jump to navigation

Kasih Sayang Dalam Iman Selasa, 25 September, 2007

Posted by Quito Riantori in All About Love, Artikel, Tasawwuf.
trackback

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan orang-orang beriman. Dan Dia-lah yang mempersatukan hati di antara mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di muka bumi ini, niscaya kamu tiada dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Anfal [8] : 62-63)

SEBAGIAN orang berkata bahwa tatanan wujud ini menjadi baik beserta segala kondisinya bergantung pada cinta. Menurut mereka, manusia yang dipaksa memiliki kebajikan ini – yakni watak yang melahirkan sikap adil – hanya karena gagal mencapai martabat cinta, dan kalau masyarakat terikat oleh cinta; mereka akan serasi dan takkan terjadi konflik. Karena seseorang (bisa dianggap) mencintai temannya, apabila ia menghendaki temannya sebagaimana yang dikehendaki untuk dirinya sendiri.

Tidak akan terwujud kepercayaan, kerja sama atau tolong menolong, kecuali di antara mereka yang saling mencintai satu dengan yang lainnya. Apabila orang bekerja sama dan dipersatukan oleh cinta, mereka akan memperoleh apa yang mereka inginkan dan takkan menemui kegagalan dalam mencapai apa yang mereka cari, betapa pun sulitnya.

Jiwa mereka saling bahu-membahu mencari cara-cara yang tepat untuk memperkuat diri mereka dan untuk memperoleh segala kebaikan melalui kerja sama. Orang-orang ini (yang berbicara demikian tentang cinta) melihat kebajikan persatuan yang direalisasikan dalam suatu kolektivitas.

Sungguh, itulah tujuan paling mulia dari masyarakat. Sebab, kalau mereka sudah saling mencintai, maka hubungan mereka akan erat, dan tiap individu menghendaki bagi temannya apa yang dikehendaki bagi dirinya sendiri. Maka kekuatan-kekuatan mereka akan menjadi satu, dan mereka akan mencapai pendapat yang benar atau tindakan yang tepat.

Dalam segala yang mereka upayakan, mereka akan seperti orang yang hendak mengangkat beban berat seorang diri, lalu tak mampu. Tapi kalau dia dibantu orang lain, dia mampu.

Sungguh pemimpin negara, di dalam seluruh aktivitasnya, bertujuan menciptakan suasana saling mencintai di antara rakyatnya. Apabila yang ditujunya ini berhasil, dia akan mencapai segala kebaikan yang akan sulit bagi dirinya atau rakyatnya untuk mencapainya secara individual.

Dia lalu akan mengalahkan lawannya, membangun negaranya, dan bersama seluruh rakyatnya hidup bahagia. Tetapi persatuan yang didambakan ini dapat terwujud hanya melalui pendapat-pendapat yang benar, dan diharapkan jiwa-jiwa yang sehat menyetujuinya, dan melalui keyakinan yang kuat yang merupakan hasil dari agama yang mengarah ke Wajah Allah Azza wa Jalla. Jenis cinta ini banyak, tapi seluruhnya mengarah ke satu tujuan. 66]

Allah SwT berfirman, ”Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan di antara hati-hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS Ali Imran [3] ayat 103)

Imam Ali as mengatakan, ”Memecah belah para pemimpin lebih mudah ketimbang menyatukan hati yang sudah saling tidak menyukai.” 67]

Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya perbedaan hati (di antara) orang-orang yang berbakti (al-abrar) apabila mereka saling bertemu berjumpa walaupun mereka tidak menampakkan kasih sayang lewat kata-kata, mereka begitu cepatnya kembali bersatu sebagaimana bersatunya air hujan yang turun dari langit dengan air sungai (di bumi). Sebaliknya jauhnya perbedaan di antara hati orang-orang yang durhaka, apabila mereka saling berjumpa, walaupun mereka menampakkan rasa kasih sayang lewat lisan-lisan mereka, tetap saja mereka seperti jauhnya binatang-binatang dari belas kasihan walaupun itu terjadi di dalam pertahanan (pembelaan) yang satu.” 68]

Di mata Tuhan,
dia yang tak memiliki warna Cinta,
tak lain adalah kayu dan batu.

(Rumi, Diwan i Syams 1331)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Catatan Kaki :
[66] Ibn Maskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlak, hal. 131.
[67] Bihar al-Anwar 78 : 11.
[68] Bihar al-Anwar 74 : 281.

Iklan

Komentar»

1. Yaya - Selasa, 25 September, 2007

indah skali kata2 imam Ja’far…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: