jump to navigation

Kehidupan Yang Memabukkan (Bag-2) Kamis, 6 September, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel, Bilik Renungan, Kearifan Universal, Tasawwuf.
trackback

memabukkan-2.jpg

Satrio P. Motinggo

Experience shows that the spirit is nothing but awareness.
Whoever has greater awareness has greater spirit…
When the spirit becomes greater and passes beyond all bounds,
the spirits of all things become obedient to it.

~ Rumi, William C. Chittick

Setiap rangsangan yang dialami manusia melalui makanan dan minuman sebenarnya merupakan kemabukan tingkat kecil. Bahkan bukan saja makanan yang ia makan, minuman yang ia minum, semua yang ia lihat, ia dengar, dan ia sentuh, mempunyai pengaruh dan efek pada diri manusia dan dapat memabukkannya.

Bahkan udara yang ia hirup dari pagi hingga malam terus-menerus dapat memberinya rangsangan atau stimulus serta ‘candu’. Jika benar demikian, kapankah manusia tidak berada dalam pengaruh ‘candu’?

Tenggelamnya seseorang ke dalam berbagai urusan kehidupannya juga membuatnya kecanduan, selain kecanduan akan pekerjaan dan semua urusannya, pikirannya pun turut hanyut.

Ia menjadi sangat sayang pada dirinya, simpati dengan dirinya. ‘Candu’ seperti ini membuat seseorang menjadi egois, tamak, dan zalim terhadap orang-orang di sekitarnya.

Efek dari kecanduan ini adalah bahwa ia terus-menerus merasa, berpikir dan bertindak dengan gagasan di dalam pikirannya, apa yang menjadi kepentingannya, apa yang dapat memberinya keuntungan.

‘Candu’ inilah yang membuat seseorang berkata, “Orang ini teman saya dan orang itu musuh saya. Orang ini yang saya harapkan dan orang itu bertentangan dengan saya.”

‘Candu’ ini membangun ego di dalam diri manusia, ego manusia yang sesat.

Karena manusia yang kecanduan tidak benar-benar mengetahui apa yang menguntungkannya, maka ego di dalam keegoannya tidak pernah tahu atau memahami apa yang benar-benar menguntungkannya.

Di saat-saat tenang ia merasa heran, “Jika ini ‘candu’, maka apakah relitas itu?”

Tetapi untuk mengetahui realitas, seseorang tidak hanya membutuhkan mata dan telinga, namun ia juga membutuhkan ketenangan agar ia dapat melihat dan mendengar lebih baik.

Ada suatu kerinduan dalam batin setiap manusia terhadap kepuasan tertentu yang tidak disadarai manusia. Kepuasan inilah yang sebenarnya ia cari.

Seringkali kebahagiaan yang dicari manusia justru menimbulkan kekecewaan, ini menunjukkan bahwa usahanya selama ini berada di arah yang salah.

Maka yang pertama harus disadari manusia adalah mengetahui bahwa ada sesuatu yang disebut ‘candu’.

Di lain sisi, cukup sulit menemukan ketenangan. Efek ‘candu’ kehidupan ini menyimpangkan manusia dari pemahaman yang sesungguhnya. Oleh karenanya, betapa pun jauh tingkat kehidupan spiritual seseorang, ia tidak pernah bisa memastikan bahwa ia tidak akan merasa kecanduan, karena ia mengalami kecanduan dalam segala sesuatu yang ia lakukan.

Itulah mengapa ia tidak bisa terlalu berhati-hati. Banyak orang yang bingung, yang tidak mengetahui apa yang sedang mereka kerjakan, namun orang yang bersikap hati-hati tidak akan merasa ragu. Ia selalu sadar dan selalu mengetahui apakah tindakannya benar atau salah. Ia mengerjakan apa yang ia percaya itu benar, dan bila ada kesalahan ia akan memperbaikinya di lain waktu.

Kecanduan yang lebih tinggi tidak dapat dibanding-bandingkan dengan kecanduan yang lebih rendah. Toh ia tetap dinamakan ‘candu’. Apakah nikmat itu, apakah marah itu, apakah perasaan sayang, atau pendirian yang teguh itu? Semua itu memiliki efek dari anggur kehidupan, semua menghasilkan ‘candu’.

Di dalam memahami misteri ini, kaum Sufi meniti budayanya di atas prinsip ‘candu’ ini. Mereka menamakan ‘candu’ ini sebagai Hal, dan Hal secara harafiah berarti kondisi atau keadaan.

Ada perkataan Sufi yang mengatakan, “Manusia berbicara dan bertindak menurut keadaan atau kondisinya.” Manusia tidak mungkin bertindak berbeda disebabkan dari ‘anggur’ yang telah diminumnya. Orang yang meminum ‘anggur amarah’, ia akan berkata dan bertindak dengan rasa dongkol.

Orang yang meminum anggur keteguhan, di dalam ucapannya, pemikirannya dan tindakannya, maka akan berada dalam kondisi teguh. Begitu juga orang yang meminum ‘anggur kasih sayang’, akan menarik hati semua orang. Segala yang manusia katakan dan kerjakan sesuai dengan anggur yang telah diminumnya.

Seorang Sufi berkata, “Surga dan neraka berada di tangannya, jika ia mengetahui misterinya.”

Bagi Sufi, dunia ini seperti gudang anggur, di dalamnya berbagai jenis anggur tersedia. Ia harus memilih anggur mana yang hendak ia minum dan anggur mana yang akan memberinya kepuasan atas kerinduan jiwanya.

Ada suatu perasaan halus yang dimiliki oleh setiap jiwa, sebuah perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, sebuah perasaan yang membuat orang lebih nyaman berada di atas kursi goyangnya di rumah ketimbang berdiri di hadapan ribuan orang untuk memberikan penghormatan kepadanya.

Seorang yang kaya, namun pada saat-saat tertentu ia mengesampingkan kekayaannya, lalu duduk seorang diri untuk meluangkan waktu sejenak, kemudian ia menarik nafas dalam-dalam dengan bebas. Saat inilah ia memiliki kesempatan untuk merenung. Bukankah Nabi Muhammad Saw telah bersabda : “Merenung sesaat lebih baik daripada beribadah (sunnah) setahun penuh.”


Mungkin kita pernah merasakan perasaan cinta yang tumbuh kuat di dasar kalbu kita sehingga hati kita menjadi lembut dan indah, penuh perhatian kepada orang-orang yang memang membutuhkan rengkuhan cinta dan kasih sayang kita, memiliki kekuatan penuh memeluk orang-orang yang menderita dan tertindas.

Namun kita juga pernah mengalami saat-saat ketika kita seolah-olah tidak memiliki perasaan atau perasaan hampa, dan inilah saat-saat buruk yang sering tidak kita sadari.

Ini menunjukkan bahwa seluruh kehidupan ini menarik, karena semuanya mengandung candu dan memabukkan, tetapi yang sesungguhnya diinginkan oleh jiwa hanya satu saja; yaitu KETENANGAN. Krena melakui ketenangan-lah manusia dapat lebih fokus, lebih tersadarkan akan keadaannya (Hal).

Lalu apakah ketenangan ini sebenarnya dan bagaimana seseorang dapat memperoleh atau mengalaminya?

Manusia dapat mengalaminya melalui meditasi dan konsentrasi. Dan keduanya dapat Anda peroleh lewat shalat tahajjud di tengah malam yang hening.

Ini mesti dilakukannya, agar hidupnya dapat lebih terarah dan tersadarkan. Dan ingat! Jangan jadikan shalat ini sebagai rutinitas belaka. Oleh karena itu renungi, dalami, dan camkan dengan kesungguhan yang besar.

Ini menjadi keharusan karena manusia (baca : kita) telah banyak menghirup ‘candu’ dalam hidupnya, sehingga ia menjadi mabuk berat. Begitulah kondisi kebanyakan jiwa di dunia ini, mereka telah mabuk kepayang oleh anggur kehidupan. Maka ia pun harus mencari sekilas ketenangan, suatu momen ketika ia merasakan tanpa rasa. Oleh karenanya budaya Sufi didisain untuk mengalami ketenangan tersebut.

Tentu saja sangat sulit untuk menjelaskan bagaimana mencapai ketenangan ini. Tetapi sebenarnya ia sesederhana melarang orang agar tidak kecanduan lagi terhadap alkohol atau lain sebagainya.

Cicero mengatakan, ”Suatu pencarian, bahkan atas barang-barang terbaik, mesti dilakukan dengan tenang dan hening2]

Rumi mengatakan,”Pengalaman menunjukkan bahwa ruh tiada lain kecuali kesadaran. Barangsiapa yang memiliki kesadaran yang lebih besar, ia memiliki ruh yang lebih besar… Ketika ruh semakin besar dan melebihi segala batasan, ruh segala sesuatu menjadi tunduk kepadanya. 3]

Catatan Kaki :
[1] William C. Chittick, The Sufi Path of Love.
[2] Wisdom of Ages
[3] Rumi, Balkh, Khorasan, 1210 — Konya, Anatolie, 1273, The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi, pp. 31-32, Trans. William C. Chittick. Albany, N.Y.: State University of New York Press, 1983.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: