jump to navigation

Malaysia – Kerajaan, Nasionalisme dan Rasialisme Senin, 3 September, 2007

Posted by Quito Riantori in About Wahabism-Salafism, Artikel, Bilik Renungan, Opini.
trackback

malaysia.jpg

Kemakmuran suatu negeri atau kemajuan ekonominya bukanlah ukuran atau standar suatu kebenaran. Banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang maju secara ekonomi, bahkan militer justru menjadi congkak dan arogan. Di dalam sejarah yang diabadikan al-Quran, bangsa Tsamud dan ‘Ad menjadi contoh yang faktual tentang kemajuan ekonomi yang justru identik dengan arogansi dan keingkaran. Banyak sekali ayat-ayat Quran yang mengecam kemajuan yang disertai dengan arogansi. (baca artikel saya di blog ini : Esensi Perjuangan & Kemerdekaan bagian ke-1)

Seseorang yang banyak memiliki harta tidaklah mesti pandai, atau pintar. Bisa saja orang itu memperoleh harta dari kelicikannya, menghisap harta milik orang lain secara curang, atau melakukan korupsi atau manipulasi. Hal ini pun bisa berlaku pada suatu negara atau suatu bangsa.

Malaysia sebagai salah satu negara yang bertetangga dengan Indonesia sejak lama juga telah melakuan banyak tindakan kezaliman terhadap bangsa lain, termasuk Indonesia. Sudah berulang kali Malaysia melecehkan bangsa Indonesia dan terakhir ini mereka lakukan lagi terhadap warga Indonesia. Apakah mereka pikir bangsa Indonesia bukan manusia atau makhluk hidup sehingga bisa mereka perlakukan seenak udele dewe? Tetapi mungkin arogansi macam ini berkaitan erat dengan pola pemerintahan monarki (kerajaan) yang mereka anut. Benarkah?

SISTEM PEMERINTAHAN KERAJAAN, APAKAH SESUAI DENGAN ISLAM?
Mungkinkah para alim penasihat raja-raja Kerajaan Saudi dan Kerajaan Malaysia tidak pernah membaca pernyataan-pernyataan khalifah Umar bin Khaththab : “Demi Allah, aku tidak mengetahui, apakah aku ini seorang khalifah atau seorang raja. Jika aku seorang raja maka ini adalah suatu bencana yang amat besar.” (Thabaqat Ibn Sa’d, Jilid 3, hlm. 306-107)

Seorang khalifah tidak mewariskan kekuasaannya kepada anaknya secara turun-temurun, kecuali ada nash al-Quran dan Hadis. Sebaliknya kerajaan melakukan pewarisan kekuasaan kepada anak, keponakan atau kerabat dekat mereka secara turun-temurun. Di dalam sejarah Islam, Muawiyyah telah melakukan BID’AH yang tak terampunkan ini yang kemudian ditiru oleh para penguasa Emirat Arab, dan Monarkhi lainnya seperti Malaysia tentunya.

Muawiyyah telah berkata : “Aku adalah raja pertama!” (Al-Isti’ab, Jil. 1, hlm. 254; Al-Bidayah, Jil. 8, hlm. 135)

Nabi Saw, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali tidak melakukan hal yang telah dilakukan Muawiyyah. Inilah BID’AH TERBESAR di antara bid’ah-bid’ah besar yang dilakukan Muawiyyah.

Dan sekali lagi, bid’ah Muawiyyah ini justru ditiru oleh Malaysia dan Emirat arab termasuk Saudi Arabia! Di manakah para alim mereka? Tidakkah mereka senang lantang berteriak : “Itu bid’ah! Ini Bid’ah!”? Di mana mereka?

Pendapat sahabat Abu Musa al-Asy’ari (yang tentu saja salah seorang salaf) mempertegas pandangan para sahabat Nabi Saw mengenai perbedaan antara kekhalifahan dan kerajaan : “Kepemimpinan yang benar adalah yang berdasarkan musyawarah. Ada pun kerajaan adalah yang dimenangkan dengan kekuatan pedang.” (Thabaqat Ibn Sa’ad, Jil. 4, hlm. 113)

Pernahkah Anda mendengar berita demo yang dilakukan rakyat Saudi atau Malaysia terhadap raja-raja mereka? Tentu saja tidak, karena jika ada pun pasti tak lama setelah itu para aparat mereka akan meringkus para pendemo lalu “menggebuki” para demonstran dengan kejam dan keji. Inilah yang dikatakan Abu Musa sebagai “dengan kekuatan pedang!

Saya yakin, para alim mereka (Saudi dan Malaysia) hanya mengatakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan (baca:raja-raja) mereka, karena jika mereka mengatakan kebenaran, niscaya mereka akan kehilangan kedudukan dan harta banda yang selama ini sangat mereka nikmati.

NASIONALISME ATAU RASIALISME?
Perlakuan pemerintah Malaysia belakangan ini terhadap bangsa Indonesia sudah tidak bisa ditolerir lagi. Sikap mereka yang arogan terhadap bangsa lain, seperti Indonesia, sudah terbilang rasialis. Anggapan mereka bahwa mereka bersikap seperti itu karena nasionalisme sangatlah keliru dan bodoh! Tentu saja sangat berbeda antara Nasioanlisme dan Rasialisme.

Pemerintah Malaysia mestinya bertanya pada para alim mereka, apa itu Nasionalisme dan apa itu Rasialisme? Jangan-jangan para alim mereka seperti para alim Wahabi dari kerajaan Saudi Arabia? Toh keduanya negara yang berbentuk kerajaan, jadi bisa saja para alim yang mereka miliki sama atau setali tiga uang.

Kita paham bahwa Nasionalisme adalah bagian dari iman. Rasulullah Saw bersabda, “Hubb al-Wathan minal Iman.” – Kecintaan kepada tanah air sendiri adalah bagian dari iman. Dikatakan sebagai bagian dari iman karena kecintaan manusia kepada tanah air merupakan fitrah yang telah menyatu dalam dirinya. Kemana pun kita pergi, di mana pun kita berada, kecintaan dan kerinduan kita kepada tanah air selalu berdegup di dalam jantung kita. Kecintaan seperti ini menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalam diri siapa pun. Kecintaan seperti ini kecintaan kita kepada anak-anak kita, yang terus kita bawa dan selalu mengalir dalam aliran darah kita.

Namun jika kecintaan seperti ini tumbuh secara berlebihan maka bisa menjadi penyakit jiwa yang Nabi Saw menyebutnya : Ashabiyyah.

Ashabiyyah adalah kecintaan yang berlebihan kepada anak, kerabat, suku, ras atau bangsa sendiri. Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah telah menyalakan fanatisme ras, suku dan kebangsaan ini di dalam kekuasaannya. (Abul A’la Al-Maududi, Khilafah dan Kerajaan, hlm. 254, Mizan, 1998)

Hal ini tidak bisa tidak mereka lakukan demi melestarikan kerajaan yang mereka jadikan alat untuk melakuan tindakan sewenang-wenang (zalim). Tanpa prinsip ashabiyyah, kerajaan mereka tidak akan sanggup bertahan lama. Kelestarian sistem monarkhi yang didirikan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, dan sekarang Saudi dan Malaysia sangat bergantung pada prinsip ashabiyyah ini.

Sementara itu kita semua mengetahui bahwa Nabi Saw sangat mewanti-wanti pengikutnya agar tidak sampai mengidap penyakit ashabiyyah. Rasulullah Saw yang mulia bersabda: “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah, dan mati karena ashabiyyah.” (HR. Abu Daud).

Rasulullah saww bersabda, ”Siapa yang melakukan ‘ashabiyyah dan siapa yang karena kepentingannya melakukan ‘ashabiyyah, maka terlepaslah ikatan iman dari lehernya

Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Iklan

Komentar»

1. aldyDoank - Selasa, 10 Februari, 2009

ya mau bilang pa lagi ne

2. Lamunadi - Sabtu, 5 September, 2009

Ashobiyin yg sekaligus tak punya malu, mengaku-aku barang orang lain sebagai milik sendiri. Sy kira bangsa malaysia adalah satu contoh bangsa yg sedang sakit jiwa. Sayangnya belum ada Rumah Sakit Internasional Negara Sakit Jiwa, sehingga kita belum bisa menggiring mereka ke sana untuk di observasi sudah sampai stadium berapa penyakit mereka itu.
Salam. 😎


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: