jump to navigation

Kemana Moral dan Martabat Bangsa Ini? Senin, 3 September, 2007

Posted by Quito Riantori in Apa Kabar Indonesia?, Artikel, Opini.
trackback

moral-dan-harga-diri.jpg

Kebaikan tanpa pengetahuan lemah;

pengetahuan tanpa kebaikan berbahaya.
Kita mesti membangun diri

agar menjadi manusia yang lebih baik

sebelum kita membangun

masyarakat yang lebih baik.

Itu semua penting, karena kemenangan kejahatan

disebabkan orang-orang baik tidak melakukan apa-apa.

Tujuan kita bukan membuat penghidupan tetap,

membuat kehidupan yang layak, hidup yang berguna.

Moralitas bukanlah sebuah subyek;

ia adalah hidup yang kita uji dalam banyak momen

~ Paul Tillich

Jika Anda tahu ingin menjadi apa diri Anda nantinya, bisa jadi kelak Anda menjadi sebagaimana apa yang Anda tahu saat ini. Jadi, Anda mesti tahu apa itu nilai-nilai, moral, tujuan hidup, aspirasi-aspirasi, dan impian-impian Anda.

Mengapa Kita Membutuhkan Nilai dan Moral?

Penting sekali bagi Anda untuk mempertimbangkan dengan hati-hati apa yang menjadi nilai bagi Anda, karena :

(1) Nilai-nilai itulah yang akan membawa (menggiring) hidup menit per menit menuju tujuan-tujuan Anda. Jika nilai-nilai yang Anda miliki kurang layak maka Anda pun akan tiba di “tempat” yang tidak layak. Sebaliknya jika Anda memiliki nilai-nilai yang baik maka Anda pun akan sampai di tempat yang baik. Atau bahkan jika Anda tidak memiliki nilai sama sekali maka hidup Anda akan dikontrol oleh keinginan untuk memenuhi hasrat hawa nafsu semata-mata, motivasi-motivasi tak menentu, tradisi atau adat, lingkungan, kejadian-kejadian yang tak terduga, kebiasaan-kebiasaan buruk, tekanan, emosi atau perasaan-perasaan.

Bagaimana pun Anda mesti tahu kemana Anda hendak pergi.

(2) Nilai dan moral tidak hanya akan membimbing Anda tetapi juga mendatangkan inspirasi dan memotivasi Anda, memompa energi dan semangat hidup untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

(3) Kepekaan atas kegagalan hidup sesuai dengan nilai-nilai dasar Anda yang mungkin membawa Anda ke kesalahan yang tidak produktif atau sebaliknya menjadi ketidakpuasan diri yang konstruktif yang memotivasi Anda untuk melakukan perbaikan.

(4) Nilai-nilai yang tinggi dan beberapa kesuksesan yang menemui tujuan-tujuan itu adalah penting untuk harga diri yang tinggi.

(5) Nilai-nilai yang diakui tetapi tidak digunakan tidaklah berharga atau lebih buruk – kebaikan yang palsu – dan rasionalisasi untuk tidak berubah. Kita mesti jujur terhadap diri kita sendiri, mengenal perbedaan antara nilai-nilai kepura-puraan (cuma di mulut saja) dan nilai-nilai yang dilakukan atau diamalkan.

Tentu saja, tak seorang pun sesuai dengan idealitas-idealitas mereka, tetapi nilai-nilai yang hanya membuat kita nampak atau merasa baik (termasuk beragama) dan tidak menolong kita bertindak lebih bermoral mesti kita kenali sebagai kemunafikan yang semata-mata ingin memenuhi hasrat nafsu belaka

Pengetahuan Anda tentang nilai-nilai, moral, tujuan hidup dan impian-impian Anda paling tidak dapat menanggulangi banyak problem-problem Anda, termasuk pembelajaran untuk MENJADI APA ANDA SESUAI DENGAN NILAI YANG BENAR DAN PENCAPAIAN POTENSI ANDA YANG TERBESAR. Itulah mengapa nilai-nilai dan kekuatan-kekuatan Anda mesti dipertimbangkan untuk mengatasi problem-problem yang Anda temui sepanjang hidup Anda.

Kita sadar bahwa kita semua –paling tidak – pernah menghadapi godaan untuk bersikap tidak jujur, namun hampir semua dari kita dapat meningkatkan sikap moral kita dengan berbagai cara. Menghindari sikap-sikap yang tak bermoral merupakan usaha yang layak. Bagaimana pun, penting untuk kita sadari bahwa ada jurang (gap) yang sangat lebar antara moral dan tak bermoral.

Kita semua – tentu saja – tidak bisa meneladani sepenuhnya tindakan-tindakan Bunda Teresa atau Mahatma Gandhi, Ahmadi Nejad apalagi Imam Khomeini. (Mereka bukan saja orang-orang besar, tetapi sejarah mencatat bahwa mereka adalah orang-orang yang mampu mengubah sejarah kemanusiaan, paling tidak mengubah sudut pandang kemanusiaan) Namun kita bisa mengenal tingkat etika kemanusiaan yang cukup tinggi yang bisa dicapai.

Pasti dalam beberapa hal, perlu PERJUANGAN panjang dan berat untuk bisa mencapai ke sana. Contoh yang paling sederhana adalah : Orangtua yang berkorban sekuat tenaga mereka – bekerja bahkan sampai 12 jam penuh – semata-mata untuk mencari uang demi pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.

Mereka melakukannya tidak dengan korupsi, apalagi manipulasi. Karena itu jika uang korupsi yang dipergunakan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya ke luar negeri, maka ini bukan pengorbanan yang terpuji. Masih banyak kisah nyata bagaimana orang-orang kecil – tukang jamu gendong misalnya – mengorbankan jiwa raga mereka agar anak-anak mereka bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi (Anda bisa membayangkan bahwa biaya pendidikan di perguruan tinggi di negeri ini sangatlah besar). Tentu saja perjuangan tukang jamu ini layak dipuji, patut mendapat penghoramtan dan penghargaan dari kita semua, sebaliknya biaya tinggi yang dipungut dari mereka harus diletakkan sebagai bentuk lain dari PENINDASAN!

Mungkin saja mereka, orang-orang kecil yang sangat besar jumlahnya di negeri ini selalu berdoa kepada Tuham, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah (juga) kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS Al-Nisa [4] : 75)

Apakah para petinggi negeri ini telah tuli, sehingga tak mampu lagi mendengar jeritan kaum dhuafa yang semakin bertambah di negeri yang sebenarnya kaya ini? Apakah mata mereka telah buta, sehingga mereka tidak melihat betapa banyak anak-anak kecil yang menjadi anak jalanan dan jumlah mereka ini terus bertambah perdetik? perjam? perhari? Mereka terus bertambah, terus bertambah!

Aneh, mengapa para pejabat negara, anggota dewan, dan orang-orang yang dianggap sebagi wakil rakyat di daerah maupun di pusat masih bisa makan enak dan tertawa?! Dimana hati nurani mereka? Mengapa hati para penguasa negeri ini sudah sedemikian membeku, apakah hati mereka telah menjadi batu, ataukah ini semua terjadi karena mereka telah memakan hak-hak orang-orang miskin, kaum nelayan, petani dan kaum buruh?

Jika kita mengetahui bahwa moral yang mereka miliki itu rendah, maka kita wajib membenci dan tidak menirunya! Itulah sebabnya kita perlu belajar dari sejarah, terutama sejarah Islam dari masa keemasan sampai masa puncak kebobrokkannya pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbas, agar kita bisa membedakan mana yang tak bermoral dan mana yang bermoral!

Jika Anda mengabaikan kenyataan sejarah ini dan selalu meredam bisikan nurani Anda yang jujur dan tulus, maka selamanya Anda tidak akan sanggup mengubah diri Anda untuk menjadi MANUSIA BERMORAL LUHUR dan selamanya Anda menjadi MANUSIA MUNAFIK! Mari kita bersama mempelajari sejarah Islam untuk menguji kejujuran diri kita sendiri, menjauhi asumsi-asumsi yang ditanamkan secara dogmatis kepada diri kita selama ini.

Saya menekankan kepada Sejarah Islam karena mayoritas penduduk negeri kita ini Muslim, tetapi mengapa kita sedemikian direndahkan oleh bangsa-bangsa lain?

Mengapa Anda, saya, dan mereka membiarkan sebagian besar kaum wanita kita dijadikan “budak-budak” bangsa lain? Bukankah sudah tidak asing lagi bagi kita kata-kata : “Al-Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaih!” : Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya! Jika Islam tinggi, semestinya kaum Muslim pun memiliki martabat dan moral yang tinggi pula, sehingga mereka dihargai oleh bangsa-bangsa lain, bahkan oleh sesama bangsa Muslim lainnya!

Ketahuilah!
Bahwa setiap perbuatan buruk adalah semak berduri,
Bagaimanapun juga,
telah seringkali duri-durinya
melukai kakimu!

~ Rumi, Matsnawi II:1240

Laa hawla wa laa quwwata illa billah!

Iklan

Komentar»

1. k* tutur - Senin, 3 September, 2007

Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya! Jika Islam tinggi, semestinya kaum Muslim pun memiliki martabat dan moral yang tinggi pula, sehingga mereka dihargai oleh bangsa-bangsa lain, bahkan oleh sesama bangsa Muslim lainnya!

Anda layak jadi Menteri Tenaga Kerja… Salut!!!

2. Quito Riantori - Selasa, 4 September, 2007

Terima kasih atas kunjungan Anda. Salam!

3. meme - Sabtu, 8 September, 2007

nggak tau ya,saya kok lebih menilai bahwa PBB tidak bisa menjalankan misi perdamaian dunia dengan benar.ini hanya analisa saya yang seorang mahasiswa komunikasi semester V di sebuah universitas negeri di negeri antah berantah alias MAlang city HArdcore. membaca artikel yang anda tulis di atas,memberikan gambaran kepada saya bahwa sebenarnya masalah keanggotaan indonesia di PBB dipertanyakan keefisiensinya…

4. Quito Riantori - Senin, 10 September, 2007

Saya setuju dengan Anda…thanks atas kunjungan Anda. Salam!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: