jump to navigation

Laskar Pelangi – Kisah Anak-anak Miskin Di Pulau Belitong Selasa, 2 Oktober, 2007

Posted by Quito Riantori in Artikel.
trackback

laskar-pelangi.JPG

 Ini kisah nyata tentang sepuluh anak kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Mereka bersekolah di sebuah SD yang bangunannya nyaris rubuh dan kalau malam jadi kandang ternak. Sekolah itu nyaris ditutup karena muridnya tidak sampai sepuluh sebagai persyaratan minimal.

 Pada hari pendaftaran murid baru, kepala sekolah dan ibu guru satu-satunya yang mengajar di SD itu tegang. Sebab sampai siang jumlah murid baru sembilan. Kepala sekolah bahkan sudah menyiapkan naskah pidato penutupan SD tersebut. Namun pada saat kritis, seorang ibu mendaftarkan anaknya yang mengalami keterbelakangan mental. ”Mohon agar anak saya bisa diterima. Sebab Sekolah Luar Biasa hanya ada di Bangka,” mohon sang ibu. Semua gembira. Harun, nama anak itu, menyelamatkan SD tersebut. Sekolah pun tak jadi ditutup walau sepanjang beroperasi muridnya cuma sebelas.

 Kisah luar biasa tentang anak-anak Pulau Belitong itu diangkat dalam novel dengan judul ‘Laskar Pelangi’ oleh Andrea Hirata, salah satu dari sepuluh anak itu. Di buku tersebut Andrea mengangkat cerita bagaimana semangat anak-anak kampung miskin itu belajar dalam segala keterbatasan. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang hingga terpaksa ditambal dengan poster Rhoma Irama.

 Kisah yang tadinya bukan untuk diterbitkan itu ternyata mampu menginspirasi banyak orang. Seorang ibu di Bandung, misalnya, mengirim surat ke Kick Andy. Isinya minta agar kisah tersebut diangkat di Kick Andy karena anaknya yang membaca buku Laskar Pelangi kini bertobat dan keluar dari jerat narkoba. ”Setiap malam saya mendengar suara tangis dari kamar Niko anak saya. Setelah saya intip, dia sedang membaca sebuah novel. Setelah itu, Niko berubah. Dia jadi semangat untuk ikut rehabilitasi. Kini Niko berhasil berhenti sebagai pecandu narkoba setelah membaca buku Laskar Pelangi,” ungkap Windarti Kosasih, sang ibu.

 Sementara Sisca yang hadir di Kick Andy mengaku setelah membaca novel itu, terdorong untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah yang selama ini rusak. Begitu juga Febi, salah satu pembaca, langsung terinspirasi untuk membantu menyumbangkan buku untuk sekolah-sekolah miskin di beberapa tempat. ”Saya kagum karena anak-anak yang diceritakan di buku itu penuh semangat walau fasilitas di sekolah itu jauh dari memadai,” ujar Febi yang juga datang ke Kick Andy untuk bersaksi.

 Andrea sendiri mengaku novel itu awalnya hanya merupakan catatan kenangannya terhadap masa kecilnya di Belitong. Dia selalu teringat sahabat-sahabatnya di masa kecil, terutama Lintang. Sebab tokoh Lintang merupakan murid yang cerdas dan penuh semangat walau hidup dalam kemiskinan. Setiap hari Lintang harus mengayuh sepeda tua yang saering putus rantainya ke sekolah. Pulang pergi sejauh 80 km. Bahkan harus melewati sungai yang banyak buayanya.

 Sayang, cita-cita Lintang untuk bisa sekolah ke luar negeri, seperti yang sering didorong oleh guru mereka, terpaksa kandas. Lintang bahkan tak tamat SMP karena orangtuanya yang nelayan tidak mampu membiayai. ”Lintang adalah sosok yang menginspirasi saya. Karena itu, saya bertekad meneruskan cita-cita Lintang,” ujar Andrea, yang sekian puluh tahun kemudian berhasil mendapat beasiswa sekolah ke Sorbonne, Prancis.

 Tim Kick Andy yang mendatangi kampung tempat SD itu berdiri, di Belitong, berhasil ‘menemukan’ beberapa dari tokoh anak-anak di dalam novel tersebut. Mereka kini sudah dewasa. Namun kenangan tentang masa kecil itu sangat kuat membekas. Terutama pada ibu guru Muslimah yang sangat mereka cintai. ”Buku Laskar Pelangi memang saya persembahkan untuk Ibu Mus yang sangat tabah dan pantang menyerah dalam mendidik kami,” ujar Andrea.

 Maka sungguh menarik menyaksikan bagaimana Kick Andy mempertemukan Andrea dengan Ibu Guru Muslimah di studio Metro TV. Apalagi ketika Bu Mus membawa barang-barang yang mempunyai kenangan tersendiri bagi Andrea dan teman-teman kecilnya dulu di kampung. Kenangan yang diceritakan kembali oleh Andrea dengan jenaka. Juga termasuk darimana Andrea mengambil nama yang dipakainya hingga sekarang ini.

 Sungguh sebuah novel — yang diangkat dari kisah nyata — yang sangat menggugah. Novel yang membuat siapa pun yang membaca akan merasa bersalah dan berdosa jika tidak mensyukuri hidup. Itu pula sebabnya sutradara Riri Reza dan Produser Mira Lesmana tertarik untuk mengangkat kisah ini ke layar film.

 __________________________________________

Buat temen-temen jangan lupa kamis ini ya,
Kick Andy, pkl. 22.05, 4 oktober 2007
www.kickandy.com

 

Iklan

Komentar»

1. Asha Ray - Minggu, 13 Januari, 2008

Novel Indonesia mutakhir! Baru saja menggeser Saman oleh Ayu Utami dari daftar novel Indonesia favorit saya setelah bertahun-tahun tak tersaingi! Sungguh saya jatuh cinta pada Laskar Pelangi dan Andrea Hirata! Saya menangis dan tertawa bersama mereka: Ikal, Lintang, Mahar, Trapani, A Kiong (Nur Zaman), Sahara, Flo, Bu Mus, Pak Harfan dan semua karakter-karakter hebat lain yang mungkin luput saya sebut. Sungguh… saya sangat ingin bisa menjadi bagian dari mereka! (Semoga saja mereka masih mau menerima seorang anggota: tuk menggenapkan mereka menjadi 12 lapis warna!) Pengalaman mereka… pencarian mereka… ah! Menggetarkan sekali! Ingin rasanya ikut tertantang dan berpetualang bersama mereka! Sudah demikian lama rasanya: otak dan otot ini bebal dan beku! Buku ini menyadarkan satu hal yang selama ini siapapun (termasuk saya) tak pernah sempat perhatikan: bahwa ilmu dan pendidikan ternyata sangatlah seksi! Sebuah novel yang menggugah: sangat inspiratif + positif! Wajib baca (bagi siapapun yang masih percaya bahwa selalu ada pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan)! Nilai: lima bintang! ***** 🙂

2. galigongli - Minggu, 27 Januari, 2008

Setuju dengan komentar bang Asha…
Karya kang andrea emang ga ada abisnya…sudah berulangkali dibaca masih saja tetap kurang puas untuk mengambil segala pelajaran di dalamnya…terutama tentang pesan moral yang secara eksplisit di tuangkan dengan metafor yang lugas dan terkesan menyentil sisi lain dari buruknya pendidikan di negeri ini…

Di tunggu terbitnya, buku yang terakhir…

3. iecha - Jumat, 1 Februari, 2008

wonderful book….

4. nian - Rabu, 16 April, 2008

subhanallah, sebuah karya yang sangat edukatif sekali. walaupun gaya penulisan dalam laskar pelangi masing sangat berantakan tidak tersusun secara sistematis, tapi makna dibalik kisah tersebut mampu mengubah persepsi kita akan syukur atas nikmat hidup yang diberikan Tuhan. salam semangat kepada Bang Andreaku, semoga Allah mempertemukan kita pada saat yang tepat.

5. Maira - Rabu, 8 Oktober, 2008

subhanallah, sebuah karya yg sngat fantastik & mengharuhkan…
karya kang andrea emang keren bnget… sya udah berulang kali baca tpi msih aja blum puas… sya ska bnget ama novel nya kang andrea,,, disitu kta bsa mengambil plajaran di dalmnya…trutama tntang susah nya kehidupan msa dlu… itu bsa memberi plajaran pda anak2 msa skarank,,,yg sring melecehkan orang miskin…
kang andrea ku tunggu lo novel2 brikut nya… oke

6. anhy qadri - Selasa, 26 Januari, 2010

keren abis deh……… I love you full….

7. kodzan - Senin, 13 September, 2010

resume yg keren gan….. kapan2 maen ya ke negeri laskar pelangi….

sant - Selasa, 20 September, 2011

okey

8. nanang riwayadi - Jumat, 6 Mei, 2011

cerita laskar pelangi.mulai awal terbit keinginanku mempunyai buku itu belum terwujudkan tp suwatu saat nannti pasti aku dapatkan.buku ini yang slalu ku impikan untuk ku miliki….

9. sant - Selasa, 20 September, 2011

mantap…saya setuju semua dgn komentar…..??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: