berhala kaumnya. Dia membiarkan berhala yang paling besar tetap utuh. Hal ini beliau lakukan dengan tujuan agar terjadi dialog terbuka antara beliau dengan kaumnya.

Al-Qur’an mengatakan, ”Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur terpotong-potong, kecuali yang terbesar dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya” (al-Qur’an Surat al-Anbiya’ [21] ayat 58).

Jadi memang tujuan Ibrahim adalah memancing timbulnya perdebatan di muka umum, seperti dikatakan : “Mereka berkata,”Bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan!

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim ?”

Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)” (QS Al-Anbiya’ [21] : 61-64)

Kesadaranlah yang menjadi tujuan utama diutusnya para nabi. Manusia diharapkan menyadari harkat dan martabat kemanusiaannya, sehingga mereka terbebaskan dari penghambaan kepada sesama makhluk, apalagi benda-benda “mati”!

Imam Ali as berkata, ”Sesunguhnya Allah Ta’ala mengutus Muhammad saww bertujuan untuk mengeluarkan hamba-hamba-Nya dari penghambaan kepada sesama hamba menuju kepada penghambaan kepada Dia semata!” 3]

Negara-negara miskin yang membangun dengan modal asing dan bantuan Barat, yang kata mereka — agar si miskin menjadi kaya – justru merupakan perangkap dan pengisap kekayaan si Miskin yang akhirnya membuat negera-negara itu semakin terbelakang (paling tidak dari sisi martabat, harga diri, moral dan budaya)

Setelah 62 tahun ‘merdeka’, kita menyaksikan tanah air Indonesia yang kaya akan sumber daya alam ini ternyata memiliki utang luar negeri yang jumlahnya diluar jangkauan akal sehat.

Bung Karno, Bung Hatta, dan para pejuang bangsa ini, yang telah berjuang habis-habisan untuk kemerdekaan bangsa ini tentu akan menggerutu dan sedih, jika melihat realitas ini, karena dengan jumlah utang yang tak terkira itu, tidak hanya sudah menyengsarakan rakyat yang mesti menanggung bebannya, tetapi juga menghancurkan kredibilitas, martabat dan harkat bangsa Indonesia.

Kemerdekaan hakiki adalah suatu keadaan dimana tidak ditemukan lagi halangan dan rintangan di jalan pertumbuhan evolusi dan pencapaian kesempurnaan. Hal ini pula yang terkandung dalam fitrah manusia.

Sehingga setiap manusia tidak akan rela jika hak kemerdekaannya dikungkung dan dibelenggu. Karena itu pula orang-orang yang merdeka adalah orang-orang yang berperang melawan segala rintangan yang ada pada jalan pertumbuhan evolusi dan kesempurnaannya. Mereka tidak akan tunduk pada berbagai rintangan.

Ironisnya, kebanyakan manusia-manusia modern justru berperang untuk memperbudak orang lain demi memenuhi nafsu serakah dan egonya.

Penebangan hutan yang besar-besaran di Kalimantan, kasus pencemaran laut di Buyat dan sekian banyak lagi eksploitasi alam yang sudah tak terkendali merupakan contoh ketamakan dan egoisme manusia yang terkungkung dan terbelenggu. Mereka bukan lagi manusia-manusia merdeka.

Jika para nabi dan orang-orang suci berperang untuk memerdekakan manusia tidak saja dari belenggu-belenggu sosial politiknya tetapi juga dari belenggu spiritualnya. Sebaliknya, para tiran berperang dengan tujuan memperbudak manusia lainnya demi kepentingan-kepentingan duniawi.

Secara fisik atau secara politis orang-orang yang tidak memiliki iman kepada Hari Pembalasan mungkin dalam keadaan merdeka, tetapi secara spiritual mereka terbelenggu dalam penghambaan syahwat, keserakahan, kebencian, hawa nafsu dan ego mereka. Mereka menyangka tatkala mereka tidak menjadi milik orahg lain mereka sama sekali terbebaskan, padahal mereka tidak sadar bahwa perbudakan dan penjajahan itu memiliki ribuan macam dan ragamnya.

Rasulullah saww bersabda, ”Terkutuklah, terkutuklah barangsiapa yang menjadi budak dinar dan dirham.” 4]

Dalam hadits lainnya, Rasulullah diriwayatkan bersabda, ”Biarlah penghamba dinar, dirham, beludru, dan kain-kain yang halus itu jatuh pada wajahnya. Jika semua ini diberikan dia senang dan jika ini semua tidak diberikan dia tidak senang” 5]

Sifat korup, manipulasi dan khianat adalah salah satu bentuk perbudakan dan penjajahan. Begitu juga orang yang terbelenggu oleh adat dan kebiasaan buruk.

Di masa hidupnya Imam Khomeini qs sering mengecam pemerintahan Amerika Serikat sebagai Setan Besar, sementara Tuhan kita, di dalam Surat Yasin yang sering kita baca, telah berfirman, ”Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu!” (QS Yasin [36] ayat 60)

Seorang ulama tasawwuf, yang kitabnya sering menjadi rujukan al-Ghazali, yaitu Abu Thalib al-Makki mengatakan, ”Bagaimana seseorang bisa menjadi hamba Tuhan jika (pada waktu yang bersamaan) dia menjadi hamba dari seseorang hamba lainnya? Jika seseorang dituntun oleh sesuatu maka itulah tuhannya. Jika dia mengekor di belakang sesuatu, maka itulah tuhannya.” 6]

Semakin terjaga seseorang pada dunia materi
Semakin ia tertidur dari dunia spiritual
Keterjagaan fisik lebih buruk
dari tidur
Karena ketika jiwa kita tidak terjaga
akan Tuhan
Keterjagaan kita hanya menutup
khazanah Ilahi.
(Rumi, Matsnawi)

(Bersambung)

Catatan Kaki :
[1] Richard E. Palmer, Hermeunitics, Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, Northwestern University Press, Evanbston, 1969.
[2] Murtadha Muthahhari, Haura al-Tsaurah al-Islamiyyah, Dar Sarwash li al-Thiba’ah wa al-Nasyir, Teheran, 1403/1983
[3] Ayatullah Muhammad Ridha al-Hakimi, Al-Hayah 2 : 29.
[4] Allamah
Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 72:221
[5] Bukhari, Kitab Jihad, hadis no. 70, Kitab Riqaq, hadis no. 10; Sunan Ibn Majah, Kitab Zuhud, hadis no. 8
[6] Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub Bab 25, hal. 177



Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: