jump to navigation

Tak Satu Maujud Pun Tak Menyembah Tuhan Senin, 17 September, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, All About Zikir, Artikel, Bilik Renungan, Tasawwuf.
trackback

maujudibadah2.jpg

Semua yang berada di langit
dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah.
Dan Dia lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(al-Qur’an Surah Al-Hadîd [57] ayat 1)

Syekh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi qs mengatakan, ”Penghambaan atau ibadah melambangkan ketundukan semua makhluk kepada Allah. Ia menghubungkan sang pencari dengan Kebenaran (haqq). Penghambaan (‘ibadah) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seorang hamba, karena ia adalah esensi, asal-muasal, dan wajahnya.” 1]

Penyembahan tidaklah terbatas pada manusia saja. Penyembahan melalui alam sadar memang hanya bisa dilakukan oleh manusia tertentu, tetapi jenis penyembahan di bawah alam sadar dilakukan semua manusia. Bahkan penyembahan adalah sebuah fenomena universal alam wujud ini. Tak satu maujud pun di alam ini yang tak menyembah Tuhan. 2]

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ”Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Dia lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 1)

Al-Farabi, seorang filosof muslim yang hidup sebelas abad yang lalu mengatakan, ”Langit menyembah-Nya dengan berputar, bumi dengan bergerak, hujan dengan mencurahkan air, dan air dengan mengalir” 3]

Syekh al-Akbar Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan, ”Jika seseorang memberikan pujian kepada orang lain, maka pujian itu dapat dengan mudah dipahami. Namun Tuhan telah menyatakan bahwa pujian (tasbih) dari makhluk-makhluk tersebut tidak diketahui. Hal ini menyiratkan bahwa setiap orang memiliki tasbih masing-masing dalam mengagungkan Tuhan, yang hanya dia sendiri yang mengetahui dan tidak dimiliki oleh orang lain.” 4]

Kaum esoteris (‘urafa) mengungkapkan, ”Jika telinga hati terbuka, niscaya manusia dapat mendengarkan tasbih dan tahmid segala maujud.” Dewasa ini, sudah terbukti bahwa setiap atom yang ada di alam semesta memiliki kesadaran, meskipun, kadar kesadaran itu bertingkat-tingkat. 5]

Allah SwT berfirman, ”Tidakkah kamu mengetahui bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya.” (QS Al-Nur [24] ayat 41)

Yang amat menakjubkan pada ayat ini adalah masalah tasbih diungkapkan dengan kata “shalat”. Kita telah mengetahui bahwa pada ayat lainnya diungkapkan dengan kata tasbih dan tahmid.

Dalam ayat lainnya juga diungkapkan dengan kata sujud, sedangkan ayat ini menggunakan kata shalat. Sebagian para mufassir berpendapat bahwa maksud dari shalat itu adalah do’a.

Al-Qur’an sendiri mengungkapkan dengan menggunakan kata shalat dengan cara shalat masing-masing, dan Tuhan memahami apa yang mereka kerjakan. 6]

SUARA ITU ADALAH SUARA LAIN DAN TELINGA ITU ADALAH TELINGA YANG LAIN
Al-Qur’an Yang Mulia mengatakan, ”Langit yang tujuh, bumi, dan apa-apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tiada memahami tasbih mereka. (tasbiha-hum)” (QS Al-Isra’ [17] ayat 44)

Ketika Allah menjelaskan, bahwa manusia tidak memahami tasbih mereka, bukan berarti Dia bermaksud membuat semacam teka-teki yang mana tak ada satu pun manusia yang dapat memahami dan mengetahuinya. Namun tujuan al-Qur’an adalah agar kita semakin memperkuat usaha untuk mencapai hakikat dan menyingkapkannya sesuai dengan kemampuan kita.

Tatkala Al-Qur’an mengatakan bahwa segala sesuatu bertasbih kepada Allah dan memuji-Nya, maka itu merupakan tasbih secara “penciptaan” dan bahasa keadaan. Manusia memiliki dua macam bahasa, bahasa keadaan (lisan al-hal) dan bahasa ucapan (lisan al-qaul).

Bahasa keadaan adalah bahasa yang diungkapkan tidak melalui kata-kata atau ucapan, tetapi lewat keadaannya, atau mimik seseorang. Kita sering menjumpai seseorang yang enggan menyampaikan maksudnya untuk meminta bantuan kepada kita, sehingga nampak dari rona wajahnya yang memelas menatap kita dengan segala harap.

Walaupun ia tidak menyampaikan dengan isyarat gerakan tubuhnya namun ketajaman rasa batin kita bisa menangkap maksud yang diinginkan orang tersebut, lalu kita bertanya kepadanya, ”Anda perlu bantuan saya?”

Dalam sekejap bersinarlah wajahnya karena gembira sambil menganggukkan kepala dan berseru,”Iya!”. Inilah bahasa keadaan! Sebagaimana pepatah mengatakan : “Rona wajah mengungkapkan rahasia jiwa!” – “tetapi kamu tiada memahami tasbih mereka”, Kata ganti hum, atau mereka (laki-laki) umumnya dalam bahasa Arab digunakan untuk kata ganti mereka yang berakal, bukan untuk binatang, atau benda-benda mati.

Sekali pun al-Qur’an berbicara mengenai benda-benda namun al-Qur’an menganggap semua benda-benda itu memiliki perasaan. Jika tidak ada kata “burung” pada ayat tersebut mungkin kita bisa mengatakan bahwa maksud “mereka yang ada di langit” adalah para malaikat dan “mereka yang ada di bumi” adalah manusia, tetapi al-Qur’an mengatakan, “…dan burung” termasuk dimasukkan ke dalam kategori yang bertasbih kepada-Nya.

Jika demikian terdapat suatu dunia yang luar biasa yang kita tidak mengetahui dan memahaminya. Pada ayat ini pun apa-apa disebut dalam bahasa Arab dengan kata “man”, bukan “maa”, yang menunjukkan bahwa pekerjaan mereka menyerupai pekerjaan manusia sehingga mereka disebut sebagai “pribadi” (man) bukan sebagai “benda” (maa).

Jika kaum filosof mengatakan, ”Langit menyembah-Nya dengan berputar, bumi dengan bergerak, hujan dengan mencurahkan air, dan air dengan mengalir.”, namun kaum ‘urafa mengatakan, ”Manusia-manusia awam tidak mengetahui tasbih dan pujian berbagai makhluk, tetapi orang-orang pilihan mendengar dengan jelas lewat pendengaran batin mereka.

Syaikh Abbas al-Qummi qs, mengatakan di dalam kitab ensiklopedi do’anya, Mafatih al-Jinan :

Berbagai benda tersebar di alam ini,
Yang dikatakan padamu siang dan malam,
Kami Maha Mendengar, Maha Melihat dan Maha Sadar,

Kami takkan bicara dengan kalian yang bukan muhrim,
Karena kalian tenggelam dalam kebendaan (duniawi)
Kapan kalian akan menjadi muhrim dengan Ruh Ilahiyyah? 7]

Mereka yang bukan muhrim adalah manusia-manusia seperti kita yang tenggelam dalam kenikmatan-kenikmatan duniawi dan lalai dari pengabdian total kepada-Nya.

Sebaliknya, mereka yang telah menjadi muhrim-Nya, adalah orang-orang terpilih, yang senantiasa berdzikir, bertasbih, dan bertahmid, seirama dengan nyanyian burung, bunyi-bunyi gesekkan dedaunan dan gelegar halilintar di angkasa.

Sebagaimana Nabi Daud as, bertasbih bersama gunung gemunung, dan burung-burung, mengalunkan pujian kepada-Nya. Banyak juga manusia yang turut bertasbih bersama Daud as, namun tak mampu mendengar tasbih dan tahmid makhluk-makhluk itu. Namun Daud as dan orang-orang pilihan-Nya mampu mendengar suara batin dari berbagai ciptaan Tuhan.

KISAH SYEKH ABBAS AL QUMMI DAN SUARA PEKIKAN SEPERTI UNTA KESAKITAN
Ayatullah Gulpaighani
menceritakan bahwa sewaktu di bawah mimbar, di mana Syaikh Abbas al-Qummi sedang berbicara di atas mimbar. Syaikh Abbas rh mengatakan, ”Sewaktu saya masih muda di mana kondisi saya saat itu cukup baik-namun sekarang saya tidak demikian-saya pergi berziarah ke makam Wadi Salam, tiba-tiba ketika saya telah mendekati Wadi Salam, saya mendengar sebuah pekikan suara dari kejauhan. Suara itu seperti suara unta yang tengah dicap dengan besi panas, dan unta itu mengeluarkan suara yang keras. Sewaktu saya perhatikan di sekitar saya, sama sekali tidak saya temukan adanya unta, namun suara aneh itu terasa semakin dekat. Pada saat itu Wadi Salam dalam keadaan sepi.

Kemudian saya melihat bahwa di tengah Wadi Salam itu ada beberapa orang yang sedang berjalan, saya berpikir mungkin mereka itulah yang tengah mencap tubuh unta dengan besi panas. Kemudian saya berjalan perlahan-lahan menghampiri orang-orang itu. Ya, suara itu munculnya dari situ, akan tetapi ketika saya telah sampai di sana, saya tidak melihat adanya unta, akan tetapi mereka membawa jenazah yang akan mereka kuburkan dan suara itu munculnya dari jenazah tersebut. Saya mendengar suara itu dengan begitu kuat, sementara mereka sama sekali tidak mendengarnya.”

Jika demikian jangan kalian mengira bahwa semua manusia mampu mendengar setiap suara yang ada di alam ini. Suara itu, adalah suara yang lain, dan telinga itu adalah telinga yang lain. 8]

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :
[1] Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah 2 : 153. 33
[2] Murtadha Muthahhari, Falsafah Akhlak, hal. 138
[3] Ibid h. 139
[4] Futuhat al-Makkiyyah II 509.31
[5] Ibid
[6] Murtadha Muthahhari, Pelajaran Pelajaran Penting Dari Al-Qur’an, Buku Kedua, hal. 214.
[7] Murtadha Muthahhari, Pelajaran Pelajaran Penting Buku Kedua, hal.220.
[8] Ibid h. 223

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: