jump to navigation

Apakah Setiap Rasa Sakit Memicu Kemarahan? Rabu, 5 September, 2007

Posted by Quito Riantori in Anger Management, Artikel, Bilik Renungan.
trackback

anger.jpg

Berkowitz menyatakan bahwa semua jenis rangsangan yang tak menyenangkan (unpleasant stimuli) menumpuk dan menggumpal, tidak hanya mengakibatkan rasa sakit atau frustrasi, bahkan memunculkan kecenderungan melakukan agresi secara mendadak (impulsively aggressive). Suatu variasi kejadian yang menakjubkan tampak meningkatkan kemarahan kita. Misalnya : bau busuk, suhu ruangan yang tinggi –panas-, asap rokok, peristiwa-peristiwa menjijikkan, interaksi tak menyenangkan dengan orang lain, ketakutan, depresi, ketidaktertarikan atau halangan-halangan dari pihak lain, ketidaknyamanan, dan melulu berpikir tentang menghukum seseorang. (Berkowitz, 1983)

Sungguhpun kognisi (kemampuan untuk memperoleh pengetahuan) dapat menghentikan suatu dorongan agresif, sebagian besar hubungan antara keadaan yang tak mengenakkan dengan agresi dapat melepaskan kesadaran kita. Kita semua pernah mengalami rasa sakit, frustrasi, dan banyak kejadian yang tidak menyenangkan, dan barangkali, sebagaimana kita menderita, kita cenderung menjadi agresif secara serampangan atau tidak pandang bulu (indiscriminately aggressive).

Walaupun demikian, kita mungkin masih bisa mengenali bagaimana kemarahan kita menjadi tidak beralasan. Kita juga bisa mengenali bahwa semua sumber ketidaksenangan itu sangat berperan dalam kemarahan kita, bahkan membentuk sebagian besar dari kejengkelan kita, dan mendorong kita untuk menghukum tanpa alasan, seperti tikus yang menyerang temannya yang tidak bersalah. (George W. Bush menyerang Irak?)

Contoh lain yang diberikan oleh Berkowitz, adalah ketika kita sedang menderita akibat depresi, kita mungkin menjadi lebih bersikap bermusuhan. Mungkin meningkatnya kesadaran kita atas ketidakrasionalan kita akan membantu mengurangi dorongan-dorongan tersebut: mengurangi kecenderungan menyalahkan orang terdekat karena penderitaan kita, dan kita juga lebih bisa mengontrol pikiran-pikiran kita dari fantasi balas dendam dan kejengkelan, tindakan-tindakan kita, dan agresi kelompok kita.

Kadang kala, kita menjadi terheran-heran ketika rasa sakit agresi menghubungkan kepada rating yang tinggi atas perceraian, pelecehan seks terhadap anak-anak, dan kejahatan-kejahatan lainnya yang terus meningkat.

DINAMIKA INTERNAL DARI AGRESI
“Jika kita tidak mengetahui apa itu hidup, bagaimana kita dapat mengetahui apa itu kematian” Confucius. [Confucius (China‘s most famous teacher, philosopher, and political theorist, 551-479 BC]

Freud percaya bahwa naluri kematian (the death instinct) kadang-kadang mengambil alih keluar, dan kemudian kita terluka dan melukai yang lainnya dan pergi berperang (lawan dari bunuh diri), kata Rochlin (1973).

Psikoanalis lainnya percaya bahwa agresi merupakan cara kita untuk menutupi atau melindungi harga diri kita yang hilang. Memenuhi kebutuhan manusia umumnya untuk merasa kuat dan menganggap tinggi harga diri kita sendiri, apa pun yang mengancam self-esteem kita, kita anggap sebagai sebuah serangan permusuhan.

Ketika harga diri kita dilecehkan, kita sering mencoba mengembalikan status dan self esteem kita dengan melukai balik orang yang telah menyerang kita.

Toch (1969) telah menemukan bahwa 40% dari narapidana yang agresif pernah merasa “tidak aman” (insecure) dan membutuhkan beberapa “kemenangan” (victory) untuk membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang istimewa.

Penjahat-penjahat lainnya bersegera mempertahankan “reputasi” yang mereka banggakan, yaitu sebagai penjahat berkelas (tough guy). Kami, kata Toch, (bangsa Amerika) adalah masyarakat yang percaya pada kekuatan militer, yang butuh mengetahui lebih banyak tentang ego-ego kami, yang dengan mudah menyerang dan menjadi sedemikian kejam dan bengis, memompakan ego-ego yang sakit.

Erich Fromm (1973) mendefinisikan agresi yang tidak berbahaya (benign aggression) sebagai sebuah reaksi singkat untuk melindungi diri kita sendiri dari bahaya. Kebalikannya, agresi yang berbahaya (malignant aggression) adalah semata-mata melukai orang lain demi kesenangan sadistis (the sadistic pleasure).

Fromm percaya bahwa orang-orang yang putus asa dipaksa untuk menyesuaikan diri mereka dengan aturan-aturan di masyarakat, di tempat mereka bekerja, dan dengan otoritas di mana pun mereka berada. Tidak adanya (rasa) kebebasan ini membuat keputusan-keputusan dan ketidakmampuan untuk menemukan MAKNA dan CINTA dalam hidup mereka yang menyebabkan kemarahan, dendam, kebencian dan kadang-kadang kejahatan, agresi yang sadis.

Bagaimana dan di mana rasa permusuhan ini memperlihatkan dirinya sendiri?

Beberapa orang memperoleh kesenangan dengan melukai, membunuh dan membinasakan orang-orang. Hitler mungkin merupakan salah satu contoh yang paling jelas: dia telah membunuh jutaan orang.

Dilaporkan, dia merencanakan akan menghancurkan negerinya sendiri sebelum ia menyerahkan diri. Erich Fromm melukiskan kehidupan Hitler dengan mengatakan, ”Ada seratus Hitler di antara kita yang akan datang dari waktu ke waktu jika detik-detik sejarah mereka tiba”.

Dalam kasus lainnya, ada sebuah perasaan yang didasari ketakberdayaan, yang menghasilkan suatu kebutuhan untuk bisa mengontrol penuh atas orang yang tak berdaya. Umumnya, mereka ini adalah orang-orang yang sadis dan pemerkosa.

Joseph Stalin, diktator dari Russia dari 1929 sampai 1953, sebuah contoh yang terkenal. Dia menikmati penyiksaan yang dia lakukan atas tahanan politiknya dan membunuh jutaan orang-orangnya sendiri (ketika mereka melawan kebijakan-kebijkannya); dia mengirim istri-istri ajudannya yang setia ke penjara (ajudan-ajudannya tidak – berani – memprotesnya); dia menikmati ketika ia memperdaya banyak orang dan tak bisa diduga.

Dalam bentuk yang lebih halus, chauvinistis bisa menjadi permusuhan, contohnya, seorang lelaki yang menekan istrinya dan berharap agar istrinya menuruti apa yang diinginkannya: marah, dan mengancam. Atau contoh lainnya : bos atau guru yang dikritik senang melihat bawahannya atau siswanya “jatuh” dan berkeringat dingin.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: